Di dunia ini manusia tidak hidup sendirian, manusia hidup berdampingan dengan para roh yang enggan kembali ke akhirat. Roh-roh tersebut sering mengganggu manusia dan menclakainya untuk bisa memakan roh manusia, agar mereka bisa terus bertahan di dunia ini. Para roh hanya bisa dilihat oleh orang berkemampuan khusus. Orang-orang yang bisa melihat roh disebut Rei o miru. Ada juga orang-orang yang tidak hanya bisa melihat roh tetapi juga memburu para roh, mereka disebut Seirei Hanta. Para Seirei Hanta memburu roh yang sering mengganggu manusia, mereka menggunakan sebuah kartu yang telah diisi spirit, untuk menangkap dan mengendalikan para roh atau bahkan untuk membunuhnya, spirit adalah energi yang dimiliki oleh seorang Seirei hanta yang dimasukkan ke dalam soul card, setiap Seirei Hanta memiliki jumlah spirit yang berbeda-beda. Para Seirei Hanta berjuang untuk menangkap para roh agar tidak mengganggu umat manusia.
Terlihat seorang laki-laki berambut kuning keemasan, berbadan agak kurus dan berkulit putih, sedang berjalan di pinggir jalan raya sambil menenteng tas di punggungnya.
"Namaku Asuto kirigaya, aku seorang guru les privat, yang berumur 18 tahun, selain guru privat, aku juga seorang MaBa dari universitas terkenal di Yogyakarta."
Asuto adalah siswa dengan nilai ujian masuk tertinggi di universitas itu, makanya dia bisa muda diterima menjadi guru privat sebagai, pekerjaan sampingannya.
Seorang wanita dengan rambut lurus berwarna hitam , yang memiliki kulit yang sangat putih menyapa Asuto dengan suara yang agak lembut, sambil menepuk pundaknya.
"pagi... Asuto." ucap seorang gadis di belakang Asuto.
"Yo... selamat pagi, kaede." jawab Asuto
"Namanya Kaede Mizuhara dia seorang MaBa sama sepertiku, Bisa dibilang kami adalah teman semasa kecil."
"Hei Asuto...., coba lihat ini!" ucap Kaede sambil menunjukan sebuah foto di Hpnya.
Terdapat sebuah foto mereka berdua yang di belakangnya terdapat suatu benda berwarna hitam pekat seperti asap, dengan sepasang mata kecil berwarna merah darah, yang berbentuk bagaikan sebuah muka manusia.
"Bukankah ini menarik, Aku mendapat foto penampakan lagi." kata Kaede dengan wajah yang gembira
"Kaede kumohon jangan menunjukkan foto seperti lagi kepada ku!" ucap Asuto kepada Kaede dengan wajah yang sedikit ketakutan" ucap Asuto dengan wajah yang agak kesal.
"aku memiliki trauma terhadap hal-hal supranatural, sejak dulu aku memang bisa merasakan aura-aura supranatural dengan sangat jelas, nenekku pernah berkata bawah energi spirit ku sangat besar, Karena itu, para roh lebih tertarik kepadaku dibanding orang lain."
Saat Asuto masih kecil ia pernah berurusan dengan para roh saat sedang bermain bersama Kaede di dekat kuil diatas pegunungan, belakang rumah. Asuto dan Kaede diberikan suatu kutukan oleh roh jahat yang memiliki energi yang sangat besar. Oleh karena Asuto sangat trauma berurusan dengan hal - hal gaib.
"Oh iya maaf, hanya saja aku tak bisa menahan diri untuk membicarakan fenomena supranatural dengan orang lain." ucap Kaede dengan wajah bersalah.
"Kaede adalah orang yang sangat tertarik pada hal - hal berbau supranatural, oleh karena itu dia serin terjebak dalam masalah karena ku."
"Asuto Nanti kamu langsung saja kerumahku, adiku sudah menunggu mu!"ucap Kaede.
Kaede memiliki seorang adik sepupu bernama yayoi, setahun yang lalu ia mengalami kecelakaan dengan keluarganya, kecelakaan itu merenggut nyawa ayah dan ibu Yayoi, oleh sebab itu yayoi diasuh oleh Kaede dan keluarganya. Sejak Yayoi mengalami kecelakaan, Dokter menyatakan bahwa Yayoi memiliki IQ sebesar 160, melebihi IQ rata-rata orang biasa. Sejak saat itu Yayoi menjadi bisa melihat dua alam sekaligus.
