Di suatu desa, bernama Desa Dangkai, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Ghabe. Ia adalah anak yang baik, ramah, penurut, penyayang dan peduli.
Suatu hari, Ghabe baru saja pulang dari sekolahnya. Rumah Ghabe memang tidak terlalu jauh dari sekolah nya tetapi tetap membutuhkan satu jam perjalanan. Jadi Ghabe hanya perlu berjalan kaki untuk pergi berangkat ke sekolah maupun sebaliknya.
Ghabe memiliki dua teman bernama Raisal dan Ucup. Kedua teman Ghabe sangatlah nakal. Mereka sama sekali tak mau mendengar kan perintah atau pun nasehat seseorang.
"Ghabe, ayo beli es teh. Ku traktir deh. " ujar Raisal.
"Iya Ghabe, biar nanti kita gak kehausan di tengah perjalanan" Ucap Ucup melanjutkan.
"Gak deh. Ibu ku melarangku untuk makan atau minum makanan jalan. Kata ibu ku, itu kotor" Ucap Ghabe menasehati.
"Ahh! Ghabe, kamu tuh orang nya gak seru. Udah Ucup, kita berdua aja yang beli " Ucap Raisal agak kesal.
"Oke, Raisal" ucap Ucup setuju.
Memang teman teman Ghabe suka membeli es teh sebelum pulang dari sekolah agar tak kehausan ditengah jalan. Ghabe pun hanya bisa pasrah dengan teman temannya.
Setelah membeli es teh, Ghabe dan kawan kawannya pun memulai perjalanan pulang. Raisal dan Ucup terus menerus meminum es teh mereka jika sedang haus.
Sudah dua puluh menit perjalanan. Mereka sudah melewati kebun jeruk pak Sumanto, kepala desa di sana.
"Aduhh, Raisal, Ucup, aku haus nih. Kalian ada minum gak? " Tanya Ghabe kehausan.
"Gak ada Ghabe, palingan cuma es teh ini doang. " Ucap Ucup sambil menunjukkan es teh nya.
"Ghabe, emang kamu gak ada sisa air minum dari sekolah tadi? " Tanya Raisal
"Aku juga gak tau. Aku periksa dulu ya.. " Ucap Ghabe.
Untungnya, Ghabe masih memiliki sisa air minumnya tadi siang dari sekolah.Ia pun lansung meminumnya dan akhirnya Ghabe tak kehausan lagi. Mereka pun lansung melanjutkan perjalanan mereka.
Sudah setengah perjalanan, Ghabe dan kawan kawannya sudah melewati rumah buk Wati, pemilik warung di desa tersebut. Kenakalan Raisal dan Ucup kembali lagi.
Saat melewati warung buk Wati, mereka melihat bahwa warung buk Wati sedang buka tetapi mereka tidak melihat buk Wati disana.
"Ghabe,Ucup,lihat tuh! Warung buk Wati lagi buka." Ucap Raisal kepada Ghabe dan Ucup.
"Kalo buka emang kenapa Raisal? " Tanya Ghabe penasaran dengan polosnya.
"Hehe.. " Tawa Raisal dengan senyuman maut nya.
"Oh! Aku tau.. " Ucap Ucup dengan muka maut nya.
"Ada apa emang? " Tanya Ghabe makin penasaran.
"Warung buk Wati buka,tapi buk Wati nya gak ada. Kalo kita curi jajan nya kan bisa. " Usul Ucup dengan muka polos tak berdosa.
"Eh! Kan gak boleh Cup! Dosa loh"Ucap Ghabe agak marah.
" Kan gakpapa, tinggal toubat kok" Ucap Raisal dan Ucup bersamaan.
"Sudahlah, suka hati kalian sana. Aku lelah. Kalo kalian merasa bersalah, jangan salahkan aku bahwa aku tak mengingatkan kalian." Ucap Ghabe dengan rasa kesal dan marah nya.
"Oke Ghabe je-lek" Ucap Raisal mengejeknya.
Setelah Raisal berkata begitu. Amarah Ghabe meluap. Tapi Ghabe sangat bersabar. Akhirnya setelah Raisal dan Ucup mencuri 2 jajanan di warung buk Wati tanpa ketahuan, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah 35 menit, Ghabe dan kawan kawannya pun sudah mau melewati satu satunya gunung di desa tersebut. Gunung tersebut bernama gunung Gibondo. Tetapi sayangnya, gunung tersebut dikatakan sebagai gunung yang angker.
20 tahun yang lalu.. Terjadi sebuah peperangan dari desa sebelah. Desa sebelah memiliki pertahanan dan senjata yang lebih modern dari pada desa Dangkai.
