Di sini aku berdiri. Di tengah ramainya orang yang menyaksikan moment bahagia ini. Sebentar lagi ia akan sah menjadi suami dari kekasihnya, sahabatku sendiri. Tapi mengapa, hatiku malah terasa sakit? Mengapa, aku tidak berbahagia karenanya?
Mengapa Tuhan?
Itu karena ... CINTA!
•••
"Bagaimana para saksi, sah?"
"SAHH!"
"Alhamdulillah."
Sekatika, saat itu juga hatiku menangis. Hatiku hancur berkeping-keping. Dan aku menitikkan air mata, tapi secepat mungkin kuhapus titik air mata itu dan menggantinya dengan sebuah senyuman manis walau terpaksa.
***
Sekarang aku lebih dekat dengannya. Dengan senyuman palsu ini aku memberinya selamat. Ralat! Memberi mereka selamat. Daffa dan Lusi
Aku tersenyum dan memberikan sebuah kado pernikahan kepada Lusi dan menyalaminya dan mengucapkan selamat padanya.
"Selamat, ya. Semoga langgeng," ucapku
"Mira, terima kasih ... " ucap Lusi sambil menerima bingkisan kado dariku dan menaruhnya, lalu ia memeluk tubuhku.
"Terima kasih, ya, Ra. Kamu satu satunya teman aku yang ikut andil dalam moment bahagia ini. Aku senang sekali," ujar Lusi
"Tidak usah bilang terima kasih seperti itu kali, kan, kamu sahabat aku," kata Amira
Lusi pun melepaskan pelukannya padaku. Aku beralih pada Daffa, orang yang diam-diam aku cintai. Entah kenapa, jantungku berdegup kencang, tubuhku bergetar menghadapinya. Tanganku terulur untuk memberinya selamat, ia menggapainya.
"Selamat ya, Daff. Jangan sakiti dia," ucap Amira
"Sip, Ra. Lo tenang saja. Thanks ya buat semuanya," kata Daffa
Lagi-lagi aku mengeluarkan senyum palsu ini.
"Hmm ... aku ke toilet dulu ya," kata Amira
Aku langsung berpaling dan berlalu.
•••
Di sinilah ia, Amira Zulfahrani. Perempuan yang mencintai pria yang salah. Pria yang sudah memiliki kekasih, pria yabg sekarang sudah menjadi suami orang lain dan lebih parah lagi orang tersebut adalah sahabatnya sendiri.
Ia menangis di toilet, di depannya ada sebuah cermin yang menampakkan pantulan bayangan dirinya. Matanya memerah, ia terisak, menumpahkan semua kesedihannya tanpa berbicara. Ia merutuki dirinya di dalam hati. Harusnya dari awal ia jaga hatinya dengan baik. Tak seharusnya ini terjadi. Mengapa ia bisa membiarkan hatinya dicuri oleh orang yang salah? Bodoh sekali dirinya!
Ia sudah tak sanggup, berdiam diri dan menangis di sana membuatnya sesak. Ia pun keluar dan menuju taman terdekat.
Tak ada org di sana, ia bebas merasakan kesedihannya di sana. Namun, ia lelah menangis, menangis dan menangis terus. Ia pun merogoh tasnya, diambilnya ponselnya dan menelpon seseorang, menitip pesan kepada seseorg yang juga menghadiri pernikahan sahabatnya bahwa ia ada urusan mendadak dan harus pulang.
Saat ia ingin melangkah pergi, ada seseorang yang muncul di depannya.
•••
"Mira? Kamu menangis?"
"Aldi, aku mau pulang."
Amira berjalan mendahuluinya, tapi dengan cepat, lelaki tersebut menahan tangannya. Amira diam tak berdaya. Lelaki tersebut kembali berada di depan Amira.
"Kamu kenapa?"
Tanpa aba-aba Amira langsung memeluk tubuh lelaki tersebut dan menumpahkan kesedihan di sana.
Lelaki tersebut adalah Aldi Pratama, lelaki yang mencintai Amira.
"Aku senang kamu memeluk aku, Amira, tapi aku lebih senang kalau kamu memeluk aku karena cinta yang kamu rasa untuk aku bukan sedih karena tidak bisa memiliki orang lain," batin Aldi
"Kamu harus cerita semuanya sama aku," kata Aldi yg menuntun Amira duduk di bangku taman.
Aldi menatap wajah Amira lekat-lekat menunggu Amira bercerita.
"Aku tidak sanggup, Aldi ... " keluh Amira
"Kenapa? Kamu tidak sanggup cerita sama aku atau tidak sanggup lihat Daffa sudah dimiliki orang lain?" tanya Aldi blak-blakkan.
Amira menatap Aldi dengan wajah tak percaya, bagaimana dia bisa tahu?
"Aku lebih tidak sanggup lihat kamu menangis. Terlebih lagi karena kamu sakit hati lihat orang lain mencintai perempuan yang bukan kamu orangnya. Karena aku mencintai kamu, Mira."
Amira terkejut tak menyangka.
"Ya, aku cinta sama kamu entah sejak kapan dan aku tahu kamu mencintai orang lain dan sering nangis karena dia, karena dia sudah punya kekasih," jelas Aldi
"Maaf ... " lirih Amira
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah. Aku yakin kamu tahu kalau aku tahu kamu mencintai Daffa, tapi kamu sembunyikan itu dan aku yakin kamu tahu bahwa aku cinta sama kamu, tapi kamu menutup kenyataan itu karena kamu lebih mencintai orang lain. Kenapa, Mira? Kenapa kamu tidak bisa buka hati kamu utk mencintai orang lain?" tanya Aldi
"Aku sudah coba, tapi tidak bisa," jawab Amira
"Sekarang aku ada di sini. Kamu bisa terima cinta aku dan belajar cinta sama aku dan lupakan dia. Aku rela menunggu sampai kamu bisa," ucap Aldi
Amira masih saja menangis, lalu ia menggeleng.
"Aku tidak bisa. Kamu orang baik, Aldi, aku tidak mau cuma jadikan kamu pelarian dan bikin kamu sakit hati. Sudah cukup aku yang sakit hati, jangan sampai kamu merasakan itu, tapi aku masih mau kamu untuk menunggu aku. Aku akan berusaha keras untuk lupakan dia, baru saat itu aku bisa terima kamu dan aku mau kamu bantu aku. Karena itu semua tidak mudah buat aku," ucap Amira
Amira pun tersenyum walau hanya sedikit dan Aldi mengangguk.
"Pasti. Aku akan menunggu dan bantu kamu," ujar Aldi
Aldi pun menghapus semua sisa air mata Amira.
"Sekarang aku mau pulang. Aku pusing, capek sama semuanya," kata Amira
"Aku antar kamu pulang ya," tawar Aldi
"Tidak usah," tolak Amira
"Biar aku antar, kamu bilang kamu pusing, kan? Aku bisa khawatir nanti," ujar Aldi
Amira terkekeh kecil dan akhirnya mengangguk pasrah.
***
Sesampainya di rumah Amira, Aldi langsung pamit pulang dan membiarkan Amira istirahat. Sedangkan Amira langsung ke dalam masuk kamar, mengganti pakaian dan merenung.
Amira merebahkan diri di kasur dengan posisi tengkurap dan membekap guling di dadanya.
Amira sedang mengingat kisahnya, bagaimana ia bisa jatuh hati pada Daffa.
•FlashBack•
Di sebuah sekolah menengah atas, tepatnya di sebuah ruang kelas Amira sedang menunggu sahabatnya kembali ke kelas.
"Kamu habis dari mana?" tanya Amira pada sahabatnya, Lusiana.
"Habis beli air minum, terus tadi ketemu Daffa sebentar," jawab Lusi
"Daffa, siapa? Pacar kamu, ya? Yang mana orangnya? Kayak mana?" tanya Amira dengan nada meledek.
Lusiana tersipu malu.
