Renata Kezia atau biasa dipanggil Miss Rena. Wanita mungil berwajah manis ini adalah seorang guru honorer di sebuah sekolah negeri. Dia juga seorang istri dari laki-laki hebat bernama Johan Thimatius, dan menjadi ibu dari kedua putrinya Jasmine dan Rose. Dua nama bunga yang indah menggambarkan betapa istimewa buah hatinya. Namun kisah ini bukan tentang gambaran keluarga bahagia yang sempurna melainkan sebaik apapun kondisi rumah tangga dari luar belum tentu benar-benar berisi di dalamnya.
Hal itulah yang terjadi pada Renata, meski awalnya Johan hanya pria bungsu biasa. Anak seorang petani dengan pekerjaan swasta yang diembannya. Tak menyurutkan tekad Renata untuk menikah dengan pilihannya. Apalagi, sikap manis sang Johan yang tidak henti-hentinya membuat Renata terbuai dalam cinta yang manis. Johan dan Renata adalah dua orang yang berbeda keyakinan, namun demi cintanya Johan bahkan merubah keyakinannya untuk tetap bisa bersama sang istri.
"Sayang, jika kita menikah nanti. Apa kamu bersedia tinggal di rumah orang tuaku?" Tanya Johan
"Jika sudah menikah, kenapa kita tidak tinggal berdua saja? Meskipun hanya di rumah kontrakan, setidaknya bisa mandiri." Ujar Renata
"Sayang, kamu kan tahu aku anak terakhir. Kakak-kakakku sudah sukses dan punya rumah sendiri. Hanya akulah harapan mereka di masa tuanya." Ucap Johan
"Tapi.."
"Aku mohon sayang. Demi orang tuaku." Ujar Johan
"Baiklah, akan ku bicarakan lagi nanti dengan orang tuaku." Ujar Renata
"Terima kasih sayang." Kecupan singkat Johan layangkan pada Renata yang tersipu malu
Benih-benih cinta di masa muda telah terjalin begitu dalam hingga dua belah pihak memutuskan untuk menikah.
"Johan, kemarilah." Titah Bowo, ayah Renata
"Baik Pak."
"Karena Renata sudah memutuskan untuk tinggal di rumahmu, maka aku ingin sedikit membantumu." Ujar Bowo mengeluarkan segepok uang dalam amplop coklat
"Renovasilah rumahmu setelah menikah nanti dan sisanya gunakan untuk modal usaha." Ujar Bowo
"Tapi, ini terlalu banyak Pak." Protes Johan gemetar membawa uang sebanyak itu
"Ini tidak seberapa. Asal kehidupan anakku terjamin disana. Aku tidak mempermasalahkannya."
Itulah awal kali bencana rumah tangga Renata dimulai. Dengan banyaknya uang, Johan pun memutuskan untuk resign dan memilih menjadi sales freelance. Berbekal kemampuannya, usaha yang dia rintis sejak menikah mulai menunjukkan hasilnya. Renata berasa seperti di atas awan, punya suami yang begitu peduli, menyayanginya dan bahkan tidak pernah mengeluh kapan pun Renata meminta tolong. Ya, Johan menjadi suami idamannya.
Hingga satu tahun usia pernikahan, lahirlah seorang putri kecil menambah harmonisnya suasana rumah tangga mereka. Jasmine Putri Thimatius. Begitulah nama yang Johan berikan. Kasih sayang Johan semakin besar pada dua wanita hebat di rumahnya. Bowo sebagai seorang kakek dari cucu pertama pun menambahkan asset tambahan untuk putrinya. Seekor sapi dihibahkan untum tabungan sang cucu. Bertambah lengkap kebahagiaan Renata, meski dia hanya guru honirer, namun sehari pun dia tidak pernah kekurangan dalam hal ekonomi.
Hingga semua teman berpikir, tidak ada wanita seberuntung Renata. Memiliki segalanya yang wanita lain selalu impikan. Hidup Renata nyaris tanpa cela. Bahkan Johan tidak pernah menuntut apapun padanya, hingga tanpa sadar kesombongan dan rasa percaya diri mulai tumbuh di hati Renata. Karena suaminya begitu penurut, sikapnya terkesan terlalu menuntut sang suami. Rekreasi setiap akhir pekan, membelikan ini itu, meminta pembantu dan pengasuh untuk anaknya. Juga banyak hal lain yang dia pikir, suaminya akan baik-baik saja namun justru memicu rasa benci dalam diri Johan.