"Ok..., nanti sore aku akan kerumahmu."ucap Asuto .
"jangan sampai telat ya !, aku duluan ya..." Ucap Kaede sambil berlari menuju rumahnya.
"yaa..." jawab Asuto.
Sore harinya Asuto pergi ke rumah Kaede. Setelah sampai di depan pintu rumah Kaede, Ia menekan Bel sambil membawa materi plajaran, di tangan kanannya.
Ting...Tong...
"Tunggu sebentar...!"Terdengar suara Kaede dari dalam rumah.
"Oh ternyata Asuto, sebentar aku panggilkan Yayoi."
"Yayoi..., Tutormu sudah datang, cepat kemari."
Seorang gadis berusia 12 tahun dengan rambut panjang berwarna ungu, wajah bulat dengan lingkaran memerah di bagian pipi, dan 2 pupil mata di setiap sisi mata yang membuat siluet semacam tengkorak, keluar dari dalam ruamah. Tiba-Tiba aura hitam menyebar ke halaman depan rumah Kaede, seketika sekujur tubuh Asuto bergetar karena melihat suatu aura yang kuat dari sebuah kartu yang dibawa Yayoi.
"Kaede, sebenarnya kamu tinggal dengan makhluk apa?" ucap Asuto Dengan nada yang panik dan sangat ketakutan.
"Apa maksudmu, dia adalah sepupuku, Yayoi Houzuki." jawab Kaede.
"Ada sesuatu yang serius di tangan kanan mu." Ucap Yayoi kepada Asuto sambil melihat tangan kanan Asuto yang dipenuhi dengan perban.
"Ha, A-apa dia bisa melihatnya, ini..., perasaan tidak enak ini dari kartu itu ya." Gumam Asuto yang dari tadi ketakutan.
"Hei, cebat buang kartu itu-" pinta Asuto kepada Yayoi.
"Maaf, dia usil."
"Aku akan membuatnya berhenti." Ucap Yayoi sambil sedikit merobek soul card yang ia pegang.
Seketika aura gelap berhenti memancar dan Asuto bisa tenang kembali.
"Kak Asuto ayo kita pergi ketempat angker!"
Pinta Yayoi kepada Asuto sambil memegang tangan kanan Asuto dengan kedua tangannya.
seketika Asuto langsung menarik tangannya dari genggaman Yayoi.
"H-he..., Kaede apa yang sebenarnya dipikirkan anak ini?"
"Asuto, Bagaimana kalau kita mulai belajarnya!" ucap Kaede berusaha menenangkan Asuto.
"Baiklah..." Jawa Asuto.
Setelah itu Asuto mulai mengajari Yayoi mengunakan soal ujian masuk SMP tahun lalu. Yayoi mengerjakan soal yang diberikan oleh Asuto dengan wajah yang cemberut. Tentu Yayoi dapat Menggerjakan soal yang diberikan Asuto dengan sangat mudah.
"Hei kak Asuto ayo kita pergi kencan ke tempat angker." pinta Yayoi kepada Asuto.
"Hah..., ok kalau Yayoi bisa mengerjakan semua soal yang ku berikan tanpa ada yang salah, aku akan menemanimu ketempat yang kau inginkan." Jawab Asuto.
"yata." ucap Yayoi dengan nada datarnya.
Setelah itu Yayoi kembali mengerjakan soal yang diberikan Asuto dengan wajah yang ceria. Asuto sangat terkejut Setelah melihat jawaban yang diberikan Yayoi.
"Bagaimana mungkin, padahal ini soal ujian SMP terbaik tahun lalu." kata Asuto terkejut.
Kaede hanya tersenyum melihat sikap Asuto. Tanpa berkata apa-apa Asuto langsung ditarik masuk kedalam mobil Kaede.
Tanpa pikir panjang Kaede langsung tancap gas menuju tempat yang disebutkan Yayoi.
"kemana kita akan pergi, pasti itu tempat yang berbahaya."
"Asuto cukup diam dan ikuti saja apa yang aku katakan lagi pula kau sudah berjanji!"
"Lo, udah ngak manggil kak?" gumam Asuto didalam hati.
Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah jembatan yang sudah cukup tua.
"Kenapa kita ke sebuah jembatan tua ini lebih baik kita pergi ke pasar malam, disana masih ada rumah hantu." ucap Asuto mencoba mengajak mereka pergi dari tempat itu.
"Asuto diam, cepat turun"ucap Yayoi yang agak kesal.
"Kaede kita beneran mau turun?" ucap Asuto, sangat ketakutan.
"Kenapa tidak!" jawab Kaede dengan nada lembut sambil tersenyum.
Setelah Asuto turun dari mobil tiba-tiba seluruh area telah tertutupi aura gelap yang sangat kuat. Asuto yang bisa merasaka besarnya aura gelap disekeliling jembatan langsung mual dan muntah di tempat.
"Asuto kau tidak apa-apa" tanya Kaede khawatir.
tiba-tiba tepat di depan mereka keluar sesosok roh dengan sepasang mata dan dan tangan yang berlumuran darah sambil membawa sebuah sabit yang sangat besar dan mengenakan jubah berwarna hitam pekat, dengan bau yang sangat menyengat. Tiba-tiba tangan kanan Asuto bereaksi terhadap makhluk yang memiliki bentuk yang sangat menyeramkan itu, tanda kutukan di tangan kanan Asuto memancarkan sebuah cahaya. Tanpa pikir panjang tiba-tiba Yayoi mengambil selembar soul card dari sakunya untuk melawan monster itu.
"Kono kādo ni torawareta tamashī yo, deteike, Mei !" ucap Yayoi sambil melempar soul cardnya ke langit.
Seketika soul card yang Yayoi lempar melayang di udara dan mengeluarkan cahaya yang sangat teraang, perlahan kartu itu menghilang dan mengeluarkan sosok wanita berambut panjang dan mengenakan pakaian putih dengan rantai di kakinya. Tanpa basa-basi Mai menyerangnya makhluk yang ada di depan mereka. Dalam sekejap roh yang dipanggil Yayoi dapat dihancurkan.
"Ayo masuk ke mobil!" sambil berlari ke dalam mobil.
"ya..."jawab Kaede sambil memapah Asuto naik ke dalam mobil.
Merekapun berhasil mengambil kesempatan untuk menaiki mobil dan meninggalkan tempat itu.
"sebenarnya Apa yang terjadi, dan apa itu tadi?"tanya Asuto yang dari tadi ketakutan.
"itu adalah roh yang telah memberikan kutukan padamu dan kedua orang tuaku, sekaligus yang mencelakai keluargaku, akhirnya aku menemukannya." Jawab Yayoi dengan nada yang serius.
"Aku memerlukan spirit mu untuk memusnahkan roh itu." pinta Yayoi kepada Asuto
"Apa dengan memusnahkan roh itu kutukanku juga bisa dihilangkan?" tanya Asuto kepada Yayoi.
"Tentu saja." jawab Yayoi kepada Asuto.
Saat itu juga Asuto membulatkan tekad untuk memusnahkan roh tersebut.
"Tapi bagaimana kita akan memusnahkan roh itu semua roh yang ada di soul card mu saja langsung hancur?"Tanya Asuto kepada Yayoi.
"Ini hanyalah para roh yang masih TK, Aku memiliki tiga roh yang sudah lulus yang biasa kusebut disebut TAMATAN." jawab Yayoi kepada Asuto.
"Bukankah energi mereka kuat,Tapi mengapa aku tidak merasakan energi mereka?" tanya Asuto kepada Yayoi.
"Itu karena aku menggubur mereka di belakang rumah Kaede, Aku miliki tiga roh tamatan saat ini, kita membutuhkan kurang lebih empat roh untuk menghancurkan roh itu."jawab Yayoi
"pantas aku merasakan sesuatu yang aneh dibelakang rumah."tambah Kaede.
"Bagaimana cara kita mendapatkan roh tamatan itu?" tanya Asuto yang sudah mulai mengerti situasinya.
"dengan upacara kelulusan, yaitu mumupuk bibit tamatan dengan seratus roh agar nutrisinya terpenuhi dan siap untuk lulus."jawab Yayoi kepada Asuto.