"Dia orangnya humoris dan sedikit romantis. Kayak tipe cowok kita. Nanti kamu juga tahu," jelas Lusi
***
"Ra, hari ini aku pulang bareng Daffa, tidak apa, kan?" tanya Lusi
"Ya, tidak masalah. Aku juga kayaknya dijemput Ayah," jawab Amira
"Itu Daffa datang. Duluan ya," pamit Lusi
"Hati hati, ya ... " pesan Amira melambaikan tangan.
***
Malam ini Amira sedang berkomunikasi dengan Lusiana lewat telepon.
"Yah ... kelas 12 ini kita tidak sekelas lagi, Ra. Kamu masuk ke kelas berapa?"
"Aku di kelas XII IPA 5. Klo kamu?"
"Aku di XII IPA 3. Berarti nanti kamu sekelas sama Daffa dong, dia juga kelas XII IPA 5."
"Oke deh nanti aku awasi dia. Sampai macam-macam di belakang kamu, aku hajar dia!"
***
Di hari ulang tahun Amira.
@kelas
Semua mengucapkan selamat, sebagian memberi kado. Daffa pun menghampiri.
"Lo ultah, Ra? Selamat ulang tahun ya," ujarnya mengajak Amira berjabat tangan
Amira menerima uluran tangannya, mereka pun berjabat tangan
Mulai saat itu mereka dekat karena sama-sama mengenal Lusiana. Mereka sering bercanda di kelas dan mulailah timbul rasa di hati Amira. Yang Amira sadari bahwa itu tidak pantas.
***
Saat pentas drama dilangsungkan, Amira dapat kelompok yang sama dengan Daffa, hal itu membuatnya senang dan saat hari perpisahan sebentar lagi datang, diadakan acara foto berkelompok sesuai kelas, Amira sekelompok dengan Daffa. Dan mereka berfoto dengan posisi bersebelahan. Itu pun membuat jantung Amira berdegup kencang.
***
Dan saat sudah lulus mereka masih tetap menjalin hubungan. Amira tetap bersahabat dengan Lusiana dan Lusiana tetap berpacaran dengan Daffa sedangkan mereka tak pernah tahu kalau Amira memendam perasaan pada Daffa.
Hari telah berlalu begitu cepat sampai akhirnya Lusiana bertunangan dengan Daffa dan saat itu juga Aldi datang sebagai teman Daffa.
•FlasBack (off)•
"Sejak itu aku jadi sering ketemu Aldi bersama Lusi dan Daffa, aku tidak menyangka ternyata Aldi punya rasa sama aku dan dia tahu semua tentang perasaan aku ke Daffa. Aku harus apa?" gumam Amira tampak berpikir.
"Aku sudah bilang untuk belajar membuka hati buat orang lain dan mencintai Aldi. Apa aku bisa? Tapi, aku tidak boleh dan tidak mungkin merebut Daffa dari Lusi, karena aku bukan PELAKOR!" batin Amira
"Aldi, dia orang baik, sekarang hanya dia harapan aku untuk bisa move-on. Come on, Ra, pasti bisa!" gumam Amira
Amira mulai menutup matanya dan terlelap
***
•Keesokan Harinya•
Bukan bermaksud bermalas ria, tapi Amira baru saja menata ulang kamarnya agar berusaha bangkit dari kesedihannya.
Ia berharap dengan suasana baru di dalam kamarnya, ia juga dapar suasana baru di dalam hatinya. Alias melupakan kesedihan dan juga melupakan Daffa.
Setelah dirasanya sudah rapi, ia pun bergegas mandi, membersihkan tubuhnya.
•••
Baru saja keluar dari kamar mandi ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya
"Maaf, Non, ada yang nyari di luar."
"Siapa, Bik?" tanya Amira dari dalam kamar.
"Bibi lupa nanya nama nya, Non."
"Suruh tunggu di luar saja, Bik," ucap Amira
"Baik, Non Mira."
Dengan hanya balutan handuk kimono dan lilitan handuk di kepalanya, Amira mengintip dari jendela kamarnya. Yang terlihat hanya punggung seorang lelaki, tapi sepertinya Amira mengenalinya. Ia pun bergegas memakai pakaian. Setelah rapi dengan pakaiannya, Amira pun berjalan menuju balkon kamarnya di lantai 2 rumahnya.
"Hei!" serunya berteriak.
Lelaki yang menunggunya membalikkan tubuhnya dan melongok ke arah balkon kamar Amira di lantai 2. Ia tersenyum pada Amira. Lalu, dari atas sana Amira seolah bertanya, "ada apa?" dan lelaki tersebut pun seolah mengerti, lalu seolah membalas dengan berkata, "sini, turun dulu ... " dan Amira seolah membalasnya lg dengan berkata ,"oke, tunggu ya ... " Dan sesegera mungkin Amira pun menghampiri lelaki tersebut.
"Aldi, ada apa?" tanya Amira
Lelaki tersebut adalah Aldi.
"Kita jalan, yuk ... " jawabnya
"Ciye.. Ngajak PDKT, nih ceritanya? Emang mau ke mana?" tanya Amira dengan nada meledek.
Inilah sifat tersembunyi dari Amira. Humoris dan termasuk suka meledek. Aldi dibuat malu karenanya dan sedikit salah tingkah.
"Ke mana saja yang kamu mau, kamu mau ke mana?" tanya Aldi
"Loh, kok jadi tanya sama aku. Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku belum makan nih, di mana saja terserah. Kamu yang pilih," jawab Amira
"Ya sudah, aku tahu kok tempat makan yang enak. Yuk ... " ujar Aldi
"Kita naik motor kamu?" tanya Amira ragu
"Iya, emang kenapa? Kamu takut?" tanya Aldi meledek balik
"Siapa bilang? Aku tuh cuma sudah lama tidak naik motor. Lagi pula, ngajak cewek jalan pakai mobil mewah kek, ini malah pakai motor," ujar Amira hanya dengan maksud bercanda.
Aldi pun menaiki motor ninja miliknya dan disusul Amira di belakangnya.
"Emang apa salahnya? Sama-sama keren, kan?"tanya Aldi
"Untungnya cewek cantik yang kamu ajak jalan ini tidak matre," canda Amira
"Iya, deh, cewek cantik ... " canda Aldi sambil menoleh ke belakang. Tampaklah Amira dari dekat, bahkan sangat dekat.
Amira cantik sekali jika dilihat sedekat ini. Hingga jantung Aldi jadi berdegup kencang, semoga saja Amira tak menyadarinya. Amira pun menyadarkannya dengan tepukan di pundaknya
"Hei! Kok malah bengong? Ayo jalan ... " ujar Amira
"Eh, iya-iya ... " kata Aldi
•Di Perjalanan•
Saat di perjalanan karen rambut Amira tergerai cantik tak memakai helm, dibuatlah rambutnya yang basah itu berterbangan karena angin semilir. Harum wangi rambut Amira dapat dirasakan oleh Aldi dan Aldi hanya menikmatinya. Diliatnya dari kaca spion motor, Amira sedang menikmati semilir angin dengan merentangkan sebelah tangannya dan terlihat sekali bahwa ia sangat menikmatinya terbukti dari matanya yang terpejam.
"Asyik kalau naik motor, kan?" tanya Aldi
"He'em ... " sahut Amira tanpa menghentikan aksinya.
Tanpa disadari, mereka pun telah sampai di tempat tujuan. Aldi menghentikan laju motornya dan Amira yang tak menyadarinya langsung memeluk erat pinggang Aldi.
Deg-deg!
Jantung Aldi berdegup lagi bahkan kali ini lebih kencang dari sebelumnya.
"Aldi, kenapa berhenti mendadak, sih?" sewot Amira karena terkejut.
