Bagian 8. Yang Seharusnya Bisu
°•°•°
Aku mengerti dan tak akan menangis lagi, Ayah ...
Aku marah karena kau lebih memilih menanggung semua sendiri, alih-alih mengakui perasaan sebenarmu pada Bunda hingga akhir hayatnya.
Kini tersisa sebuah taman mati dan dia di bawah pohon tua itu. Menyepi dari hingar dunia yang sekuler. Aku ingin menghibur kesepiannya seperti dia yang selalu menenangkanku tanpa sadar dengan bahasa lembutnya.
Andai aku ingat, suara Bunda adalah yang selama ini kudengar, mana mungkin aku terus mencari di mana dia adanya. Dia yang sudah lama meninggalkan kehidupan ini untuk hidup dalam dimensi lebih tinggi.
Ini bukan taman yang Ayah maksud. Bukan taman sepi dan terbengkalai. Namun taman di bawah langit yang dipenuhi bunga-bunga. Di sana Bunda berada. Itulah maksud yang tidak aku pahami.
Maaf, Ayah, tak sepatutnya aku menghujatmu atas hal yang belum kumengerti. Bukan kau, tapi akulah yang egois. Aku tak dapat memahami bagaimana teguhnya Ayah menahan kesedihan agar tidak terlihat olehku. Dan betapa kerasanya Ayah bekerja agar bisa melupakan sejenak kenyataan pahit itu.
Bahwa ia telah memutuskan apa yang menjadi pilihannya tanpa melibatkanmu di masa lalu.
Ayah, aku mencintai Bunda, tapi kau jauh lebih mencintainya. Karenanya kau seteguh itu. Maaf, Ayah, sakitku membuatmu harus kehilangan wujud cantiknya. Setelah ini, tidak akan kubuat Bunda atau dirimu, mencemaskanku lagi. Aku akan hidup dengan baik dan ceria! Aku janji.
Gundukan tanah yang dijerat rerumputan liar setelah terabaikan bertahun-tahun lamanya di taman itu, kini mulai bersih terawat. Kupandangi rangkaian huruf huruf pudar pada batu di atasnya.
Sebaris huruf kapital yang membentuk rangakain samar, Alexania Omair. Itu seperti namaku. Nama yang diwariskan untukku menjelang kepergiannya.
Bunda percaya nama yang tak sesuai akan mendatangkan kesedihan. Karena itu ia memberiku nama seceria Alexa. Dengan harapan kelak aku dapat tumbuh menjadi perempuan ceria tetapi tangguh. Walau aku tidak begitu mengerti kenapa harus nama yang sama.
Karena dia ibuku?
Atau karena jantungnya berdetak dalam diriku? Macam kata Ayah.
Nama itu baru kulihat, baru sekali. Usai pengakuan Ayah mengenai dia yang harusnya bisu. Ketika permukaannya benar-benar bersih dari jeratan semak belukar berganti asri oleh kembang wangi serta sebuah buket anggrek putih.
Aku tidak pernah mengira bahwa pencarianku akan menemui akhir.
Luapan rindu yang sulit kubahasakan dengan kata-kata menjelma air mata. Sulit terbendung hingga menjadi isakan.
Sebentar saja. Bolehkah aku tetap di sini? Memeluk jejaknya sebelum matahari pulang dipelukan ufuk.
TBC