Suatu hari di sebuah sekolah asrama tampaklah dua orang sejoli yang sedang bercengkrama mereka adalah Shasa dan Key . Sudah hampir 3 tahun mereka bersahabat dalam suka maupun duka.
Tak ada yang mampu memisahkan mereka
Bahkan kedua nya tetap memilih bertahan saat seribu masalah mengharuskan mereka keluar dari sekolah asrama.
Shasa adalah tipikal yang egois
Berbanding dengan key yang selalu mengalah saat keduanya terjebak salah paham.
Tak jarang key selalu menangis di setiap pertengkaran mereka meski key tetap memilih diam dan berusaha untuk meminta maaf kepada Shasa.
Namun yang tidak key ketahui adalah Shasa juga selalu menangis atas semua kesalah pahaman diantara mereka tetapi ia tidak ingin key mengetahui hal itu
" Key kamu setelah ini lanjut sekolah dimana? " Tanya Shasa spontan ketika key hendak berlalu meninggalkan kelas.
"Shasa kan kita udah janji mau masuk universitas yang sama gimana sih!" Jawab key kesal karna Shasa selalu menanyakan hal yang sama berulang kali akhir - akhir ini.
"Emm"Shasa bergumam dalam hatinya ia masih ragu untuk melanjutkan belajar ke negri Eropa tersebut.
"Memang nya kenapa sha? Kamu gak yakin kita bisa?"
"eh enggak kok,aku yakin kita pasti bisa cuma aku seperti ada firasat aneh aja gitu" jawab Shasa menunduk.
"Aduh udah deh sha makanya jangan keseringan baca novel kan jadi suka ngawur" ucap key kemudian meraih tangan Shasa untuk ikut bersamanya ke kantin.
Sesampainya mereka ke kantin mereka pun membeli beberapa makanan kesukaan mereka dan duduk disalah satu bangku kantin. Tiba tiba key merasa pusing dan sesak namun hal itu tidak disadari oleh Shasa.
"Sha aku balik ke kelas ya." Ucap key dan berlari kecil meninggalkan shasa begitu saja.
Shasa pun merasa bingung sekaligus kesal melihat key , entah kenapa akhir-akhir ini key seperti ingin menjauh dari nya, dan itulah kenapa Shasa selalu menanyakan tentang impian mereka untuk bisa masuk di universitas yang sama di Eropa , Shasa ragu melihat kelakuan key yang berubah akhir akhir ini.
Di sisi lain key menangis menyadari bahwa kini penyakit nya mungkin semakin parah
Ia tak mampu untuk menceritakan kepada shasa atas apa yang sedang ia alami.
Tepat 2 bulan lalu dokter memvonis bahwa ia terkena kangker yang sudah tak dapat di sembuhkan , mungkin waktu ia hidup di dunia hanya tersisa beberapa bulan saja namun ia tetap semangat untuk mewujudkan cita cita nya untuk bisa ke Eropa guna melanjutkan kuliah bersama Shasa sahabat nya.
Di asrama Shasa terus mencari key namun ia sama sekali tidak menemukan nya hingga kini hujan membasahi bumi.
"Key....key kamu dimana sih!" Teriak Shasa mencari key disetiap sudut asrama
Key mendengar suara Shasa memanggil nya hal itu membuat hatinya tambah tergores membayangkan bagaimana jika ia tak bisa bersama Shasa nantinya. Selama ini ia selalu memperhatikan Shasa layaknya seorang adik, mengurus semua keperluan Shasa di asrama bahkan 24 jam mereka selalu di habis kan bersama.
"Key kamu ngapain hujan hujanan disini?" Seru shasa ketika mendapati key yang duduk membasahi diri di tengah derasnya hujan.
Key hanya diam menatap Shasa kemudian berdiri dan memeluk nya erat seraya menangis
" Hei key kamu baik baik aja?" Tanya Shasa mengusap punggung key.
" Aku Gapapa kok " jawab key melepas pelukan mereka dan tersenyum.
" Terus kamu ngapain hujan hujanan seperti ini? Kamu mau sakit? Terus aku jagain gitu?"
Omel Shasa kepada key.