"Kita sudah sampai," jawab Aldi
"Bilang dong ... " kata Amira
"Iya deh, maaf ... " sahut Aldi
•••
@Caffe
"Kamu mau pesen apa?" tanya Aldi setelah mereka duduk
"Boleh makan apa saja, kan?" tanya balik Amira
"Iya, terserah. Nanti aku yang bayar," jawab Aldi
"Oke, Mba. Saya pesen spageti 2 porsi jadikan 1 ya, kentang gorengnya 1, sama minumnya es lemon teh 1," ujar Amira setelah pelayan datang.
"Kalau saya, spageti 1 sama orange jus 1 ya. Terima kasih," ucap Aldi
"Mohon ditunggu ya. Permisi." Sang pelayan kembali ke dapur.
"Ra, kamu betulan mau makan spageti 2 porsi sekaligus?" tanya Aldi
"Salah ya? Kalau kamu tidak mau bayar, tidak apa-apa. Aku capek tahu, habis bersih-bersih, belum makan sama sekali. Lagi pula kalau aku pesan semua makanan di sini 2 porsi baru kamu boleh larang aku. Wlek!"
"Ya, jangan ngambek dong, maaf deh ... Aku yangg bayar kok nanti," kata Aldi
"Permisi.. Ini pesanannya, silahkan."
"Terima kasih ya, Mba," ucap Amira
"Sama-sama, permisi."
Selama mereka makan, mereka hanya diam. Seprertinya Amira masih berpura pura ngambek pada Aldi.
"Kamu sudah selesai? Aku bayar dulu, ya," ujar Aldi
@Parkiran
"Kita mau ke mana lagi?" tanya Aldi
"Terserah," jawab Amira dengan singkat.
"Hei, masih ngambek nih ceritanya? Sudah dong ngambeknya ... " bujuk Aldi
Amira hanya diam.
"Ya sudah, aku bakal ajak kamu ke suatu tempat, kamu pasti suka," ujar Aldi
*****
Aldi mengajak Amira ke suatu tempat yang indah. Sebuah danau dengan sebuah taman yang indah. Tak sedikit orang yang memancing di danau dan tak sedikit pula muda-mudi yang datang berpasangan hanya untuk melihat keindahan alam ini.
"Bagaimana? Indah, kan? Aku tidak salah, kan? Apa kamu suka?" tanya Aldi
"Lumayan, trus kita mau apa di sini? Melihat orang memancing?" tanya Amira
"Kamu tunggu sebentar, ya ... " kata Aldi yang kemudian berlalu pergi.
Amira pun duduk di bangku taman di sana dan Aldi pun dtg dengan sebuah es krim di tangannya
"Taraaa ... es krim datang!" seru Aldi
"Cuma 1?" tanya Amira
"Berdua, biar romantis ... " kata Aldi
"Siang-siang makan es krim, tidak baik," tolak Amira berlagak masih ngambek.
"Ya sudah, kalau tidak mau ... " kata Aldi
Aldi pun memakan es krim itu sendiri. Amira hanya memerhatikannya.
"Mau, tidak? Mau, ya?" tanya Aldi sambil menggoda
"Hehe ... mau dong, tapi belikan lagi ya, yang di cup kecil saja," jawab Amira
"Tadi katanya tidak mau ... " kata Aldi
"Kalau tidak mau belikan lagi, tidak apa-apa. Aku bisa beli sendiri," ujar Amira yang ingin melangkah pergi
Aldi menahannya.
"Aku yang beli, kamu tunggu di sini," kata Aldi lalu melangkah pergi.
Tak lama kemudian Aldi kembali dengan membawa yang diinginkan Amira.
"Terima kasih, Aldi," ucap Amira
"Sama-sama. Sudah tidak ngambek lagi, nih? Sudah tidak galau lagi karena-"
"Karena apa, siapa? Daffa?"
"Maaf, bukan maksud aku ... " ujar Aldi
Amira diam sejenak lalu menghela nafas.
"Aku selalu berusaha untuk lupakan dia dan sekarang aku bakal berusaha lebih keras lagi. Lagi pula aku tidak mungkin rebut dia dari sahabatku sendiri, apa lagi mereka sudah sah jadi suami istri. Aku bukan PELAKOR!" Amira berkata sambil tersenyum.
Aldi tahu itu semua sebenarnya sangat sulit dan sebenarnya Amira pasti masih meraaa sedih.
"Lihat deh ada orang memancing bukannya dapat ikan malah dapat sandal bekas." Aldi berusaha menghibur Amira.
"Masa, sih? Mana? Oh, iya ... " ujar Amira
Mereka berdua pun tertawa cukup keras hingga terdengar orang tersebut.
"Woi! Lo berdua yang ketawa, kurang ajar lo!" Orang tersebut yang merasa tersinggung.
Amira berpura-pura diam tak tahu dan memakan es krim lagi.
"Tidak kok, Pak. Saya cuma lagi bercanda sama pacar saya," dusta Aldi
"Dasar anak muda!"
"Bapaknya marah.. Kamu sih ketawanya keras banget," ujar Amira
"Kamu juga ikut ketawa tadi," kata Aldi
"Es krim aku habis," gumam Amira
"Masih mau? Nih ...."
"Tidak kok, aku juga sudah kenyang," tolak Amira
"Masa, sih? Nih, rasakan!"
Dengan jahilnya Aldi menempelkan es krimnya ke hidung Amira.
"Lucu ... " ledek Aldi
"Aldi, iseng banget sih ... " sebal Amira
"Sini, aku bersihkan. Maaf ya," kata Aldi
Saat Aldi membersihkan noda es krim di wajah Amira terjadilah adegan tatap menatap di sana. Cukup dalam. Sampai akhirnya ....
"Aldi, sakit tahu!"
Aldi menarik hidung Amira. Amira pun mengejar Aldi yang berlari menghindar sampai ke luar kawasan danau walau pun masih terdapat taman di sana.
"Aldi!" teriak Amira dengan geram.
"Ampun, Mira ... " Aldi terus berlari sambil tertawa.
Sampai posisinya dekat dengan Aldi, Amira pun memukuli lelaki itu.
"Ampun, Ra. Yah, es krim aku jadi jatuh ... " ujar Aldi
"Biar saja. Sini kamu, rasakan nih ... " kata Amira
"Aww! Sakit!"
Saat Amira terus memukuli Aldi sambil berjalan mundur tapi saat itu juga ada sebuah batu di belakang Amira hingga membuat Amira ingin jatuh karena tersandung, namun tak sengaja Aldi ikut tertarik oleh Amira hingga mereka jatuh bersamaan dengan posisi tertidur, Aldi berada di atas Amira.
Adegan tatap menatap pun terjadi lagi.
Tak menunggu lama, Aldi tersadar. Dan dengan jahilnya lagi, Aldi malah mencolek pinggang Amira yang membuat Amira merasa geli karenanya dan tak sengaja dengan spontan Amira memukul bagian dalam sikut Aldi karena geli yang ia rasakan. Itu membuat Aldi jatuh tepat dekat di atas wajah Amira, dan OMG! Bibir mereka bersentuhan. Walaupun hanya tipis dan sedikit sekali mereka sudah 'berciuman' walau secara tak sengaja.
Amira berteriak histeris dan menangis.
Aldi terkejut dan langsung berdiri.
"Mira, kamu kenapa? Ayo, bangun ... " Aldi mengulurkan tangannya agar Amira bisa berdiri
Amira yag menerima uluran tangan Aldi hanya mampu terduduk di atas rerumputan taman.
"Sudah dong, jangan menangis. Tidak enak, nanti kedengeran orang," ucap Aldi yang ikut duduk di sebelah Amira
"Tadi itu, first kiss aku. Kamu rebut begitu saja. Itu buat suamiku nanti," omel Amira
"Oke maaf, aku tidak sengaja. Sudah menangisnya, ya ... " bujuk Aldi
"Kamu bisa saja bicara. Pertama, kamu bikin sebal aku di caffe. 2, kamu bikin hidung aku cemong pake es krim. 3, kamu tarik hidung aku sampai merah dan terakhir kamu rebut first kiss aku yang aku jaga baik-baik," kesal Amira
"Maaf, tidak sengaja. Lagi pula cuma sedikit kok," kata Aldi
"Sedikit kamu bilang?" tanya Amira sambil mendelik.
