Bagian 5. Bunda
°•°•°
Ayah dengar itu?
Dia berbicara seperti kita. Tidak bisu seperti perkirannmu.
Dia juga tidak menakutkan, malam harilah yang menakutkan. Saat aku terbangun oleh mimpi buruk atau karena gelegar petir, aku ingin pelukan hangat Bunda.
Ayah, bisakah kau berhenti kerja sejenak. Luangkan sedikit waktu untukku. Apa semua CEO di dunia sesibuk ayah? Berapa dokumen lagi yang harus Ayah tangani? Berapa banyak lagi yang harus ditanda tangani? Katakan barangkali aku dapat membantu.
Aku rindu Bunda, aku bahkan merindukan Ayah.
Senyum lelah Ayah dibalik kacamata telah mengingatkanku pada bunga-bunga yang layu di taman. Tidak seperti senyum wanita pada foto yang aku temukan di laci meja Ayah. Wanita dengan gaun panjang dan memakai mahkota bunga. Dia punya sepasang mata yang bagus. Coklat keemasan seperti warna kacang almond favoritku.
Aku ingin tahu siapa wanita yang kau abadikan di foto itu. Sekarang, Ayah.
Kemudian ceritakan padaku tentang Bunda. Agar aku tertidur setelah mengenangnya. Ayah sudah berjanji ingat? Tak perlu menunggu waktu yang tepat. Usia tak menjamin kedewasaan. Aku sudah bukan anak-anak lagi. Aku hampir lulus SMP, ayah percaya itu? Mungkin aneh tapi tidak ada yang aneh selagi aku jenius.
Aku lelah menunggu, Bunda pergi tanpa meninggalkan jejak untuk ketelusuri. Selangkahpun tidak. Keberadaannya seolah teka-teki tanpa jawab.
Tak ada, tak ada walau para belalang membantu menemukan di mana dia adanya.
Aku tahu kau juga menanti Bunda. Itu menjadi jelas saat kau mencuri-curi waktu dari padatnya jadwalmu agar dapat menemaniku ke taman. Katakan Ayah, bahwa kau juga menunggunya. Kau mencari wajahnya di antara orang-orang yang lewat. Kau merindukannya. Akui saja dan berhenti sembunyi dibalik sikap dinginmu!
Ayah terburu-buru meninggalkan taman dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran, padahal aku yang habis berlari tapi pelipis Ayah basah oleh keringat.
Ada apa?
Ayah menjadi sangat diam sepulang dari taman. Tidak lagi tertawa saat kuceritakan tentang suara itu. Suara lembut yang berasa dari sesuatu yang harusnya bisu. Kupikir, Ayah sudah percaya bahwa itu bukan sekadar imajinasi liar anak berusia 14 tahun belaka.
Betapa suara lembutnya menawar keputus asaanku di selaksa senja yang sepi. Keputus asaan akan pencarian Bunda yang tak berjawab. Ayah masih saja mengatakan usiakulah yang belum bisa menerima dan memahami keadaan sebenarnya.
Apa lagi yang harus kupahami. Kepergian Bunda yang diam-diam? Atau penjelasan yang kau sembunyikan?
Air mataku sudah kering dari danau di mataku. Yang tersisa hanyalah kerinduan. Rasa rindu bercampur haru.
Dalam hatiku adalah hujan kerinduan. Mengawan padamu, dan jatuh padanya.
TBC