Senja mengajarkan kita menerima sebuah perpisahan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari...
Sinar matahari senja menyinari wajah Nara dan Mirza saat mereka duduk bersama untuk menikmati sejuk nya hembusan angin laut. "Mir kita bisa gak yah bareng terus kayak gini" Ucap nara sambil menatap wajah Mirza.
"Pasti bisa sayang" Mirza menjawab sambil tesenyum.
Mereka mengobrol sangat singkat lalu mereka kembali menikmati pemandangan yang indah itu.
Mereka duduk bersama hingga matahari terbenam lalu mereka pulang, setelah Mirza mengantar Nara pulang tidak lupa perpisahan itu ditutup dengan pelukan hangat.
"Hati-hati yah pulang nya jangan kenceng bawa motor nya"
"iya sayang, daaa"
Mereka melewatkan malam yang panjang itu seperti biasanya, mereka telponan sampai pagi tiba jadi tidak Ada yang merasa kesepian di malam yang sunyi itu.
"Ayang udah bangun?" Tanya Mirza lewat telpon yang belum terputus
"udah sayang" jawab Nara
"siap-siap gih kita berangkat bareng ke kampus,nanti aku jemput" saut Mirza
"oke sayang, kamu juga sana mandi biar ga bau" ucap Nara sambil tertawa kecil
"Hahahah iya sayang bye" saut Mirza.
Mirza berpamitan kepada orang tuanya untuk pergi ke kampus,tetapi tidak memberi tau kalau ingin menjemput Nara terlebih dahulu. Sesampainya di rumah Nara, Mirza berpamitan dengan ibu nya Nara,
"Bu saya pamit bawa anak nya pergi ke kampus yah" ucap Mirza kepada ibu nya Nara sambil mencium tangannya.
"iya nak hati-hati yah"
"Daaaa ibu kita pergi dulu yah" saut Nara.
Dalam perjalanan Mirza berkata "udara pagi ini dingin banget yah, peluk aku dong biar ga kedinginan"
"hahahah dasar modus yah, kalau mau minta di peluk tuh langsung aja, gausah pake alasan kedinginan segala"
"Ckk kamu sih ga peka padahal kan cuma meluk doang masa harus di kasih tau dulu"
"hahah iya sayang ku kamu lucu banget maaf yah aku nya ga peka" jawab Nara menanggapi perkataan Mirza yang sangat lucu.
Sesampainya di kampus mereka berpisah untuk pergi ke kelas masing-masing "nanti kalo udah selesai tunggu di kantin kita makan bareng yah" ucap Mirza.
"Siap sayang"
Setelah selesai jam mata kuliah mereka bertemu di kantin.
Perbincangan di kantin
"Gimana tadi pelajaran nya? Sayang ngerti ngga? " tanya Nara.
"Lumayan susah sih tapi kan ayang nya Nara ini pintar jadi walaupun susah tetap bisa di pahami"
"Ckk sombong"
"Hahaha Bercanda sayang,pulang yok kita tapi kita keliling-keliling dulu naik motor"
"Ayokkk pasti seru tuh"
Mereka keliling kota sambil berbincang,bercanda dan tertawa bersama. Kebahagiaan semakin terasa saat Nara memeluk Mirza saat itu mereka merasa seperti dunia ini hanya milik mereka.
Setelah mengantar Nara pulang, mereka menjalani hari seperti biasanya saling mengabari, mengirim random pap, telponan sepanjang malam dan banyak hal lainnya. Mirza ingin mengajak Nara jalan tapi bingung mau ngajak jalan kemana lagi.
"Apa aku ajak dia ketemu sama ibu ayah aja yah" Tanya Mirza dalam hatinya.
Mirza pun langsung mengabari Nara lewat telpon...
Percakapan telpon...
"Nara besok kan malam minggu kita jalan yok"
"Ayok!!! Mau jalan kemana"
"Ada deh kepo yah, liat aja besok"
"Yaudah deh kalo gitu"
"Besok Aku jemput jam 7 yah sayang"
"Oke sayang"
Percakapan mereka tentang hari esok sampai situ saja, sisa nya mereka saling menceritakan kegiatan mereka satu sama lain seperti biasanya.