Maret 2018, Johan yang baru saja membeli ponsel barunya memutuskan, memberikan ponsel lamanya pada Jasmine. Saat itu usia Jasmine menginjak 6 tahun. Jasmine yang belum tahu apapun itu merasa senang dengan hadiah pemberian sang ayah.
"Mama, lihat ayah memberiku ponsel." Tukas Jasmine pada Renata
"Oh iya? Coba sini mama lihat."
Jasmine memberikan ponsel itu pada Renata. Renata membuka setiap aplikasi yang terinstall, dan menghapus cache (sampah) yang tertinggal agar tidak lemot. Namun tepat saat Renata membuka file di galeri. Ada sebuah foto seorang gadis, tegah makan bersama suaminya. Kedua mata Renata memanas. Dengan amarah, dia mencari Johan yang pada saat itu sedang berada di tokonya.
"Mas! Siapa ini?" Ujar Renata menunjuk foto yang dia temukan
Johan tersentak. Sudah berpikir aman atas segala usahanya menghapus data. Namun, justru ada satu yang tertinggal.
"Dia admin kantorku yang lama. Hanya teman saja kok. Foto itu diambil waktu makan bersama dengan pimpinan." Tukas Johan yang tampak sekali berbohong
"Aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi Mas. Di foto ini sudah jelas, kalian tampak mesra. Duduk bersebelahan seperti sepasang kekasih! Sudah berapa lama?" Tanya Renata
Johan terdiam.
"Jawab atau aku cari tahu sendiri!" Ancam Renata
"Aku hanya main-main saja Ma. Tidak ada sekali pun niat untuk macam-macam. Hanya sekedar hiburan, tidak lebih." Ucap Johan merasa terpojok
"Dimana rumahnya? Antar aku bertemu keluarganya!" Ujar Renata
"Jangan berani mengusiknya! Dia tidak akan mengaku." Ucap Johan mulai gelisah
"Oh iya? Berikan nomor ponselnya mas!" Minta Renata
"Sudah ku bilang Ma, kami sudah tidak berhubungan lagi. Hanya sebatas rekan kerja yang pernah dekat dulu." Ujar Johan memegang ponsel barunya erat-erat
"Berikan ponselmu atau aku laporkan ini ke papa!" Ancam Renata lagi
Dengan pasrah Johan memberikan ponselnya, Renata menggerilya semua isi ponsel suaminya dan mendapati sebuah nama. "Sayang 🥰" dengan cepat menekan tombol hijau untuk memanggilnya.
[Halo] suara wanita terdengar
[Kok diem ae sih? Halo]
Renata menatap tak percaya ke arah Bowo. Gegas dia matikan teleponnya dan dia blokir semua akses yang berhubungan dengan wanita itu.
"Jangan pernah mempermainkanku mas, atau mas akan tahu akibatnya!" Ancam Renata untuk terakhir kalinya sebelum perang dingin dimulai
Sikap Renata berubah, rasa curiga dan takut kehilangan merambah ke dalam pikirannya, hingga sering beberapa kali di waktu longgarnya dia menyempatkan mencari akun media sosial wanita itu. Stalking dan meminta pendapat pada sepupu-sepupunya untuk mengatasi masalahnya. Juga, sering menelepon atau melakukan panggila video untuk memantau sang suami.
Januari 2019
Renata menatap garis dua di tangannya dengan tidak percaya. Menatap bangga dengan kehadiran calon buah hatinya mungkin akan bisa menyatukan kembali kerenggangannya dan Johan.
"Mas aku hamil!" Teriak Renata
"Syukurlah Ma! Akhirnya Jasmine punya adik." Ekspresi bahagia Johan tunjukkan
Renata memeluk erat sang suami dengan harapan suaminya sudah berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Jalan tiga bulan kehamilan. Johan yang tengah makan siang dengan seorang wanita pun bertemu dengan bibinya Renata.
