kupandangi tumpukan buku. Tumpukan kenangan Harianku .aku tak sadar, entah Sejak kapan aku mulai terus menulis setiap harinya. .penuh dengan goresan pena di tiap lembarnya .menghamburkan setiap kata yang tergores makna .
Aku pun perlahan semakin kehilangan sungging senyum di wajah .tiba tiba, seorang wanita, memakai rok sentuh, serta memakai Snelli panjang berwarna putih dengan Surai yang dikuncir sederhana . Iya berjalan memasuki ruangan kelabu, yang bertulis "Ruangan gangguan kejiwaan atas nama min hari",sambil membawa beberapa buku diary, yang terlihat masih baru. .
Gerak langkah wanita itu semakin terdengar jelas di telingaku .
"hari...." ia memanggil ku dengan lembut namun membuyarkan lamunanku seketika.aku masih belum merespon nya.
"jangan menangis! Air mata mu terlalu mahal untuk jatuh di buku murah itu" ucapnya
ia meraih tanganku, lalu menggenggamnya, dan tersenyum sambil memandangku. .ku, tetap ia lurus, dan ia kembali menyinggung kan senyumannya.
"jangan ingat hal yang tak perlu diingat"iya semakin mengeratkan genggamannya kepadaku. "oh iya aku membawakan beberapa buku harian untukmu" ucapnya sambil menaikan alis.
"terima kasih ,oca Ucapkan pada wanita berumur 26 tahun itu .Ia hanya tersenyum lebar.
wanita itu bernama rossa. ia adalah orang yang merawatku setelah ibuku tiada karena suatu tragedi. aku sangat menyukai Rossa. ia juga berprofesi sebagai dokter. awalnya aku benci dokter tetapi karena Rossa Aku sangat menyukai dokter. Aku mau manggilnya oca. itu adalah sebuah panggilan yang datang dari seorang anak berumur 14 tahun yang masuk rumah sakit jiwa.
Dan Inilah aku hari. Seorang anak yang rapuh serta memiliki gangguan ptsd (post traumatic stress disorder) karena trauma masa lalu. Aku takut akan keramaian dan suara sesuatu yang pecah. Tak ada yang ingin mendekatiku kecuali seseorang yaitu Rossa. Hanya dia yang menganggap ku layak seperti manusia.
aku selalu merindukan dunia luar. tetapi itu hanya sebuah angan karena aku takkan bisa keluar dari penjara mematikan ini. tubuhku mendingin apalagi jika keluar dari tempat ini.
DUA TAHUN LALU....
Serpihan kaca berserakan di lantai. Hari yang mengintip dari pintu kamarnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang pria berbadan tegap Tengah melayangkan pukulan kepada seorang wanita tak berdaya yang dipanggilnya ibu. Iya berusaha untuk menolong wanita itu namun ia terlalu kecil untuk melawan pria itu. Sampai akhirnya anak kita menerima pukulan keras di kepalanya. Anak itu, selama 2 tahun dan ibunya meninggal. Ia mengalami trauma yang sangat berat.
Namun ada seorang wanita muda datang padanya dan merawatnya. Wanita itu membantunya menenangkan trauma serta stres yang sering dialaminya. Mungkin itu tak dapat bertahan hingga sekarang tanpa bantuan wanita yang kini dipanggilnya oca.