Setelah sampai dirumah Kaede mereka bertiga pergi tidur di rumah Kaede. setelah tidur dengan cukup Asuto pulang untuk mengganti pakaian yang ia kenakan semalam. Setelah selesai mandi Asuto kembali kerumah Kaede. Disana ia telah disambut dengan masakan Kaede yang sangat lezat.
"Asuto ayo sarapan dulu!" ucap Kaede memanggil Asuto yang berada di depan pintu kaede
"Baiklah..."
Tanpa pikir panjang Asuto masuk kerumah Kaede, ia langsung duduk di meja makan dan menyantab hidangan lezat yang di buatkan Kaede.
"Ngomong-ngomong dimana Yayoi". Tanya Asuto kepada Kaede
"Sepertinya Yayoi masih di kamarnya" jawab Kaede.
Tak lama kemudian Yayoi turun dari kamarnya, menuju meja makan.
"Yo..., Asuto selamat pagi." ucap Yayoi menyapa Asuto.
"pagi..." jawab Asuto.
Setelah itu Yayoi duduk di meja makan dan menyantab sarapan yang dibuat oleh Kaede.
"Yayoi apa yang tengah kamu lakukan tadi?." tanya Asuto kepada Yayoi yang penasaran.
"Tadi aku mempersiapkan seratus satu roh untuk menangkap dan meluluskan bibit tamatan."jawab Yayoi.
"dari mana kamu mendapatkan roh sebanyak itu." ucap Asuto kaget.
"itu semua adalah anak-anak yang aku kumpulkan sejak aku mengalami kecelakaan." jawab Yayoi.
"baiklah tapi sebelum kita menangkap bibit tamatan kau harus belajar dulu!" ucap Asuto yang merasa bertanggung jawab sebagai guru privat Yayoi.
"Huh..., Baiklah pak guru." jawab Yayoi dengan wajah yang sedikit kecewa.
Mereka belajar di ruang tamu sampai sore. saat mereka belajar Kaede memanggil mereka untuk makan terlebih dahulu. Merekapun myudahi belajarnya dan pergi ke meja makan. Mereka makan dan membahas rencana untuk menangkap dan memuluskan bibit tamatan.
"setelah ini kita akan pergi menangkap bibit tamatan jadi makanlah yang banyak." ucap Kaede sambil tersenyum, dengan wajah yang gembira.
"Glp..., baiklah. Lalu apa yang harus ku lakukan nanti." Tanya Asuto dengan sedikit takut.
"Tenang saja aku tidak akan membuat melakukan hal berbahaya." ucap Yayoi menenangkan Asuto
Setelah mereka makan mereka masuk kedalam mobil dan pergi ke sebuah kuil yang berjarak lima km dari rumah Kaede. Kuil itu berada disebuah bukit yang dipenuhi dengan bambu. setelah mereka sampai Asuto langsung merasa merinding ketika ada didepan pintu kuil.
"Asuto kenapa dengan mu?." tanya Kaede yang khawatir kepada Asuto.
"Aku merasakan suatu aura gelap yang menyelimuti kuil itu."ucap Asuto
"Kishimojin" ucap Yayoi menyela
Kishimojin adalah sesosok dewa kejam yang suka memakan bayi, tapi setelah Budha menyembunyikan anaknya, ia memahami rasanya kehilangan anak. Ia berhenti memakan bayi dan berubah menjadi dewa pelindung anak-anak.
"Dewa itu ditempeli banyak roh janin, dan karena mereka tak kunjung ke alam sana, dewa itu mulai terpengaruh roh janin dan berubah menjadi dewa jahat."ucap Yayoi yang melihat ke dalam kuil.
tiba-tiba dari dalam kuil ada seutas tali seperti tali pusar mengikat pinggang Asuto dan menyeretnya ke dalam kuil, Yayoi dengan sigap langsung mengikuti Asuto dan memotong tali yang mengikat Asuto, tali yang seperti tali pusar tadi berubah menjadi tali biasa.
"cih..., hanya ilusi." ucap Yayoi kesal.
tanpa mereka sadari mereka berdua telah dikelilingi ratusan roh janin yang mengepung mereka dari segala arah. Di depan mereka terdapat sesosok roh hitam yang besar sambil menggendong sebuah roh janin, roh tersebut tak lain adalah Dewa Khisimojin yang telah terpengaruh oleh roh jahat. Yayoi mengambil selembar soul card dari sakunya dan langsung melemparkannya ke langit sambil membaca mantra.