"Mas Johan, makan siang?" Tanya sang bibi
"Eh.. Iya bi. Ini sama rekan kantor." Bohong Johan meski bibinya sudah tahu kalau Johan tidak lagi bekerja melainkan membuka usaha sendiri
Bibinya beringsut pergi, namun diam-diam mengambil foto mereka dan mengirimkannya pada Renata. Renata yang saat itu tengah santai di ruang guru merasa shock setengah mati. Dengan gemetar tubuhnya terjatuh ke bawah dan kehilangan kesadaran.
"Mas Johan, Mbak Renata pingsan di sekolah. Tolong segera kemari ya!" Ujar Nindy, rekan kerja Renata by phone
"Iya iya Bu, saya akan kesana sekarang."
"Kenapa sih sayang?" Tanya Siska
"Istriku pingsan, temannya memintaku menjemput!"
"Yah, nggak jadi dong!" Ucap Siska mengerucutkan bibirnya
"Kamu benar-benar ingin ya!" Goda Johan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Harus adil dong!" Balas Siska
Percakapan singkat itu berakhir panas di ranjang sebuah hotel di kota M. Hingga tanpa sadar, Johan mengabaikan kejadian penting yang tengah Renata alami.
Sore harinya, Johan bergegas pulang, menatap sang istri yang termenung dengan kedua mata sembab. Membuatnya bertanya-tanya. Apa yang terjadi?
"Jadi masih berjalan?" Tanya Renata tanpa menatap Johan sedikit pun
Johan terdiam. Meletakkan sebungkus makanan kesukaan istrinya di atas meja.
"Bagaimana kondisi kamu ma?"
"Lihat dan baca sendiri!" Renata melempar amplop berisi hasil pemeriksaan
"Aku keguguran mas! Aku kehilangan anak kita! Dokter menyarankanku untuk kuretase besok." Ujar Renata tak sanggup menahan air matanya
Johan memeluk istrinya yang mulai bergetar. Namun dengan kasar, Renata mendorongnya.
"Jangan sok peduli kamu mas! Semua ini gara-gara kamu! Aku kira selama ini hubunganmu dan wanita itu sudah berakhir, tapi nyatanya kalian masih saja bertemu diam-diam di belakangku!" Maki Renata
"Sudah jangan bertengkar." Lerai Winda, ibunda Johan yang tengah kebingungan menatap ketegangan mereka
"Bu! Anak ibu yang tidak tahu diri ini sudah pandai bermain api, dia punya wanita lain. Apa dia tidak sadar, kalau semua yang dia punyai sekarang pemberian orang tuaku? Bahkan untuk renovasi saja dia tidak mampu Bu!" Ujar Renata melampiaskan amarahnya
"Nak, jangan berkata seeprti itu. Biarpun begitu Johan masih suamimu. Hargai dia dan bicarakan baik-baik." Saran Winda
"Jadi, ibu masih membelanya? Apa sikapnya ini, ibu juga yang mengajarkannya?" Tanya Renata
"Cukup Renata! Jangan keterlaluan kamu!" Bentak Johan
"Keterlaluan katamu Mas? Lalu bagaimana dengan kelakuanmu?"
"Maaf aku khilaf." Ujar Johan pelan
"Khilaf hanya sekali mas. Tapi sudah 2x ini aku melihat bukti perselingkuhanmu. Aku bahkan tahu siapa dia? Siska mantan admin di kantormu dulu, dia bahkan akan bercerai dengan suaminya. Apa kalian berencana menikah juga? Hah?" Tukas Renata
"Tidak akan ku biarkan mas. Jika aku harus sakit dan terluka karena perbuatan kalian, maka dia pun harus merasakan hal yang sama. Aku tidak akan berpisah denganmu Mas. Dan wanita itu tidak akan mendapatkanmu Mas. Bagaimanapun caranya!" Renata beranjak pergi membanting pintu dengan kasar
Keesokan harinya, Renata sedang kuretase di rumah sakit. Namun, bukan Johan namanya jika harus meyerah begitu saja.
