12 Desember 2022
Agam Chaiden berdiri di dekat makam seseorang yang sangat berharga baginya, seseorang yang datang tepat saat dia sedang terpuruk, seseorang yang datang memberikan semangat dan dorongan hidup, seseorang yang tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun.
Audy Shaquilla, seseorang yang dia temui di tanggal 12 Desember dan ditanggal ini juga, perempuan yang sangat baik itu pergi. Beristirahat dengan nyaman dalam pelukan sang pencipta.
"Audy. Terima kasih. Andai kamu masih disini mungkin sekarang kita berada di Paris, seperti kemauan mu. Apa kau masih ingat itu?" Agam berbicara seolah-olah Audy akan mendengarkan dirinya.
Sudah tujuh tahun berlalu sejak Audy pergi. Kini Agam telah sukses. Dia berhasil, berhasil mewujudkan impiannya namun semua terasa percuma karena seseorang yang menjadi alasannya sampai dititik ini telah pergi.
Agam selalu mengunjungi makam Audy setiap tahunnya, tepat di saat perempuan itu pergi.
Membawa semua kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan.
Masih sangat jelas diingatan Agam semua tentang Audy, perempuan yang ceria, baik, dan satu hal yang selalu diingat oleh Agam adalah dorongan yang Audy berikan agar dirinya mampu melalui semua masalah hidup, juga motivasi untuk menggapai semua mimpinya.
Tuhan sangat baik, disaat Agam bersedih dan terpuruk Tuhan datangkan seorang Audy.
Seseorang yang menguatkan, seseorang yang yang menghibur dirinya, seseorang yang membuat Agam kembali tersenyum.
~♡~
Agam mengingat kembali sebuah kenangan saat dia baru mengenal sosok Audy, saat mereka duduk bersama di sebuah bangku di taman saat malam tahun baru.
Menyaksikan indahnya malam.
Agam adalah orang yang pendiam, tapi setelah beberapa hari sering bertemu Audy, Agam mulai banyak bicara walaupun tidak selalu.
"Kok diem aja, sih?"
Audy terus memperhatikan Agam yang sedari tadi hanya diam sembari memandangi langit malam. Tidak seperti biasanya.
"Ada masalah, ya?" Audy melirik sekilas ke arah Agam. "Kalo ada masalah, ya hadapi! Tuhan nggak pernah ngasih sebuah cobaan diluar batas kemampuan hambanya. Apapun itu, kamu pasti bisa menghadapi semuanya! Setiap masalah harus diselesaikan dengan baik jangan lari. Pelan-pelan aja ... semua bakal baik-baik, aja, kok."
"Siapa yang lari? aku cuma lagi mikirin gimana cara nyelesain masalahnya, bukan lari!" jawab Agam.
"Emang ada masalah apa, lagi,? coba cerita, siapa tahu aku bisa bantu kamu."
Audy mengarahkan pandangannya kepada Agam, menatap laki-laki itu dengan lekat.
Agam balik menatap Audy.
"Tentang orang tua kamu, ya?"
Audy ingat saat Agam bercerita tentang orang tuanya yang selalu menuntut dan memaksakan kehendak mereka tanpa memikirkan perasaan Agam sedikit pun.
"Keluar dari zona nyaman." Audy tersenyum "Cari jati diri kamu sendiri! Jalan di jalan kamu sendiri, ikuti kata hatimu sendiri."
Audy menatap ke arah langit malam yang indah. "Walaupun kamu hidup cuma sehari, jalan lah di jalanmu sendiri, pilihlah kehidupanmu sendiri, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, selagi itu baik. Setiap manusia punya takdirnya masing-masing. Setiap manusia punya langkah yang berbeda-beda. Hiduplah dan jadilah dirimu sendiri!"
Agam mencoba mencerna semua perkataan Audy. Audy benar dia harus berjalan di jalannya sendiri bukan di jalan yang ditentukan oleh orang lain. Hidup dengan caranya dan menjadi dirinya sendiri.
Seulas senyuman terukir di wajah Agam. "Makasih ..." Agam mengacak rambut Audy, sembari tertawa melihat Audy yang kesal karena ulahnya.
Audy yang tidak mau kalah membalas Agam dengan mencubit bagian perut Agam.
Mereka tertawa bersama, keduanya punya masalah yang besar, Audy mengetahui masalah yang dialami Agam namun Agam tidak mengetahui masalah yang dialami oleh Audy.
Malam itu sangat indah, memandangi langit malam yang ramai dengan bintang-bintang dan juga kembang api.
~♡~
Agam sedang berkutat dengan alat tulisnya, seperti biasa menulis lirik lagu. Banyak lirik yang sudah dia buat, dan semua itu hanya tersimpan rapi di mejanya.