Saat Amira sudah bersiap mengomel Aldi memotong ucapannya.
"Maaf, sudah ya, atau aku c-c-ci-cium lagi, nih ... " ujar Aldi
Amira langsung diam dengan pipi menggembung, membuat Aldi ingin tertawa karena menurutnya wajah Amira sangat lucu. Namun, sebisa mungkin Aldi menahannya agar Amira tidak marah lagi.
"Kamu curang, mainnya pakai ancaman," kata Amira
"Dasar pesek rakus! Hehe ... " ledek Aldi
"Aldi jahat, pakai ngatain aku pula ... " ucap Amira
"Kamu pesek, rakus lg, tapi cantik, sih ... " Aldi langsung kabur meninggalkan Amira
Amira yang masih sebal dengan Aldi hanya mengejarnya dengan berjalan.
"Mau kemana lagi?" tanya Aldi
Amira menggeleng
"Mau pulang ...."
"Pulang? Kamu masih marah, ya? Maaf, deh ... " ujar Aldi
Amira menggeleng lagi.
"Capek, mau pulang." Amira cemberut dan menggembungkan pipinya.
"Lucu, deh ... ya sudah, ayo aku antar pulang," kata Aldi
***
Bukannya sampai di rumah Amira, Aldi malah berhenti di sebuah toko boneka.
"Kok malah ke sini?" tanya Amira
"Tunggu di sini dulu ya, sebentar saja."
Aldi langsung masuk ke dalam toko dan Amira menunggunya di luar. Sepertinya Amira tak sadar bahwa sedang berada di toko boneka. Tak lama kemudian Angga ke luar dari toko dengan menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
"Ra, aku punya sesuatu buat kamu. Nih ... "Aldi langsung memberi Amira sebuah boneka dari balik tubuhnya
Amira tersenyum kecil
"Lucu, manis lagi. Terima kasih ya," ucap Amira
"Sama-sama.. Buat jadi teman kamu curhat. Ya sudah, yuk pulang."
Aldi memberi Amira sebuah boneka beruang lucu berbaju bunga dengan tulisan Sweety di dadanya juga bandana di kepalanya. Dengan memeluk boneka tersebut Amira menaiki motor Aldi
***
@Rumah Amira
Amira dan Aldi pun turun dari motor.
"Ya sudah, sana pulang ... " ketus Amira
"Dih, jutek ... ngusir nih jadinya?" tanya Aldi
"Bukan, terus mau apa lagi? Aku mau istirahat," jawab Amira melembut.
"Bilang apa kek sebelum aku pulang," pinta Aldi
"Hmm ... terima kasih ya susah antar aku pulang, juga buat bonekanya. Kamu hati-hati di jalan," ucap Amira sambil tersenyum manis.
"Ya sudah, aku pulang ya ... " ujar Aldi
Amira mengangguk.
"Sweety, jagain orang yang aku sayang ya. Jaga dia baik baik. Dahh ...."
Amira tersenyum. Aldi pun menyalakan mesin motornya dan berlalu pergi.
Setelah Aldi benar-benar hilang dari penglihatannya, Amira pun masuk ke dalam rumah
@Kamar Amira
Amira mengganti pakaian dengan yang lebih santai lalu ia melihat boneka pemberian Aldi yang ia letakkan di atas kasur.
Lalu ia duduk di atas kasur dan kini boneka tersebut berada di tangannya. Ia tersenyum.
"Aldi, aku tidak tahu harus senang atau sebal sama kamu. Hari ini kamu berhasil buat pelangi di hidup aku, buat hidup aku berwarna. Kamu ciptain banyak rasa hari ini. Senang, nyaman, asik, sebal, kesel, marah. Kamu itu lucu, tapi menyebalkan. Ternyata kamu humoris juga. Kamu berhasil buat aku lupa sama kegalauan aku dengan sibuk mencari kesenangan. Ya kan, Sweety?" gumam Amira seraya tersenyum
"Tapi, aku masih sebal sama dia karena sudah rebut first kiss aku," batin Amira
***
•Keesokan harinya•
Saat Amira membuka pintu rumahnya tiba-tiba sudah ada Aldi yang berdiri di sana.
"Aldi, sejak kpn kamu ada di sini?" tanya Amira yang terkejut dengan kehadiran Aldi di rumahnya.
"Belum lama kok, sekitar 15 menit lalu," jawab Aldi
"Nih, buat kamu ... " Aldi memberi sebatang coklat
"Coklat? Buat aku? Dalam rangka apa, nih? Terima kasih ya," ucap Amira yang menerima coklat dari Aldi.
"Sebagai tanda permintaan maaf soal kemarin," kata Aldi
"Soal kemaren tidak usah dibahas lagi," sahut Amira
"Berarti kamu sudah tidak marah, kan? Ya sudah sekarang kamu mau ke mana? Aku siap antar," ujar Aldi
"Mau belanja ke mall."
***
@Mall
Di dalam mall, Aldi dikejutkan dengan Amira yang tak seperti perempuan lain. Jika perempuan lain akan lebih suka belanja baju, sepatu atau aksesoris kecantikan lainnya, namun Amira lebih suka memilah buku.
"Ra, apa tidak mau beli baju atau apa gitu?" tanya Aldi
"Baju aku masih banyak kok, masih layak pakai. Sedangkan buku yang aku hanya baca itu-itu saja. Jadi, aku beli lagi deh," jawab Amira
"Jadi, kamu koleksi buku, ya?" tanya Aldi
"Iya, buku macam-macam. Yang penting isinya bagus," jawab Amira
***
"Selagi di sini, kita ke zona bermain yuk," kata Amira
•••
"Ayo, kita main ... " ajak Amira
"Kamu senang ke sini ya?" tanya Aldi
"Iya, sama Lusi. Tapi, itu sudah lama, sudah jarang ke sini lagi," jawab Amira
***
Setelah dirasanya cukup lelah bermain, Amira dan Aldi pun memilih mengisi perut mereka.
Saat sedang makan, Aldi terus memerhatikan Amira yang lahap menyantap makanan.
"Ra, makan kamu banyak juga, tapi kok badan kamu tetap aja tidak berubah?" tanya Aldi
"Emang kenapa? Heran, ya? Aku tetap cantik, ya?" tanya balik Amira
"Dasar pesek rakus ... " ledek Aldi
Mereka sedang makan di kedai makan fried chicken.
"Ra, kamu makan blepotan tuh," ujar Aldi
Amira yang merasa malu pun langsung membersihkan sekitar mulutnya.
"Masa, sih? Sudah belum?" tanya Amira
"Masih ada tepung krispy nya tuh ...."
"Mana? Sudah bersih kok."
Tangan Aldi langsung bergerak membersihkan noda di ujung bibir Amira. Ia terhenti sejenak, memandang wajah Amira.
Deg-deg!
"Terima kasih ya," ucap Amira membuat Aldi tersadar dari lamunannya yang memandang wajah Amira.
"Sama-sama," balas Aldi dengan senyuman salting.
"Tunggu deh, aku kayak dengar suara orang cegukan, tapi kok tapi tidak ada ya?" tanya Amira
"Perasaan kamu saja kali."
Amira terus mendengarkan.
"Suaranya dekat banget, atau Ini bukan suara orang cegukan, tapi kamu deg-degan ya?" tanya Amira
"Tidak kok" elak Aldi
"Kayaknya aku sering banget dengar kamu deg-degan. Kamu tidak ada riwayat jantung, kan?"
"Aku sehat kok."
"Syukur, deh ...."
Gawat, ternyata Amira selalu menyadari hal itu.
"Aku sport jantung karena kamu, Amira. Kamu pasti sebenarnya tahu," batin Aldi
***
Saat Amira dan Aldi ingin pulang, mereka tiba-tiba saja bertemu dengan Daffa dan Lusi.
