Aku ingat betul bagaimana Tuhan mempertemukanku dengannya. Jum'at itu, pakaian olahraga, dan sang mentari menjadi saksi bisu.
"Aduh panas sekali!" ucapku sembari mengipasi diriku dengan sebuah buku. Lima belas menit, Pak Kepala Sekolah 'tak kunjung mengakhiri pidatonya.
Hening. Sembari tersenyum, Kepala Sekolah itu menatap satu persatu peserta MPLS, termasuk diriku.
"Gapapa, ya? Toh, sinar matahari mengandung vitamin D, baik bagi tulang, cocok untuk kalian yang masih dalam masa pertumbuhan."
Aku menghela napas panjang. Saat ini, sinar matahari masuk kepelupuk mataku.
"Oh, ya satu lagi ...."
Aku heran, tidak cukupkah lima belas menit? Aku menutupi mataku menggunakan buku yang sedaritadi kugenggam.
"Kalian sudah kenal dengan teman sekelas kalian, tidak? Minimal teman sebelahnya, dulu deh," terangnya.
Aku menggeleng, sembari membatin. Entah mengapa, hatiku menyuruh menoleh ke kanan, dan ....
BUM!
Ternyata oh ternyata, pria di sebelahku menoleh! Aku menelan ludah kasar, saat pria itu menatapku. Bukan tatapan biasa, namun tatapan tajam bagai elang!
Aku heran dengan pria itu ...jika denganku, pria itu selalu melontarkan tatapan tajamnya,
"Aku tahu kok, setiap manusia pasti punya masalah hidup. Tapi, nih manusia kayaknya bebannya banyak banget ya, sampai natap segitunya?" bingungku.
Tiada hari tanpa melamun, itulah mottoku! Aku selalu melamun melihat jendela di sebelah kanan. Tanpa sengaja, pandanganku tetoleh ke mejanya. Kebetulan, meja siswa di kanan, sementara siswi di kiri.
Lagi-lagi, pria itu menatapku! Tapi kali ini sedikit berbeda ....
....dia menaikkan alis kanannya, sembari tersenyum
"Ais!" Dengan cepat, aku mengalihkan pandangan. Bulu kudukku berdiri. "Serem!" batinku.
Tak hanya itu saja! Pria itu terkadang tiba-tiba muncul di hadapanku!
Entah, hanya perasaanku saja, namun aku merasa pria itu seringkali curi-curi pandang ke arahku. Hal itu di perkuat oleh aduan beberapa orang.
Tanpa absen, pria itu seringkali melakukan hal ini. SELAMA SATU SEMESTER! Aku berharap, pria itu berubah dan tidak mengangguku lagi!
Tidak ada angin, tidak ada angin, pria itu tidak masuk sekolah. Awalnya Aku biasa saja, paling sakit biasa saja. Tapi kok jadi khawatir, bagaimana bisa, dia gak masuk dua Minggu!
"Kenapa ya, dia ga masuk sekolah? Semoga Senin masuk deh!" batinku.
Antara senang atau sedih. DIA MASUK SEKOLAH! Aku tersenyum saat melihat tas hitam miliknya, namun ...
....sifatnya berubah
"Bukankah, harusnya aku senang? Pria itu 'tak lagi mengangguku? Bukankah ini keinginanku?" batinku, saat menyadari sikap pria itu berbeda.
tidak ada lagi tatapan tajam, senyuman, dan perhatiannya, semuanya sirna ....
"Ciee, Javier sama Cinta!" DEG. Entah mengapa, aku hatiku sakit saat mendengarnya ...
"Cengeng!" batinku sembari menyela air mata yang terus gugur. Mataku berbinar. Hatiku sakit. A—apakah aku cemburu?
"Emang mereka cocok kok. Cinta cantik, pintar nari, pintar Matematika, pintar gambar, kurang apa lagi coba?" batinku
"Kalau dibandingkan denganku, tentu bagai langit dan bumi, beda jauh banget."
Aneh ... kita gaada hubungan apa-apa, tapi aku udah cemburuan waktu kamu ketawa, main, senyum sama cewek lain. Posesif ya?
Toh, aku bukan siapa-siapamu, dan ...
....gaakan jadi siapa-siapamu
HANYA SEBATAS TEMAN SEKELAS.