Semuanya dimulai pada malam itu, malam yang sunyi hanya terdengar rintikan gerimis yang membasahi kota.
Sekitar jam sembilan malam terdengar suara dari arah belakang rumah, ku pikir hanya suara yang berasal dari rintikan gerimis tapi makin lama suara itu semakin keras.
"Duk...Duk ...Duk...Duk." bulu kuduk ku mulai merinding tapi ku coba untuk menepis pikiran-pikiran negatif yang hanya menimbulkan rasa takutku.
Tak lama kemudian suara itu mulai hilang, aku merasa lega mataku mulai berat dikarenakan suasana sejuk akibat hujan seharian ditambah seluruh badanku terasa lelah seharian sekolah dan banyak sekali tugas yang telah ku kerjakan akhirnya aku terlelap dalam mimpiku.
Namaku Salsa, aku baru berusia 19 tahun aku anak kedua dari dua bersaudara, kakakku Alena berusia 25 tahun ia terlalu sibuk untuk bekerja sehingga jarang sekali berada dikontrakkan.
Ya kami berdua berasal dari kampung yang jaraknya lumayan jauh dari perkotaan, selesai sekolah kakakku lansung mencari pekerjaan di kota, karena aku sangat ingin sekali pergi kekota akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan SMA ku kekota mengikuti kakakku.
Banyak sekali perbedaan yang kutemui dikotak ini, selain pergaulan yang begitu bebas aku juga harus menyesuaikan gaya-gaya disini agar tidak menjadi bahan ejekan teman-temanku disekolah, tak butuh waktu lama aku sudah bisa berbaur dengan teman-temanku disekolah.
Awalnya tidak ada yang aneh selama aku tinggal dikota hingga malam itu terjadi.
Karena kelelahan aku tertidur pulas hingga jam 11 malam aku dibangunkan oleh suara yang begitu keras dari dapur.
"Bruuuk"
Suara benturan yang begitu keras itu mengejutkanku,tak pikir panjang aku lansung keluar kamar kupikir ada maling yang berusaha masuk tapi ketika aku memeriksa sekitar ruangan tamu tidak ada orang, ku coba memeriksa ruangang dapur tetap tidak kutemukan jejak-jejak tanda maling yang masuk.
Kulihat kembali halaman rumah belum ada motor kakakku yang terparkir rupanya ia belum pulang pikirku, ku lirik jam dinding yang berada di ruang tamu yang telah menunjukkan pukul 11 malam tepat.
"Dimana dia? Apakah masih kerja jam segini?" Pikirku penuh tanya kepada kakakku.
Kuraih hp yang ada dikamarku ternyata benar saja sekitar 30 telpon tidak terjawab dan sekitar 50 chat dari wa yang belum ku baca.
Ternyata pesan dari kakakku yang mengabari bahwa ia lembur kerja dan malam itu ia tidur dikantornya.
Setelah memastikan sekali lagi bahwa keadaan aman aku pun masuk kembali kedalam kamarku dan ingin melanjutkan tidurku karena besok harus bangun pagi dan berangkat kesekolah.
Belum sempat ku tertidur kembali suara keras itu muncul lagi,aku mulai panik "apakah maling itu berhasil bersembunyi sehingga tadi aku tidak menemukannya" pikirku, mulai pikiran negatifku bermunculan apalagi sekarang beredar gosip yang mengatakan seorang wanita menjadi korban akibat pemerk**aan,ku coba memberanikan diri mengendap-ngendap keluar dari kamarku, ku raih sapu yang ada disamping pintu kamar dan mengendap-endap pergi kearah dapur karena suara itu berasal dari dapur.
Suasana sunyi sepi dan gelap menambah perasaanku takut,memang sebelum tidur lampu dapur selalu dimatikan dan menyisakan lampu ruangan tengah saja.
Ketika aku ingin menyalakan lampu dan ingin menyergap maling tersebut lalu berteriak jika ia sudah terpojokkan pikirku tiba-tiba tanganku berhenti meraih saklar lampu ketika ku melihat sosok bayangan yang merangkak seperti ingin mengarah ke ruang tamu sontak aku berlari kekamar dan mengunci rapat-rapat pintu kamarku.
