Hahaahah
"Gak kena!"
"Lempar bolanya nya pake tenaga dong, masa nggak kena terus! Hahaha"
"Ahh!!!"
"Hahaha! Irfan kena, Irfan kena! Hahaha!"
"Oi Anak-anak! masih pagi udah ribut aja! Kagak sekolah kalian!"
Tiga orang anak yang sedang bermain langsung berhenti dan menatap pemuda yang sedang berdiri diteras rumah sambil meregangkan badannya.
"Pagi apaan! Ini udah siang om Andi!" Edi menggelengkan kepalanya menatap om Adi yang lagi minum kopi.
"Hahaha tidur mulu sih kerjanya! Jadi nggak sadar deh kalau udah pagi! Dasar pengangguran! hahahaha!" Irfan tertawa sambil menunjuk pada om Adi yang geram.
"Dasar anak nakal! Nggak usah banyak bacot lu!" Adi langsung melemparkan kopi panas ditangannya kepada anak-anak yang langsung dihindari oleh mereka samb terus mengolok-olok Adi.
"Ahahahah... Pengangguran... Pengangguran" Irfan, Edi dan Udin berlari meninggalkan Adi yang berteriak marah pada mereka bertiga.
_____
"Hahahah... Kalian liatkan mukanya om Adi? Merah banget! Hahaha!" Udin memegang perutnya sambil tertawa.
"Kamu sih Irfan, ngejeknya kayak gitu banget. Om Adi marah deh" Udin menasihati sambil menahan tawa mengingat wajah merah om Adi.
"Oh tidak! Bolanya ketinggalan di rumahnya om Adi!" Teriak Edi tiba-tiba membuat mereka berhenti tertawa.
"Ahh~ gimana dong. Aku nggak mau balik ke rumah om Adi, nanti malah dilempar sama gelas kopinya" keluh Udin dengan wajah kecewa.
" Aku juga nggak mau balik kesana! Kita mending main yang lain aja" Irfan berkata sambil memikirkan ingin bermain apa.
Mereka bertiga diam sambil memikirkan ingin bermain apa lagi selanjutnya.
..
"Aku tau kita mau main apa!" tiba-tiba suara Irfan memecah keheningan, Edi dan Udin langsung menatapnya dengan mata cerah dan bertanya-tanya.
"Main apa!" Ucap Edi dan Udin bersamaan.
"Kalian ingat nggak soal cerita yang di ceritain sama si Mita kemarin? Yang dipanggil-panggil ituloh" ucap Irfan bersemangat.
"Ohh yang jalangkung-jalangkung itu kan?" Edi menebak dengan semangat.
"Iya! Kita main itu aja, kayaknya sih seru. Kita bisa manggil hantuuuu~~" Irfan berkata sambil mengangkat tangan dan membuat wajah jelek meniru hantu.
"Jangan deh, jangan" Udin langsung menolak bermain dan membujuk mereka bermain permainan lain.
"Nggak ada permainan lain yang asik Udin,udah kita main jalangkung-jalangkung aja" Irfan menolak mengganggu permainan lain, Edi juga mengangguk mengiyakan perkataan Irfan.
"Tapi kan, kata Mita kemarin main kayak gituan tuh pamali. Nanti malah bikin kita dalam bahaya" Udin masih membujuk mereka berdua namun masih tetap kukuh mau bermain jalangkung-jalangkung.
"Kalau lu nggak mau main ya udah, nggak usah. Pulang aja sana, dasar penakut lu" Irfan mencibir ke Udin yang berisikan pengecut dan masih aja percaya takhayul.
"Iya, Cemen deh lu Udin. Masa gituan aja takut sih, umur lu tuh udah mau 12 tahun masih aja percaya kayak gituan.. hah.." Edi menghela nafas dengan kecewa.
"Terserah kalian aja deh, pokoknya aku nggak mau main ini. Mending aku pulang aja kerumah, lagian udah mau duhur nih" Udin berkata, lalu meninggalkan mereka berdua yang mencibir padanya.
Setelah Udin pergi, Edi dan Irfan segera mencari bahan-bahan buat membuat bentuk boneka-boneka sawah.
"Kalau hantunya beneran datang seru banget tuh" ucap Edi sambil membantu mengikat orang-orang sawah kecil di tangan Irfan.
"Nggak mungkin sih. Lagian kita pake rumput doang dengan kayu, bukannya pake jerami. Jadi nggak sah deh, nggak usah terlalu berharap hantunya benaran datang" Irfan tertawa mendengar perkataan Edi yang berfikir hantunya akan datang.