Desa yang memulai peperangan tersebut bernama desa Tungkubono. Desa tersebut memulai peperangan di desa Dangkai dengan alasan bahwa mereka ingin menjadikan rakyat desa Dangkai sebagai budak budak mereka.
Banyak warga desa Dangkai waktu itu yang menjadi budak budak desa Tungkubono. Biasanya, warga yang sudah menjadi budak biasanya diperkerjakan di gunung Gibondo sebagai penebang pohon.
Tetapi, warga yang menjadi budak tidak diberi makan dan minum sehingga banyak warga meninggal di gunung Gibondo.
Setelah Desa Tungkubono menyerah. Banyak sekali warga desa Dangkai yang masih bertahan dan hidup mengatakan mereka banyak melihat sosok penampakan itu sebabnya gunung tersebut, Gunung Gibondo disebut sebagai gunung angker.
Lalu, kenakalan Raisal dan Ucup kembali lagi. Mereka sudah tau bahwa gunung Gibondo adalah gunung angker, tetapi Raisal dan Ucup tak mempedulikan nya.
"Ghabe, kita lewat gunung Gibondo yok! " Ujar Ucup.
"Aduh Ucup! Aku sudah capek dengan tingkah laku mu dan Raisal. Itu gunung Gibondo kan gunung angker. Aku tak mau terjadi sesuatu kepada kita bertiga!" Ucap Ghabe dengan nada tak suka.
"Aduh Ghabe! Kau ini terlalu kampungan! Sekali kali nakal kek! " Ucap Ucup.
"Iya Ghabe, yok lewat situ. Sekali kali kan nyoba" Ucap Raisal.
"Kalian lah sana. Aku sendiri saja. Kau tau tak, sepupu ku 4 bulan lalu lewat gunung ini dan dia tak pulang pulang selama 1 hari 1 malam. Setelah nya, dia ditemukan sudah tewas di gunung itu.. " Ucap Ghabe menjelaskan.
Ucup sama sekali tak peduli dengan Ghabe. Tetapi Raisal menjadi sedikit takut setelah Ghabe menjelaskan.
"AKU GAK MAU TAU GHABE! POKOKNYA AKU MAU LEWAT GUNUNG ITU! A*JING LU GHABE! " Ucap Ucup dengan amarah nya dan membentak Ghabe.
"Aku tak akan mau berteman dengan mu lagi! " Ucap Ucup.
Akhirnya, Ucup pergi sendirian lewat gunung Gibondo. Raisal dan Ghabe pulang bersama melewati jalan biasanya. Raisal kali ini mengalah dan mau mendengarkan nasehat Ghabe. Tetapi sifat nakal Ucup memang tak bisa dilawan..
Sekarang, mari kita berfokus kepada Ucup.
Di awal awal jalan masuk ke gunung. Ucup memang masih baik baik saja. Ia malah berfikir bahwa yang dikatakan Ghabe hanyalah fiktif saja. Tampaknya Ucup masih belum percaya..
"Aku mau minum-" Ucap Ucup terpotong.
"Aduh, es teh ku habis! Mana haus lagi.. " Ucap Ucup dengan perasaan gelisah.
Ucup sudah mulai haus, tetapi ketika ingin minum, Ia malah sadar bahwa es teh atau satu satu nya minumannya sudah habis. Hal tersebut membuat Ucup menjadi agak gelisah.
Ucup berusaha mencari sumber air tetapi tetap saja tak ketemu. Sudah 10 menit Ucup hanya mencari sumber air dan tidak terus melanjutkan perjalanan nya untuk kembali pulang.
Waktu sudah mulai siang. Ucup juga semakin lapar. Seharusnya di jam segitu, Ucup sudah bisa makan siang bersama adik dan abang nya. Tetapi Ucup tetap masih berada di hutan tersebut. Ucup malah tersesat karna terus berpindah jalan hanya untuk mencari sumber air tadi.
Ghabe dan Raisal sudah sampai ke rumah masing masing. Malah mereka sudah sempat mandi dan makan. Setelah makan siang, Ghabe pun pergi ke rumah Raisal.
"Raisal, main yuk!" Teriak Ghabe dari halaman rumah Raisal.
"Sebentar Ghabe! " Teriak Raisal setelah membuka pintu rumah nya.
"Ghabe, kita main apa? " Tanya Raisal.
"Petak umpet? Kita ajak juga Ucup yuk! " Ucap Ghabe.
"Ucup emang udah pulang? Emang dia udah sampe ke rumah nya? " Tanya Raisal penasaran.