Dalam hati key berkata "iya" namun apalah daya ia tak ingin membuat orang yang satu satu nya ia sayangi disini merasa sedih.
Kemudian mereka pun berteduh di sebuah pohon rindang di belakang asrama sambil menunggu hujan reda.
"Sha? Kamu suka lihat pelangi gak?" Tanya key tiba tiba.
"Em enggak sih biasa aja" jawab Shasa dingin, yah seperti biasanya Shasa memang bersifat dingin namun ia tetap menyayangi key .
"Aku sangat menyukai pelangi sha, nanti kalo kita lagi pisah dan kamu merindukan ku kamu bisa liat pelangi ya, karna aku pastikan kita menatap pelangi yang sama.
" Kamu mau kemana sih key? Memang nya kamu sanggup jauh dari aku huh!" Ucap shasa sinis.
" Hehe sebenarnya aku gak sanggup tapi kalo suatu saat kita gak bisa bareng lagi ya kamu bisa berteman nantinya sama pelangi" ujar key sambil tertawa kecil.
" Apaan sih gak jelas tau" ucap Shasa sambil mendorong key pelan.
Dan akhirnya hujan pun reda menyisakan pelangi yang begitu indah , key tersenyum puas setidaknya kali ini ia menyaksikan pelangi bersama dengan sahabat yang ia sayangi.
"Key yuk pulang ke asrama sudah sore nih" seru Shasa namun key masih saja tak ingin melepaskan pandangannya dari pelangi tersebut .
" Key! Kok kamu masih liatin pelangi ? Apa sih spesial nya dia ! Tanya Shasa memaksa
"Pelangi itu indah sha , ia hadir tepat setelah hujan membasahi bumi, saat sebagian orang kesal akan hujan maka ia datang untuk sekedar memberi senyuman "jawab key sambil terus menatap pelangi tersebut.
Shasa hanya menghela nafas panjang dan menarik key untuk ikut pulang bersamanya.
Sesampainya di asrama key langsung menuju kamarnya " sampai ketemu besok" ucap key kepada Shasa.
"Yakin besok? Palingan juga nanti malam kamu datang ke kamar ku huh" balas Shasa sambil mengejek key.
Key tertawa sejenak menyadari jika ia memang selalu berkunjung ke kamar Shasa disaat hening nya malam.
Di kamar key bergegas untuk mengganti pakaian dan bersiap siap untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah di kamar .
Tepat pukul 12.30 dini hari key menangis mengingat besok adalah hari terakhir ia bersekolah di asrama ini dan harus meninggalkan Shasa disini karna penyakit yang diderita nya membuat ia harus beristirahat total di rumah.
"Ya Allah berat sekali rasanya meninggalkan seseorang yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri" Gumam key terisak.
Kemudian ia berjalan menuju kamar Shasa yang mungkin ini adalah rutinitas yang akan ia akhiri malam ini.
"Sha? Bangun dong , aku mau tidur disini boleh gak?" Ujar key seraya menggoyangkan pelan tubuh shasa.
"Yaampun key tidur aja sini ,lagian udah sering juga ih" balas Shasa pelan tanpa membuka mata nya.
Lalu key berbaring disebelah Shasa dan memeluk nya dari belakang.
Shasa kemudian membalikkan badannya dan membalas pelukan key
"Udah tidur ya besok kita banyak kegiatan" ucap Shasa sambil mengelus pelan punggung key.
Key tersenyum sambil menutupkan matanya
Namun siapa sangka prediksi umur yang di perkirakan dokter untuk bisa bertahan hidup beberapa bulan lagi harus sirna malam ini.
Key tertidur pulas di samping Shasa hingga ia menghembuskan nafas terakhir nya.
Saat adzan shubuh berkumandang Shasa terbangun dan melepas pelukan mereka namun kali ini tidak ada penolakan dari key seperti biasanya.
"Tumben"gumam Shasa sekilas kemudian berganti pakaian dan bersiap siap untuk shalat jamaah dan tak lupa pula ia membangun kan key yang tampaknya masih tertidur pulas."key bangun sudah adzan nih" seru Shasa sambil mengayun pelan tangan key namun Shasa tersentak merasakan tangan key yang begitu dingin "key bangun,kamu sakit?" Tanya Shasa sambil meletakkan tangan nya di dahi key.
