heni
Ikuti
Aku bukan muslimah yang sholehah, aku hanyalah perempuan akhir zaman yang merindukan sorga.
Namaku Annisa, di umur 28 tahun, akhirnya Allah mengantarkan seorang imam untukku, namanya Lutfi. Pernikahan kami sangat indah, saling bekerja sama mengerjakan ibadah, saling mengingatkan, dan saling melengkapi. Ini mulanya.
Pernikahan kami kini menginjak tahun kelima, dan kami dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik, kami beri nama Inayah.
"Nisa! Abang mau pergi bekerja, bekal abang mana?!"
Suara lembut yang penuh kasih sayang itu tak pernah lagi ku dengar, namun aku tidak menyalahkannya, mungkin ini tekanan hidup yang begitu berat, dan tanggung jawab yang semakin besar, membuatnya tidak bisa bersikap lembut seperti dulu.
Dengan senyum terbaikku, aku mendekatinya sambil menggendong putri kecil kami yang kini berusia tiga tahun. "Maafkan Nisa bang, Nisa tidak bisa bangun tadi pagi, Inayah masih sakit."
"Dari zaman dulu, semua orang punya anak! Tapi tugas mereka pada suami mereka, tidak pernah lalai!" Dengan kemarahan yang masih menyala, dia pergi begitu saja dari rumah, bahkan tanpa salam.
Sakit, rasanya jutaan anak panah menancap di hatiku.