Jantungku berdetak begitu cepat, tangan ku bergetar hebat dan bulu kuduk ku merinding aku berfikir apa yang barusan ku lihat mungkinkah hanya seekor kucing? Tapi sosok yang kulihat tadi tidak memiliki ekor ataupun telinga yang runcing seperti kucing.
Seketika lampu kamar ku berkedip-kedip aku mulai ketakutan, kukunci kamarku dan kuraih hp ku lalu segera menelpon kakakku namun telpon tak kunjung dijawabnya.
Tubuhku menggigil keringat dingin mulai menetes, aku berusaha untuk membaca doa yang ku bisa tapi sialnya gara-gara takut aku lalu salah mengucapkan doa malahan doa makan yang ku ucapkan,
"Aaah ini gila" pikirku sekejap.
Dengan cepat aku naik kekasurku dan menyelimuti seluruh tubuhku hingga kepala, lampu didalam kamarku tak berhenti-hentinya berkedip, tak lama kemudian.
"Dor..dor..dor."
Suara mengetuk pintu kamarku, aku semakin panik dan tak tau berbuat apa ingin rasanya teriak tapi ku urungkan niat tersebut.
"Dor..dor..dor."
Masih saja menggedor pintu kamarku dengan lampu yang sedari tadi berkelap-kelip menambah ketakutanku semakin memuncak, aku berusaha untuk menghubungi kakakku tapi masih tak ada jawaban darinya.
Tiba-tiba suara menggedor pintu itu menghilang dan beriringan dengan lampuku yang berkelap-kelip, aku merasa agak lega.
Baru saja aku merasa lega tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari arah belakang rumah kami dan lampu kamarku tiba-tiba mati total tak seperti sebelumnya.
Aku mulai panik dan kewalahan, ku raih hpku dan ku hidupkan senter hp tiba-tiba.
"AAAAAaaaaaaaaaaa" teriakku seketika melihat sosok yang sangat besar dan kurus berkepala botak yang menempel didinding kamarku , aku ingin berlari dan berteriak minta tolong tapi nihil badanku seolah-olah kaku suaraku tidak bisa keluar sedangkan makhluk itu terjatuh kelantai dan merangkak perlahan tiba-tiba ia membuka mulutnya yang sangaaat Lebar, mata merahnya menyala menatap kearahku, tiba-tiba pandanganku buram dan semakin lama semakin tidak bisa ku lihat sekeliling rumah.
Ketika aku terbangun dan membuka mataku aku melihat kakakku dihadapanku sontak aku terkejut dan berteriak.
"Heeey ini kakak, Kamu gak apa-apa?" Tanyanya dan mencoba menenangkanku.
"A aku takut" jawabku terbata-bata.
"Tenang-tenang udah gak apa-apa ini kakak"jawabnya sambil menatapku lekat-lekat.
"Kakak ambil air putih dulu" ucapnya lalu pergi kedapur.
"Sejak pakan ia pulang" pikirku tapi kenapa ada yang aneh dengannya, caranya berjalan seolah-olah orang yang sangat kaku dan raut wajahnya begitu dingin tanpa ekspresi pikirku.
Tidak lama kemudian ia masuk kedalam kamarku awalnya ia menatap kearah gelas yang ia penggang ketika ia mengangkat kepalanya menatapku tiba-tiba ia tersenyum menakutkan matanya hanya menapakkan warna putih lalu ia tertawa keras.
"Heahahahaha"tawanya melengking.
"Aaaaaaaaarrrrh" aku berteriak ku coba bangkit dan berlari keluar rumah tubuhku mulai oleng dan lemas lalu.
"Bruk" aku terjatuh didepan rumah lalu tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian aku tersadar kulihat sekeliling ada beberapa orang yang mengerumuniku.
"Kamu gak apa-apa dek" ucap seorang ibu disampingku.
"Ja jangan sentuh saya" ucapku gagap dan ketakutan.
"Tenang dek, tadi saya liat kamu terbaring didepan rumah,saya berusaha membangunkan kamu tapi kamu gak bangun-bangun jadi saya bawa kamu kerumah saya" ucap seorang bapak-bapak yang ternyata suami dari ibu tadi.
