Bagian 9. Adalah Aku
°•°•°
Untuk pertama kalinya kutemukan kebaikan begitu membuka mata. Sesaat aku kehilangan kata. Mungkinkah ini mimpi?
Dua wajah tersenyum padaku. Wajah-wajah bisu yang tampak teduh di bawah paparan sinar matahari sore. Tak hanya itu, banyak kelopak bunga bertebaran di depanku yang mengantuk. Dan selalunya, buket anggrek dari si gadis senja.
Pria muda di sampingnya, meletakan sesuatu di dekatku. Sebingkai foto yang sebelumnya lama ia pandangi. Foto wanita bermahkota bunga dengan kain panjang yang menutupi separuh wajahnya. Tipis namun tidak sobek. Aku tersipu takjub. Berkali-kali kulihat pun, aku hanya akan menuai kesimpulan, wanita itu terlihat persis seperti gadis senja.
Katakan ya jika penglihatanku benar. Atau setidaknya beri aku penjelasan, mengapa menunjukkan foto itu padaku. Untuk pamer? Sekadar main-main? Ini tidak membantu. Malah membuatku semakin mengantuk.
Percuma sekalipun aku memohon pada mereka untuk menjawabku, mereka bisu. Sebisu batu. Padahal akulah yang harusnya bisu itu. Di atas gundukan tanah merah, aku berceloteh pada setiap orang yang lewat agar menyadari keberadaanku. Bahwa aku tidaklah bisu. Aku bisa berbahasa sefasih manusia. Meski hanya membuat mereka kabur ketakutan.
Sampai kulihat kehadirannya di tepi jalan setapak padang yang sepi. Sosok tanpa takut yang mengenakan seragam sekolah. Di balik punggungnya terdapat buket yang ia sembunyikan. Seolah sedang menunggu seseorang datang menjemputnya pulang. Tapi sama sepertiku, ia hanya menggantang asap. Orang yang ditunggunya tak kunjung muncul. Menciptakan ceruk kesedihan di bawah mata cantiknya.
Sosok yang kemudian datang dan datang lagi dengan buket serupa. Bernaung di bawah pohon tua. Menangis seperti bocah kehilangan permen, lalu berupaya tersenyum. Walau yang tampak hanya kesedihan.
Kesedihan yang tidak bisa disuarakan.
Kini pun, lagi-lagi mata gadis itu memerah. Secepat angin ia berpaling karena enggan memperlihatkan air matanya. Si pria muda menariknya dalam pelukan, mencoba menenangkan isaknya. Sedang aku, mataku terasa berat. Padahal jika saja aku bisa bergerak, aku juga ...
"Bunda ketemu, Ayah..."
"Cha, jangan menangis."
... akan memeluk dan menghiburnya seperti yang sudah-sudah. Tapi bagaimana ya, soalnya aku hanya sebuah batu.