"Kono kādo ni torawareta tamashī yo, deteike, Anzhong."
seketika muncul sesosok roh bertubuh besar, mengenakan kimono dengan kepala tengkorak. Roh itu mampu memusnahkan sebagian besar roh janin yang mengepung mereka.
"Asuto sekarang saatnya."ucap Yayoi sambil melempar selembar soul card kepada Asuto.
"Apa yang harus kulakukan dengan kartu ini?"
ucap Asuto kebingungan.
"masukan spiritmu kedalam kartu itu. Dengan memegan kartu di tangan kanan dan ucapkan mantra, Spirit Encent !"ucap Yayoi.
"Spirit Enchant!"ucap Asuto sambil memegang soul card di tangan kanannya.
Seketika rambut Asuto berubah warna menjadi hitam. kartu yang ia pegang mengeluarkan cahaya dan energi spirit yang sangat besar.
"Asuto berikan soul card itu kepadaku!"ucap Yayoi sambil berlari menuju dewa Khisimojin.
Tanpa pikir panjang Asuto langsung melempar soul card yang ada di tangan kanannya kepada Yayoi. Roh yang dipanggil Yayoi dapat dikalahkan oleh dewa Khisimojin. Akan tetapi Yayoi berhasi menemukan titik kelemahan dewa Khisimojin, yaitu tak lain adalah roh janin yang digendong oleh dewa itu. Setelah mengetahui kelemahan dewa Khisimojin Yayoi menyerang roh janin tersebut dengan soul card yang telah diisi dengan spiritnya. soul card yang dilempar oleh Yayoi berhasil mengenai roh janin tersebut. Setelah roh janin di lenyapkan dewa Khisimojin tidak bisa mengontrol energi roh dalam dirinya. Yayoi memanfaatkan kesempatan ini untuk menangkap bibit tamatan itu.
"Kono seishin o tsukamaete, soul card!" ucap Yayoi sambil melempar soul card dari tanggannya ke langit.
tiba-tiba kartu yang dilempar Yayoi melayang di udara dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Seketika energi roh itu terserap ke dalam soul card. Soul card yang berwarna putih itu menjadi bergambarkan roh dewa Khisimojin, soul card itu bagaikan penjara abadi bagi roh yang tidak mau pulang ke akhirat.
"Akhirnya kita mendapatkannya." ucap Yayoi sambil mengambil soul card yang melayang di atasnya.
Roh janin yang ada ditempat itu musnah akibat energi spirit Asuto dari soul card yang menangkap bibit tamatan itu.
"oi..., Apakah kalian baik-baik saja?" ucap Kaede dari gerbang kuil sambil berlari menghampiri Asuto dan Yayoi.
"Ini adalah waktu dan tempat yang cocok untuk melakukan ritual kelulusan." ucap Yayoi
"Kita akan melakukan ritualnya sekarang?" ucap Asuto yang masih kelelahan.
"waktu terbaik untuk melakukan ritual kelulusan adalah sesaat setelah bibit tamatan tertangkap kedalam soul card, selain itu disini cukup tenang dan tidak ada orang yang akan terganggu." ucap Yayoi menanggapi Asuto yang sedang kelahan.
"baiklah." ucap Asuto yang kembali bersemangat.
Yayoi berlari menuju mobil Kaede untuk menggambi kapur dan lilin. Setelah itu Yayoi menggambar sebuah altar dengan simbol bintang didalam sebuah lingkaran yang di setiap ujung bintangnya diberi lilin yang menyala. Yayoi menempatkan sepuluh soul card yang telah terisi roh di samping kanan dan kiri lilin.
"Asuto duduklah di Tengah Altar ini sambil memegang bibit tamatan dengan kedua tanganmu!" ucap Yayoi menyuruh Asuto.
"kenapa aku harus duduk di situ bukankah berbahaya?" ucap Asuto dengan sedikit kecemasan.
"energi spirit mu yang paling besar disini kau diperlukan untuk terus menyuplai energi spirit bersekala besar, lagi pula energi spirit ku telah terkuras untuk mengeluarkan Anzhong." ucap Yayoi meyakinkan Asuto.