"Terima kasih pak buk semuanya", ucapku yang berusaha menetralkan perasaan kalutku lalu duduk.
Setelah memastikan aku tidak apa-apa beberapa orang itu meninggalkanku di rumah itu, aku ditolong oleh tetangga depan kontrakan kami yang baru pulang kerja.
"Sebenarnya ada apa dek, sepertinya kamu ada masalah" ucap ibu tadi yang menolongku.
"Gak apa-apa buk, saya cuma sering ngigo sambil jalan tapi kali ini gak tau tiba-tiba kepala saya pusing" ucapku bohong pada mereka padahal ingin sekali aku bercerita tentang apa yang terjadi tapi ku urungkan niatku karena takut dikira kurang waras oleh ceritaku itu.
"Owalah, trus kamu dirumah sendirian? Tanya ibu itu kepadaku.
"Saya tinggal sama kakak tapi kakak saya lagi lembur jadi dia nginep di kantornya buk".
"Yasudah kamu nginep disini aja takut nanti kamu kenapa-kenapa lagi toh" ucapnya menawarkanku.
"Kebetulan anak ibu udah pada nikah semua dan mengikuti suaminya jadi banyak kamar kosong, nah kamu boleh pake dulu kamar anak ibu" lanjutnya.
"Terima kasih buk, maaf sudah merepotkan" aku lega bertemu dengan orang yang sangat baik tersebut.
Ibu itu pun lalu menunjukkan kamar anaknya kepadaku.
"Kamu tidur disini aja yak dek, ayo masuk gausah malu-malu, lambainya kepadaku.
Lalu aku pun masuk kekamar itu dan membaringkan badanku,kepalaku masih terasa pusing dan badanku terasa sakit sekali mungkin karena benturan tadi saat aku pinsan pikirku.
Ibu itu mulai sedikit merapikan kamar itu.
"Dek, kamu bilang kamu hanya tinggal bersama kakakmu kan?, tanyanya kepadaku sambil duduk disisi kasur.
"Iya buk hanya kamu berdua, ada apa buk" tanyaku kepadanya karena sedari tadi raut mukanya menampakkan rasa takut dan agak was-was.
"Hmmmm gak apa-apa dek" jawabnya agak mencurigakan.
Aku merasa penasaran seperti ada yang ingin ditanyakan lagi tapi entah mengapa ia mengurungkan niatnya.
Setelah menjelang pagi aku berpamitan kepada ibu dan bapak yang telah menolongku tadi malam.
"Pak,buk terimakasih udah nolongin saya" ucapku di ruang makan.
"Saya pamit pulang dulu, sekali lagi maaf sudah merepotkan" sambungkan kepada mereka.
"Loh sarapan dulu aja dek" sahut ibu tetanggaku itu menawarkan.
"Gak apa-apa buk saya lansung pulang aja, takut telat kesekolah nanti" ucapku menolak tawarannya kepadaku.
"Yasudah kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk minta tolong kesini ya" sahut bapak itu kepadaku dengan tatapan yang tulus kepadaku.
"Terima kasih pak buk, kalau begitu saya pamit dulu".
Setelah berpamitan, aku lalu menuju kontrakan kami entah mengapa aura rumah kontrakan menjadi berbeda ku beranikan diri untuk masuk dan segeraalu bersiap-siap dan pergi kesekolah.
Sesampainya disekolah aku tak bisa fokus belajar penjelasan guru pun tak ada satu pun yang masuk di memori ingatanku.
Jam pulang sebentar lagi, semakin mendekati waktu pulang hatiku semakin resah aku takut akan terjadi sesuatu yang mengerikan lagi dirumah ingin rasanya meminta tolong kepada tetanggaku tapi aku merasa tidak enak dan takut merepotkan mereka.
Ketika bel pulang berbunyi aku menjadi resah pikiranku kacau, pulang sekarang tapi kakakku masih ada dikantornya, aku tidak enak jika harus menunggu dirumah temanku atau tetangga.
