'Malamku jadi sendu
Selalu bisa sebab kamu
Ternyata memang begitu
Lagipula soal kamu selalu aku mau
Hingga dikata bodoh juga tak malu'
Malam itu di bawah langit penuh baswara yang disebut bintang, akalku seakan jadi binatang yang berpetualang, entah alasan mengapa dan untuk apa yang lagi-lagi membuat ku bertahan sejauh ini, meski sejujurnya pesakitan sebab dipandang rendah oleh sebuah kasta itu nyata, namun atas nama dama aku jadi rela.
Dia kekasih cintaku yang ku puja sejak awal aku bertemu, aku yang hanya seorang insan candala dan tidak pernah berpikir untuk memiliki gadis sesempurna dirinya, dua tahun aku menahan diri, dua tahun aku berusaha menjadi pantas untuk mendekati, dua tahun aku berusaha keras mencari segala sesuatu tentang bagaimana dan apa yang dia suka, dua tahun pula aku berusaha merubah setengah hidupku untuk begitu pantas bersanding dengan marganya, meski di opsi terkahir itu masih kurang, namun dengan segenap tekad kuat, aku mendatanginya di tempat biasa ia bersantai, perpustakaan kota, dengan kacamata bacanya dia begitu serius membaca lalu mengetik, begitu berulang-ulang hingga tiga jam lamanya, aku sungguh tak masalah dan tak marah jika soal mentahbiskan waktu untuk dia, sebab mungkin hanya aku yang sudah hafal dengan kemarahannya jika di ganggu saat tengah fokus, lalu ketika ia menatapku dengan senyuman manis aku tau, ternyata sedari awal ia sudah sadar aku berada di depan tempatnya dan ia menunggu ku bereaksi.
"Hai" ujar ku sambil berkali-kali menelan ludah dengan kasar, sial! Aku bak mati kutu di hadapan afsun baswara nya, sedangkan ia masih menunggu kalimat ku yang selanjutnya dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Aku.. aku.. ekhem, bisa minta waktunya sebentar?" Aku yang gugup malah menimbulkan tawa renyahnya, lalu ia melewati dua meja di depannya untuk menarik tangan ku dan mendudukkan ku di tempat yang sebelumnya ia tempati, sedangkan pemiliknya kini duduk di sebrang sehingga kita berdua terpisah oleh meja penuh kertas ini.
"Kamu bisa ngetik di laptop aku aja kalo emang ga sanggup ngomong sama aku" ujarnya tetap dengan tawa yang kian mengecil, dan aku tentu saja menyetujui opsi itu, namun ketika aku menyadari bawah di dalam laptop itu telah terpampang jelas namaku dan teman-teman ku, alamat rumah hingga pekerjaan ku di paruh waktu saat itu, lalu tak lupa foto demi foto yang berserakan di meja itu adalah wajahku, aku seakan melihat diriku sendiri ketika menjadi penguntit gadis di depanku ini, aku menatap seluruhnya di meja itu, lalu menatap sang pemilik, begitu berkali-kali hingga aku seakan kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan betapa terkejutnya diriku ini.
"Kamu..." Panggil ku tak yakin
"Kalo kamu bisa ngepoin aku sejak aku SMA, kenapa aku ga gitu juga? Kamu suka aku? Tapi kamu malah diem-diem doang selama dua tahun? Aku tetangga mu loh, aku temen kecil adikmu juga" penjelasan itu membuat wajahku memerah sampai ke leher, ini pasti ulah adik cewekku yang tidak bisa diam mulutnya, aih.. betapa malunya.. aku ini lelaki pemalu, aku tidak pernah mencintai siapapun selain gadis di hadapan ku ini.
"Aku.. aku.. ya! Aku suka kamu" jawaban 'aku suka kamu' itu terlampau lancar keluar dari mulut ku sambil memejamkan mata, lalu sekali lagi aku mendengar kekehan lirihnya.