"Lusi, kamu di sini. Habis belanja?" tanya Amira
"Iya nih, belanja buat kebutuhan besok mau liburan," jawab Lusi
"Liburan? Kalian mau bulan madu? Kalian kan nikah muda, tidak mau nunda dulu?" tanya Amira
"Maksud kita emang mau liburan doang kok, masalah itu mah sedapetnya saja," ujar Lusi
"Lo mau honey moon, Daff?"tanya Aldi
"Yo'i bro. Lo nanti juga gitu kok sama Amira, sekarang pendekatan saja dulu, yang sukses ya ... " canda Daffa
"Apaan sih lo!"
"Ya sudah, kalau begitu jangan lupa pulang dari liburan kalian bawa oleh-oleh buat aku. Aku mau semuanya, dari baju, sepatu, jam tangan dan yang penting makanan. Oke?" Amira yang bermaksud bercanda.
"Banyak banget, Ra," kata Lusi
"Loh, iya dong. Harus beli ya, minta duitnya sama suami kamu. Kalau tidak, pulang dari sana aku cincang dia," ujar Amira melirik sinis ke arah Daffa.
Lusi terkekeh.
"Ih, sadis banget lo, Ra ... " ngeri Daffa
Amira kembali pada Lusi.
"Dan ingat, kamu hati-hati di sana. Kamu Daff, jaga Lusi. Kalau sampai ada lecet sedikit saja-"
"Lo akan cincang gue. Oke gue mengerti," ucap Daffa
"Bagus kalau kamu mengerti," kata Amira
"Kamu apaan sih, Ra. Emangnya aku barang?" tanya Lusi
"Kamu kan kesayangannya aku," ucap Amira langsung memeluk Lusi.
"Terima kasih ya," kata Lusi
"Lusi itu kesayangannya gue. Sudah tidak usah peluk, tuh si Aldi pengen dipeluk lo juga katanya," cerocos Daffa
Amira pun melepaskan pelukannya pada Lusi lalu melotot ke arah Daffa.
"Weh.. Tenang, Mba ... " canda Daffa
***
Kini Amira kembali hanya berdua dengan Aldi.
"Ra, apa tatapan marah kamu tadi ke Daffa itu sebenarnya tatapan cinta kamu buat dia?" tanya Aldi
"Kok kamu nanyanya kayak gitu?"Amira malah balik bertanya
"Ya, aku cuma mau tanya. Kalau kamu tudak mau jawab tidak apa kok," ucap Aldi
"Itu tatapan biasa kok, emang aku lagi marah. Lagi pula nih ya, kalau tatapan cinta itu kayak gini nih ... " ujar Amira langsung memeraktekkan tatapan cinta pada Aldi
Tatapan Amira sangat dalam dan serius pada mata Aldi. Tatapan itu membuat Aldi salah tingkah.
"Kamu liat kan, tatapan ini cuma buat kamu. Seperti sekarang dan akan selalu seperti ini selamanya," ujar Amira
"Oh, gitu ya ... " salting Aldi
Deg-deg!
Jantung Aldi berdegup dengan kencang lagi.
Dan seketika Amira tertawa di hadapan Aldi.
"Ih, Aldi salting. Lucu deh hahaha. Pasti sekarang jantung kamu cegukan lagi, alias deg-degan," ucap Amira
"Ih, apaan sih. Tidak kok " dusta Aldi
"Iya kok, kedengeran, tuh. Suaranya dag dig dug kenceng gitu." Amira langsung mendekatkan telinganya pada dada Aldi. Aldi terpaku diam.
Amira sangat dekat bahkan ia menempelkan telinganya pada dada Aldi.
"Kok aku nyaman ya dengar detak jantung Aldi?" batin Amira
Tak lama Amira pun langsung menjauhkan telinganya pada dada Aldi.
"Ternyata dari tatapan tadi aku nemuin cinta dari mata kamu, Aldi. Cinta yg tulus. Apa benar, setulus itu cinta kamu untuk aku?" batin Amira lagi
***
6 bulan berlalu.
Waktu begitu cepat berlalu. Kini Amira sudah sangat dekat dengan Aldi, tak jarang ia tak mengingat Daffa walau ia masih terus bersahabat dengan Lusiana. Entah. Apa mungkin ia sudah melupakan Daffa dan mulai mencintai Aldi.
Hari ini, pagi pagi Amira sudah bersama Aldi. Aldi sedang mempersiapkan suppries untuk Amira, tapi ia bingung harus mulai dari mana. Ia bingung harus berkata apa.
"Ra, hari ini mau kemana? Suah makan belum?"tanya Aldi
"Tidak tahu, lagi males nih. Belum makan, tapi tidak mau makan, tidak nafsu dari semalam," jawab Amira
"Tumben, atau kamu mau deket-deket sama aku saja ya?" canda Aldi
"Apaan sih kamu, aku lagi tidak ada mood buat becanda nih ... " kata Amira
"Ya sudah, seperti ini saja. Aku punya tantangan buat kamu. Aku mau tantang kamu untuk tidak makan sampai sore nanti. Berani tidak? Kalau berhasil aku kasih hadiah," ujar Aldi
"Oke, berani ... " ucap Amira
"Tapi, kalau di tantangan ini kita diam saja, tidak seru lah. Ayo, kita pergi ke suatu tempat." Aldi langsung menarik tangan Amira untuk mengikutinya.
•••
Aldi mengajak Amira ke suatu tempat dengan mengendarai motor. Dan selama di perjananan Amira tak seperti biasanya. Dia lebih banyak diam. Amira berpegangan lebih kencang dari biasanya dan ia menyandarkan kepalanya pada punggung Aldi. Bukannya senang, Aldi malah merasa aneh.
Tempat yang dituju Aldi agak jauh dan harus menempuh waktu agak lama untuk sampai ke sana.
"Ra, kita udh sampai ... " ujar Aldi menyadarkan Amira yg masih asik menyandarkan kepalanya pada punggung Aldi sambil memejamkan mata.
"Oh, iya. Maaf aku tidak sadar," ucap Amira
Dengan semangat Aldi menarik tangan Amira ke tempat yang dimaksudnya.
"Kok kamu ngajak aku ke sini?" tanya Amira yang tersadar mereka sedang berada di taman tempat Lusi dan Daffa bertunangan.
"Ya, ini tempat pertunangan Lusi dan Daffa, dan di tempat ini juga pertama kalinya aku ketemu kamu. Atau, kamu masih ada rasa untuk Daffa sampau ekspresi kamu kayak gini. Nolak aku ajak ke sini," ujar Aldi
Amira tersenyum mendengar perkataan Aldi.
"Ya, aku ingat pertemuan itu. Tapi, sekarang aku udah lupain perasaan aku sama Daffa. Karena itu semua berkat kamu, berkat bantuan kamu," ucap Amira
Aldi melangkah mendahului Amira
"Dan kamu ingat gak, di titik ini kita berdiri bersebelahan untuk jadi saksi pertunangan Lusi dan Daffa," ucap Aldi
Amira memerhatikan Aldi dari jauh, lalu ada yang aneh dengannya. Kepalanya terasa berat dan berputar, ia merasa mual di bagian perutnya, ulu hatinya terasa sakit.
Aldi melihat ke arah Amira, benar ada aneh darinya. Aldi melihat Amira memegangi kepala dan perutnya.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Aldi menghampiri Amira lagi
"Tidak apa kok," ucap Amira
"Ra, muka kamu pucat. Kamu sakit?" tanya Aldi
"Aku-"
Tubuh Amira oleng dan akhirnya ia jatuh pingsan tepat di pelukan Aldi.
"Ra, kamu pingsan. Kamu kenapa?" panik Aldi
Aldi langsung menggendong Amira (ala bride style) dan segera mencari taxi
Di ujung jalan terdapat taxi lewat, Aldi langsung memberhentikannya. Untung saja taxi tersebut sedang kosong. Akhirnya taxi pun berhenti.