Akhirnya ku putuskan untuk jalan-jalan hingga kakakku berada dirumah, aku mampir sebentar ditaman untuk menenangkan pikiranku, tak terasa waktu berlalu hari semakin gelap ketika ku lihat jam dihp ku ternyata sudah jam 6 lewat.
Aku memutuskan untuk pulang kekontrakan karena kakakku pasti sudah ada dikontrakkan.
Ketika dijalan yang tak jauh dari rumah tiba-tiba aku mendengar suara tangisan bayi awalnya aku merasa takut tapi ketika aku melihat sebuah keranjang kecil tergeletak disamping jalan yang sepi dan sunyi itu aku hentikan motorku metikku dan menghampiri keranjang itu.
Alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok bayi mungil yang begitu lucu itu.
"Siapa orang yang tega meninggalkan seorang bayi disini"pikirku.
Karena kasihan dan tanpa pikir panjang aku mengambil bayi itu meletakkannya di depan tak pula dengan keranjang ya itu dan segera membawanya kekontrakan.
Sembari memikirkan apa yang akan aku dan kakak selanjutnya pada bayi ini apakah kami akan merawatnya atau menyerahkan ia ke panti asuhan pikirku.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang kakiku,sontak aku melihat kebawah, benar saja sosok itu makhluk botak dan mata merahnya yang telah memegang kaki ku, ia berseringai pada ku.
Aku kaget lalu tak sadar lansung jatuh dari motorku.
"Bruuuuk".
"Aarrggg" rintihku yang tertimpa motor lalu aku lansung melihat sekeliling tak jauh dari motor tampak sosok makhluk itu sedang merangkak mendekatiku, aku ingin berlari tapi kakiku tertimpa motor.
Aku berusaha sekuat tenaga tapi usahaku nihil, aku ingin meminta tolong tapi entah mengapa pada saat itu suasana dijalan tersebut sangat sepi.
Aku semakin takut, makhluk itu semakin dekat dan semakin jelas saja ku lihat wujudnya.
Tiba-tiba ia melompat kearahku dan membuka mulutnya lebar-lebar aku berteriak dan suasana menjadi gelap, aku tak sadarkan diri ditempat itu.
Tak lama kemudian aku tersadar sontak lansung ku lirik sekelilingku benar-benar tidak ada satu pun orang yang menolongku pikirku , jangankan untuk menolong sekedar orang yang melintas jalan itu saja tidak ada.
Syukurlah makhluk itu sudah tidak ada pikirku lega.
Aku berusaha lagi untuk memperbaiki posisi motorku, setelah berhasil lalu beranjak dan pulang kekontrakan.
Setelah sampai didepan kontrakan perasaanku semakin lega karena melihat motor kakakku tenyata ia sudah pulang lirihku.
Aku lalu masuk kedalam kontrakan.
"Kakak" teriakku setelah ada didalam kontrakan lalu melepas sepatuku
Aneh kakak sudah pulang tapi kenapa didalam sangat gelap hanya menyisakan lampu diruang tamu saja pikirku.
Aku masuk dan menuju ruang tamu lalu aku melihat kakakku yang sedang berdiri di tengah ruang tamu tersebut tetapi ia menghadap kearah dapur.
Aku mulai takut ditambah belum lama tadi aku mengalami kejadian yang mengerikan.
"Kaak",panggilku lagi padanya tapi tak ada jawaban darinya.
"Kaak"sekali lagi aku memanggilnya dan perlahan mendekatinya.
Tiba-tiba.
"Haahaahahahahahaa" ia tertawa dan perlahan kepadanya menghadap ke arahku.
Aku terkejut melihat matanya yang menampakkan bola putihnya saja.
Tiba-tiba ia merangkak lalu mendekatiku.
Sontak aku pun berlari tiba-tiba tangannya sudah merai pergelangan kakiku lalu aku terjatuh ia mulai menaiki badanku.
Matanya yang putih liurnya yang menetes-netes ke mukaku dan tangannya meraih leherku.
"K kaaaak i nii a aku" ucapku yang terbata-bata.
Tak ada respon darinya.
Aku mulai berteriak nafasku mulai tersengal-sengal karena cekikanya.
"Hihihihihi" tawanya yang seringai membuatku sangat takut.
"Ttolooooooong" teriakku.