"Kalian berdua ngapain?" Suara lembut datang dari belakang mereka berdua. Irfan dan Edi langsung memalingkan muka dan menatap Mita yang masih memakai talkum, sepertinya habis sholat duhur.
"Kita lagi main jalangkung nih, yang lu ceritain kemarin itu" Irfan menjawab sambil terus mengikat rumput pada kayu dan merekatkannya.
Mita kaget mendengar perkataan Irfan dan menatap pada boneka sawah kecil ditangannya. "Irfan hentikan! Itu pamali. Kalau hantunya datang beneran gimana, kan bisa bahaya. Kalian nggak takut apa?" Mita berkata sambil mengambil boneka sawah kecil ditangan Irfan, namun berhasil kembali direbut oleh Irfan dalam sekejap.
"Lu nggak usah gangguin deh Mita. Lagian ini bukan jalangkung beneran kok, cuma boneka aja" Edi langsung menahan Mita yang masih mencoba merebut boneka sawah kecil itu.
"Kalian sebaiknya jangan main-main deh. inj tuh pamali tau nggak, kita nggak bisa lakuin, nanti malah bisa bahaya!" Mita menatap mereka dengan wajah khawatir, dan terus menasihati Edi dan Irfan.
"Udah-udah! Sana pergi lu. Ganggu orang mau main aja!" Irfan marah, dan mendorong Mita pergi.
"Dasar keras kepala ya kalian berdua tuh, dibilangin malah ngeyel. Aku doain hantunya datang beneran dan nangkep kalian berdua. Biar kalian tuh jera! bandel banget deh jadi orang!" Mita menatap marah pada mereka berdua dan pergi sambil menghentakkan kakinya dan terus mengoceh.
Irfan dan Edi tidak menghiraukan ocehan Mita dan sibuk mencari sesuatu untuk membakar boneka sawah itu.
"Nih, korek kayu. Masih ada nih sisa main petasan kemarin" Edi berkata ambil mengambil satu korek api dan bersiap menyalakannya.
"Tunggu-tunggu kita harus ucapin mantranya" Irfan langsung mencegah tangan Edi.
"Oh iya! Aku lupa" Edi cengengesan dan berkata pada Irfan " btw mantranya apaan, aku nggak ingat kemarin Mita bilang apa" Edi berkata sambil menggaruk kepalanya berfikir.
"Hmm... Kayaknya ada jalangkung-jalangkungnya deh. Apa yah?" Irfan juga ikut memikirkan mantranya.
Setelah lama berfikir mereka berdua tidak mengingatnya.
"Yaudan deh. Terserah pokoknya kita suruh dia datang aja" ucap Irfan sambil mengangkat bahu.
"Eh tapi emangnya mau diruruh datang kemana? Nanti malah nyasar hantunya hahaha" Edi tertawa memikirkan adegan seperti itu.
"Yaudah suruh aja dia datang ke Mita, siapa suruh doain yang nggak-nggak. Nanti malam kan kita bakalan pengajian di mesjid jadi kita bisa sekalian liat juga" saran Irfan yang langsung di setujui oleh Edi.
"Iya iya. Siapa suruh kerjanya ngomelin orang , dasar cewek berisik" omel Edi memikirkan kata-kata Mita tadi.
"Jalangkung... Jalangkung... Kau harus datang jerumah Mita dan tutup mulut dia tuh yang berisik banget" ucap Irfan sambil cekikikan, merasa puas membalas Mita.
Edi langsung membakar boneka sawah bersamaan dengan ucapan Irfan.
Mereka menatap pada boneka sawah yang perlahan hangus di tanah, hanya menyisakan kayu yang gosong.
Segera angin berhembus menerpa mereka berdua.
"Gawat kayaknya bakalan hujan nih, anginnya dingin banget!" Ucap Edi sambil mengusap bahunya yang menggigil.
"Kok malah mau hujan sih. Tadi jelas-jelas masih cerah aja" Irfan berkata dan menatap langit yang memang agak mendung.
"Aku pulang duluan deh. Mau ngambil sapiku dulu" Edi berkata lalu berlari kembali, dia sudah bisa mendengar suara ibunya yang memanggilnya untuk pulang.
Melihat Edi pulang, Irfan jadi tidak mood untuk bermain lagi dan ikut kembali ke rumahnya.
_______
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
Adzan isya berkumandang menandakan waktu isya. Mita menutup Al-Qur'annya dan mendengarkan adzan.
Edi datang dari pintu, tatapannya langsung bertemu dengan Mita. Edi langsung menampilkan wajah jeleknya dan mengejek Mita.
Mita hanya memutar matanya dan tidak menghiraukannya.
Sholat isya selesai dengan cepat, dan segera pengajian ba'da isya dimulai.