"baiklah kalau begitu." ucap Asuto.
Setelah itu Asuto duduk di tengah-tengah altar itu sambil memegang soul card bibit tamatan dengan kedua tangannya. sebelum melakukan ritual Yayoi menggambil air suci yang ada di kuil dengan sebuah botol.
"Wahai jiwa yang terperangkap dalam kegelapan abadi, patuhilah tuan mu dan korbankan dirimu demi kelulusannya, kelulusan mulai!" ucap Yayoi sambil mencipratkan air di botol dengan tangannya.
Seketika angin bertiup dengan kencang hingga reripunan bambu bergoyang karenanya. Semua Lilin yang ada di setiap ujung altar mati, tiba-tiba seluruh soul card yang ada dalam altar terbakar sedikit demi sedikit.
"Hentikan...!, Hentikan...!, Hentikan...!" terdengar triakkan para roh yang ada dalam soul card yang terbakar.
"Asuto alirkan sebagian besar Spirit mu sekarang!" ucap Yayoi kepada Asuto.
Saat Asuto telah mengalirkan sebagaian besar Spiritnya ke bibit tamatan tiba-tiba soul card itu melayang ke udara dan memancarkan cahaya, terlihat soul card itu menyerap energi dari seratus roh yang sedang terbakar, tak lama kemudian seratus roh yang ada disitu lenyap dimakan oleh bibit tamatan yang telah lulus dan menjadi tanaman sesungguhnya. Dari tamatan itu mengeluarkan aura gelap dan tekanan yang sangat kuat sempai membuat Kaede yang tidak memiliki energi spirit pingsan. Yayoi yang sigap langsung menyegel tamatan itu menggunakan rantai khusus dan dimasukannya kedalam sebuah kotak.
"huh..., Akhirnya selesai juga"ucap Asuto sambil menggendong Kaede yang pingsan dengan kedua tangannya.
Mereka pulang kerumah Kaede menggunakan mobil Kaede dengan Asuto yang menyetirnya. Setelah sampai di rumah Kaede Asuto menggendong Kaede sampai ke kamarnya.
"Asuto kau bisa pulang aku akan menjaganya!" ucap Yayoi.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu." ucap Asuto.
Setelah itu pulang ke rumahnya untuk beristirahat. keesokan harinya Asuto pergi kerumah Kaede dengan keadaan yang sudah vit.
"ting...,tong...!"
"Oh Asuto selamat pagi, maaf aku belum bisa memasak, semalam aku belum beli bahan masakan karena baru siuman dari pingsan." ucap Kaede meras tidak enak kepada Asuto.
"Tidak masalah nanti kita bisa beli makanan di luar." Jawab Asuto mencoba menenangkan Kaede.
"baiklah kalau begitu, silahkan masuk." ucap Kaede mempersilahkan Asuto masuk.
Di ruang tamu telah terdapat sebuah kotak berwarna emas di atas meja yang dengan rantai yang mengikatnya.
"Sepertinya bukan kotak ini yang digunakan Yayoi untuk menyegel tamatan kemarin." Gumam Asuto dalam hatinya.
Yayoi terlihat datang dari kamarnya dan menyapa Asuto."Yo, Asuto sepertinya kau selalu datang pagi." sapanya kepada Asuto sambil melambaikan tangannya.
"Pagi..., kapan kita akan berangkat?" tanya Asuto dengan semangat.
"sepertinya Taruma mu terhadap roh sudah hilang ya, kita akan brangkat setelah Maghrib, itu adalah waktu terbaik untuk para roh keluar." jawab Kaede.
"Baiklah berarti sekarang kita makan dan belajar dulu, ayo kita makan soto di warung depan, aku yang traktir." Ajak Asuto.
"latest go..." triak Yayoi.
"Baiklah." jawab Kaede pada Asuto
Mereka pun akhirnya makanan soto di warung depan rumah Kaede. setelah selesai makan mereka pulang kerumah Kaede untuk melanjutkan belajar Yayoi. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.30, matahari sudah akan berpamitan pulang. Asuto dan Kaede mengakhiri pembelajarannya dan bersantai sejenak. Setelah selesai beristirahat mereka pergi menuju jembatan tua kemarin menggunakan mobil Kaede. Sekitar sekitar 30 menit mereka sampai di jembatan itu. sesaat setelah Asuto turun dari mobil seluruh area jembatan langsung dipenuhi dengan aura gelap yang sangat pekat. Seketika Asuto langsung merasa merinding dan keringat dingin.