Keesokan malam nya...
"Assalamualaikum Naraaaa"
"Waalaikumsalam, masuk aja"
"Ayok kita pergi Nara"
"Ayok nih Aku udah selesai siap-siap"
Sebelum berangkat mereka berpamitan kepada orang tua Nara.
"Sebenarnya kita mau kemana sih Mirza"
"Ihhh kok manggil nya gitu sih kayak temen ku aja kalo manggil gitu kamu kan pacarku bukan temen ku"
"Iya iya,kita mau kemana sayang? "
"Mau kerumah ku sayang aku mau ngenalin kamu ke orang tua ku"
"Kamu kok ga bilang sih, aku ga ada persiapan buat ketemu mereka, aku takut sayang"
"Gausah takut sayang orang tua ku bukan kanibal kok jadi ga makan orang"
"Ihhh kamu mah ga lucu tau"
"Hahaha tenang aja sayang"
Sesampainya di rumah Mirza
"Assalamualaikum ibuuu ayah aku bawa orang nih"
Nara pun semakin gemetaran dan keringat dingin. Tak lama kemudian ibu nya Mirza keluar.
"Waalaikumsalam ada siapa? " Tanya Mama Mirza.
"Kenalin ma dia Nara pacar nya aku"
"Assalamualaikum tante salam kenal" ucap Nara sambil salim kepada ibu nya Mirza.
Ibu Mirza memerhatikan penampilan Nara dan hanya diam tak menjawab perkataan Nara.
Mirza yang menyadari bahwa ibu nya tidak menyukai Nara langsung mengalihkan dengan menyuruh mereka duduk. Tak lama kemudian ayah Mirza pun keluar dan mencairkan suasana dan mengobrol dengan Nara.
"Ehh ada anak cantik nama nya siapa? " Tanya ayah Mirza.
"Hehe makasih om nama saya Nara"
"Cantik namanya sama seperti orang nya"
"Hahah om bisa aja nih"
"Iya dong pacar Mirza mah cantik" saut Mirza.
"Ibu kebelakang dulu yah Mau bikin kopi dan teh. Nara bantuin tante dong! "
"Ohh iya tante sini saya bantu"
Dengan perasaan senang Nara pergi ke dapur bersama ibu nya Mirza tanpa mengetahui apa yang sebenernya akan dikatakan oleh ibunya Mirza.
"Kamu udah kenal lama sama Mirza? "
"Udah tante kita satu sekolah waktu SMA"
"Jadi kalian udah pacaran dari SMA? "
"Ngga tante kita pacaran nya pas awal masuk kuliah"
"Ooo, orang tua mu kerja apa?
"Ayah saya kerja proyek biasa kalau ibu saya cuma seorang ibu rumah tangga"
"Berarti kamu ga selevel dong yah sama anak saya, secara kan ayah nya Mirza kerja nya jadi manager di kantor besar"
Nara yang tadi nya merasa senang sekarang merasa sedih dan sakit hati mendengar perkataan ibu Mirza, tetap ia berusaha agar tetap tenang dan tabah.
"Hehehe" Nara bingung mau menanggapi perkataan ibu Mirza.
"Ngaku aja kamu sama mau sama Mirza karna uangnya doang kan"
"Ngga kok tante saya beneran tulus sama Mirza"
Tak lama kemudian Mirza langsung memanggil ibu nya.
"Ibu sama Nara ngapain sih gitu doang lama banget"
"Kan air nya harus di rebus dulu nak"
"Oiya Mirza lupa"
Mirza pun kembali untuk menemani ayah nya. Ibu Mirza pun melanjutkan pertanyaan nya kepada Nara.
"Halah mana ada perempuan miskin kayak kamu ini tulus"
"Saya beneran tulus kok tante sama Mirza saya tak ada maksud buat morotin dia, tante boleh tanya ke dia kok saya pernah minta barang mahal atau ngga ke dia"
Nara menjawab perkataan ibu Mirza dengan suara gemetar menahan tangis karna merasa dirinya di rendahkan.
Untungnya waktu itu minuman yang mereka buat sudah jadi dan Nara langsung membawa nya ke depan.
