Hai perkenalkan namaku Ilona aku akan menceritakan bagaimana aku bisa menyukainya. Aku masih mengingat nya dengan jelas itu adalah hari kamis pada saat jam istirahat pertama. Aku berada di bangku sahabat ku namanya Shasa dan Lina, karena tempat duduk kami terpisah jadi aku sudah terbiasa untuk kebangku mereka untuk mengobrol atau sekedar bersenda gurau dengan mereka. Saat sedang asik bercanda dengan kedua sahabat ku itu, aku mendengar samar samar ada yang mengatakan "permisi" dari arah belakang ku karena samar samar aku biarkan saja dan aku hanya membatin "Ah mungkin hanya perasaan ku saja".
Tapi setelah aku menatap wajah kedua sahabatku yang ada di depanku mereka seperti mengisyaratkan sesuatu?. Mungkin karena aku saja yang kurang tanggap akan isyarat mereka, mereka pun berkata dengan intonasi yang agak kesal kalau ada orang di belakangku.
Dengan refleks aku pun memutar badan ku dan matau bertatap an dengan "dia" selama beberapa detik, sebelum dia pergi begitu saja dengan cuek dan dinginnya. Meninggal kan aku yang masih terpaku dan sedikit linglung dengan kejadian tadi.
Tiba tiba Shasa dan Lina menjerit tertahan karena mereka melihat kejadian tadi secara langsung.
"Lin Lin Lin kamu liat kan tadi aaaaaa"
"Iya sha aku juga punya mata kali hahaha"
"Ekhem cie cie Ilona" kata Shasa sambil menyenggol bahu Lina
"Cie cie ona tatap tatapan sama dia" kata Lina dengan senyum puasnya itu
"Ish apa sih kalian berdua, tau ah" kataku dengan agak kesal dengan perkataan mereka, walaupun aku juga salah tingkah karenanya tapi aku harus menjaga harga diri ku bukan?
Haha aku hanya tidak ingin di cap murahan sih karena tatapan beberapa detik itu aku sudah sangat salah tingkah.
Setelah kejadian itu entah kenapa aku mulai memperhatikan nya dalam diam hmmm sebenarnya dari awal tahun ajaran baru, di mulai aku sudah memperhatikan nya sih. Tapi setelah kejadian itu aku lebih sering memperhatikan nya walaupun harus sembunyi sembunyi karena aku tidak mau ketahuan oleh siapa pun kalau aku menyukai nya.
Karena dia cukup di kenal sebagai anak yang nakal tapi tampan, dan cukup bersaing dalam hal akademik dan non-akademik, dan sayangnya dia juga sudah mempunyai seseorang. Jadi aku sudah memutuskan untuk tidak memberitahu kan kepada siapa pun tentang perasaan ku termasuk ke dua sahabatku itu. Aku hanya bisa mengagumi dan memperhatikan nya dalam diam yaah sebuah keuntungan bagiku karena kami satu kelas jadi banyak kesempatan dimana kami bisa bersama walaupun hanya sebagai teman satu kelompok. Hanya sebatas itu pun aku sudah cukup bahagia, yah bagiku mencintai tidak harus memiliki bukan?
Melihat nya tersenyum dan tertawa lepas bersama temannya saja sudah membuatku bahagia walaupun terkadang aku merasa sedih saat melihatnya dengan kekasih nya tapi apa yang bisa kuperbuat aku hanya pengagum rahasia nya. Hingga pada akhirnya tiba di saat hari kelulusan kami dari SMA, pada saat itu aku bisa melihat begitu tampannya dia menggunakan setelan jas hitam yang tampak sangat pantas di badannya dengan sepatu pantofel yang hitam mengkilat.
Yang ada di pikiranku pada saat itu hanya "waah tampannya jodoh orang"
Percaya atau tidak tapi hanya itu yang terlintas di pikiran ku. Sampai akhir pun aku tidak pernah terpikirkan untuk mengungkapkan perasaan ku kepadanya padahal itu kesempatan terakhir ku, bohong kalau aku tidak merasa kecewa dan menyesal. Tapi ya sudahlah itu sudah terlewat dan mau bagaimana lagi kalau jodoh nanti juga di pertemukan lagi. Dan benar saja jodoh memang ngga kemana aku bisa bertemu lagi dengan nya setelah hampir 7 tahun. Dan yang membuat ku heran adalah kami bertemu sebagai atasan dan bawahan, ternyata aku diterima oleh perusahaan keluarga nya? Dia sebagai direktur utama dan aku hanya sebagai Data scientist di perusahaan nya?.
"Haha hidup sungguh lucu bukan?
Kalau begini bagaimana aku bisa menggapainya?"
"Bahkan untuk menyatakan perasaan ku padanya pun sudah sangat mustahil"
"Kasta kita sangat berbeda"
Itulah yang terbesit di pikiran ku saat aku tahu dia adalah seorang direktur utama dan anak satu satunya pengusaha yang sangat sukses dan bahkan sudah terkenal di mana mana. Tapi itu dulu kalau sekarang aku bahkan bisa mengungkapkan perasaan cintaku setiap hari karena dia sudah sah menjadi suami ku.
Hahaha benar benar tidak terduga bukan tapi itu lah yang terjadi akupun juga masih tidak menyangka hal klise ini bisa terjadi di hidupku, bahkan hingga kami memiliki 2 anak dan hidup dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Aku sangat berterima kasih pada tuhan yang sudah memberikan kenikmatan hidup yang sangat berharga bagi ku dan keluarga kecilku.