"Asuto kamu tidak apa-apa?" tanya Kaede khawatir melihat keadaan Asuto.
Sesosok roh dengan sepasang mata dan dan tangan yang berlumuran darah sambil membawa sebuah sabit yang sangat besar dan mengenakan jubah berwarna hitam pekat, dengan bau yang sangat menyengat, kembali menyapa mereka. Yayoi yang sudah ada persiapan langsung membuka segel dan menggambil empat soul card dari dalam kotak yang dibawanya semua soul cardnya dilempar ke angkasa.
"Yami ni torawareta tamashī yo, detekoi, Antartaru, kuragari, Yami, Khisimojin." ucap Yayoi sambil melempar soul card yang di bawanya.
tiba-tiba keluar empat roh tamatan yang aura gelapnya saja bisa memancar sampai satu km. Dengan bentuk yang sangat menyeramkan, yang dipenuhi darah di sekujur tubuhnya. Seketika roh yang ada di jembatan itu dikepung oleh empat tamatan sekaligus. Namun sebelum dapat dihancurkan roh itu memakan hampir semua roh yang ada di tempat itu dan berevolusi secara alami menjadi Ayakashi. roh itu menyerang keempat roh tamatan tanpa ampun.
"Yayoi bagaimana caranya mengalahkan roh ini sekarang?" tanya Asuto yang denagn sangat panik.
"tenanglah aku sudah menebak hal ini akan terjadi, kita bisa menghancurkan roh itu dengan ritual Fusion, menggabungkan empat roh tamatan menjadi satu." ucap Yayoi menenangkan Asuto.
Seketika empat roh tamatan tadi ditarik kembali ke soul card, yang ada di tangan kanannya.
"Empat jiwa menjadi satu, singkirkan kegelapan di jiwa, Fusion!" ucap Yayoi sambil melempar soul card yang dibawanya ke angkasa.
Seketika riga soul card yang dilempar Yayoi berputar mengelilingi satu soul card terkuat dan bersatu padanya. tiba-tiba soul card itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Setelah cahayanya hilang Soul card itu dirahi olah Yayoi.
"Kono yūgō de seinaru tamashī o yobiokosu me no mae no yami o horobose, takemikadzuchi...!" ucap Yayoi sambil melempar soul cardnay ke langit.
Soul card itu memanggil sebuah roh dewa pedang dengan baju zirah khas samurai jepang, yang membawa sebilah katana di tangan kanannya, terdapat aliran listrik biru menyala pada bilahnya. Roh dewa itu menebas ayakashi dengan sangat cepat, ayakashi langsung lenyap karena tebasan roh dewa itu. Seketika roh dewa itu menghilang dan Yayoi terjatuh lemas karena menggunakan hampir semua spiritnya untuk memanggil roh dewa itu.
"akhirnya selesai juga." ucap Yayoi berbaring, sambil menatap langit yang dipenuhi bintang.
Kaede dan Asuto berlari menghampiri Yayoi yang terjatuh.
"kau tidak apa-apa." Tanya Kaede yang sangat khawatir kepada Yayoi.
"tidak masalah, aku akan tidur sebentar untuk memulihkan keadaan ku.
Asuto menggendong Yayoi yang terjatuh dan membopongnya sampai ke mobil. Mereka pulang ke rumah Yayoi untuk beristirahat. Keesokan paginya mereka pergi kesebuah makam, disana mereka berdiri menghadap dua buah batu nisan. Diatas bantu nisan itu terdapat sepasang roh yang tak lain adalah orang tua Yayoi.
"Ayah, ibu sekarang kutukan yang telah mengikat kalian telah musnah, kalian dapat kembali ke akhirat, ayah dan ibu tak perlu menghawatirkan ku disini ada kak Kaede dan kak Asuto yang menjagaku, semoga ayah dan ibu selalu bahagia disana, sampai jumpa lagi." ucap Yayoi.
Perlahan roh ayah dan ibu Yayoi memudar dan menghilang dari dunia diiringi oleh tetesan air mata Yayoi yang di dekap oleh Kaede dan Asuto.
TAMAT