Udin, Edi, Irfan, Mita dan teman-temannya segera membentuk lingkaran dan mulai membaca surah Al-fatihah.
Tanpa diduga ternyata guru mengaji mereka tidak ada, sehingga mereka harus belajar mandiri.
Mereka mulai mengaji satu sama lain menurut bacaan mereka.
Irfan menatap Edi dan mengedipkan matanya. Edi menangkap sinyalnya dan segera mereka berdua keluar dari mesjid
"Kalian mau kemana?" Udin melihat mereka berdua ingin keluar dan langsung bertanya.
"Buang air" ucap Edi dan Irfan bersamaan.
Udin lalu tidak mempertanyakannya lagi dan langsung melanjutkan bacaannya.
Mita menyaksikan Edi dan Irfan keluar bersama-sama dan mencibir dalam hatinya "dasar anak-anak malas ini, pasti mau kabur lagi".
Suasan mesjid tampak khusuk dengan suara bacaan ayat suci Al-Quran yang menggema dari dalam mesjid.
Beberapa saat kemudia tiba-tiba terdengar suara dari jendela samping mesjid.
'Bang! Bang! Bang!"
Langsung saja mereka semua berbalik kearah jendela, untuk melihat siapa yang ada disana.
"Kayaknya cuma batu aja deh, udah lanjut aja" Amir berkata menatap ketiga temannya yang lain.
"Haha... Batu apa yang suaranya Segede gitu" Amelia mulai merasa gugup, tapi tetap melanjutkan mengajinya. Dia sedikit menggeser duduknya agak jauh dari jendela yang ada dibelakangnya.
Udin dan Mita juga tidak terlalu menghiraukannya dan masih fokus mengaji.
"Ihihihihihihi~ Ihihihihihi~ bang! bang! Ihihihihih~" suara tawa mengerikan tiba-tiba terdengar bersamaan dengan suara menggedor-gedor jendela.
Sontak saja semua orang langsung kaget dan berhenti mengaji. Semua mata menatap pada jendela dan mereka bergerak sedikit menjauh.
Namun dijendela itu tidak tampak apapun.
Udin dan Mita langsung resah, dan mengingat perbuatan Edi dan Irfan tadi siang. Apakah hantu benar-benar datang?
'bang! bang! bang!, bang! bang! bang! Ihihiihihihi~~" suara itu semakin keras, namun anehnya mereka tidak melihat ada uang memukul jendela, dan tidak ada orang yang terlihat juga.
'Ihihihihihi~ bang! bang!'
'bang! bang!'
'bang! bang!'
Suara itu semakin cepat dan cepat, membuat Udin, Mita, Amir dan Amelia berkeringat dingin mereka salin berpelukan dalam ketakutan berharap itu tidak seperti yang mereka pikirkan.
"Ki..kita harus pergi dari sini..." Amelia berkata dengan suara gemetar sambil memeluk Mita.
"Aku juga ingin seperti itu... Ta..tapi aku tidak bisa bergerak" Mita membalas memeluk Amelia dengan erat.
Hantu itu benar-benar datang! Mereka datang!
'bang! bang!'
'bang! bang!'
Ihihihihihih~~~
Hihihi~
Hihihi!!!
"Tolong~~"
Tatapan mereka terpaku pada jendela dimana asal suara tawa itu muncul.
Hihihi~
Hihihi!
"A..a...a." Mita dan Amelia membeku saat merasakan sesuatu menyentuh pundak mereka. Keringat dingin mengucur di pelipis mereka.
Mita menelan ludah dan mencoba menoleh menatap ke pundaknya.
Tangan hitam dan jelek menyentuh pundaknya!!
"Wuwuwuu~ wuwuwu~" suara tangis Mita tertahan dan menggenggam tangan Amelia dengan erat. Amelia juga merasa tegang, mereka saling menggenggam tangan dalam ketakutan dan mencoba melihat kebelakang.
Perlahan-lahan tangan hitam itu semakin terlihat, jari-jari, punggung tangan, pergelangan tangan,semakin Mita melihat semakin jantungnya berdegup kencang.
"Haaaa!!!" Wajah jelek tiba-tiba muncul di depan wajah Mita.
"Ahhhhhhhh!!!!" Mita dan Amelia berteriak bersama.
Udin dan Amir langsung menatap mereka dan melihat Mita dan Amelia yang sudah menangis.
"Ahahahah! Ahahahah! Ahahahah!" Suara tawa Irfan terdengar dari belakang Mita dan Amelia.
"Hahahaha! Kalian benar-benar penakut hahahah!" Jendela di depan mereka juga terbuka dan menampakkan wajah Edi yang kemerahan karena banyak tertawa.