"Lalu?" Tanya gadis itu, lalu? Lalu apa? Aku harus bagaimana...? Hampir setengah frustasi karena ternyata aku ternyata hanya mampu mengungkapkan perasaan ku tanpa berani mengajaknya untuk berpacaran atau bahkan sekedar jalan-jalan di malam Minggu esok. Mungkin untuk ke jenjang itu, aku harus membutuhkan dua tahun lagi, tentu saja aku merasa tak pantas, dia dengan segala keindahannya bersanding dengan aku yang seperti Upik abu ini? Astaga.. sudah berani mengungkapkan perasaan pun kudunya aku bersyukur, ayahnya yang seorang pejabat, ibunya juga seorang dokter spesialis wajah, dan dia yang merupakan anak satu-satunya dari keluarga terpandang itu, bukanlah suatu yang mampu aku impikan untuk ku jadikan milikku sendiri, sumpah demi tuhan aku terlihat sangat amat kecil, aku tak memiliki ibu ataupun ayah, sejak kecil, aku dan adikku juga selalu menjadi pilihan orang yang 'dibantu' pertamakali oleh keluarga gadis di hadapan ku ini, bahkan meski aku telah bekerja dan berhasil mendapatkan beasiswa di perkuliahan ini.
"Aku juga suka sama kamu, so? Artinya mulai sekarang kita pacaran?" Tembak gadis cantik ini, sebab mungkin ia jengah diriku yang plonga-plongo ini, namun ajakan berpacaran itu benar-benar membuatku hampir jantungan dan tak percaya, akan tetapi dengan berjalannya waktu, segalanya telah berubah dan aku kemudian menyadari jika pikiran ku tentang dia yang 'memandang harta' sudah terlalu jauh.
Flashback dan kilas balik dari kisa cintaku dengan kekasih ku ini.. seakan ingin selalu aku ingat. Aku seorang lelaki yang bahkan sampai sekarang tidak berani memandang wajah wanita selain gadis ku, kemudian di pertemukan dengan sifatnya penuh dengan keceriaan, dan kebahagiaan, ia yang bahkan selalu di pandang penuh makna oleh banyak lelaki, kini malah memilih untuk bersama Upik abu sepertiku, tentu membuatku merasa hampir mati sebab terlalu bahagia dan ingin jumawa karena selain paras ku yang tampan dan pintar, aku kira tidak ada kelebihan yang membuatku pantas untuk bersanding dengannya.
"Sayangku" ah panggilan semanis ini dari bibir nan indah itu, tentu saja membuatku merasa semakin diatas awan, saat sosoknya datang dengan gaun bunga-bunga selutut, aku menyambut dengan senyuman terbaik. Bukan perihal gampang mengejar wanita sepangkatnya untuk menjadi kekasih ku, diriku yang bahkan hampir mati sebab galau terus-menerus perihal kasta, lalu di tenangkan dengan kalimat 'Aku juga suka sama kamu' dari bibir indahnya itulah yang membuat ku akhirnya sadar jika 'tidak semua' wanita butuh harta, ada sebagian mereka yang terlahir kaya dengan segala sumber dayanya, namun kekurangan seseorang untuk dicinta, mungkin salah satunya adalah kekasih tercinta yang kini tengah hangat dalam dekap lembut ku.
"Mikirin apa?" Ujarnya lembut sambil mengusap lembut jambang tipis ku. Aku tersenyum lalu mencuri kesempatan untuk mengecup tangan lentik itu penuh cinta.
"Nothing" pendek ku sambil tersenyum. Meski sejujurnya tidak begitu. Percakapan berupa hal-hal random seperti yang biasa kita bicarakan pun terus mengalir jauh, bak air terjun dari pegunungan tinggi, bebas tanpa batas dan syarat, meski kemudian terhenti sebab pertanyaan keramat penuh khidmat ini.
"Kamu kapan mau nikahin aku?" Sialan! Kata anak anak remaja zaman sekarang.. 'pelan-pelan pak supir' atau 'jangan langsung di ulti', Gadis ini masih belum lulus kuliah, pun, aku belum semapan itu untuk kemudian membawa anak orang kejenjang yang lebih jauh.
