Bagian 6. Demi si Kecil
°•°•°
Cha, maaf sebelumnya aku meremehkan ceritamu tentang dia yang bisa berbahasa manusia.
Ini benar-benar konyol. Aku hampir mengira kalau diriku baru saja masuk dalam fantasi yang diciptakan imajinasimu.
Apa kau ingat suara yang dulu pernah bernyanyi saat menidurkanmu? Suara yang menenangkan tangismu saat terbangun oleh mimpi buruk di malam hari.
Kau mungkin kesulitan mengingat. Usiamu baru menginjak empat atau lima tahun saat itu. Saat Alexa terakhir kali memelukmu. Kau masih kanak-kanak dan ceria. Tawamu belum tercemar air mata kesedihan. Belum ... belum sama sekali. Dan sekarang kau siap mendengarku bercerita?
Semua memori akan masa kecilnya masih terekam jelas di kepalaku.
Alexa begitu cemas saat tubuh mungilnya terbaring kritis di brankar rumah sakit karena kelainan jantung bawaan. Tak sekalipun Alexa meninggalkannya sendirian di unit gawat darurat. Terbaring dengan selang intubasi yang memanuver tubuh rentannya.
Alexa yang teguh harus berkali-kali melirihkan tangisan. Menghampiri dokter usai memeriksa keadaannya dengan wajah berantakan karena air mata. Penuh ketakutan. Setiap harapan bertabur ratusan tetes air mata Alexa adalah munajat pada langit untuk kesembuhannya.
Hingga tiba hari di mana Tuhan benar-benar mendekap do'a Alexa. Aku bingung bagaimana menjelaskannya ketika ia bangun dari koma dan bertanya, "Ayah, mana Bunda?"
Mata bulatnya nanar mencari ke luar pintu. Lalu senyumnya mengembang ketika kukatakan Alexa sedang menunggunya di taman. Hatiku bergetar akan jawabanku sendiri. Seolah-olah ada yang baru saja remuk di dalam sana.
Aku ... hanya tidak ingin dia mendengar sesuatu yang ilusif dicerna otak kecilnya.
Cha, aku mencintaimu. Tapi Alexa jauh lebih mencintaimu. Karena itu ia bersikeras melakukan hal yang tidak pernah dan tidak akan pernah kusetujui. Ini salahku. Jika saja aku lebih memperhatikanmu, memperhatikan Alexa. Jika saja aku ada disampingnya saat ia butuh sandaran.
Tapi di mana aku.
Aku yang sibuk mengurusi pekerjaan. Aku yang terlalu lelah untuk meluangkan waktu menemaninya menungguimu di bangku rumah sakit yang dingin. Aku yang bodoh karena membiarkannya menanggung semua sendirian kendari itu berat.
Namun Alexa tidak pernah menyinggung hal itu. Dia tetap melakukan tugasnya dan memikirkanmu. Memikirkan agar kau dapat melewati hari-hari kritis dan segera bangun dari tidur panjangmu. Walau harus menukar seluruh nafasnya untuk menawar rasa sakitmu.
Jangan menangis, Cha.
Sudah kukatakan tidak ada yang pergi. Alexa ada di dekatmu. Amat dekat.
Mungkin tidak raganya, tapi jantung Alexa sepenuhnya hidup bersamamu, berdetak seiring hembus napasmu.
TBC