Agam menghentikan aktivitasnya saat ponsel miliknya berbunyi, Agam segera melihat pesan yang dikirim oleh Audy.
Malaikat baik : "Lagi nulis lirik lagu, lagi, ya?"
Malaikat baik : "Jalan-jalan, yuk, aku ada sesuatu buat kamu."
Agam segera bersiap keluar rumah, jarak rumah Agam dan Audy tidaklah jauh.
Keduanya kini berjalan berdampingan menuju taman, tempat favorit mereka kalau bertemu.
"Udah ketemu jalan kamu sendiri, belum?" tanya Audy.
"Udah, kok, seperti yang kamu bilang. Aku tahu apa yang aku inginkan, sekarang."
Agam tersenyum sembari membenarkan rambut Audy yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
Audy menyodorkan sebuah kartu nama. "Kemarin pas kamu nyanyi di taman ada orang yang ngasih ini ke aku, dia nggak sempet ketemu kamu karena ada kepentingan."
Agam menerima kartu nama itu, lalu membaca tulisan yang tertulis disana.
"Orang itu mau ketemu, kamu. Katanya kamu berbakat dan dia butuh orang kayak kamu. Sekarang dia ada di taman," ucap Audy.
Agam masih mencerna semua perkataan Audy, seorang CEO dari perusahaan industri musik mencari dirinya? Sean, ya itu nama panggilannya. Perusahaan itu memang belum terlalu besar tapi akhir-akhir ini perusahaan itu mulai banyak diperbincangkan, makanya Agam tahu.
Setelah mengobrol banyak, Agam menerima tawaran dari Sean. Mungkin ini adalah salah satu jalan menuju sesuatu yang dia inginkan, inilah jalan yang dia pilih.
"Audy. Makasih, ya," ucap Agam.
"Nanti, aja, makasihnya. Nanti pas kamu udah berhasil, tunjukkin ke orang tua kamu kalo kamu bisa sukses dengan cara kamu sendiri," jawab Audy.
"Iya. Pasti! Nanti kamu mau apa kalo aku berhasil?"
"Nggak macem-macem, sih, cuma mau jalan-jalan ke Paris bareng kamu." Audy tersenyum sembari menahan tawa.
Agam tertawa. "Oke, pasti! doain, ya."
Audy mengangguk. "Sekarang kita ke rumah nenek, yuk. Hari ini keluarga besar aku ngumpul di rumah nenek," ajak Audy yang di-iyakan oleh Agam.
Selain dekat dengan Audy, Agam juga dekat dengan beberapa keluarga Audy.
Audy dan kedua orang tuanya sekarang tinggal di rumah Dianna-neneknya. beberapa bulan yang lalu Audy mengunjungi Dianna lalu menetap sampai sekarang.
Tidak seperti Audy yang hampir mengetahui semua tentang Agam, Agam tidak terlalu tahu tentang Audy, dia sangat jarang bertanya dan Agam menyesali hal itu.
~♡~
Orang tua Agam tidak terima dengan pilihan Agam, sekali lagi Agam mencoba meyakinkan orang tuanya namun mereka tetap menentang.
Agam tidak menyerah begitu saja, dia akan menunjukkan bahwa dia bisa! Agam pergi untuk mengikuti audisi yang telah ditawarkan oleh Sean. Agam yakin dia bisa, Tuhan bersamanya. Audy mendukung dirinya, Agam tidak boleh mengecewakan Audy.
Agam benar-benar datang untuk mengikuti audisi, dia membawa gitar kesayangannya.
Sebelum pergi, Agam juga sempat bertemu Audy, sebenarnya Audy ingin ikut menemani Agam namun Agam tidak mengizinkan karena Audy terlihat sedang sakit.
Saat namanya dipanggil, Agam merasa gugup.
Dia mencoba menenangkan dirinya.
Di depan para Juri Agam menampilkan semua yang dia bisa, bernyanyi, bermain alat musik.
Semua dia lakukan semampunya apapun hasilnya setidaknya dia sudah mencoba.
Hasil audisi akan diumumkan satu hari lagi.
Peserta akan diberitahukan lewat email oleh panitia audisi, apakah mereka terpilih atau tidak.
~♡~
Agam kini berada di rumah Audy, sedari tadi Agam tidak berhenti mengecek ponselnya, melihat apakah sudah ada email pemberitahuan hasil audisi.
Agam dan Audy duduk di balkon sambil mengobrol santai.
"Agam. Apapun hasilnya kamu jangan khawatir, ya," ucap Audy, menenangkan Agam yang tampak gelisah.
