“Katanya, cowok sama cewek itu gak akan pernah bisa temenan. Pasti ujung-ujungnya ada aja salah satu yang suka terus bakal kejebak friendzone...” “HAHAHAH Kayla stop! Jangan ngada-ngada dehh.” Kataku pada Kayla. Sahabat karib yang sudah menemaniku sejak duduk di bangku kelas 7. “Loh ini beneran Ev, aku baca-baca di twitter banyak tau cerita orang-orang yang suka sama temennya sendiri tapi gak berani confess. Aduhh gak bisa bayangin deh kalo di posisi mereka pasti nyesek parah.” Kata Kayla padaku. Aku sendiri sebenarnya juga sudah tahu hal itu, namun aku tetap bersikeras menentangnya.
“Evelyn!” Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki tak jauh dari tempatku dan Kayla duduk memanggil namaku. “Katanya mau belajar di perpus bareng, jadi gak nih?” Lanjutnya. “Jadi dong, Kay aku cabut dulu ya” Kataku sambil membawa tas ransel di sebelah bahu dan berdiri dari kursi lapangan sekolah. “Yeuu pacaran aja teruss, yaudah semangat ya” Jawab Kayla sedikit cemberut. “Ih apasih Kay, aku sama Owen cuma teman kok..” Timpalku sambil tersenyum.
***
Aku duduk di bangku perpustakaan, aku masih terngiang dengan perkataan Kayla. Sebenarnya, apakah hubunganku dan Owen benar hanya sebatas teman? Ataukah sebenarnya..aku menyimpan rasa padanya? “Kay..? Kamu daritadi mikirin apa sih?” Tanya Owen yang menghampiriku seusai memilih buku. “Aku? Aku mau nulis kok” Jawabku sambil menggelengkan kepala berusaha menjernihkan pikiran. “Nulis apa? Pensilmu tumpul tuh.” Aku melihat kearah pensil yang kupegang. Ternyata benar saja, daritadi aku hanya memegang pensil yang belum diraut. “Yaudah, pake punyaku dulu aja.” Owen tersenyum padaku dan menukar pensilku dengan miliknya. perhatian banget.. kata yang terlintas di benakku. Tanpa sadar aku terus memperhatikan lelaki bertubuh tinggi itu.
“Oh iya, nanti habis belajar mau ke danau bareng ga?” Ajak Owen mengalihkan topik. “Danau? Ayo aja sih” Kapan lagi dia akan mengajakku hanya berdua. Sesampai di danau, matahari sudah setengah tenggelam, kami duduk sambil menikmati pemandangan danau. "Evelyn.." "Kita ini..udah temenan sejak kelas 7 kan?" Tanyanya dengan nada pelan. "Iya, kenapa Wen?" Jawabku. "Gapapa, aku cuma mau bilang dari semua orang yang kukenal cuma kamu yang bener-bener ngerti aku, aku seneng banget punya temen kayak kamu" Ucapnya sambil menunduk tersenyum. "Bentar lagi kita lulus, aku harap kita masih bisa temenan kayak gini.."Pria itu menatap dalam langit. Aku hanya bisa terdiam. Kalimat yang ia katakan menunjukkan kedekatan kita hanya sebatas teman. Apa hanya aku yang memiliki rasa? Hari itu aku menikmati indahnya senja dengan penuh pertanyaan dalam benakku.
***
“Guys, ini kabar dari wali kelas katanya karena bentar lagi kita bakal lulus, maka minggu depan kita bakal ada acara camping, mohon jaga kesehatan ya teman-teman” Ucap Salsa, ketua kelas 9D. Ruang kelas itu seketika menjadi ribut. Semua bersorak mendengar kabar itu termasuk aku. Tiba-tiba Kayla menarik lengan bajuku. “Ev, ini waktu yang tepat buat confess” Bisiknya. “Hah? Confess? Yang bener aja kita ini teman” Jawabku berusaha menutupi kenyataan. “Yakin? Kamu ga bakal nyesel kalo ntar dia suka yang lain?” Kayla menaikkan sebelah alisnya sambil sedikit mendorong bahuku. Aku tak berniat menjawabnya. Namun lagi-lagi apa yang dikatakan Kayla membuatku overthinking.
Seminggu kemudian, hari yang dinantikan telah tiba. Semua murid terlihat antusias untuk camping, terlebih lagi sekolah menambahkan acara spesial yaitu ‘Prom Night’. Saat giliranku menaiki bus, Kayla menyuruhku untuk duduk dengan Owen dengan alasan ia akan duduk dengan yang lain. Karena tak ada pilihan lain aku menurutinya. “Evelyn, nanti malam aku mau ngasih tau kamu sesuatu.” Pria itu tiba-tiba mengatakan hal itu padaku. Aku mengerutkan dahi “Kenapa ga sekarang aja Wen?” Tanyaku. “Gapapa, lebih baik nanti aja” Jawabannya membuatku bertanya-tanya hal apa yang akan dia katakan. Entah mengapa aku merasa ini adalah kabar baik.
Malam hari pun datang. Semua mengenakan gaun dan jas yang indah untuk menikmati acara prom night. “Guys, ayo kita main truth or dare” ajak Kayla ke beberapa murid di sekitarnya yang langsung disetujui. Putaran pertama jatuh kepada Owen. “Ayo Wen, Kamu pilih apa nih?” Tanya salah seorang murid. “Hmm, truth aja dehh” Katanya. “Oke pertanyaannya..apa kamu pernah naksir orang?” Kayla melontarkan pertanyaan yang membuat mereka penasaran dengan jawabannya. “Gimana ya..” Ia memikirkan jawaban sejenak lalu menjawab “Aku, belum pernah naksir orang, soalnya…”
“Eh guys, sori ya ada telepon masuk aku keluar dulu.” Aku memotong permainan karena tak ingin mendengar lagi jawaban darinya.
Aku keluar dari ruangan penuh hiasan itu dan menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit. Mataku berkaca-kaca menghadapi kenyataan yang baru pria itu lontarkan. Tanpa sadar pria itu mengikutiku keluar. Kini posisiku berhadapan dengannya.“Jadi kamu selama ini ga pernah naksir siapa-siapa ya..” Aku membuka obrolan di tengah kesunyian itu. “Padahal, aku baru mau bilang-”
“I Have A Crush On You” Bukan aku, justru dia yang melontarkan kalimat itu untuk pertama kalinya. Owen berjalan mendekat ke arahku. “Permainan yang tadi..aku emang ga pernah naksir orang, kecuali kamu” Kalimat itu sontak membuat hatiku terbakar, darahku mendidih mendengarnya mengungkapkan perasaan. “Kamu telah hidup dalam mimpiku untuk waktu yang lama, bagaimana jika kita menjadikannya nyata untuk sekali saja?” Ajakannya kubalas dengan anggukan setuju. Malam itu dia bukan lagi seorang teman baik yang selalu ada melainkan orang spesial yang datang dalam hidupku.