Dia adalah gadis super duper paling manja di dunia ini, apapun yang dia inginkan harus terpenuhi saat itu juga. Dia gadis nakal dan bandel, dia sering keluyuran dan bahkan sering tawuran.
Dia bernama Alika, sosok gadis mungil yang memiliki banyak teman meski mereka hanya memanfaatkan saja. Di dunia yang super besar ini dia seolah menjadi biasa yang memiliki segalanya.
Keluarganya biasa saja bukan sosok hartawan kaya raya yang hartanya tidak akan habis selama tujuh turunan, namun keluarganya begitu memanjakan anak bungsunya itu.
Sang Kakek yang melihat itu merasa sangat sedih dan terpukul, bagaimanapun dia adalah cucu kesayangannya, ilmu bela diri yang dia ajarkan pada Alika dan di gunakan oleh gadis itu untuk melakukan banyak keributan.
Meski begitu Alika masihkah sosok gadis polos yang belum mengenal dunia seluruhnya, dia adalah gadis baik yang hanya terbawa pergaulan saja. Sang Kakek akhirnya berinisiatif menceritakan sebuah kisah perjuangan yang penuh dengan cinta dan air mata. Penuh darah dan nanah, serta perjuangan tak kenal lelah.
Kisah itu terukir sejalan menjadi suratan takdir yang menghempaskan jalan hidup Alika ke tempat yang lebih baik, Alika seolah terbawa dalam derita kesedihan dia merasakan apa yang di rasakan sosok di dalam cerita tersebut. Derita dan air mata dalam novel itu seolah membuatnya teriris dan sakit yang sulit di obati.
"Kek aku ingin mendengar seluruh kisahnya apa boleh?" Tanya Alika penuh harap saat sepenggal kisah di ceritakan oleh sang kakek.
"Tentu saja." Akhirnya sang kakek menceritakan sebuah KISAH LEGENDARIS.
🌸🌸🌸
Oi yang penasaran jangan lupa selipkan like dan komen ya. Gak usah ngasih apa apa sama Authormah yang penting kalian merasakan apa yang aku rasakan.
Selamat membaca para hadirin jangan lupa Like dan komen ya? Itu **GRATIS**
**Kisah Legendaris**
-----------------------------------------------
Bergelimpangan mayat menggunung, bau amis memasuki indra penciuman yang amat menusuk. Serentetan tembakan, kemudian sepi, sebuah ledakan lalu sunyi kembali.
Di timur deretan awan menyajikan lengkung alis yang kelam, serentetan tembakan yang kemudian senyap seperti mata yang pejam dan angin menjadi nafas yang dalam. Tiba tiba langit mengangkat pelupuknya, dan nyala terbuka, memandang mata hari yang menggeliat menerangi hati, murah dan merah dengan berat menatap, mengawasi perajurit yang tersungkur dalam lumpur, dengan anak anak yang hancur.
Tubuh mungil menggeliat menginjak mayat di atas kakinya, seorang pria bermandi lumpur dan darah mengangkatnya dari himpitan mayat, dia menatap mata yang berwarna kemerahan dengan tajam.
"Ikutlah denganku nak." Ucap pria tersebut mengendap-endap di antara ribunan pohon tinggi dan air sungai jernih yang berubah kotor merah.
Matahari mulai mengintipi setiap sudut permukaan Bumi, rendah dan merah mencari sesuatu yang baru di bumi, burung berterbangan bersuara di antara tembakan. Dua gunung terlalui sebuah Pedesaan yang nampak sederhana dengan atap jerami dan dinding bambu menjadi pengelihatan pertama.
Pria dengan lengkung alis tua membawa anak laki laki berusia 16 tahun itu duduk di antara sungai dan Desa, membersihkan darah, lumpur dan dedaunan yang menempeli tubuhnya.
"Bersihkan dirimu nak." Pria tersebut meletakan senjatanya , dengan cepat pria itu memandikan tubuhnya dengan air bening yang sangat jernih.
"Jemur pakaianmu setelah membersihkannya dan temui aku di sana." seru pria tersebut menunjuk ke arah sebuah rumah yang nampak lebih besar dari yang lainnya.
Pria muda itu mengangguk dan membersihkan diri setelahnya melakukan apa yang pria itu ucapkan.
"Tuan maaf di mana aku?" tanya anak laki laki itu ragu ragu, dan nampak sangat sulit mengucapkan kalimat pendek tersebut.
