Suci adalah seorang gadis desa yang baru saja memasuki usia 28 tahun. Dia adalah seorang tulang punggung di keluarganya anak ke 2 dari 6 bersaudara.
Penderitaan suci di mulai ketika orang tuanya mulai sakit-sakitan. Saat itu suci masih bekerja menjadi seorang karyawan di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.
Di karenakan suci adalah anak perempuan satu-satunya hal tersebut membuat suci harus berhenti dari pekerjaannya dan berdiam diri di rumah setiap hari untuk mengurus ayah dan ibunya yang sakit keras.
Dengan kondisi keluarga yang tak berkecukupan dan kini ia juga harus membiayai sekolah keempat adiknya. Dengan penuh pertimbangan suci menggunakan seluruh tabungannya untuk berjualan sembako di kios miliknya yang sempat ia bangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri sebelum orang tuanya terserang penyakit.
Suatu hari, kondisi kedua orang tua suci semakin memburuk. Suci kewalahan mengurus keduanya seorang diri hingga membuatnya harus meminta bantuan kepada tetangga yang juga merupakan sahabatnya sejak kecil bernama irfan untuk membawa orang tuanya ke puskesmas. Beruntung suci masih memiliki tetangga yang baik hati dan selalu bersedia membantunya.
Setibanya di puskesmas, orang tua suci kemudian di tangani oleh para perawat yang sedang bertugas. Saat itu masih pukul 10 pagi dan keempat adik kembar suci masih bersekolah, 2 diantaranya masih kelas 4 SD dan 2 lagi baru memasuki SMP kelas 1. Sedangkan kakaknya lelaki satu-satunya yang seharusnya menjadi harapan dan sandaran bagi suci malah menghilang entah kemana semenjak mengetahui orang tuanya sakit.
Ujian demi ujian di hadapi oleh suci seorang diri. Ketika teman-teman seusianya sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri,suci masih harus mengurus orang tua serta membiayai hidupnya beserta keempat adiknya yang masih kecil.
Di puskesmas, suci termenung sendirian di kursi tunggu setelah kedua orang tuanya tertidur di ranjang pasien. Air matanya mengalir begitu saja.
Rasa lelah, jenuh dan putus asa menghampiri suci kala itu. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Sempat ada keinginan untuk mengakhiri hidupnya namun ia kembali terpikirkan oleh keempat adiknya yang masih membutuhkan sandaran, belum lagi kedua orang tuanya yang akan terlantar tak ada yang mengurus jika ia meninggalkan dunia ini.
Suci selalu berusaha menguatkan dirinya sendiri demi keluarganya. Tak pernah sekalipun ia mengeluh di hadapan orang tuanya maupun orang lain, hanya tuhan saja yang menjadi tempat berkeluh kesahnya selama ini.
Hari itu orang tuanya di haruskan untuk rawat inap. Suci kemudian pulang ke rumah untuk mengambil perlengkapan serta meminta bantuan sekali lagi kepada irfan untuk memberitahu adik-adiknya bahwa orang tua dan kakak mereka sedang berada di puskesmas. Beruntung puskesmas tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Suci membaringkan diri sejenak di lantai puskesmas tempat orang tuanya di rawat dengan hanya beralaskan tikar. Tak lama kemudian ia tertidur karena kelelahan.
Kala itu dalam tidurnya suci bermimpi menikah dengan seirang lelaki yang sangat mencintainya dan memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia.
Tak sadar suci meneteskan air mata karena mimpi itu terasa nyata dan untuk pertama kalinya suci merasakan kebahagiaan yang begitu indah di dalam hidupnya, meskipun hanya melalui mimpi tetapi terasa sangat nyata bagi suci.
Di tengah mimpi indahnya, suci kemudian terbangun oleh suara irfan yang baru saja datang bersama kedua adik kembarnya yang kemudian membangunkannya dari mimpi indah itu.
"Kak, bangun kak". Suara si kembar riki dan raka membangunkan suci.