Tak lama kemudian beberapa orang datang kekontrakan kami setelah melihat keadaan kami lalu mereka lansung berlari kearah kami dua orang berusaha melepaskan tangan kakakku yang sedang mencekikku.
Awalnya mereka kewalahan lalu salah satu dari mereka seperti membaca doa dan memegangi kepala kakakku tak lama kemudian ia melepaskan cekikanya sontak orang-orang itu memegangi kakakku.
Dua orang memegangi kakakku dan satunya lagi membantuku untuk duduk.
"Cepat kamu panggil pak RT dan ustadz" ucap salah satu bapak yang sedang memegangi kakakku kepada temanya yang membantuku duduk tadi.
"Iya" ucapnya dan segera memanggil pak RT.
Tak butuh waktu yang lama orang yang tadi memanggil pak RT kembali dan tampak ia membawa beberapa orang salah satunya pak RT dan satunya lagi adalah pak ustadz dan tetangga yang menolongku pada malam itu juga datang menghampiri setelah ia mendengar keributan tadi.
Lalu pak ustadz itu menangani kakakku,ketika beliau membaca doa kakakku sempat memberontak lalu jatuh pinsan.
Setelah kakakku dibawa ke kamarnya lalu kami duduk di ruang tamu, aku menyediakan minuman kepada orang-orang yang telah membantu.
"Terima kasih pak buk dan ustadz sudah menolong saya" ucapku lalu duduk.
"Sama-sama ndok" ucap ustadz kepadaku.
"Sepertinya ada yang melakukan kesalah sehingga kalian mengalami kejadian seperti tadi,apa sudah sering terjadi hal-hal aneh belakangan ini? Tanya beliau seakan-akan sudah tau.
"Iya ustadz saya sering diganggu makhluk yang mengerikan" ucapku menerangkan kepada ustadz.
"Jangan-jangan waktu malam itu kamu juga diganggu dek? Sambung ibu tetanggaku.
"Iya buk, maaf saya gak cerita karena takut gak akan ada yang percaya"
"Sebenarnya ibu udah curiga setelah kamu bilang kalau kalian hanya tinggal berdua disini" ucapnya.
"Kita disekitar kontrakan ini sering banget dengar suara tangisan bayi tengah malam kita kira kakakmu sudah punya anak tapi setelah kamu lihat sama sekali tidak ada tanda bahwa kalian punya bayi" penjelasan ibu itu panjang lebar padaku.
"AAAAARGGGG" Tiba-tiba kakakku berteriak didalam kamarnya.
Sontak kamu semua berlagi kearahnya, tampak ia ketakutan dan melihat kearah atas tapi kamu tidak melihat apa-apa.
Setelah ditangani ustadz barulah kakakku tenaga.
"Ndok sepertinya kamu sudah melakukan kesalahan" ucap ustadz kepada kakakku.
"Sebaiknya jangan dibiarkan kasihan kalian selalu diganggu" sambung beliau
Awalnya kakakku hanya diam saja lalu ia mulai bicara dan menjelaskan semuanya.
"Benar ustadz saya telah melakukan kesalahan sekitar tiga bulan yang lalu" ucapnya.
Tiga bulan yang lalu pada saat itu aku sedang pulang ke kampung karena sekolah sedang libur.
