Bagian 2. Dia
°•°•°
Kalau kuceritakan, maukah Ayah percaya?
Ini aneh tapi hebat! Dia berbicara padaku setiap kali aku berkunjung ke taman itu. Taman bunga yang lebih menyerupai padang terbengkalai. Aku heran kenapa tempat sesepi pemakaman itu disebut taman.
Harusnya dia bisu sebagaimana dia yang lain. Ternyata aku keliru, dia tidak bisu, Ayah. Juga tidak menakutkan seperti kata orang. Malah dia lucu dan cerewet. Suara berisiknya mengalihkanku dari pesimis akan penantian tak berarah ini.
Namun tetap saja, hal itu tak lantas membuatku berdamai dengan kesedihan.
Ayah, di mana Bunda? Aku lelah mencari wajahnya di antara orang yang lalu-lalang.
Aku lelah menunggu dari senja ke senja.
Memikirkan seseorang tiba-tiba menghampiriku di bawah pohon dan mengaku ibuku setelah melihat buket yang kubawa, membuatku sangat berdebar-debar.
Ayah bilang Bunda akan datang. Tidak. Ayah bilang Bunda sebenarnya telah menungguku di taman itu. Tapi kenapa aku tidak pernah menemukannya. Tidak suara bahkan wujudnya. Jadi di manakah dia? Katakan, Ayah! Jangan menghindar lagi.
Aku rindu Bunda. Sampai dadaku rasanya ingin meledak. Aku mau Bunda menemaniku di ayunan ranjang sambil menceritakan dongeng karangan sendiri yang penuh imajinasi. Aku ingin wajah teduhnya jadi yang pertama kulihat saat pulang sekolah.
Aku ingin Bunda, cuma Bunda. Bukan boneka taddybear raksasa, kalung dalam kotak beludru merah, coklat berlapis almond atau buket anggrek setiap membuka mata di pagi hari.
AKU ANAK AYAH BUKAN PACAR AYAH!
Sedikit saja, bisakah Ayah memahami perasaan anak-anak? Ayah bahkan terlampau sibuk untuk sekadar melihat hasil raporku. Ayah juga tidak benar-benar merespon saat kuceritakan hal aneh yang kutemui di taman. Aku tidak bergurau. Yang kukatakan bukan imaji, Ayah ...
Dia bisa berbicara seperti kita. Sangat fasih.
Kemarin sore aku berkunjung ke sana lagi. Membawa buket pemberian Ayah karena katamu Bunda menyukai bunga anggrek dan ternyata diapun menyukainya.
Ayah percaya ini?
Awalnya aku merasa takut untuk mendekatinya. Namun tanpa disadarinya, dia membuatku tenang berada di dekatnya.
Meski begitu, fakta bahwa Bunda tak pernah datang menemuiku selalu berhasil membuatku menangis seperti bocah kehilangan permen.
Aku benci Bunda yang pergi tanpa pamit. Aku marah tiap kali menunggunya di bangku taman itu. Bunda tidak sekalipun muncul seperti kata Ayah. Tidak sekalipun.
Hanya ada serangga hutan dan rumput belukar. Pohon tua, rumput kering, juga sunyi. Lalu suara lembut yang berasal darinya. Bertanya-tanya kenapa aku selalu terlihat dengan mata dan hidung memerah karena menangis. Peduli sekali bukan? Mungkin karena itu aku tak keberatan memberinya buket yang harusnya kuhadiahkan pada Bunda. Semacam ungkapan terimakasih atas keramahannya.
Kalau saja kukatakan padanya yang sebenarnya. Dapatkah dia membantuku menelusuri jejak Bunda? Sebelum matahari pulang dipelukan ufuk.
TBC