Sopir taxi ke luar membantu Aldi memasukan Amira ke dalam taxi.
"Pak, tolong bawa teman saya ke rumah sakit terdekat. Saya bakal ikutin Bapak dari belakang pakai motor saya," ucap Aldi
"Baik, Mas ... " ujar sopir taxi
@Rumah Sakit
Aldi dan taxi yang membawa Amira sampai di rumah sakit. Dengan segera Aldi menghampiri taxi tadi. Membayarnya lalu mengeluarkan Amira, sopir taxi tadi membantunya mengeluarkan Amira dan membukakan pintu taxi.
Aldi langsung masuk ke rumah sakit.
"Sus, tolong teman saya."
"Silahkan ke sini, Mas ... " ujar suster mengarahkan agar Aldi membawa Amira ke ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) dan membaringkannya di sana
Lalu dengan cepat dokter menghampiri.
"Permisi, Mas. Saya periksa dulu temannya," ucap dokter
"Teman saya kenapa, Dok? Dia sakit apa?" tanya Aldi
"Sepertinya tidak ada yang serius. Hanya saja mungkin teman Mas ini punya riwayat sakit maag. Terbukti dengan perutnya yang kosong setelah saya periksa tadi. Asam lambungnya naik. Nanti suster akan memasangkan infus pada teman Mas. Sebentar lagi teman Mas akan sadar, saat itu teman Mas harus makan. Itu saja, saya permisi dulu," jelas dokter
"Terima kasih, Dok."
***
Dengan sabar dan setia Aldi menunggu Amira sadar.
Tak lama kemudian Amira pun tersadar
"Aldi? Aku-"
"Ra, kamu sudah sadar. Sekarang kamu lagi di rumah sakit, tadi kamu pingsan. Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya Aldi
"Kepala aku pusing," kata Amira
"Iya lah pusing, kamu kan belum makan. Lagi pula kamu kok tidak pernah bilang sama aku kalau kamu ada maag, kalau begitu kan aku tidak akan menantang kamu untuk tidak makan. Lagi pula kamu kenapa pakai segala terima tantangan aku sih?" tanya Aldi
"Apaan sih kok marah, kepala aku tambah pusing nih ... " kesal Amira
"Ya sudah, maaf. Aku marah karena aku khawatir sama kamu. Sekarang kamu makan ya, mau makan apa, nanti aku belikan," ujar Aldi
"Aku lagi tidak nafsu makan. Lidahku pahit," tolak Amira
"Itu cuma karena asam lambung kamu sudah terlanjur naik, kamu seharusnya lawan rasa itu. Kamu harus makan. Aku memaksa," ucap Aldi
Amira malah terkekeh kecil.
"Maksa ya kamu, ya sudah aku mau makan nasi goreng campur sosis sama bakso, sama jus mangga. Kamu belikan deh sana," ujar Amira
"Siap tuan putri. Oh ya, selagi aku beli makanan, kamu makan buah dulu ya, tadi sudah aku belikan. Kamu mau buah apa?"
"Buah pir saja deh, terima kasih ya."
"Iya, sama-sama."
•••
Setelah menunggu beberapa menit Aldi pun datang membawa makanan pesanan Amira.
Aldi duduk di kursi di sebelah ranjang rumah sakit yang Amira tempati.
"Nih, aku sudah bawa makanannya. Sekarang aku suapin ya," ujar Aldi
"Eh, tidak usah, aku bisa makan sendiri," tolak Amira kemudian ia hendak duduk tapi kepalanya masih terasa sangat pusing.
"Tuh kan. Kamu itu masih pusing, sudah kamu tidur saja, biar makannya aku yang suapin," kata Aldi
Amira pun menerima suapan dari Aldi.
"Aldi, terima kasih ya kamu sudah perhatian sama aku. Sudah bawa aku ke rumah sakit, belikan aku makan, sekarang kamu suapin aku makan. Terima kasih buat semuanya," ujar Amira
Aldi tersenyum.
"Sama-sama, buat kamu apa pun aku rela lakukan," ujar Aldi
Amira tersenyum mendengarnya.
"Apa benar sebesar itu cinta kamu buat aku, Al? Jujur, aku mulai susah buat lepas dan jauh dari kamu. Aku senang dan nyaman ada di samping kamu. Apa ini yang namanya cinta? Apa aku sudah mulai mencintai kamu? Aku mohon kamu jangan berhenti untuk mencintai aku, Aldi ... " batin Amira
Tiba tiba, ada seorang wanita paruh baya menghampiri Amira dan Aldi.
"Amira, jadi benar kamu di sini. Bagaimana keadaan kamu, sayang?" tanyanya
"Mama? Mama ada di sini?" tanya balik Amira
"Iya, begitu ada yang telepon ke rumah kalau kamu pingsan dan dibawa ke rumah sakit, Mama secepat mungkin datang ke sini. Bagaimana kamu bisa pingsan sih, sayang?" tanya Mama Amira lagi.
"Iya, Ra, aku yang telepon ke rumah kamu tadi," kata Aldi
"Kamu teman Amira yang telepon tadi ya. Terima kasih ya sudah bawa Amira ke rumah sakit dan ngabarin Tante."
"Sama-sama, Tante. Saya Aldi, teman Amira," ucap Aldi memperkenalkan diri lalu menyalami tangan Mama Amira.
"Aku tidak apa kok, Ma. Maag aku kambuh, itu saja, ini sudah biasa," ucap Amira
"Biasa kamu bilang, kalau biasa tidak mungkin sampai pingsan seperti ini. Kamu pasti malas makan lagi, dari semalam kan Mama sudah ingatkan kamu untuk makan. Ini bisa saja fatal loh, jangan kayak gini lagi ya?" Nasehat Mama Amira
"Iya, Ma ... " ucap Amira dengan anggukan kepalanya.
Dokter dan suster kembali datang.
"Permisi, saya mau periksa pasien."
"Ya silahkan."
Dokter pun kembali memeriksa Amira.
Dokter mendengarkan suara detak jantung lewat alat stetoskop. Diketuk-ketuknya perut Amira untuk mengetahui keadaan perutnya dan disuruhnya Amira menjulurkan lidah.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Mama Amira
"Keadaan anak ibu sudah membaik setelah dipasangkan infus untuk pencukupan nutrusi yang hilang sebelumnya dan sudah kembali makan. Setelah cairan infus habis, anak ibu boleh pulang. Ini berkat Mas ini, saya rasa mereka bukan sekedar berteman tapi teman spesial. Saya permisi,"jelas Dokter kemudian pergi
Suster memeriksa keadaan infus Amira.
"Mba, temannya baik banget sih. Bukan teman kali tapi pacar. Permisi," ujar suster
***
Sekarang Amira sudah diperbolehkan untuk pulang dan sekarang Amira sedang berada di taman rumah sakit bersama Aldi, sedangkan Mama Amira sedang menebus obat di Apotek rumah sakit.
"Apa sekarang waktunya ya?" pikir Aldi dalam hati.
"Ra, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Aldi
"Ntar deh, aku mau ke toilet dulu ya," ucap Amira kemudian berlalu pergi.
Aldi menghela nafas, gagal!
Ia pun menunggu Amira kembali.
•••
"Lega juga kalau sudah dibuang. Loh, Daffa?" gumam Amira
"Samperin tidak ya? Tidak usah deh, balik ke Aldi saja," batin Amira
"Amira ... " panggilnya
Baru saja Amira ingin melangkah pergi, Daffa sudah memanggilnya. Ia berbalik dan tersenyum.
"Ra, lo di sini?" tanya Daffa
"Eh, Daff, iya. Kamu sendiri ngapain di sini? Atau, Lusi sakit ya?" tanya balik Amira
Daffa malah tersenyum.