"Saya punya teman perempuan, setiap pulang dari kerja dia mengajak saya ke tempat yang tidak baik itu saya tidak menolaknya dan kamu pun pergi lalu bersenang-senang disana, setelah kami agak mabuk kami putuskan untuk pulang tapi teman perempuan saya ini diantar oleh pacarnya, lelu satu bulan kemudian ia menemui saya dengan keadaan yang berantakan mukanya penuh lebam sambil menangis ia memeluk saya, sebagai temanya saya merasa kasih setelah ia tenang saya mulai menanyakan apa yang terjadi padanya akhirnya ia bercerita bahwa ia ham*l tapi ketika ia menemui pacarnya dan memberitahu pacarnya bukanya mau bertanggung jawab ia malah memukul teman saya lalu menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya, teman saya bingung ia takut ketahuan keluarganya apalagi orang tuanya yang sangat keras kepadanya, sedangkan pacarnya meninggalkannya begitu aja karena putus asa ia memutuskan untuk abors* lalu saya lah yang menemaninya untuk ab*rs* setelah selesai kami menguburkan janinya itu dibelakang kontrakan ini, ia begitu takut dan saya menawarkan untuk menginap kekontrakan saya sampai adik saya pulang lagi kekota, karena ia masih sangat takut ia tidak masuk kerja beberapa hari dan saya meninggalkannya dikontrakkan saya tetapi ketika sepulang kerja saya terkejut melihat ia sudah tergeletak tak bernyawa didalam kamar saya, saya takut apa lagi dengan kondisi ia ada dikontrakkan saya, saya takut akan ada tuduhan bahwa saya telah membunuhnya apa lagi setelah saya lihat seperti ada bekas cekikan yang ada dilehernya lalu saya putuskan untuk bicara terus terang ke keluarganya termasuk tentang anaknya dan abor** tersebut, tentang bekas cekikan dilehernya itu saya mengatakan sebelum meninggal ia memang sudah mendapatkan kekerasan dari pacarnya, setelah mengetahui dan menduga bahwa pacar teman saya yang membunuhnya keluarga teman saya mencari pacarnya akan tetapi mereka tidak bisa menemukannya, setelah pemakaman selesai saya kembali kekontrakan saya lalu membersihkan diri saya", cerita panjang lebar dari kakakku lalu ia melanjutkan ya.
"Ketika saya mau tidur tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang bayi, saya keluar dari kamar saya, seketika saya terkejut ketika melihat sosok yang kecil merangkak di ruang tamu makin lama ia semakin cepat merangkak dan mendekati saya lalu saya berlari kekamar dan mengunci kamar saya lalu saya berusaha untuk tidur".
"Saat saya telah berhasil untuk tidur lalu suara rengekan bayi membangunkan saya, sontak saya terbangun dan melihat bahwa sosok bayi itu sudah ada diatas saya dengan mata merah menyala yang menatap saya senyum yang sangat lebar dengan anggota badan yang tersusun abstrak, lalu saya berteriak dan berlari keluar kamar untung saja saya berhasil meraih hp di samping bantal saya, dan saya menghubungi teman saya yang lainya untuk meminta bantuannya, alhasil saya menginap ditempat teman saya itu sampai adik saya kembali kekota, setelah adik saya kembali barulah saya berani untuk tinggal dikontrakkan ini lagi dan saya kira gangguan itu sudah tidak pernah mengganggu saya ternyata ia malah mengganggu adik saya" ucap kakakku.
"Bagaimana ini ustadz, saya takut ia akan selalu mengganggu apalagi ia mulai mengganggu adik saya" ucap kakakku ketakutan dan kebingungan.
"Alangkah baiknya kamu gali janin itu dan tempatkan dengan agak layak lalu kita mendoakannya sama-sama" ucap ustadz.
"Iya ustadz".
"Terimakasih ustadz dan semuanya telah membantu" ucap kakakku lalu kami semua bubar dan pulang kekontrakan.
Barulah suasana kontrakan mulai membaik dan seperti biasanya sebelum teror itu terjadi.
Aku dan kakakku memutuskan akan pulang kekampung saja, kakakku akan berhenti dari pekerjaannya dan aku akan diminta untuk pindah sekolah, aku pun setuju karena takut akan terjadi teror lagi.
Karena terlalu banyak yang terjadi hari ini aku benar-benar merasa lelah, belum lagi sakit kakiku yang tertimpa motor sepulang sekolah tadi, aku memutuskan untuk tidur dan mengerjakan tugas disekolah saja toh tinggal nyontek aja sama temanku pikirku sejenak.
Lalu tiba-tiba.
"Aaaarrrrgggggg".
Suara teriakan kakakku mengagetkanku, lalu aku segera berlagi kekamarnya kulihat kakakku telah terjatuh dari kasurnya dan ada sosok perempuan dengan rambut yang terurai panjang yang sedang bergelantung diatas ranjang kakakku lalu ia menoleh kearahku dengan muka yang tampak hancur.
"AAAAARRRRRRRRGGGGGG".