Langit biru telah berganti menjadi orange,matahari bersembunyi, bersiap-siap berganti tugas dengan bulan. Semilir angin senja menemani orang orang yang lelah setelah membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.
Sebuah keindahan tersendiri dapat melihat hal itu,itulah yang dipikirkan oleh seorang gadis berjilbab yang tengah duduk di depan rumahnya dengan senyuman terukir di wajah cantiknya. Ia senang mendengar ramainya kendaraan yang berlalu lalang menuju rumah mereka walau gelap mengelilingi matanya. Athila Ardillah, nama gadis tersebut,gadis yang tak pernah sekalipun melihat indahnya dunia ini,gadis buta yang tak pernah menyerah menjalani kehidupan yang berat ini.
“Athila... nak ayo masuk dulu udah mau magrib,” suara wanita paruh baya terdengar,mengalihkan fokus Athila.
“Iya Umi,” Athila meraih tongkatnya,berdiri dan berjalan memasuki rumah.
Athila berjalan dengan mengandalkan tongkat,telingan dan tangannya yang meraba dinding rumahnya,Uminya juga membantunya menentukan arah. Athila malaksanakan wudhu lalu berangkat menuju Masjid didekat rumahnya.
“Assalamualaikum Umi,Athila berangkat ya,” salam Athila saat menyalami Ibunya.
“Waalaikumsalam hati hati ya,” jawab sang Ibu sembari tersenyum.
Athila mulai berjalan dengan tongkat,ingatan dan pendengaran sebagai acuan. Athila buta sejak dilahirkan,sejak lahir dia tinggal didesa ini jadi dia sudah hafal dengan jalanan disini.
Tanpa Athila sadari,ibunya melihatnya dengan senyuman getir,dia merasa kasihan pada putri semata wayangnya yang tidak bisa melihat warna warna pada dunia ini. Tapi dia juga bersyukur bisa memiliki putri yang sholehah seperti Athila.
“Ya Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Maha mendengar lagi maha pengampun. Berikanlah berkah dan karuniamu pada keluarga hamba,berikan rezeki yang manfaat barokah. Berikan kesehatan untuk Umi hamba,juga untuk hamba Ya Allah. Terimalah Abi hamba disisimu Ya Allah. Hapuskanlah segala dosa Abi hamba,Umi hamba dan hamba sendiri Ya Allah. Kabulkanlah doa hambamu ini. Engkaulah yang maha pemberi dan maha penerima taubat.”
Athila berdo’a setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah,tanpa membuka mukenanya Athila mengambil Qur’an khusus miliknya ditempat biasa dia meletakkannya,di rak paling atas di kanan sendiri. Qur’an itu selalu diletakkan disitu dan tak ada seorangpun yang memindahkanny. Dia mulai membacanya dengan suara yang sangat halus dan indah. Suara merdu dan kecantikannya jika dilihat sekilas bagaikan gadis normal tanpa kecacatan sedikitpun.
“Masyaallah merdu sekali suaramu nak,” suara wanita paruh baya mengalihkan perhatian Athila dari membaca Qur’annya.
“Shodaqollahul’azhim,” Athila menutup Qurannya dan menengok kearah suara tadi, “terimakasih Bu.”
Wanita tadi menengok kearah Qur’an yang baru diletakkan Athila ditempat tadi kemudian melihat Athila. Dia buta tapi bisa membaca sebagus itu? Pikir wanita tadi tak percaya.
“Bu?” Athila memanggilnya,memastikan bahwa wanita tadi masih berada ditempatnya.
“Ah ya. Kamu mau ikut lomba baca Al-Qur’an? Hadiahnya 10.000.000,” ucap wanita tersebut.
Wanita tersebut melihat wajah cantik Athila,terdapat ekspresi antusias terlihat disana namun berubah dengan ekspresi keraguan.
“Tapi saya buta bu,” ucap Athila lirih,namun masih terdengar.
“Tak masalah,lomba yang saya bicarakan ini memang dikhususkan untuk orang berkebutuhan khusus seperti kamu,” balas wanita tadi.
“Saya mau Bu tapi saya izin Umi dulu,” ucap Athila riang.
“Tentu saja,” ucap wanita itu dengan senyumannya.
Athila mengantar wanita tadi untuk pergi kerumahnya untuk meminta izin. Sebenarnya Athila bisa meminta izin sendiri tapi wanita itu ingin ikut bersamanya jadi Athila membawanya. Sesampainya dirumah Athila langsung meminta izin pada uminya dengan wanita tadi memberi tahu perihal yang berkaitan tentang lomba tersebut. Setelah berbincang-bincang,umi Athila pun setuju. Athila sangat senang mendengar hal itu,terlihat jelas diwajahnya. Athila memulai untuk melancarkan bacaannya,dia sangat berharap untuk menang,dia ingin mendapatkan uang itu. Bukan untuk dirinya tapi untuk kebutuhannya dan ibunya setiap hari. Dia merasa kasihan dengan ibunya yang harus banting tulang berjualan kue keliling untuk menghidupi kehidupan mereka. Ayahnya juga sudah kembali kesisi Allah sejak dia masih kecil,jadi ibunya lah yang bekerja.