"Aku juga gak tau Sal, kita mampir ke rumah nya Ucup dulu! " Ujar Ghabe.
"Oke" Jawab Raisal singkat.
Ghabe dan Raisal pun pergi ke rumah Ucup. Saat mereka sudah sampai di depan rumah Ucup, mereka hanya melihat sendal Ucup tetapi tak dengan sepatu sekolah nya.
Dan satu lagi, mereka berdua sama sekali tak melihat sendal atau sepatu yang lain selain sendal Ucup.
"Raisal, disini cuma ada sendal Ucup Raisal, sepatu nya gak ada. Sepatu atau sendal yang lain juga gak ada. " Ucap Ghabe sambil agak kebingungan.
"Iya juga, mungkin dia sama keluarga nya pergi? " Jawab Raisal
"Iya juga sih. Nyambung ya. Yaudah kita main berdua aja yuk! " Ucap Ghabe.
"Oke!! " Jawab Raisal antusias.
Ghabe dan Raisal pun bermain berdua. Mereka berdua sama sekali tak berfikir positif tentang Ucup. Lalu kemana keluarga Ucup? Keluarga Ucup pergi ke warung buk Wati. Keluarga Ucup mau makan siang disana. Keluarga nya sudah mencari Ucup tetapi tak ketemu. Akhirnya pun keluarganya Ucup melupakannya.
Di keadaan Ucup, Ia pun mulai mendapatkan kenjanggalan.
Akhir nya setelah sekian lama, Ucup menemukan sumber air, tetapi sampai nya di sumber air tersebut, Ucup melihat seorang pria tinggi. Pria tersebut terlihat membawa kapak. Pria tersebut berdiri di depan sungai tersebut.
"Permisi pak? " Ucap Ucup kepada pria tinggi tersebut.
Ucup sudah memanggilnya, tetapi si pria tinggi itu sama sekali tak menjawab akhirnya Ucup pun melewati pria tersebut dan meminum air sungai tersebut.
Tiba tiba, air yang diminum nya berubah menjadi tanah kering yang menjijikkan.
"Ewk! " Ucup pun muntah
"Apa apaan ini? Kenapa tiba tiba berubah menjadi tanah? " Tanya Ucup dengan perasaan gelisah.
Ucup pun berbalik badan dan Ia melihat pria tinggi tadi memiliki wajah pucat hancur dan wajah nya dipenuhi dengan tanah.
"AAaa!!! Pria aneh! " Ucap Ucup ketakutan sambil menangis histeris.
Sama sekali pria itu tak bergerak sampai pada akhirnya pria tersebut membuka mulut nya.
"Anak kecil, kau terlalu ribut.. Lebih baik aku membunuh mu? " Ucap Pria itu sambil mengangkat kapak nya ke arah Ucup untuk membunuh nya.
Ucup pun segera berdiri dan lari kabur dari pria itu.
"Tolong, tolong aku Tuhan! " Teriak Ucup sambil menangis dan terus lari.
"Kalau kau makin ribut, niat ku membunuhmu makin besar, A-NAK NA-KAl" Ucap pria itu sambil terus mengejar Ucup. Ucup pun menutup mulut nya dan terus berlari lalu..
Ucup terjatuh ke sebuah jurang. Tak terlalu tinggi. Kita kira tak sampai 50 meter. Ucup pun selamat karena terjatuh di atas rumput.
"Pria itu tak mengejar lagi kan.. " Ucap Ucup sambil menengok ke atas dengan perasaan gelisah, takut sambil menangis.
"Ternyata Ghabe gak bohong. Seharus nya aku mendengarkan perkataan nya" Ucap Ucup menyesal.
Ucup pun melanjutkan perjalanan kembali dengan rasa lapar dan haus nya. Ia memberanikan diri untuk tetap terus berjalan.
Sudah satu jam lebih. Ucup sudah mau sampai di ambang ambang kematiannya. Ia sudah mulai lelah, kakinya pegal. Terlebih lagi di hutan itu bukannya sejuk, malah sangat panas da udara nya sangat sedikit membuat Ucup susah bernafas.
Ucup pun terus berjalan dan ia melihat suatu keramaian. Keramaian yang seharusnya tak ada di hutan. Malah terdapat banyak suara dan orang di sana. Ucup pun senang dan terus berlari ke keramaian tersebut. Ternyata itu adalah pasar. Tetapi seketika suasana pasar tersebut menjadi berkabut. Dan suasana menjadi agak hening.
