Spin off dari cerita HIDUP ditulis dari sudut pandang Sagara Putra Umbara.
Bandung, 2014
Ayah itu lelaki penyayang. Sagara, Ibu, kedua kakanya Kak Mian dan Nana termasuk ke dalam tahta kesayangan Ayah.
Karena mereka keluarga.
Sagara yang baru menginjak bangku kelas dua sekolah dasar dengan segudang rasa keingintahuannya yang tinggi selalu membuat orang-orang kewalahan, takut-takut untuk memberi penjelasan pada Bungsu keluarga Atmaja, termasuk Ayahnya saat ini. "Ayah! Ayah! Adek mau nanya 'dong! Boleh?"
Seulas senyum lebar menyapa tanya Sagara, "mau tanya apa?"
Keduanya sedang berada di taman, Ibu berkunjung ke rumah Oma dan kedua kakak Sagara masih menghabiskan waktu sore harinya di sekolah.
"Kalau aku, Kak Mian dan Nana tenggelam di lautan, Ayah mau nyelamatin siapa dulu?"
Hari sabtu kemarin, keluarga mereka berlibur ke tepi pantai, momen yang menyenangkan sekaligus mendebarkan untuk Sagara karena melihat megahnya laut. Anak itu masih terus mengingat laut.
"Mungkin Nana? Kak Mian kan jago berenang." Ayah terkekeh becanda.
"Sagara juga gak bisa nyelem! Sagara takut laut, seraaam!" Bocah itu merengek dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Jangan takut Sagara, karena kamu itu lautannya kami, kamu pengamat laut. Itu arti nama kamu."
"Aku seram kayak laut, Yah?"
Ayah terbahak mendengarnya, sambil menggeleng beliau mengusap rambut halus Sagara, "bukan, Nak. Laut itu gak selalu seram, laut itu bisa jadi tenang, bisa marah, bisa terluka kalau tidak dijaga, dan yang paling utama, laut itu hal penting yang kita butuhkan. Kayak Sagara."
"Terus pengamat itu apa?"
"Hmm, Sagara suka ngeliatin Kak Mian gambar gak?" Sagara mengangguk,
"Berarti Sagara udah jadi pengamat Kak Mian."
Dengan mata teduh Ayah yang selalu menatap penuh sayang pada Sagara, beliau mengecup lembut pelipis putra bungsunya. "Kalian jangan jauh-jauh, supaya Ayah bisa gampang nyelamatinnya."
Ayah yang pergi dan buat kami menjauh. Ayah mencintai keluarganya, tapi tidak dengan tubuhnya. Sebagai pecandu rokok membuat paru-paru nya rusak dan tak bisa berfungsi kembali. Ayah dunianya Sagara pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan luka dan kerinduan yang mendalam untuk Sagara, Kak Mian dan Nana.
Surabaya, 2022
"Ayah, bawa Sagara pulang."