"Kalian sudah pulang ya? Sudah makan? Kakak sudah siapkan makanan di rumah untuk kalian". Suci bertanya kepada adik-adiknya.
" Sudah kak, tadi kami makan di rumah kak irfan". Ucap riki dan raka si kembar yang baru saja memasuki kelas 4 SD.
" Ini aku bawa makanan buat kamu! Kamu makan juga ya ci, jangan sampai kamu juga sakit kan kasian adik-adikmu kalau kamu juga sakit". Irfan juga membawa beberapa makanan untuk suci, karena mungkin dia belum sempat makan sejak pagi.
"Makasih ya fan". Suci mengambil kotak makanan yang di bawa oleh irfan.
" Sama sama ci". Irfan tersenyum.
Hari semakin sore, irfan menemani suci dan kedua adiknya di puskesmas. Sementara dua adik kembarnya yang masih Smp berada di rumah. lalu suci meminta irfan untuk tinggal di rumahnya menemani adik-adiknya tidur.
"Aku boleh minta tolong sekali lagi fan? Suci meminta bantuan irfan.
" Iya ci? Bantuan apa?" Irfan menjawab.
"Malam ini kamu tidur di rumah aku ya sama adik-adik aku, soalnya mereka ngga mungkin tinggal di sini ngga ada tempat tidur untuk mereka". Suci meminta irfan tidur di rumahnya.
"Boleh-boleh aja sih, tapi kamu baik-baik saja kan di sini sendiri? Atau mau aku temani nginap di sini saja biar adik-adikmu tinggal di rumahku sama ibu, bapak". Irfan malah menawarkan diri untuk menginap di puskesmas menemani suci.
"Tapi fan aku ngga enak ngerepotin om dan tante aku udah banyak repotin kamu juga". Suci merasa tak enak hati menintipkan adik-adiknya di rumah irfan sementara ia juga tak bisa menitipkan adik-adiknya di rumah nenek, karena neneknya juga dalam kondisi yang tak baik.
Akhirnya suci menerima tawaran irfan untuk menitipkan adik-adiknya di rumah irfan. Sementara irfan menemani suci menginap di puskesmas.
Malam pertama menginap di puskesmas, suci bergantian menemani ibu dan bapaknya ke kamar mandi sesekali juga di bantu oleh irfan yang juga menginap di puskesmas.
Karena terlalu lelah dan mengantuk, tak sadar suci pun tertidur di pundak irfan. Irfan merasa sangat prihatin atas masalah yang menimpa sahabat sejak kecilnya itu.
Irfan sangat mengenali sifat suci yang selalu tak ingin merepotkan orang lain, dan berusaha menyimpan masalahnya sendiri.
Alih-alih membangunkannya, irfan malah membiarkan suci tertidur di bahunya.
Sekitar pukul 5 subuh suci terbangun begitu mendengar suara adzan berkumandang. Suci tersadar bahwa semalaman ternyata ia tertidur di bahu sahabatnya itu.
Suci memandang wajah sahabat masa kecilnya yang terlihat tampan ketika sedang tertidur.
"Kenapa? Ganteng ya gue?" Suara irfan membuat suci kaget dan membuat kepala suci hampir terbentur di ranjang ibunya.
"Iih ngagetin aja sih fan". Suci mencubit lengan irfan.
" Habisnya lu ngapain natap gw begitu? Kayak lagi liatin orang mati aja lu". Suci kemudian berdiri dan memeriksa kedua orang tuanya yang masih tertidur pulas.
Setelah memastikan orang tuanya masih tertidur, ia kemudian menuju ke musola untuk menjalankan kewajiban begitu juga dengan irfan.
Setelah itu, irfan kemudian berpamitan untuk pulang kerumah karena harus bekerja.
Begitu selanjutnya hingga di hari ketiga kedua orang tua suci sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Kedua orang tua suci mengidap diabetes dan bisa kambuh kapan saja ketika makan dan minumnya tak terkontrol dengan baik.
