Bagian 7. Tentang Dia
°•°•°
Aku pernah berpikir untuk menutupi cerita ini darinya. Tak peduli sepuluh tahun, dua puluh tahun bahkan seratus tahun. Hanya demi melihatnya tetap tersenyum dan tumbuh.
Rupanya aku keliru.
Pertanyaan-pertanyaan yang keluar lewat bibirnya membuatku cemas dan mengutuk diri sendiri. Semakin usianya bertambah semakin hebat hujatan yang ia lontarkan akan semua penantian tak berbalasnya.
Cha, kau yakin ingin aku tetap bercerita?
Kalau begitu, hapus dulu air matamu.
Senyumnya mengingatkanku pada senyuman wanita di foto yang sudah lama kusimpan. Wanita bergaun putih gading dengan mahkota bunga di kepala. Aku memotretnya diam-diam jauh sebelum ia kumiliki. Gadis bermata coklat yang kutahu seorang tangguh. Dia bersikap ceria tanpa terhalang busana tertutupnya.
Sesuatu yang ceria memang sangat Alexa. Kuharap kau pun dapat seceria Alexa. Wanita di foto itu.
Mungkin karena itu, aku selalu memberinya berbagai hadiah hingga kemudian menjadi kebiasaan. Bukan sekadar untuk menyenangkannya, tapi karena Alexa menyukai hal-hal kecil semacam coklat dan buket.
Alexa sungguh hidup dalam dirinya. Terkadang aku melihat itu dengan terang. Bayang Alexa menjelma saat ia menangis atau tertawa. Entah bagaimana mungkin dua orang berbeda memiliki komposisi wajah sebegitu mirip. Sikap keduanya pun cenderung tak sabaran.
Baru-baru ini, aku menyadari sesuatu. Ia mengalami pertumbuhan pesat. Bukan lagi kuncup, melainkan gadis remaja dengan senyum secantik kuntum anggrek putih.
Cha, Alexa kecilku.
Lalu, tentang suara di padang terbengkalai yang kau sebut taman. Suara dari sesuatu yang harusnya bisu. Suara yang menguar di sepi senja. Suara yang suka berbicara padamu. Suara ... yang iseng bertanya untuk menyentuh wajahku, adalah suara yang sama. Masih sama.
Aku bingung bagaimana harus menyikapi ini, tapi aku masih sangat ingat suara rendah itu, serupa dengan milik wanita yang dulu pernah bernyanyi untukmu. Yang menenangkan tangisanmu di malam hari hingga kau kembali tidur.
Suara itu adalah suara Alexa. Wanita yang kau panggil bunda.
Betapa aku lelah dan tak ingin sembunyi lagi. Selama ini aku pun menelusuri jejaknya. Aku merindukan Alexa sampai dadaku tak kuat menanggungnya, Cha ...
TBC