Bagian 1. Gadis Bisu
°•°•°
Wajah sayu itu ...
Tatapan kuyu itu ...
Lagi lagi ia datang padaku dengan mata dan hidung merah karena menangis. Entah apa yang ia tangiskan. Kesedihan jenis apa yang dialaminya. Apa aku pernah merasakannya. Lalu bisakah kutawarkan tawa untuknya?
Aku tak tahan ketika lagi dan lagi ia datang, membawa buket anggrek dan terduduk lesu di bawah pohon tua sambil menenggelamkan wajah di antara kedua lutut. Punggung mungilnya bergetar. Isaknya kembali kudapati. Lirih tapi pilu. Lirih tapi menyakiti pendengaranku.
Aku tidak mengerti, aku juga tak bisa diam saja. Meski jika aku berkata-kata, ia tak kan dapat mendengar suaraku.
Setelah menumpahkan isi hatinya, ia mangangkat muka hanya untuk memberiku buket anggrek yang dibawanya. Tanpa menjelaskan sesuatu. Tanpa mencoba menuturkan kesedihannya sehingga aku bisa memahami perasaannya. Tidak sedikitpun. Padahal aku, ingin mendengar itu.
Gadis berlesung pipi yang biasa mengunjungi taman terbengkalai di sore hari, dengan sebuah buket di tangan. Entah bagaimana dia tahu aku menyukai anggrek putih. Sementara kami tak pernah terlibat perbincangan.
Aku bahkan tidak tahu namanya. Di mana rumahnya. Atau orang tuanya. Hanya rambut ikal sepunggung dan iris mata coklat seperti kacang almond yang tampak keemasan di bawah sinar matahari sore. Itu yang kutahu tentangnya.
Bahwa dia adalah gadis yang cantik, lebih cantik dari kuntum anggrek putih.
Menjelang sore, kutunggu hadirnya di padang terbengkalai. Di bawah pohon yang selalu menaungi keberadaanku dari terik dan gerimis.
Gemerisik angin menelisik daun. Derik suara serangga hutan yang riuh, terdengar seperti alarm peringatan akan kemunculannya.
Dari jauh kulihat ia berlari sekuat tenaga. Gadis bermata coklat yang selalu kunanti hadirnya. Satu tangannya membawa buket, satunya lagi mengelap keringat dipelipisnya. Selagi bersimpuh di atas rerumputan liar, ia menyerahkan buket anggreknya padaku. Lalu wajah yang redup oleh badai kesedihan itu berangsur-angsur tersenyum.
Benar-benar tersenyum untuk pertama kalinya sejak kami bertemu. Ya, tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Mata itu ...
Aku senang meski ia masih belum mau memberi penjelasan tentang sesuatu yang merebut senyum cantiknya selama ini. Kalau saja dia ceritakan, dengan senang hati akan kudengarkan.
"Kenapa diam saja? Apa kau bisu?"
TBC