"Sayang, aku pasti akan nikahin kamu, tapi ga deket-deket ini, ya you know lah, kita masih sama-sama belum siap untuk itu" mendengar jawaban ku, gadis cantik ini kemudian melepaskan diri dari pelukku dan menatap ku penuh selidik, lalu tersenyum masam, meski tanpa bicara namun aku tau kekecewaannya.
"Oh oke" balasnya pendek kemudian menatap kearah langit gemintang yang kini seakan mengejek keterdiaman kami.
Jika bukan sebab pertanyaan kampret itu, mungkin akhirnya tidak akan begini, aku menatap wajah gadis ku yang kian menyendu, lalu memeluknya dari belakang sekali lagi, orang bilang pelukan bisa meredakan hati yang membara, karena membuat seorang yang dipeluk merasa punya tempat ternyaman dan teraman untuk pulang, namun wanita tak semudah itu untuk dimengerti, ia menyentak tangan ku dengan kuat lalu membalikkan badannya dan menatap ku penuh murka.
"Kenapa sih gini terus? Kita pacaran bukan sebulan dua bulan, ini tahun ketiga kita, malam ini anniversary kita, aku kira kamu bakal ngasih jawaban pasti ke aku, ternyata sama aja kaya sebelumnya, kenapa kamu ga mau usaha buat nemuin orang tuaku dulu? Kenapa kamu bahkan milih untuk memutuskan percakapan ini di pertanyaan pertama? Kenapa kamu selalu gini? Aku kurang baik untuk kamu jadiin istri kah? Aku kurang baik untuk kamu kah? Aku gapernah minta apapun dari kamu! Aku bahkan setuju kita nyembunyiin hubungan ini mulai dulu, terus kenapa kamu gapernah ngasih aku jawaban yang bikin aku tenang? Tolong jawab aku kurang apa?!" Di kalimat terkahir ini, gadis ku berteriak hingga otot lehernya tampak dan wajahnya kemerahan sebab tangisannya yang kini tak terbendung.
Aku menggertakkan gigiku sebab tak tahu harus membalas bagaimana, ia telah menjadi gadis paling sempurna yang aku miliki, ia telah menjadi center dari semua opsi gadis di seluruh dunia ini, ia tak pernah mengeluh apapun pada ku, ia tak pernah menuntut apapun, malah sebaliknya, ia selalu memberikan semangat di sela-sela kesibukan kita berdua, ia tak pernah merengek meminta bertemu karena selalu memahami jam terbang ku yang tinggi, bahkan ia juga berkali-kali memaklumi ku ketika di malam Minggu kita tak bertemu sebab kesibukan ku menemani bos ke pesta, dia telah bertahun-tahun menjadi tempat pertama yang aku pandang dan aku pikirkan tanpa celah, dia telah sempurna bahkan sebelum aku mengenalnya.
Aku maju selangkah untuk kembali memeluknya namun ia malah menahan dadaku dan menunduk.
"Besok malem aku tunggu di rumah, minimal buat nge-publish hubungan kita, kalo kamu ga datang, aku ga tau mau bawa hubungan ini kemana, karena aku jga ngeliat keraguan dalam diri kamu, padahal aku udah ngasi banyak kesempatan buat kamu Jadi lebih baik dan ga insecure sama semua yang aku punya. Kamu ganteng, kamu pinter, kamu juga jadi sekretaris pribadi dari perusahaan terbesar di asia, tapi kamu masih ngerasa belum cukup sampe aku berkali-kali nyemangatin kamu, inget aku nungguin kamu, aku pulang"
Lalu ia berjalan tanpa meninggalkan ku tanpa ragu, saat aku telah dua langkah untuk menyusulnya agar ia tak pulang sendirian, tangannya malah terangkat lalu berkata
"Gausah jalan bareng aku, biarin aku sendiri, dan kita gaperlu ketemu sampe besok malam kamu datang kerumah"
Lalu malam itu, lagi-lagi aku tak bisa tidur, memikirkan kemungkinan terburuk jika aku tidak menuruti kemauan gadis ku.
