Bagian 4. Wajah Yang Bersembunyi
°•°•°
Dia tidak sendiri.
Dia datang bersama seorang pria dewasa, mengenakan setelan jas yang rapi dan menggenggam sebuah buket.
Lagi?
Sekilas kelihatan seperti pria hangat dan ramah. Namun entah kenapa aku mendapat kesan dia adalah pria dingin tak tersentuh.
Setelah gadis senja, aku kembali dibuat bertanya-tanya mengenai sosok itu. Dia sama diamnya dengan gadis senja. Tidak berkata-kata, hanya berdiri kebingungan seakan berupaya menemukan sesuatu.
"Apa kau mencari belalang hijau? Mereka sedang tidur."
Padahal niatku hanya bercanda namun gerakannya benar-benar terhenti saat kutanyakan itu. Netra hitamnya menatap nanar pohon tua. Menangkap keberadaanku yang tabu. Lalu kaku.
Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Aku bahkan belum melakukan sesuatu. Maksudku, dia tampak pucat seolah baru saja melihat hantu.
Memangnya wujudku terlihat sangat buruk? Menyedihkan. Pria itu bahkan tidak berusaha menutupi mimik kagetnya.
Benar juga.
Gadis senja ... harusnya dia takut padaku sebagaimana pria itu. Atau harusnya aku tidak berharap. Bukankah sudah berulang-ulang kualami sebelum ini; anak-anak akan kabur pontang-panting jika melewati jalan setapak ketika hari mulai menanjak petang. Sebelum akhirnya mengabaikanku seolah-olah tidak terlihat.
Di mata mereka, aku hanyalah sesuatu yang bisu. Tidak mendengar alih-alih, berbicara. Hanya gadis itu yang berani mendekatiku lebih dahulu. Aku seperti terikat di tempat terbengkalai ini. Dan sepi. Lalu ia hadir dengan segala kehangatan yang ada padanya.
Dia membuatku penasaran mengenai buket anggrek yang selalu dibawanya dan kini ada di genggaman pria itu. Mungkin saja anggrek putih memiliki arti khusus bagi mereka. Aku kebetulan menyukainya.
Soal pria itu, wajah dinginnya perlahan-lahan murung. Meski ia menyembunyikannya dengan teguh, itu pasti tidak mudah.
Kukira kesedihan sudah berlalu, rupanya masih ada wajah yang menyimpan duka.
Gadis senja menarik tangannya mendekati pohon tua untuk memberi buket itu padaku.
Untuk sesaat aku tersihir bola mata hitam yang seakan menghisap itu. Dia berjarak sejengkal dariku. Membuatku terkagum-kagum dan percaya bahwa orang dengan aura sedingin es tidak selalunya apatis. Seperti wajah yang kini menatapku tanpa ekspresi atau entahlah.
Rasanya aku jadi ingin menyentuh wajah itu. Sebentar saja.
Apa boleh?
Kumohon ...
Ia terbatuk panik dan menarik diri menjauh. Berjalan terburu-buru meninggalkan padang. Gadis senja menyusulnya sambil sesekali melihat ke belakang. Padaku. Tersenyum.
Membuatku terpaku.
"Jangan jangan mereka dengar yang kukatakan?"
TBC