Suatu hari tanpa terduga aku telah dijodohkan oleh kakekku dengan cucu dari sahabatnya yang merupakan seorang pengusaha, dan anehnya aku tak pernah melihat atau pun bertemu dengan orang itu. Karena keluarga ku banyak berhutang budi pada keluarga orang itu maka keluarga ku tak bisa menolak apa yang diminta oleh keluarga sahabat kakekku itu.
Dihari pernikahan yang seharusnya berlangsung dengan meriah dan bahagia tak terdapat pada hari pernikahanku, karena setelah ijab kabul orang yang seharusnya aku panggil suami itu telah terbang pergi meninggalkan aku seorang diri setelah dinikahinya. Karena waktu itu aku yang masih kecil tidak tau dan tak mengerti apa pun hanya diam dan merasa lega karena tak harus bersembunyi atau membuat kebohongan dengan teman - teman ku atas pernikahan ku yang terjadi secara tiba - tiba.
5 tahun telah berlalu dari hari itu dan kini aku sudah memasuki usia 20 tahun dan karena janji turun temurun atas kesetiaan yang diberikan keluarga ku pada keluarga Zhafran yang merupakan keluarga dari sahabat kakekku itu kini adalah giliran ku untuk meneruskan janji itu.
Namaku adalah Manda Ayu Dinata, putri tunggal dari keluarga Adinata dan aku adalah seorang pelatih sekaligus pemain dalam ring beladiri dan merupakan bintang pertama di kejuaraan taekwondo. Kini aku telah bekerja disebuah perusahaan ternama di bidang perhotelan dan juga restoran di pusat kota besar Jakarta.
"Man, apa kamu sudah dengar katanya akan ada pergantian pekerja antara yang ada di hotel ini dengan yang berdiri di hotel pusat Singapura, Hem, aku berharap itu adalah aku karena aku sangat ingin pergi keluar negeri." ucap Sisil dengan sangat antusias.
"Hem, ya tau yang ingin pergi keliling dunia tapi hanya bisa dilakukan dalam mimpi." jawab ku dengan meledeknya dan tertawa.
"Duh memangnya kamu gak mau?" ucap Marsya
"Aku mau sih, tapi kamu tau kan kalau aku adalah calon penjaga, dan aku akan pergi ke keluarga Zhafran untuk melanjutkan tugas dari kakek dan juga ayahku untuk menjadi pengawal." jelas ku dengan menghela nafas dalam
"Ya ampun kau ini, jadi selama ini kau dilatih dengan sangat ketat hanya untuk menjadikan dirimu seorang pengawal ya, keluargamu sungguh aneh." Marsya berkata dan menganggap kalau tugas turun temurun itu tak masuk akal.
"Ya, mau bagaimana lagi. Dan aku akan berangkat besok, hari ini adalah hari terakhirku. Tadi aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku." jelas ku dan hari itu aku menghabiskan waktu bersama dengan teman - teman ku.
Keesokan harinya aku pun terbang ke Singapura untuk datang ke keluarga Zhafran sebagai ganti dari tugas orang tuaku. Dan sesampainya disana aku disambut dengan sangat baik oleh beberapa pegawai yang sudah ada disana.
Hari - hari ku masih seperti biasa aku bekerja sebagai satpam sebuah rumah besar milik tuan muda Zhafran yang tak pernah aku lihat batang hidungnya walau aku sudah bekerja 1 bulan di rumah itu.
"Wah lihat itu ada non Sila datang." ucap man Ucup
"Siapa sila man." tanyaku penasaran
"Hem, dia adalah kekasih bos." jawab Galuh dengan nada tak suka
"Oh, cantik orangnya." jawabku yang mengagumi kecantikan karena aku tak bisa dandan.
"Elah, cantik apa an. Orang semua oplas." Galuh menyela dengan tak suka
Tak lama kemudian sebuah mobil mewah keluar dan sepertinya itu tuan Zhafran bersama kekasihnya yang baru saja datang.
Hari telah berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Aku sudah 1 tahun bekerja di rumah keluarga Zhafran ini dan kehidupanku pun baik - baik saja bahkan aku juga sudah mengumpulkan banyak uang dari gajianku selama ini hingga aku mengetahui sebuah kenyataan saat aku memasuki rumah utama keluarga Zhafran saat ada acara ulang tahun tuan muda keluarga itu.
"Kakek Joes." gumam ku saat aku melihat sebuah foto keluarga yang tergantung di jalan utama tangga masuk rumah itu.
"Hei Man, apa kau tak apa?" Bram menahan ku saat aku mau jatuh.
"Maaf, terima kasih, aku tak apa." jawabku dengan canggung
"Oh iya mas Bram, keluarga ini apa cuma memiliki tuan muda sebagai anak? Atau masih ada anak lain?" tanyaku penasaran
"Hem, ada bos Jeki tapi beliau sudah tiada 5 tahun lalu dan sekarang hanya tinggal bos Zein saja kenapa?" tanya Bram menatap ku
"Tidak ada." aku lari kedalam kamarku dan mulai membongkar isi tasku untuk melihat surat nikah ku.
"Zeinko Zhafran." gumamku membaca nama dari suamiku. Tubuhku melemas dan aku teringat semua akan adegan pria itu bermesraan dan bercumbu dengan kekasihnya, sementara aku wanita yang dinikahinya dan ditinggalkannya begitu saja telah menjadi penjaganya tanpa ada yang memberitahu aku kalau pekerjaan ini adalah pekerjaan yang aku lakukan untuk menjaga keselamatan dari suamiku sendiri.