Malamnya telah datang ketika kemudian aku bersiap untuk ke rumah sebelah alias kerumah gadis ku, namun siapa sangka jika bos ku menelpon dan memberi titah untuk menggantikannya rapat sebab beliau ada acara penting lain, tentu saja aku mengiyakan dengan syarat ia harus memberikan ku cuti seminggu kemudian yang di iyakan pula oleh beliau meskipun dengan sedikit memaksa, karena hanya akulah satu-satunya karyawan yang paling dekat dengannya. Dengan setelan jas tapi aku langsung keluar dari rumah dan segera menyewa mobil agar pantas untuk datang ke tempat rapat yang berada di restoran ternama itu, saat aku melihat ke salah satu jendela lantai tiga yang berada di rumah raksasa milik keluarga gadis ku, aku melihat bayangannya yang menatapku, aku tersenyum lalu segera memberi pesan.
"Aku kerja dulu ya sayang, besok dan seminggu kedepan aku janji bakal bareng kamu terus"
Namun itulah akhir dari hubungan ku dengannya, aku yang bodoh dan tidak menyadari betapa gadis ku kini tak sedang bercanda, hingga malam berikutnya saat aku datang kesana yang awalnya aku di sambut ramah oleh keluarganya malah berakhir tragis
"Kamu Abang terbaik bagi anak saya, adik mu sahabat terbaik bagi dia juga, namun untuk memilikinya kamu tidak pantas, bahkan seandainya kamu bukan orang yang dicintai oleh dia tentu saja aku akan memukulmu sampai babak belur karena berani menyembunyikan hubungan kalian selama itu, mohon maaf, tapi sebagai ayah, aku akan memilih yang terbaik untuk putri ku" aku terpaku, dan aku tiba-tiba merasa dunia begitu menghimpit dadaku, bahkan untuk sekedar menelan ludah pun aku kesulitan, semua emosi telah bercampur aduk dalam benakku, aku ingin melawan sebelum tuhan kemudian menyadarkan kebodohan ku lewat kalimat yang keluar dari bibir ibunda gadis ku ini.
"Kamu sudah terlalu terlambat, calon menantu kami sudah datang, dan kami akan menyambutnya sebentar lagi, seandainya kamu datang kemarin malam, mungkin malam ini tidak akan datang, sekarang, kamu bisa melihat kekasih cintamu yang selalu kamu nomor duakan permintaannya akan dilamar di depan matamu sendiri" dengan suara lembut sang ibunda menjelaskan, namun tentunya ia semakin membuat ku merasa menjadi lelaki paling buruk yang menyia-nyiakan putri kesayangan mereka.
"Aku ibunya dan aku tentu paham perubahannya begitu banyak ketika ia telah berpacaran dengan mu, ia lebih ceria, dan bahkan ia tak pernah ragu untuk sekedar mengantarkan makanan kerumah mu meskipun biasanya ada bibi yang bantu, dia tidak menceritakan mu, namun aku mengetahuinya, sekarang terserah, kamu mau pulang atau di sini, itu hak kamu." dan benar saja malam itu telah menjadi tempat ku benar-benar menangis dalam diam sambil menggenggam tanganku dengan erat, gadis ku telah bertunangan dan bertukar cincin dengan pria yang ternyata adalah anak bos ku sendiri, aku bahkan tak lagi bisa merasakan sakit di telapak tanganku yang telah terluka oleh kuku, aku hanya tau jika kini hidupku telah berakhir, air mataku juga tak bisa terbendung dan di balik bufet ini telah berjejer foto ku dan gadis ku yang kemungkinan besar menjadi pertama dan terakhir kalinya berada di sini, mungkin ini pula yang membuat ayahnya mengetahui hubungan kita. Aku semakin terguncang hingga tak sanggup berdiri, aku semakin menyadari kebodohan ku dalam memberikan pelayanan untuk gadis ku, aku telah menjadi manusia paling biadab dengan membiarkan gadis ku berjuang sendirian sampai di titik ini. Sedangkan aku masih menangisi semua ini, aku kembali melihat ke arah gadis ku yang kini bibirnya telah di kecup mesra oleh lelaki lain padahal aku sama sekali tak berani melakukan hal itu, aku tidak ingin menodai keindahan wajahnya dengan hal itu, aku selalu berusaha menahan diri, aku hanya berani memeluk dan menciumi punggung tangannya, bukan bagian dari wajahnya, aku masih diam di sana sampai kecupan itu berakhir di soraki oleh dua keluarga itu, kemudian dengan menyeret langkah, aku memilih pergi dari sana melewati pintu belakang.