"Tidak, tapi Lusi hamil, Ra. Gue punya anak!" seru Daffa bahagia.
"Ohya, selamat ya, kamu bakal jadi Bapak. Aku ikut senang, berarti aku juga bakal jadi Tante dong," kata Amira
"Iya, gue senang banget. Lo kapan nih nyusul sama Aldi? Lo pacaran kan sama dia? Gue dengar kalian makin dekat. Kapan nikahnya?" tanya Daffa
Amira hanya tersenyum salah tingkah.
"Ngomong-ngomong soal Aldi, apa aku jujur sekarang saja ya?" batin Amira
"Terus Lusi mana?" tanya Amira
"Lagi ke toilet," jawab Daffa
"Tadi aku baru saja dari toilet, tapi tidak ketemu Lusi," ucap Amira
"Toilet di sini kan tidak cuma 1, Ra," ujar Daffa
"Oh iya ya, Daff, aku mau ngomong sama kamu sebentar. Di sana saja, yuk ... " kata Amira
•••
Amira dan Daffa duduk di bangku taman.
"Mau ngomong apa?"tanya Daffa
"Soal perasaan aku yang sebenarnya."
"Lo suka sama Aldi kan? Ngomong saja sama orangnya," kata Daffa
Amira terlihat menghela nafas panjang.
"Perasaan aku yang sebenarnya, aku cinta sama kamu, Daffa," jujur Amira
Akhirnya, kata itu pun terlontarkan dari mulut Amira. Daffa terkejut tapi hanya diam.
"Aku punya rasa sama kamu ntah sejak kapan. Yang jelas aku dan Lusi emang punya tipe lelaki yang sama. Humoris, romantis, juga baik dan setia. Semua itu ada di diri kamu, Daff. Aku sakit lihat kamu dan Lusi. Tapi aku sahabat Lusi, aku bahagia karenanya. Aku bahagia karena dia bahagia. Makanya sejak itu aku sering menangis karena semua itu sulit. Aku sudah coba abaikan rasa itu, lupakan rasa itu dan kamu. Tapi tidak bisa. Kalian tunangan, nikah. Aku hancur Daff ... " jelas Amira
"Tidak boleh. Lo harus lupakan perasaan lo," ucap Daffa
Ntah sejak kapan, Amira sudah membanjiri pipinya dengan air mata. Ia menangis.
"Ya, aku terus berusaha. Sampai akhirnya Tuhan menghadirkan dia. Dia datang, selalu datang. Menemani, menghibur dan menghapus air mata aku, dia mengetuk pintu hati aku. Tapi cuma ada kamu di sana. Dia bilang cinta, dia berusaha. Karena dia tahu aku mencintai orang lain, mencintai kamu. Dia tetap mencintai aku dan aku mohon untuk dia selalu begitu. Menunggu aku untuk melupakan kamu. Dia yang kamu kenalkan ke aku, yang kamu jodohkan untuk aku. Ya, teman kamu, Aldi. Sampai akhirnya aku rasa usaha itu mulai berbuah hasil, aku nyaman, senang dengan adanya dia. Dan aku rasa aku mulai mencintai Aldi."
Ke luar sudah semua uneg-uneg Amira selama ini.
Amira menyandarkan kepalanya pada pundak Daffa. Daffa hanya diam tak tahu harus apa.
"Aku ingin merasakan ini dari dulu. Please diam dan izinkan aku, Daff. Sebentar saja."
Amira memejamkan matanya sejenak.
"Jadi seperti ini rasanya."
"Terima kasih, Daff. Sudah izinkan aku mencintai kamu. Walau kamu pasti akan tidak suka dan marah jika tahu ini sebelumnya. Kamu sudah ajari aku cinta dan sakit karenanya. Aku akan berhati hati dalam hal rasa cinta walau aku yakin Aldi tidak akan bikin aku menangis seperti kamu bikin aku menangis."
Amira terkekeh kecil dan menyudahi aksinya bersandar di pundak Daffa.
•Di sisi lain•
"Amira lama banget. Susul saja deh," ujar Aldi
•••
Amira melihat kedatangan Lusi dan Aldi di saat bersamaan.
Deg!
Lusi dan Aldi hanya terpaku diam.
Amira tersenyum.
"Aku yakin dengan langkah yang aku pilih sekarang. Tetap dengan ucapan aku, jaga dia, jangan sakiti dia dan tetap cintai dia. Aku bahagia jika dia bahagia. Aku sakit jika dia sakit, karena dia sahabat aku."
Amira berdiri dan melangkah mendekati Lusi.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Amira
"Cukup untuk tahu maksud kamu, Ra," kata Lusi
"Maaf. Aku salah mencintai yang milik kamu. Aku tidak bilang karena sebenarnya aku tidak mau lanjutkan itu. Tapi semua berlanjut tanpa aku mau. Aku mohon jangan marah. Sekarang aku mau mengakhiri semuanya, aku mau berhenti, aku tidak mau melanjutkannya lagi. Karena sekarang ada dia, aku mencintai dia. Maaf, aku mohon maafin aku. Kita tetap bersahabat kan? Aku tetap Tante dari anak yang kamu kandung kan?" tanya Amira
Lusi menitikkan air mata. Lalu dengan cepat ia menghapusnya. Ia tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, kita akan selalu begitu. Selalu bersama, bersahabat selamanya. Aku tidak menyalahkan apa yang kamu rasakan, karena rasa itu timbul tanpa kamu mau kan? Aku juga perempuan, aku tahu itu sulit. Aku tetap sayang kamu," ujar Lusi
Amira terharu mendengarnya, ia tersenyum lalu memeluk Lusi erat.
"Terima kasih. Maaf atas semuanya. Selalu bersama, bersahabat selamanya. Kamu kesayangan aku selamanya," ucap Amira
Lusi melepaskan pelukan Amira.
"Jaga anak kamu. Aku tidak sabar untuk jadi Tante. Maafin aku ya," kata Amira
Lusi hanya tersenyum
Amira mengelus perut Lusi.
"Hai, manis, yang sehat ya, jangan bikin Mama capek. Cepat besar, nanti kalau sudah lahir Tante kasih hadiah," ujar Amira
Lusi terkekeh.
"Usianya masih 6 minggu, Ra. Masih lama," ucap Lusi
"Masih lama banget dong? Tapi tidak apa, aku senang banget sebentar lagi jadi Tante. Nurut sama Mama ya, Manis. Aku pergi dulu ya, Lusi ... "ujar Amira
Daffa menghampiri mereka.
Amira melirik ke arah Aldi, lalu ia menghampirinya.
Aldi terdiam dan tertunduk.
"Aldi, aku mau bicara. Tapi, tidak di sini," ujar Amira
Aldi mengangkat wajahnya dan mengangguk.
Amira melirik ke arah Lusi dan Daffa lalu melangkah pergi bersama Aldi.
•••
Amira dan Aldi kembali ke tempat mereka menunggu Mama Amira yang masih sedang mengambil obat.
"Apa kamu dengar semua tadi?" tanya Amira
Aldi menggeleng, ia memberanikan menatap wajah cantik perempuan yang ia cinta. Walau sebenarnya takut mendengar omongannya, takut kalau Amira akan menolak untuk ia cintai.
"Maaf," kata Amira
Aldi tak mengerti, ia benar-benar takut cintanya akan di tolak, 'lagi!'
"Maaf sebelumnya aku tidak tahu perasaan kamu. Maaf aku pernah menutup mata dari sekitar untuk tahu perasaan kamu, aku malah pura-pura tidak peduli akan rasa kamu," ucap Amira
"Kamu sudah bikin aku sadar, kamu ketuk pintu hati aku, menyapa aku dengan kasih sayang. Kamu berusaha untuk lebih menyadarkan aku. Menemani dan menghibur aku buat aku senang. Jujur aku nyaman, tapi maaf."
Deg!
Saat ini Aldi sedang membuat benteng di hatinya. Takut hatinya akan hancur jika benar Amira akan menolaknya. Biar bagaimana pun juga Aldi akan menerima apa pun keputusan Amira.