Malam itu aku menghubungi orang tuaku dan menanyakan semuanya, dan betapa terkejutnya saat orang tuaku berkata kalau mereka tak bisa berbuat apa pun karena hutang budi itu, dan hanya bisa membiarkan aku menjadi istri hanya untuk kebahagiaan terakhir dari kakek Joes yang ingin melihat cucunya menikah diakhir hidupnya. Sungguh miris nasib ku, aku menikahi orang yang tak pernah mencintaiku bahkan tak menganggap ku sebagai seorang istri.
"Wah ini sungguh pesta yang sangat luar biasa sekali sayang." ucap Sila dengan manja pada Zein
Semua tamu yang datang juga mengucapkan selamat pada bosku itu dan aku datang tak sebagai satpam di acara pesta itu melainkan sebagai anggota keluarga Zhafran, dan aku mulai mengenalkan diri sebagai menantu keluarga Zhafran.
Semua tamu undangan dan para teman seprofesi ku merasa kaget dengan ku, terutama bintang utama acara itu yang merupakan bos ku dan juga suamiku. Terlihat dia sangat kaget juga bingung.
"Wah benarkah, tapi saya tak pernah bertemu dengan anda nona." ucap seorang tamu dan juga para tamu lainnya
"Ya, karena saya dinikahi dan juga ditinggal pergi oleh suami saya setelah pernikahan kami 5 tahun lalu." jelasku dengan lancar
"Oh, maafkan saya. Pasti itu sangat berat bagi anda karena anda telah menjadi seorang istri dan juga langsung menjadi janda." ucap para tamu dan aku hanya tersenyum.
"Manda apa kau sudah gila hah?! Kenapa kau mengenalkan dirimu sebagai mantan dari kakakku, kau ingin menggunakan alm.kakakku sebagai senjata untuk naik level." caci maki Zein padaku setelah tau kalau orang yang dia nikahi itu adalah aku.
"Apa maksud anda, aku memang istri dari putra keluarga ini." jawabku dengan biasa saja
2 bulan berlalu dari hari itu dan aku mulai tinggal di rumah keluarga Zhafran sebagai seorang menantu, setiap hari aku mendapatkan makian dan cacian dari seorang Zein tapi aku tak peduli.
Kehidupanku telah berubah dan aku pun mulai dekat dengan seorang pria yang bisa dibilang dia adalah teman Zein yang bernama David. Hubunganku dengan David sangat baik dan aku sering keluar dengannya bahkan kalau ada acara aku suka menjadi pasangannya.
"Manda apa yang kau lakukan sebenarnya, kenapa kau selalu keluar dengan David bahkan menjadi pasangannya." tegur Zein padaku
"Memangnya kenapa? Aku juga ingin berkeluarga dan aku masih muda. Aku rasa aku masih pantas dengan mas David, dia orangnya sangat baik." jelas ku
"Suamimu masih hidup apa kau tau itu." Zein berteriak tak sabar
"Benarkah, kalau begitu dimana dia karena aku tak pernah melihatnya selama ini, dan kau jangan omong kosong." kesal ku
"Manda aku adalah suamimu dan orang yang menikahi mu 5 tahun lalu adalah aku" Zein berkata dengan kesal
"Kalau begitu ceraikan aku, karena aku gak mau memiliki suami yang selalu bermesraan dengan wanita lain." aku berkata dengan kesal
"Aku, tak akan pernah aku lakukan." Zein berkata dan pergi.
Setiap hari saat Zein dekat dengan kekasihnya Sila aku pun juga semakin dekat dengan David temannya. Aku tak pernah peduli dengan tatapan Zein pada ku karena bagiku semua sudah berlalu dan aku hanya ingin berpisah dengannya.
"Manda, jauhi David dan jangan lagi keluar dengannya" cegah Zein padaku saat aku mau keluar dengan David ke acara pesta reuni sekolah mereka.
"Kau tak ada gak melarang ku, karena aku tak pernah melarang mu." aku berkata dan pergi.
"Manda...Auh." Zein menarik ku namun dengan cepat aku mencekal dan memuntir lengannya.
"Ingatlah bahwa aku adalah seorang petarung dan aku tak suka diatur, jika kau mau menanda tangani surat perceraian itu maka aku tak akan keluar dengan David lagi, jadi tanda tangani saja." ucapku dengan kesal.
"Kau ingin bercerai dengan ku? Jadi setelah aku menanda tangani surat itu kau akan meninggalkan David?" tanya Zein sambil menggosok tangannya yang aku cengkal tadi.
"Tentu karena aku ingin kembali ke negaraku dan tak ingin berurusan dengan kalian semua." jawabku dengan tegas.
"Aku tak akan pernah menceraikan mu." jawab Zein
"Kau jangan serakah, kau sudah memiliki Sila kekasihmu itu. Dan aku tak ingin dimadu. Keluar.!" aku mendorong Zein keluar dari kamarku.
Aku yang sudah tak tahan lagi dengan sikap Zein dan juga orang tua ku pun mulai menipu Zein dengan menyelipkan berkas perceraian kami diantara berkas - berkas lainnya yang harus ditanda tangani oleh Zein. Setelah itu aku pun mengurus perceraian ku dengan lancar tanpa diketahui oleh siapa pun.
Setelah semua prosesnya selesai dan akta perceraian itu pun keluar aku pergi meninggalkan rumah keluarga Zhafran dan aku tak kembali ke Indonesia karena aku tetap di Singapura sebagai pegawai hotel dengan nama penyamaran. Aku tak ingin lagi kembali dan menjalin hubungan dengan keluarga Zhafran dan tak ingin ditemukan oleh siapa pun dari orang yang aku kenali.
Aku merasa sangat bebas setelah mengirimkan surat perceraian yang telah selesai dan aku selipkan sebuah surat serta ku tulis kalimat 'Good bye suamiku'