Dering ponsel membuat Agam langsung memeriksa ponselnya. Satu tangannya menggenggam erat tangan Audy.
Tiba-tiba raut wajah Agam berubah. Tunggu! Itu raut bahagia atau apa? Sulit dijelaskan.
Agam memandang ke arah Audy, menatap dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
Agam berdiri sontak Audy juga ikut berdiri.
"Kenapa? Ada—"
Agam langsung memeluk Audy erat, membuat Audy tidak melanjutkan ucapannya.
Agam berhasil. Dia lolos dan minggu ini juga dia harus pergi ke kantor pusat untuk menjalani beberapa latihan.
Tiba hari dimana Agam harus pergi, Audy mengantarkan dirinya sampai bandara dengan senyuman manis yang selalu dia berikan pada Agam.
"Agam. Hati-hati, ya! Jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan! Jangan lupa ibadah! Pokoknya kamu harus jaga kesehatan kamu baik-baik! Semangat!" ucap Audy sembari tersenyum.
Agam merasa sesuatu yang aneh, tetapi dia menghiraukan perasaan itu. Dia harus pergi dan harus berhasil.
Sungguh berat hati Audy melepaskan Agam, namun ini yang terbaik untuk Agam. Agam juga tidak boleh terlalu lama di dekatnya.
"Kamu, juga, ya." Agam memeluk Audy, entahlah dia merasa ini sangat berat, kenapa? "Audy aku sayang kamu, aku cinta kamu, jaga diri baik-baik, ya, selama aku pergi."
Audy tersenyum, dia juga mencintai Agam. Sangat! Namun dia tidak bisa! Tidak!
~♡~
Selama Agam menjalani latihan sebelum debut, dia tidak merasa kesulitan sedikitpun. Dia juga masih sering menghubungi Audy walaupun tidak setiap hari.
Beberapa bulan berlalu, tidak terasa sudah satu tahun berlalu, kini Agam sudah berhasil, berhasil menggapai impian dirinya walaupun belum sepenuhnya.
Tiga bulan terakhir, Audy tidak membalas satupun pesan darinya, Agam merasa khawatir sehingga dia memutuskan untuk mengambil juti untuk menemui Audy. Agam sangat merindukan Audy. Sangat.
Keinginan Agam untuk bertemu Audy sudah lama, namun jadwal Agam sangat padat, sungguh dia mencoba untuk meminta juti saat itu. Saat Audy tidak membalas pesannya namun dia dilarang untuk pergi saat itu. Dan Agam merasa bodoh karena hal ini dia kehilangan Audy. Dia terlambat.
Saat sampai di rumah Audy dia hanya bertemu dengan orang tua Audy. Dia bertanya kepada orang tua Audy namun mereka bungkam.
Agam mendesak sehingga orang tua Audy memberitahukan semuanya.
Agam terduduk lemas, tubuhnya bergetar, bulir-bulir air dari matanya tidak bisa dia tahan lagi.
Hatinya hancur saat dia tahu Audy meninggal tepat tiga bulan lalu. Dia menyesal.
Agam menyesal karena dulu dia tidak banyak bertanya dan tidak tahu bahwa Audy mengidap penyakit mematikan.
Audy yang sangat dia sayangi, Audy yang menjadi semangatnya, Audy yang menjadi alasan dirinya sampai dititik ini.
Agam membuka secarik kertas yang diberikan oleh orang tua Audy. Surat terakhir yang ditulis oleh Audy.
Agam membaca tulisan yang ada di kertas itu.
~♡~
Agam. Saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak bisa melihatmu, lagi. Maaf. Maaf aku tidak memberitahu dirimu. Agam, yang perlu kamu tahu adalah aku mencintaimu. Sangat.
Jaga dirimu, ya, aku sudah tidak bisa berada di sisimu lagi. Bahagia lah! Kamu sudah sukses sekarang? Iya kan? Aku mohon jangan menyesali apapun tentang diriku! Bahagia lah untukku! Bahagia lah ...
Terima kasih karena sudah ada disaat-saat terberat bagiku, mungkin kamu tidak tahu tapi aku sangat bahagia saat dirimu bersamaku.
Terima kasih.
Selamat tinggal
Aku mencintaimu ...
~♡~
Agam terpuruk karena kepergian Audy, kepergian malaikat baiknya.
Agam menyendiri berhari-hari membuat managernya khawatir.
Saat mengurung diri yang Agam lakukan adalah membuat lagu, semua tentang perempuan itu, tentang Audy.
Lagu yang seharusnya dia persembahkan saat ulang tahun Audy tetapi semua terlambat, seharusnya dia sudah menyanyikan lagu ini saat sebelum Audy pergi.
Maaf Audy ....
Selesai ♡