"Aku terima apapun keputusan kamu, Ra. Walau kamu tolak aku," ucap Aldi
Amira tersenyum.
'Begitu tulus kah, cintanya. Sampai rela kehilangan dan mengorban perasaannya.'
"Tapi maaf, karena aku baru bisa mencintai kamu sekarang. Maaf karena aku baru menyadari cinta itu tumbuh di hati aku. Aku cinta kamu, Al," kata Amira memperjelas perkataannya.
Perlahan senyum terlukis di bibir Aldi.
"Kamu-" Aldi seakan tak bisa berkata apa-apa
"Kamu cinta aku kan?" tanya Amira
"Aku mencintai kamu lebih dari yang kamu tahu," ujar Aldi
"Aku terima cinta kamu, Al. Aku mau kasih hati aku buat kamu. Tapi dengan 1 syarat," ucap Amira
"Apa?"
"Aku akan kasih hati aku dan aku mau kamu jaga dia, rawat dia yang sakit akan masa lalu. Benahi hati aku yang hancur, buat dia jadi utuh lagi, dan bahagia lagi. Aku percaya sama kamu," ujar Amira
"Siap, dengan jiwa raga aku bakal jaga rawat dan sayangi hati kamu. Janji aku akan buat bahagia kamu," ujar Aldi
Mereka berpelukan
Amira mendengarkan suara detak jantung Aldi dan merasa nyaman dengannya.
"Jadi begini suara dan kencangnya suara detak jantung kamu. Aku suka suara ini. Aku merasa nyaman dan tenang dengar detak jantung kamu. Dan kamu sekarang bisa tahu kan, detak jantung aku dan kamu tidak jauh beda. Sama-sama berdetak dengan kencang," ucap Amira
Aldi sangat bahagia dan Amira pun bahagia berada di sampingnya.
"I love you," ucap Aldi
"Love you too," balas Amira
Cukup lama mereka berpelukan, Aldi pun melepaskannya.
Mereka tersenyum
Saling menatap penuh cinta.
"Aku benar-benar bisa liat tatapan cinta kamu sekarang. Bukan tatapan yang dibuat buat karena candaan kamu yang bikin aku salting," ucap Aldi
"Ciye ... jadi selama ini kamu menginginkan tatapan ini," canda Amira
"Mulai lagi deh, becandanya. Tapi aku mau kamu selalu dengan tatapan seperti ini saat bersama aku," ujar Aldi
"Ya, aku akan selalu seperti ini," kata Amira
"Ciye ... yang mau nurut," canda Aldi
"Tuh kan, sekarang kamu yang mulai," kata Amira
Aldi terkekeh.
***
@Rumah Amira
Saat ini Amira sedang istirahat di kamarnya.
Ia mengingat kejadian siang tadi. Ia tak menyangka, ia berani mengatakan semuanya pada Daffa dan Aldi juga pada Lusi. Tapi ia lega sekarang, semua sudah jelas dan semuanya sudah selesai. Kini ia memiliki Aldi yang benar-benar mencintainya. Ia sangat bahagia sekarang dan semua terasa sempurna.
"Amira."
Suara sang Mama mengejutkannya, beliau tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.
"Eh, Mama ... " kagetnya
"Mama sudah ketuk pintu, kamu diam saja. Jadi Mama masuk saja. Kamu lagi ngapain sih?" tanya Mama Amira
"Tidak lagi ngapa-ngapain kok, Ma," ujar Amira sambil tersenyum sangat manis
"Kayaknya anak Mama lagi bahagia banget nih. Cerita dong sama Mama."
"Biasa saja kok, Ma."
"Mama bisa lihat dari wajah kamu, sayang. Jadi kamu tidak bisa bohong," selidik sang Mama
"Oh, lelaki itu ya? Siapa namanya?" tanya Mama Amira melanjutkan.
"Aldi, Ma ... " jawab Amira
"Ternyata anak Mama jatuh cinta sama Aldi. Jadi kamu udah punya pengganti Daffa. Mama ikut senang, anak Mama jadi ceria lagi. Dan menurut Mama, dia lelaki yang baik kok. Mama setuju sama dia."
"Ih, Mama, apaan sih ...."
"Eh, anak Mama salah tingkah."
Amira terkekeh malu.
"Mama tahu saja," malunya
"Ya sudah, sekarang kita makan malam dulu yuk. Papa sudah nunggu di bawah."
"Iya, Ma."
Memang, sang Mama tahu apa pun tentang anaknya. Begitu juga karena Amira tak pernah sungkan menceritakan semua padanya.
***
Hari ini hari yang spesial bagi Amira juga Aldi. Karena tepat di hari ini mereka akan bertunangan.
Semua telah hadir di tempat spesial ini, sebuah taman indah juga dengan danau di belakangnya yang juga tak kalah indah. Ini adalah tempat pertama kali Aldi mengajak Amira berkencan.
Semua tamu berkerumun di satu titik, untuk melihat moment penting bagi Amira dan Aldi. Suatu acara inti, pertukaran cincin.
Perlahan kedua tangan Aldi meraih kedua tangan Amira untuk digenggamnya erat, seakan tak ingin melepaskannya.
"Ada rasa yang timbul dan terus tumbuh di hati aku saat melihat dan bersama kamu. Rasa itu aneh dan selalu bergejolak di hati aku. Tanpa aku sadar aku mencintai kamu. Aku mencintai wajah cantik kamu, kebaikan hati kamu dan yang penting ketulusan hati kamu. Hari ini spesial buat aku, aku ingin mengikat kamu dengan sebuah janji. Aku berjanji akan setia, gak akan buat kamu kecewa, dan akan buat kamu bahagia. Karena aku mencintai kamu dengan segenap jiwa, raga dan hati aku sampai maut menjemput. Maukah kamu hari ini mengikat cinta kita?" tanya Aldi
Amira mengangguk pasti.
"Aku pun mencintai kamu yang selalu berada di sisi aku. Selalu menemani dan mendampingi aku. Aku mencintai keteguhan hati kamu. Aku bahagia, karena bahagia itu sederhana, yaitu selalu bersama kamu dan mencintai kamu. Aku mau mengikat cinta kita. Dan aku berjanji akan selalu mencintai kamu dan setia sampai maut menjemput," kata Amira
Aldi mulai memasangkan cincin di jari manis Amira. Begitu pun sebaliknya , Amira memasangkan cincin di jari manis Aldi.
Kemudian mereka berpelukan dan sesaat kemudian mereka saling melepaskan pelukan dan tersenyum bahagia.
***
"Kamu kenapa pilih tanggal tunangan kita seperti tanggal tunangan dan pernikahan Lusi dan Daffa? Tanggal 8?" tanya Aldi
"Bukan karena apa, tapi angka 8 itu kesukaan aku dan Lusi. Kami sepakat bakal jadiin angka 8 itu sebagai tanggal bahagia kita. Bukan bermaksud mau ingat Daffa ya, kan sekarang sudah ada kamu di hati aku. Tapi aku mau buktikan saja kalau kita lebih romantis dari mereka saat setiap aniversarry kita. Lagi pula kan beda bulan cuma sama tanggal saja," jelas Amira
"Emang kita romantis ya?" canda Aldi
"Ih kamu ini," geram Amira
"Iya-iya, aku becanda. Aku kan janji untuk bikin kamu bahagia. Kalau bahagia kamu dengan kita yang romantis, aku bakal lakukan itu kok," ucap Aldi
Aldi menggenggam erat sebelah tangan Amira. Amira tersenyum karenanya.
"Oh ya, aku baru ingat, kamu kan orangnya tidak romantis," ledek Amira
"Sekarang kamu yang mulai," ujar Aldi
Amira terkekeh kecil kemudian tersenyum manis, yang lalu disusul senyum manis Aldi.
***
★★★ TAMAT ★★★