"Kalian berdua!" Mita langsung tersedak tangisnya dan langsung memuk Irfan dan Edi yang menertawakannya.
"Kalian pikir ini lelucon! Bagaimana jika aku jantungan!" Amir juga ikut mengomeli mereka berdua karena keisengannya.
"Ahhaha.. haha..hah.. perutku sakit...hahh" Edi memegang perutnya.
"Wajah kalian berdua sangat jelek saat menangis, haha itu sangat lucu... Hahahaha" Irfan terus berkata sambil menahan pukulan Mita dan Amelia yang tidak ada sakit-sakitnya.
'prang!'
'Whusss~!'
Suara membuka pagar, disertai dengan angin dingin langsung mengalihkan perhatian mereka dan membuat mereka merinding.
Dalam waktu bersamaan tatapan mereka menuju ke pagar mesjid.
'Hihihi~'
Sesosok wanita berbaju putih, dengan rambut hitam panjang muncul didepan mesjid. Wajahnya tertutup rambut berantakan tetapi mereka dapat dengan jelas melihat wanita itu tersenyum menyeringai hingga ke telinga, deretan gigi hitam dan tidak teratur dan mata gelap segelap malam menatap mereka seakan ingin menelan mereka semua.
"Ahhhhhh!" Teriak mereka semua bersamaan. Saling berpelukan dan menutup mata sambil terus membaca ayat kursi.
Beberapa saat kemudian mereka membuka mata dan sosok itu sudah menghilang entah kemana.
Sontak saja mereka langsung berdiri dan berlarian keluar dari mesjid. Saat hendak melewati pagar mereka sedikit ragu, namun melihat tidak ada siapapun mereka langsung berlari keluar.
"Ahh!!"
Suara teriakan menghentikan Udin, Amir, Amelia dan Mita menoleh kebelakang.
Edi dan Irfan sudah tengkurap di tanah, di bawah kali mereka tampak tangan hitam dengan kuku yang panjang mencengkram kaki mereka. Tidak jauh dari sana sosok wanita berpakaian putih itu menatap mereka berdua, sambil mengulurkan tangan yang telah terpotong hingga ke siku tepat ke arah Edi dan Irfan.
"Tolong! Tolong aku" Irfan berteriak sambil meronta-ronta mencoba melepaskan kakinya.
"Ahh!! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!" Edi menangis dan mengais tanah mencoba mencoba menarik kakinya dari tangan yang mencengkramnya.
Udin, Amir, Mita dan Amelia gugup dan berteriak minta tolong. Namun entah kenapa tidak ada orang yang datang seolah-olah tidak ada yang mendengar suara mereka.
Mereka ingin membantu tetapi ketakutan mengalahkan mereka. Kaki mereka teras seperti dipaku ditanah dan mereka tidak bisa maju membantu Edi dan Irfan.
"Ahh!!! Sakit!"
Mita melihat tangan itu perlahan bergerak kembali ke wanita berbaju putih sambil menyeret Edi dan Irfan.
Wajah Edi dan Irfan penuh dengan air mata dan ingus, tangan mereka mati-matian bertahan ditanah menahan tubuh mereka agar tidak ditarik.
Kedua tangan mereka sudah berdarah dan perih, namun mereka tidak menghiraukannya. Edi dan Irfan sadar jika mereka melepaskan tangan mereka dan pasrah maka mereka akan mati.
Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara tidak jauh dari sana.
"Pak ustadz!" Teriak Udin melihat bahwa yang datang adalah pak ustadz.
Pak ustadz dengan cepat maju menuju kearah Edi dan Irfan, dia membacakan sesuatu pada mereka berdua dan membuat mereka pingsan. Dia menatap pada kedua tangan yang tertanam erat dikaki keduanya dan membacakan ayat Al-Qur'an.
"Uwarghh! Kharghh!!!" Teriakan wanita berbaju putih itu menggema di kegelapan malam. Wanita itu menatap pak ustadz dengan tajam dan segera maju kearah pak ustadz.
Pak ustadz mengangkat tangannya kearah wanita berbaju putih, dan mencengkram kepalanya dengan erat.
"Kharghh!!!!!" Teriakan nyaring terdengar dari wanita berbaju putih, dan dalam sekejap dia menghilang dari udara seolah tak pernah ada.
_______
Sejak kejadian hari itu, Edi dan Irfan tidak pernah tersenyum lagi. Udin dan Mita kadang menjenguk mereka namun hanya disambut dengan wajah diam.
Tanda hitam masih membekas dalam kaki Edi dan Irfan yang telah dicengkeram, seakan menjadi tanda bagi kedua orang itu.
_____
END.