Tetapi dalam waktu tak begitu lama, suasana pasar tersebut menjadi ramai lagi. Ucup pun terus masuk ke dalam.
"Permisi pak, buk" ucap Ucup dengan sopan tak seperti saat ia berbicara dengan Ghabe tadinya.
Sementara Ucup berbicara, tak ada satupun orang di sana yang menjawabnya. Mereka hanya sibuk membeli bahan bahan dan barang disana yang mereka butuhkan.
Ucup pun menjadi agak kesal. Ia merasa semuanya salah. Gak sopan salah, sopan salah. Ia pun mulai diam dan tak berbicara lagi kepada orang orang disana.
Ucup pun tak sengaja menginjak salah satu kaki orang di sana.
"Fyuh? Kaki siapa ini? " Tanya Ucup kesal.
Tiba tiba, kaki orang yang dipijak nya tadi menengok ke arah Ucup yang membuat Ucup kaget hingga terdiam.
Wajah orang tersebut sudah hancur. Lalu tubuhnya kurus kering. Wajahnya, tubuhnya sangat pucat.
Lalu terlihat ada goresan tepat dimatanya. Matanya berdarah darah yang membuat Ucup ketakutan.
"Aaa! Siapa kau?! "Ucap Ucup ketakutan. Ia hanya terdiam dan terus melihat orang tersebut.
" Bisa bisa nya kau memanggilku kau? " Ucap orang tersebut. "Kau sangat tak sopan sekali! " Ucap orang tersebut sambil mengejar Ucup
"Oh tidak! Tolong akuu!! " Ucup berlari ke arah manapun. Ia berlari hingga sore pun tiba..
"Dia sudah tak ada lagi kan? " Tanya Ucup sambil melihat sekitar nya..
"Gabe! Raisal! Bantu aku! " Ucap Ucup sambil menangis.
Air mata Ucup semakin membasahi mata dan wajah nya.Pengelihatan Ucup sedikit terhalang akan air mata nya. Semua terlihat buram. Ucup pun berjalan mencari jalan keluar. Ucup baru menyadari, bahwa yang ia lewati tadi adalah pasar Setan. Ia pun ketakutan setelah menyadari hal tersebut.
Ucup pun berjalan selama 15 menit. Ia pergi ke arah yang tidak beraturan. Ia hanya terus berjalan.
Suatu ketika, ia melihat sebuah rumah tua. Rumah itu terlihat kusam, kumuh, kotor, dan mulai rusak. Tapi terlihat ada cahaya di dalamnya.
Ucup pun kembali memiliki harapan. Ia mengira, bahwa yang ada di dalam rumah itu adalah seseorang yang baik yang dapat membawa nya keluar dari hutan di gunung itu.
Ucup pun berlari ke arah pintu rumah itu. Tetapi sesampainya di depan pintu rumah itu, hawa menjadi dingin. Ucup ketakutan. Lalu ada suara di dalam rumah itu. Suara itu terdengar seperti suara gesekan.
Ucup tak peduli. Ia hanya mengetuk pintu rumah itu sambil tersenyum.
"Permisi! Permisi! " Teriak Ucup sambil mengetuk pintu. Hari sudah mulai magrib.
Lalu tiba tiba, ada seseorang yang membukakan pintu. Ucup pun dipersilahkan masuk..
Tapi.. Tiba tiba..
Orang itu menusuk dada, kepala, perut, dan mata Ucup. Tubuh Ucup dipenuhi darah. Muka orang tersebut terlihat hancur, seram. Kepala nya berkepala Kambing. Tetapi tubuh nya merupakan tubuh manusia.
Tubuh Ucup dilumuri dengan darah. Ucup tak bisa berkata apa apa. Ia hanya kesakitan. Ucup mengalami pendarahan. Mata, kepala, dada dan perutnya sudah hancur.
Ucup pun sudah mulai koma..Ia pun sudah mulai tak sadarkan diri. Dan Ucup pun.. Men*nggal.
Pagi nya, warga sudah menemukan mayat Ucup. Keluarga dan teman teman Ucup hanya bisa mengangis. Begitu juga Ghabe dan Raisal.
"Ucup! Seandainya aku bisa menahan mu waktu itu, mungkin kau tak akan menjadi seperti ini! " Tangis Ghabe.
Lalu, Ucup pun dimakamkan.. Hari itu, langit sangat gelap.
Namun, misteri masih belum bisa dipecahkan. Gunung Gibondo masih menjadi misteri...
Tamat.. Semoga kalian suka. Tapi, maaf jika kesan horor nya gak berasa. Karna aku juga kurang jago. Makasih ya sudah mau membaca! Byee!