Suci merasa sangat lega akhirnya bisa kembali ke rumah dan mengurus adik-adiknya dengan baik.
Malam itu setelah pulang dari puskesmas, suci duduk sendiri di teras rumahnya sekitar pukul 10 malam sambil menikmati malam yang sunyi. Adik-adik dan kedua orang tuanya sudah terlelap.
Bertepatan dengan itu, irfan baru saja pulang dari tongkrongannya dan kemudian menghampiri suci yang duduk melamun.
"Ngelamun aja, ntar kerasukan kunti tahu rasa lu". Irfan bercanda dengan suci.
" Iih kebiasaan ya ngagetin mulu". Suci yang kaget dengan kedatangan irfan secara tiba-tiba.
"Ya makanya jangan ngelamun terus, ntar kalo lu kerasukan siapa yang repot?" Irfan lagi-lagi menggoda suci.
Suci menghela nafas panjang dan lagi lagi menatap ke arah langit gelap yang di penuhi bintang lalu memejamkan mata.
Irfan menatap wajah suci yang begitu cantik. Dalam hatinya berkata
"Sungguh bidadari surga yang sangat rugi jika aku tidak milikinya".
"Hidup adalah ujian fan. Apakah akan ada orang yang mau sama aku, jika mereka tahu keadaan ku dan keluargaku yang seperti ini?" Pandangan irfan tiba-tiba teralihkan ketika suci membuka mata dan bertanya kepadanya
"Mengapa tidak? Malah mereka adalah lelaki yang sangat bodoh jika tidak menginginkan wanita sepertimu ci". Suci kemudian menatap irfan yang sejak tadi memandangi wajah cantiknya.
" Jadi kamu juga termasuk bodoh? Kan kamu ngga mau sama aku?" Suci mengatakan kalimat yang membuat hati irfan terketuk.
"Siapa bilang aku ngga mau sama kamu?" Tiba-tiba saja irfan mengungkapkan perasaannya yang terpendam sejak lama kepada suci.
Posisi mereka saling berhadapan lalu irfan menggenggam tangan suci dan berkata "Sejak dulu aku suka sama kamu ci, tapi kamu selalu menganggap kita hanya teman dan hal itulah yang membuatku mencari pelarian ke wanita lain di luar sana, meskipun sama sekali aku ngga bisa hilangkan kamu di hatiku ci."
Pengakuan cinta yang begitu tiba-tiba membuat suci menjadi terdiam tanpa kata. Ia tak pernah menyangka bahwa irfan sahabatnya ternyata menaruh hati kepadanya.
"Kamu serius fan? Atau cuma sedang memperbaiki suasana hatiku aja?" Suci masih sedikit ragu dengan ungkapan cinta dari irfan yang begitu mendadak.
"Aku sudah menduga kamu ngga akan percaya ini ci, tapi aku sungguh benar-benar menyukaimu. Apa kamu tidak pernah berpikir kenapa selama ini aku ngga pernah membawa wanita kerumah dan belum menikah meskipun telah berpacaran dengan begitu banyak wanita.
Suci terpikir oleh mimpinya beberapa hari lalu di puskesmas. Suci mengingat mimpinya yang memiliki keluarga kecil yang bahagia dan ia merasa irfan adalah jawaban dari mimpinya itu.
" Apakah kau tahu fan? Aku pernah bermimpi dalam tidurku bahwa aku memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia dan suami yang sangat menyayangiku, mungkinkah kamu jawaban dari mimpiku itu?." Suci menceritakan mimpinya tempo hari kepada irfan.
"Aku janji, ketika orang tuamu sudah semakin membaik, aku akan melamarmu dan kita akan menikah, lalu hidup bahagia seperti mimpimu itu ci! Apakah kamu mau menikah denganku?". Irfan berjanji akan menikahi suci ketika orang tua suci membaik.
Suci tersenyum dan memeluk irfan, akhirnya ia menemukan jawaban atas kesabarannya selama ini.