Kini ada rasa takut di hati Shasa dan dengan sangat hati hati ia mencoba memeriksa deruan nafas key dan benar saja perempuan itu sudah tidak bernafas lagi . Shasa kemudian mengecek nadi di pergelangan tangan key dan ia juga tak mendapati jika nadi tersebut bergerak."Key........" Teriak Shasa frustasi yang sontak membuat teman teman lain segera menuju ke arah mereka.
"Tidak...tidak mungkin ini pasti mimpi...key bangun..jangan tinggalin aku key.." Isak Shasa dalam tangis nya kemudian ia tak sadarkan diri.
Di sisi lain pihak keluarga yang telah diberitahu langsung menunju ke asrama dan menjemput key .Sungguh berat memang namun mereka sadar bahwa ini adalah takdir .
Shasa sudah 2 hari tak sadarkan diri dan kini ia berbaring di klinik asrama . Orang tua key juga sempat menunggu Shasa sebelum akhirnya ia di makam kan namun dikarenakan Shasa yang tak kunjung sadarkan diri membuat mereka harus segera menguburkan key tampa menunggu kehadiran Shasa.
"Sha bangun dong" ucap Salwa yang saat ini menjaganya"
Iya sha Lo tega banget gak datang di hari pemakaman key" tambah Anna .
Seketika Shasa bangun dengan kaget dan langsung memanggil nama key. "Key kamu dimana? Kok bukan kamu yang jaga aku disini!." Seru Shasa spontan.
"Sha kamu harus terima ya,key udah gak ada sha..." Ucap salwa sambil memeluk Shasa.
Ada rasa sesak di hati ketika menyadari bahwa ia bukan lah bermimpi melainkan key memang pergi selamanya meninggalkan semua impian mereka."Key!!!!!!!" Teriak Shasa terisak.
"Kamu tabah ya ..key sudah tenang di alam sana" ucap Anna menunduk
"Kalian bilang apa...? Tabah? Aku punya banyak mimpi dengannya mungkin kalian tidak pernah tau bagaimana usaha kami buat mempertahankan semua mimpi yang kami punya!"key masih menangis terisak
Baginya ini adalah mimpi buruk yang tak ingin ia dapati semur hidup.
Disamping Isak tangis Shasa kini nampak nya langit juga sedang mengikuti perasaan nya. Hujan yang begitu deras kembali mengguyur bumi namun hujan kali ini tak akan pernah sama dengan hujan sebelumnya. Shasa berlari keluar dari klinik dan dengan sengaja membiarkan hujan membasahi tubuh nya . Ia menangis dibawah hujan dan terus memanggil nama key .
Salwa dan Anna yang menyaksikan itu hanya menghela nafas panjang mereka tau betul bahwa key dan Shasa tidak pernah terpisahkan sejak awal mereka berkenalan.
"Key bukan nya kamu udah janji bakalan terus bersamaku? Lantas kenapa kamu pergi secepat ini key!" Teriak Shasa hingga ia terduduk lemas dibawah deras nya hujan.
Dan kini hujan pun mulai reda membuat Shasa kembali menatap langit untuk menunggu muncul nya pelangi yang bahkan selama ini ia tak pernah ingin menatapnya.
"Key ..kamu bilang jika aku melihat pelangi maka kita pasti akan menatap pelangi yang sama kan...? Aku janji key aku akan menunggu pelangi setelah derasnya hujan sebagai tanda bahwa aku selalu merindukan mu, biarlah pelangi ini menjadi saksi bahwa aku mampu mewujudkan impian kita berdua.
Jika sebelumnya kamu adalah hidupku maka sekarang pelangi adalah kehidupan ku terimakasih key sudah menjadi sahabat sekaligus kakak terbaik bagiku" shasa bergumam dalam hati sambil menatap sendu Pelangi yang kini tampak indah di langit kemudian ia berjalan menuju asrama dengan tekat yang bulat bahwa ia akan mewujudkan impian mereka meski kini ia harus berjuang tanpa key disampingnya.
(Tamat)