"Sayang, Renata sedang kuret di dalam. Mungkin selama beberapa hari, aku tidak bekerja. Maaf jika kita jarang bertemu untuk sementara." Tukas Johan menelepon Siska
"Yah, bakalan kangen dong." Ujar Siska
"Tenang ya, nanti jika Renata sudah pulih. Kita main berdua." Bujuk Johan
"Baiklah sayang, jaga kesehatan ya. I love you."
Beberapa bulan setelah kejadian itu, sikap Renata semakin posesif pada Johan. Dilarang bekerja saat dirinya libur. Sering liburan di akhir pekan. Bahkan wajib menelepon atau video call setiap senggang. Seolah membatasi aktivitas Johan agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Hingga akhirnya, keadaan memaksa Renata untuk pergi ke luar pulau untuk acara saudara. Berkunjung selama seminggu bersama orang tua dan putrinya membuat Johan seperti bebas dari penjara.
Di hari yang sama pulalah Johan mengajak kekasih hatinya untuk menginap dan berekreasi ke tempat yang dingin. Meski mempunyai suami, Siska yang bernotabene pintar menyembunyikan hubungannya diijinkan saja tanpa curiga dengan dalih ingin menginap di rumah orang tuanya yang berbeda kota.
Dua orang yang tampak seperti suami istri berbulan madu itu pun gencar berhubungan tanpa batas. Bahkan saat Renata melakukan vidcall pun Johan pandai beralasan kalau dia sedang merindukannya hingga Renata percaya suaminya tidak akan macam-macam.
Sekembalinya Renata, Renata berniat melakukan program hamil agar Jasmine bisa segera mempunyai adik. Johan tidak menolak, hanya menuruti kemauan istrinya. Meski mungkin ada perbandingan yang dia rasakan saat melakukannya dengan dua orang berbeda namun menekan rasa curiga Renata untuk mengamankan posisinya adalah pilihan yang terbaik.
Februari 2021
Tanda positif telah Renata dapatkan, tepat setelah melepaskan ayudi di rahimnya, kini kehamilan ketiga mendatanginya. Kegagalannya setahun yang lalu dijadikan pelajaran untuk menjaganya dengan hati-hati.
Renata merasa bangga dengan dirinya, yang meski telah disakiti sang suami dia tetap bertahan dan bahkan memberikan hadiah terindah untuk Johan.
Renata merasa kembali ke puncak ke bahagiaan kala perhatian dan kasih sayang Johan terlihat semakin bertambah padanya. Juga pada Jasmine, segala keinginan putrinya tidak pernah ditolak olehnya.
Hingga memasuki usia kandungan yang ke empat bulan. Disaat perut Renata semakin buncit, bak disambar petir siang hari bolong, Renata kembali menemui akun sosial media suaminya yang tengah terhubung kembali dengan Siska. Bahkan Siska dengan terang-terangan mengirimkan pesan untuk putus dari Johan tapi Johan menolaknya. Namun di akhir percakapan mereka kembali bersama.
Dengan amarah yang meluap, Renata menelepon kembali nomor Siska dengan ponsel suaminya.
Panggila pertama tidak diangkat, panggilan kedua ada yang mengangkat. Namun suara laki-laki terdengar.
[Halo, kenapa masih menghubungi istriku Johan? Apa kau tidak takut mati? Kau sendiri yang bersumpah tidak akan mengganggunya lagi! Kenapa masih meneleponnya?]
Renata terdiam, tampaknya suami Siska pun sudah mengetahui kasus perselingkuhan ini.
[Mas ini aku istri Johan. Kenapa hanya menyalahkan Mas Johan saja? Bukankah di dalam perselingkuhan yang terlibat adalah keduanya?] Ujar Renata
[Memang benar! Tapi jika Johan tidak mengejarnya terus menerus, istriku juga tidak akan tergoda!]
Renata terdiam, memang dari serangkaian pesan yang dibacanya Johanlah yang memohon untuk tetap bersama. Namun kembali bersama dengan suami orang adalah keputusan yang salah!
[Sebenarnya, sejauh apa hubungan mereka Mas? Kenapa susah sekali berakhirnya? Ini sudah ketiga kalinya saya mengetahuinya. Tapi mereka bahkan masih bersama selama bertahun-tahun. Tolong tanyakan pada Siska Mas, sejauh apa dia bermain bersama Johan?]