"Ini om kopi nya"
"Makasih yah nak cantik"
"Sama-sama om"
"Oiya sekarang kalian kuliah sudah semester berapa? "
"Sudah semester empat yah" saut Mirza
"Masih lama yah berarti"
"Iya om masih ada setengah nya lagi"
Selama Nara berbincang dengan ayah nya Mirza ibu nya hanya diam saja dengan tatapan sinis nya itu.
Setelah itu mereka berbincang cukup lama sambil menonton tv. Waktu pun berlalu dengan cepat, sudah waktu nya Nara pulang.
"Om tante sudah jam 10 saya pamit pulang yah"
"Iya anak cantik sering-sering yah kesini" ucap ayah Mirza.
"Kalau mau pulang ya pulang aja kali besok-besok gausah kesini lagi yah" ketus ibu Mirza.
"Bu apa-apaan sih, jangan gitu dong ke Nara kasian dia jadi sedih" saut Mirza.
"Udah Mirza aku gapapa kok"
Dalam perjalanan pulang Nara hanya diam membeku, sambil mengingat perkataan ibu Mirza yang sangat membuatnya sakit hati.
"Sayang maafin ibu aku yah"
"Iya ayang aku maafin kok, cuma kaget aja kenapa ibu kamu gitu ke aku padahal baru pertama kali ketemu"
"Ibu aku emang gitu sayang susah nerima orang, yaudah kamu masuk gih omongan ibuku jangan terlalu dipikirin yah, I love you... "
"Yaudah aku masuk yah kamu hati-hati"
Sampai rumah Mirza pun langsung di marahin oleh ibu nya.
"Dimana sih kamu dapat cewe modelan begitu, kamu pasti udah di manfaatin yah sama dia, ibu gamau tau pokoknya kamu harus putus sama dia, dan ibu akan jodohin kamu biar kamu gasalah pilih pasangan lagi"
"Ibu kenapa sih dia itu baik banget loh padahal anak nya sederhana apa adanya"
"Iya bu bapak liat-liat juga dia itu anak nya baik dan sopan"
"Tetap aja ibu ga suka sama dia, derajat kita beda. Kamu nakal ibu jodohin titik! "
"Gaada pilihan lain apa kayak anak kecil aja di jodohin"
"Kalo kamu ngebantah ibu gak akan anggap kamu anak lagi, ibu gamau tau pokoknya kamu akhiri hubungan kamu malam ini juga!"
Tanpa menjawab sepatah kata pun Mirza langsung pergi ke kamarnya dan membanting pintu.
Ayah Mirza juga tidak bisa membantah perkataan istrinya.
Dengan perasaan yang sedih ayah Mirza menghampiri anak nya.
"Gapapa yah nak ikhlasin aja dan turuti perkataan ibumu"
"Ini berat banget buat Mirza yah, Mirza sayang banget sama Nara, tapi Mirza bakal coba buat nurut perkataan ibu, besok Mirza bakal ngomong ke Nara"
"Semangat yah nak bapak yakin kamu pasti bisa"
Malam itu berlalu tidak seperti biasanya, mereka tidak telponan dan tidak menceritakan keseharian mereka. Mereka sama-sama bersedih dan termenung di kamar masing-masing.
Keesokan hari nya Mirza mengirim pesan pada Nara.
"Hallo Nara apa kabar, aku harap kamu baik,aku mau bilang sesuatu, seperti nya hubungan kita cukup sampai disini aja. Aku sayang banget sama kamu, tapi ibuku ga suka sama kamu, Aku gamau ngelanjutin hubungan ini biar kamu ga makin sakit,bukan nya gamau merjuangin kamu, tapi kalau di perjuangin pun hasil akhir nya bakal tetap gini kita bakal sama-sama terluka, biar luka nya ga parah jadi mending kita akhiri secepat nya. Makasih atas semuanya,atas kebahagiaan yang kamu berikan selama ini, kamu kenangan yang paling indah yang pernah Aku punya"
"Aku setuju sama kamu, walaupun ini berat tapi Aku bakal coba ikhlasin kamu,aku juga berharap kamu secepat nya ikhlasin aku, maaf yah kalau selama ini aku banyak kurang nya.Terimakasih dan I love you.... "
"I love you too....