Hingga sampai lebih dari satu tahun aku masih ketakutan untuk keluar dari rumah, aku takut bertemu dengannya saat bersama lelaki lain yang bahkan hubungan kita belum resmi berakhir, aku begitu ketakutan bahkan hanya untuk bekerja hingga meminta resign dari perusahaan ternama itu dengan alasan sakit, aku begitu ketakutan hingga setiap malam selalu meringkuk bak bayi sambil menggumamkan beribu kata maaf, aku begitu ketakutan hingga adik ku bahkan tidak seberani itu untuk mengabarkan sebuah kejadian yang menggemparkan, aku begitu ketakutan hingga aku tidak sadar jika di tahun itu, dia, kekasihku, masih menungguku untuk memperjuangkan hubungan kita, aku begitu ketakutan hingga tidak pernah berpikir jernih dan lagi-lagi melakukan kesalahan besar, aku begitu ketakutan hingga aku tidak sadar jika tuhan telah memberikan ku opsi dari 'kesempatan terkahir'.
"Maaf sayang, maafkan aku" tangis ku masih belum mau berhenti, setiap kali aku datang kesini, rasanya banyak sekali sesuatu yang ingin aku ungkapkan pada gadis ku, aku bahkan ingin bersujud padanya dan terus menerus mengucap kata maaf hingga ia sendiri yang menyuruhku berhenti, aku telat berkali-kali dan aku telah menjadi bodoh ribuan kali, aku si cendala yang dicintai bidadari sepertinya malah dengan mudahnya bertindak tidak tahu diri.
"Kak, ayo pulang, ini udah lebih dari dua puluh tahun dari kejadian itu, tubuhmu udah ga semuda dulu, kalo kelamaan di sini bisa bikin sakit, kakak ipar juga ga bakalan suka ngeliat kakak kaya gini" adik ku datang dengan ceramahnya setiap Minggu ketika aku mendatangi makam kekasih tercinta ku.
Dia yang kemudian memilih untuk bunuh diri daripada menikah dengan insan selain ku benar-benar membuatku setengah gila, tahun dimana aku terpuruk sebenarnya juga menjadi tahun dimana ia menunggu ku kembali dan memperbaiki keadaan, namun dengan bodohnya aku malah mengabaikan penantiannya.
"Sayang, aku pulang dulu ya, kamu tenang aja, karena kamu memilih mati daripada bersama dengan lelaki lain, maka aku juga memilih tidak hidup dengan wanita lain, aku juga akan mati dalam keadaan mencintaimu sebagai wanita satu-satunya, bahkan jika reinkarnasi itu ada, aku bersumpah akan tetap mencintaimu, aku akan menjadikan ratu, aku akan menjadikanmu wanita yang terhormat, aku akan menjadikan mu wanita yang seluruh hidupmu hanya boleh menjadi bak manekin tanpa cacat, aku akan menjadikanmu wanita paling cantik dengan senyuman yang menawan, dan aku akan menjadikanmu wanita yang paling pengangguran namun kaya-raya dengan uang ku"
Dengan seluruh kisah cintaku yang tragis, kini aku pahami kasta dan harta adalah sebuah hitungan pertama, meskipun bahkan terkadang apresiasi cinta telah lebih unggul daripada semuanya, namun tetap, hidup harus penuh realitas, bahkan jika orang tuanya dan gadis itu tidak menolak ku, namun aku tau bahwa akan ada perpecahan keluarga hanya karena aku yang tak setara dalam kasta.