Rencananya, keluargaku akan berangkat paling telat pada pukul dua siang. Lalu, sesudah melaksanakan tugas siang, aku akan meminta surat izin kepada BK. Setelah itu, keluar dan pulang. Sederhana, bukan?
Memang sederhana pada kenyataannya.
Kupikir, akan sedikit sulit menghadapi guru BK, yang agaknya temperamental. Itu sedikit membuatku takut, sebab persepsi bahwa BK itu ngeri dan menakutkan masih menempel di kepalaku. Akhirnya, ini mengakibatkan penyakit overthinking kembali, tidak dapat berhenti maupun menginjak rem, selalu kepikiran tentang hal itu. Sungguh, ini merepotkan.
Yah, mau bagaimana lagi, mau tidak mau aku harus melakukannya, atau tidak sama sekali. Oh, cukup keren juga kalimat barusan. Baik, aku masukkan dalam daftar "kutipan keren diriku" di aplikasi note. Hm, apa kalian mengira ini caraku menghibur diri? Tidak salah. Tepatnya, ini adalah caraku mengalihkan pikiran agar tidak overthinking.
Baiklah, tugas siang selesai, saatnya membeli beberapa makanan ringan sebelum pergi ke ruang BK. Setidaknya, aku tidak boleh membiarkan perut ini kosong selama perjalanan, atau pusing akan menyerang tanpa henti. Entah bagaimana atau apa hubungan saintifik antara dua hal itu, yang pasti, itu akan sangat merepotkan dalam perjalanan nantinya.
Oh, koperasi tampaknya tidak seramai tadi pagi. Bagus, dengan ini aku bisa dengan cepat menyelesaikan makan siang. Aku mengambil dua bungkus potato chips ketika salah seorang teman, sebut saja Arete—dia memang suka mengejar kebahagiaan—memanggilku. Sejenak, percakapan ringan dimulai. Sekiranya memakan waktu sepuluh menit, sampai aku duduk di kursi kelas, menikmati dua bungkus potato chips yang asin dan gurih ditemani sebotol air mineral.
Sepuluh menit berlalu sampai potato snack yang kubeli benar-benar habis, tidak menyisakan apa pun selain angin dan bungkus plastik. Meneguk air mineral, sejuk mengalir dari tenggorokan menuju sekujur tubuh. Menyegarkan, seperti sudah sangat lama sejak terakhir meminum air segar semacam ini. Melirik jam dinding, itu menampilkan pukul 13:10, yang berarti waktuku tidak banyak. Baik, sudah saatnya.
Dengan langkah tidak berirama aku berjalan menuju ruang BK. Membuka pintu, hawa dingin seketika menusuk menembus sampai saraf-saraf. Pendingin ruangan tampaknya sudah dinyalakan sedari pagi, menampilkan angka 16 derajat celcius. Jujur saja, ini seperti berada di puncak salah satu gunung tertinggi di dunia—yah, tidak seseram itu sebenarnya, tapi ini amat sangat dingin.
Dalam keadaan menggigil, aku mengangkat kaki masuk menuju ruang sejuk itu, lalu menutup pintu dengan pelan. Hanya ada dua sosok yang menunggu, duduk layaknya dokter atau psikolog yang menunggu kehadiran seorang pasien. Menelan ludah, aku menghampiri salah satu yang ada di dekat pintu masuk—tepatnya, beberapa meter di samping kiriku.
Guru itu berkacamata, gaya rambut undercut, wajahnya menggambarkan misteri bagai kasus tidak terpecahkan. Kemudian aku mengucapkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, meminta izin keluar sekolah karena ada agenda tertentu.
Dia mengizinkan, menunjuk pada buku tebal dan menyuruhku duduk sambil menulis dalam buku itu. Tidak banyak, dalam buku tebal itu, aku hanya menuliskan hari dan tanggal, nama lengkap, asal kelas, alasan atau keterangan izin, serta paraf guru. Mudah, dalam kurang dari satu menit selesai, meski dengan tulisan seperti anak sekolah dasar.
Lalu guru berkacamata melempar dua lembar kertas, merupakan surat izin yang dibutuhkan, satu diberikan pada penjaga dan satu lainnya diberikan pada guru yang mengajar nanti. Gampang saja ternyata, hanya perlu menulis dan menulis, tidak bertele-tele dan to the point. Apa memang semudah ini?
Selesai dengan kegiatan menulis, aku berterimakasih pada guru berkacamata, dan keluar dari ruang BK. Perubahan drastis dari dinginnya ruang bagai lemari pendingin menjadi panas seolah-olah berada di suatu negara tropis. Sedikit mengejutkan tubuh, walau beberapa menit setelahnya dapat beradaptasi.
Mengambil tas, tidak lupa menaruh surat di meja guru, lantas aku dengan cepat berjalan ke tempat parkir sepeda. Di antara banyaknya sepeda mini, punyaku adalah yang paling mencolok—sepeda gunung dengan corak merah menyala bagai bulan di malam hari. Menarik pelan, menaiki sepeda, aku pun pergi.
Adiós.
Perjalanan itu menghabiskan waktu sekitar sepuluh sampai dua puluh menit, atau mungkin lebih. Kondisi jalanan yang sepi memudahkan perjalanan, tidak banyak terlihat mobil-mobil melaju kencang. Jadi, aku mengayuh santai pedal sepeda sambil menikmati udara panas siang hari, yang sejujurnya, panas.
Di rumah, kedua orang tuaku, Ares dan Nemesis, sudah berpakaian rapi. Pun sama dengan Artemis, adik perempuanku, seakan mereka hendak mengikuti pertemuan resmi para petinggi. Mereka semua nampak siap dengan kegiatan yang sudah direncanakan. Jadi begitu, sekarang adalah giliranku berganti baju dengan setelan yang lebih rapi dan elegan.
Baiklah, aku memilih setelan dengan gaya minimalis, jas hitam dengan celana hitam panjang serta dasi merah, menurutku sudah cukup elegan. Keluar kamar, ayah dan ibuku, juga adikku, menatap dengan tidak sabar. Mau bagaimana lagi. Baik, mari mulai saja, agenda hari ini:
"I Katastrofi ton Theotion."