"Di tempat yang baik, siapa namamu nak?" tanya pria tua itu lagi dengan lengkung alis yang menajam.
"Anu... Aku... Tidak ingat." Ucapnya polos, meski usianya terbilang sudah dewasa namun dia nampak seperti anak kecil yang baru bisa bicara terlihat dengan bagaimana dia berusaha berbicara.
"Apa kamu melupakan siapa namamu?" Tanya lagi pria tua itu sedikit bingung dengan apa yang terjadi, anak laki laki itu mengangguk meng iyakan dengan pertanyaan pria itu.
Baru saja malam ini dirinya kehilangan sang putra dan kini tuhan mengirimkan putra lain, tak perduli dia putra dan darah siapa yang mengalir dalam nadinya yang jelas dia adalah putra Bangsa.
"Mulai sekarang ingat baik baik siapa namamu, namamu adalah Jajang!" Ucap pria itu tersenyum tulus. Pria muda itu mengangguk menerima nama yang di berikan padanya. Sebuah ledakan lagi lagi terdengar tak jauh dari tempat mereka, dan seorang wanita muda datang dengan kain samping membelit tubuhnya.
"Pak mereka kian mendekat, aku takut dia akan menemukan kita." Seru wanita muda yang datang dengan terpogoh pogoh.
"Jangan takut nak, kita bukan orang jahat yang kuasa pasti memberi perlindungan pada yang meminta perlindungan dan Ibu Pertiwi pun tak akan sudi bila darah kita tercerai sebelum tujuan kita mencapai kemerdekaan berjaya." Ucap pria itu penuh keyakinan. Wanita itu mengangguk meraih kepercayaan yang di berikan sang Ayah.
\\\*
"Kakek lalu apa hubungannya dengan aku yang harus sekolah online?" Seorang gadis berusia 17 tahun mengeluh meminta penjelasan sang Kakek yang sangat risih dengan sistem belajar mengajar dengan cara online, dia jadi tidak bisa bermain dan menghabiskan waktunya untuk membuat onar.
"Nak, dulu kami bahkan tidak mendapatkan pendidikan, kamu tahu Kakek yang tinggal di gubuk di tepi sungai di ujung Desa?" Tanya kakek tua itu tersenyum lembut.
"Ya tahulah kek dia kan galak banget, dulu aja aku sempat di marahin cuma gara gara nangkap burung, untung sekarang dia sudah meninggal." Keluh gadis itu mengingat ingat kembali kejadian di mana dia di marahi pria tua yang tidak terawat itu.
"Dialah Jajang, tuan tanah desa ini, dialah yang memiliki tanah kita berpijak saat ini." Seru pria tua itu menepuk pundak cucunya.
"Jajang? Jajang yang tadi kakek ceritain itu? ta...tapi.. tunggu! Apa tadi kakek bilang, tanah ini milikinya? Bukannya kakek yang sudah membelinya ya?" tanya gadis itu mengangkat alisnya.
"Ya, tapi kakek tak akan dapat membeli tanah ini bila dia tidak memerdekakan tanah yang kita pijak sekarang, dan kitapun mungkin tidak akan seperti saat ini." ucap pria tua itu menjelaskan.
"Hmmm.. Aku ngerti, lalu apa yang terjadi?" gadis itu kian penasaran dengan kisah yang akan di berikan kakeknya.
"Serius ingin dengar lanjutannya?" tanya sang kakek tersenyum penuh kemenangan, agaknya kisah ini bisa sedikit mengubah cara pandang sang cucu.
"Yah kalo kakek serasa terpaksa aku juga gak akan memaksa," seru gadis itu duduk di kursi belajarnya seraya mengangkat pundaknya.
"Ya baiklah kakek pergi dulu." Kakek tua tersebut berpaling dan beranjak ke ambang pintu.
"Tunggu kek, akukan cuma bercanda gampang marah aja." Gadis itu menarik kembali tangan sang kakek.
"Ah baiklah, dengarkan lagi ya." seru kakek itu melanjutkan kisahnya.
"Kek aku ingin mendengar seluruh kisahnya apa boleh?" Tanya gadis itu penuh harap saat sepenggal kisah di ceritakan oleh sang kakek.
"Tentu saja." Akhirnya sang kakek menceritakan sebuah KISAH LEGENDARIS.