Hari yang ditunggu tiba,Athila dan ibunya sudah berada ditempat lomba yang ternyata membutuhkan waktu 30 menit memakai taksi online. Taksi tersebut dipesan oleh wanita yang menawarinya ikut lomba ini,Bu Kila namanya.
“Perhatian,diharap untuk semua peserta lomba untuk mengambil nomor urut dan mempersiapkan untuk lomba.”
Suara panitia lomba mengebar keseluruh area lomba,para peserta didampingi walinya segera mengambil nomor urut dan duduk dikursi khusus peserta yang telah disediakan. Seperti yang diketahi sebelumnya lomba ini dikhususkan oleh orang orang yang memilik kebutuhan khusus namun memiliki bakat dalam membaca Qur’an,semua orang yang ‘special’ dapat mengikutinya dengan syarat berumur 13-18 tahun dan tidak bisu. Athila sendiri berumur 18 tahun,pas dengan syarat umur yang diberlakukan.
Pesertanya ada yang buta,tuli,ataupun keduanya. Ada pula yang dapat melihat,mendengar dan bicara namun tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap,seperti tidak memiliki tangan dan tidak memiliki kaki.
Panitia mulai memanggil nama peserta,satu persatu melantunkan ayat suci al-Qur’an dengan suara yang indah mereka. Kini tinggal satu peserta yang belum tampil,Athila. Entah kenapa dia menjadi urutan terakhir.
“Untuk peserta terakhir Athila Ardillah silakan maju.”
Mendengar ucapan itu,Athila dibantu ibunya naik kepanggung. Perasaan Athila sangat gelisah,dia takut membuat kesalahan nanti tapi setelah mendengar ucapan ibunya dia menjadi sedikit tenang.
“Nak tenang saja,berusahalah semaksimal mungkin. Tak peduli menang atau kalah,Athila tetap membanggakan Umi.”
Ibu Athila turun dari panggung. Athila membuka Qur’an dengan titik titik sebagai perantaranya untuk membaca Qur’an tersebut. Athila membaca salah satu surat dalam Al-Qur’an dengan lembut,indah nan sangat merdu. Semua orang tersentuh dengan suaranya,ada yang sampai merinding dan bahkan ada yang menangis. Athila selesai menbaca,semua orang bertepuk tangan meriah. Athila tersenyum senang mendengar tepukan dari penonton.
Juri berdiskusi,siapa yang layak menjadi pemenangnya setelah Athila turun dari panggung.
“Saya sudah memegang siapa saja pemenang dari lomba ini. Juara ketiga Siti Nuridah. Juara kedua Muhammad Ardian. Dan juara pertama adalah..... Selamat kepada Athila Ardillah,” host mengumumkan pemenangnya.
Suara tepukan dan teriakan memenuhi lomba,para juara menaiki panggung dengan senyuman bahagia kentara diwajah mereka. Mereka berfoto,mendapat sertifikat,piala dan tentu saja uang yang dijanjikan.
Dinding bernuansa putih,satu tempat tidur dan bau obat-obatan menyeruak kedalam penciuman Athila. Ruangan itu terdapat 4 orang,Athila sendiri,ibunya,dokter,dan suster. Saat selesai lomba,ada orang dermawan yang memberikan Athila uang untuk operasi matanya. Athila dan ibunya sempat menolak tapi akhirnya setuju karena ermawan itu memaksa. Jadi disinilah dia sekarang,disebuah ruangan diruah sakit.
“Baik saya akan membuka perbannya,” ucap dokter lalu membuka perban yang menutup mata Athila.
Athila membuka matanya perlahan setelah perbannya dibuka,awalnya tampak buram namun lama kelamaan dia menangkap seorang wanita paruh baya yang tersenyum kepadanya,menatap penuh harapan.
“Umi?”
Dunia yang penuh warna ini akhirnya bisa dilihat oleh Athila. Yang sebelumnya hanya kegelapan kini berubah menjadi warna warni dunia yang indah. Athila mulai belajar huruf,angka,dan warna. Perlahan tapi pasti,Athila telah beradaptasi dengan dunianya yang baru.
Dunia Athila yang dulu penuh kegelapan sekarang berubah menjadi dunia Athila yang penuh warna.