Pukul 2 pagi.
Aku bergegas menuju daerah utara, mencari material juga grinding untuk kebutuhan leveling dan ascension karakter. Seharusnya, ini dilakukan jauh ketika konten end-game Abyssal Floor di reset, tetapi apa boleh buat, kesibukan dunia nyata melebihi dugaan. Alhasil, di waktu mepet seperti sekarang, aku harus mencari dan mencari, karena reset Abyssal Floor selanjutnya adalah 22 jam dari sekarang, bersamaan dengan update patch terbaru yang tentu menguras paket data sampai kering. Maka, mau tidak mau aku mengeluarkan lagi uang, dan uang, lalu uang.
"Tapi bukannya benar, kalau Tuhan itu ada, lantas mengapa para manusia—orang-orang miskin dan kesusahan ditelantarkan begitu saja? Bukankah Tuhan itu Maha Penyayang dan Maha Pengasih?" Pertanyaan itu terucap oleh Artemidorus, salah seorang teman internet, dalam kanal voice-chat, yang kemudian dibalas oleh Raël.
"Simpel saja. Suka-suka Tuhan."
Kemudian Artemidorus merespons, sedikit menaikkan intonasi, "Kok begitu … bukannya justru pernyataan semacam itu malah mendeklarasikan sifat kediktatoran Tuhan?"
"Atas dasar apa kau bilang 'diktator'? Kalau Tuhan diktator, sudah seharusnya semesta kiamat bersamaan dengan punahnya dinosaurus. Lagipula, istilah diktator itu sendiri berasal dan berakar dari manusia, sementara Tuhan tidak pernah mendeskripsikan sifat-sifat-Nya dengan seburuk itu," tegas Raël.
"Mengapa Tuhan tidak menjelaskan langsung kepada semua makhluk tentang sifat-sifatnya? Kenapa harus melalui perantara para nabi dan kitab-kitab?"
Kalau boleh terus terang, dua mahasiswa sudah memulai sesi debat sedari 30 menit lalu. Atas dasar alasan apa aku tidak tahu, mereka memulai begitu saja tanpa angin lalu. Selain diriku, ada Daldianus, Soren, Hegel, dan Camus menyimak tanpa ikut campur. Buat kami, perdebatan ini ialah hiburan dikala beraktivitas bagai kelelawar.
Sembari melanjutkan grinding, aku membuka kanal general-chat, mendapati Camus mengirim pesan, baru saja. Camus menanyakan perihal build paling optimal untuk karakter pembantu atau support miliknya. Sebelum menyelesaikan ketikanku, Hegel mendahului. Eksplanasi Hegel sangat rinci dan mendetail seperti sebuah tesis namun sangat mudah dimengerti. Yah, seperti yang diharapkan dari seorang pemain veteran.
"Memang apa saja yang kau pelajari di jurusan Filsafat sampai hal segampang itu susah kau pahami? Ateisme? Kau pikir itu keren?" Kata-kata Raël yang terdengar lembut itu tegas dan dipenuhi sarkasme. Sepertinya dia lelah menghadapi Artemidorus, yang tanpa henti seperti siklus hujan, terus melontarkan pertanyaan tanpa keraguan.
Hening mengisi beberapa saat, kiranya lima menit, sampai ketika Raël mengucapkan dialog terakhirnya sebelum keluar dari kanal voice-chat. "Kalau pemahamanmu terbatas atau stuck pada ateisme, mending drop out saja, pindah jurusan!"
Ini seperti seseorang yang membanting telepon kabel dengan kesal pada film-film lawas.
Pada akhirnya perdebatan antara dua mahasiswa berakhir. Diriku yang masih keroco yang menduduki bangku kelas tiga SMA hanya bisa menyimak seperti murid yang melongo mendengarkan penjelasan seorang guru.
"Ketiadaan itu, ada atau tidak?" tanya Soren, memecah keheningan juga ketenangan.