[Tanyakan saja pada suamimu Mbak!]
[Dia tidak akan pernah mau mengaku.] Ujar Renata melirik ke arah Johan yang baru selesai mandi
[Bilang pada suamimu Mbak, jika dia terus seperti ini. Maka jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar padanya! Kita sama-sama orang lapangan, Mbak tahu sendiri kan kemungkinannya kita bisa bertemu?] Ancam suami Siska
[Jika Mas berani macam-macam dengan suami saya. Saya juga bisa melakukan hal yang sama pada istrimu Mas! Saya juga tahu dimana kantor temlat dia bekerja!] Renata mengancam balik
[Sekarang jaga saja suamimu Mbak. Biar ku haga istriku. Pastikan suamimu tidak lagi berulah di belakangmu. Dan ku pastikan agar istriku tidak lagi berhubungan dengan suamimu]
Panggilan terputus. Dengan air mata beruraian, Renata menghampiri Johan.
"Jika kau tidak pernah puas denganku mas, bermainlah dengan j*lang di luar sana! Jangan bermain api yang kau sendiri tidak bisa memadamkannya! Aku benar-benar kecewa denganmu Mas." Ujar Renata memilih keluar dari kamar.
Berbulan-bulan setelah kejadian sore itu. Johan bak orang yang tanpa harapan. Lesu, melamun dan sering salah saat bekerja. Entah kenapa pesona Siska tidak pernah bisa lepas dari pikirannya. Sampai dia rela membayar orang lain untuk memata-matai mantan kekasihnya.
Renata yang mulai bangkit, kini mengikuti tes CPNS dan berhasil diangkat menjadi ASN. Lupa sudah dengan rasa sakitnya akan perlakuan Johan, Renata memilih menatap hidupnya untuk memperbaiki diri bersama putrinya dan calon bayi yang akan dia lahirkan.
Oktober 2021
Renata melahirkan seorang bayi perempuan. Kebahagiaan kembali mendatanginya. Pun halnya Jasmine yang sengat mencintai adiknya. Renata merasa bangga kembali berhasil melewati masa-masa sulit yang pernah dia hadapi dan berpikir bahwa ke depannya rumah tangga Renata akan baik-baik saja.
Namun ternyata tidak demikian, kembali Johan menjalin asmaranya dengan Siska yang terang-terangan telah menolaknya. Jika Siska memang tidak mencintai Johan kenapa justru mau berbalik lagi dan lagi. Itah yang Renata pikirkan. Pun halnya jika Johan tidak menaruh hati pada Siska, mana mungkin kisa perselingkuhan itu terjadi berkali-kali dengan orang yang sama?
Renata memilih diam, bungkam dari segala kepahitan hidup yang dia telan sendiri. Memilih mandiri bersama dua putrinya, mengumpulkan kembali modal usaha yang telah dipakai suaminya dan bertekad mengajukan pisah pada saatnya nanti. Karena jika bertahan untuk sebuah cangkang kosong, apa gunanya untuknya. Memilih tidak bahagia bersama dengan orang yang Renata cintai akan memberikan sakit hati untuknya. Luka yang tidak akan pernah sembuh dan terus bertambah seiring berjalannya usia pernikahan mereka.
Pun halnya dengan Johan, mengambil dua wanita dalam hubungan yang salah tidak akan membuat perasaan tenang timbul di hatinya. Justru rasa cemas takut dan keinginan memiliki apa yang seharusnya dilepas perlahan kelak akan menyakitinya juga.
Dan pada sudut pandang Siska sendiri. Sampai kapan dia lelah menjalani, menjadi madu untuk suami orang? Jika statusnya dengan suami sendiri pun masih terus dipertahankan. Sampai kapan membagi hati untuk yang lain bisa membuatnya bahagia?
Semua kisah ini, hanya Tuhanlah yang tahu endingnya. Tuhanlah yang akan mengatur karma dan hikmah di balik semuanya. Sebagai author sebagai teman Siska yang menuliskan kisah nyata ini hanya mampu berdo'a semoga mereka bertiga menemukan bahagianya masing-masing. Dan yang bersalah segera disadarkan sebelum terlambat.