Haris tersenyum melihat sosok perempuan yang di pandanginya sejak tadi,hanya dengan memandanya dari jauh saja sudah menyejukkan hatinya.
Pelan-pelan dia melangkah,mendekati perempuan itu yang masih asyik memandangi bunga-bunga di jadapannya."Assalamualaikum...Assalamualaikum."Ucap Haris pada perempuan itu.
"Waalaikumsalam."Jawab perempuan itu kaget sekaligus bingung dengan sedikit tersenyum.
"Kamu suka bunganya." Ucap Haris memulai percakapan.
"Mmmm iya saya suka tapi sayang ini ada yang punya." Jawab perempuan itu.
"Mmm ambil aja kalau kamu suka." Saran Haris.
"Nggak ah takut nanti yang punya marah." Tolak Aisyah.
Haris tersenyim tipis,"Ambil aja,tidak akan ada yang marah karena ini semua milik saya."
"Oh jadi ini punya kamu,jadi...boleh saya ambil beberapa batang." Dengan raut wajah merona dan senang Perempuan itu memetik beberapa.
"Ambil aja semau kamu,nggak akan ada yang marah."Haris terus menatap perempuan itu yang masih asyik memetik bunga.
" Hmmm seepetinya segini sudah cukup,terima kasih yaa."perempuan itu bergegas pergi tapi di hentikan oleh haris.
"Tunggu." Ucap Haris yang baru sadar jika perempuan itu akan pergi.
Perempuan itu berbalik,"Ada apa ???"
Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal,"Hmmm kamu tinggal dimana ???" Tanya Haris dengan sesikit gugup.
"Oh..di sana." Perempuan itu menunjuk ke arah jalan.
"Di sana,maksudnya di villa." Ucap Haris.
"Iya,di villa keluarga." Ucapnya singkat.
"Oh.kalau boleh tau namanya siapa???" Tanya haris lagi.
"Aisyah."Jawabnya singkat.
"Ooh Aisyah,cantik."Haris senyum-senyum sendiri.
" Maaf mas,boleh saya pergi soalnya ini sudah sore takut di cari orang rumah."Aisyah segera beranjak pergi.
Masih banyak yang ingin Haris tanyakan tapi jejak Aisyah sudah tak terlihat,"Padahal masih ingin ngobrol banyak tapi sudah pergi."batin Haris yang merasa patah hati sekaligus patah semangat.
Seminggu berlalu...
Masih di villa keluarga Haris,malam itu ada pertemuan keluarga sekaligus reuni dengan keluarga yang lain di sekitar villa karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Suasananya terasa membosankan bagi Haris apalagi melihat sahabatnya Gina lagi asyik dengan pacarnya fikram."Kok cemberut gitu sih Ris??? Semangat dong."Goda Gina.
Haris tidak mempedulikan ucapan Gina,ingin beranjak dari tempat duduknya tapi langkahnya terhenti saat melihat perempuan yang sama berada di depannya.
"Aisyah,kamu datang juga." Ucap fikram menyuruhnya duduk di samping Gina.
"Eh...Aisyah juga datang,oh ya perkenalkan oni sahabat aku Haris." Ucap Gina tersenyum.
Aisyah menatap ke arah Haris,"Loh,bukannya kamu yang waktu itu di taman.Ucap Aisyah menunjuk ke arah Haris.
"Iya,itu saya."Senyum Haris.
"Maaf ya waktu itu aku langsung pergi soalnya buru-buru." Aisyah merasa bersalah pada Haris.
"Nggak apa-apa." Senyum Haris lagi.
Tidak lama terdengar suara Mc dari depan,memanggil kedua orang tua Haris sudah berada di sampingnya.
"Kepada bapak Thomas Alexander,saya persilahkan untuk maju kedepan."Ucap Mc.
"Terimah kasih atas kehadiran para keluarga dan para tamu yang sudah datang dimana pertemuan ini di lakukan untuk tetap menjalin silaturahmi diantara kita yang sudah lama tidak berrtemu dan tepat pada kesempatan ini saya ingin mengumumkan pertunangan anak saya Haris dengan sahabatnya Gina." Pak Thomas menatap ke arah Haris dan Gina.
Sementara Haris dan Gina saling menatap,terlihat sama-sama bingung demgan ucapan Thomas."Maksud ucapan pak Thomas itu apa??? Fikram menatap Haris dan Gina.
"Aku juga nggak mengrrti sayang,tiba-tiba ada hal seperti ini." Gina yang masih bingung mencoba menenangkan Fikram.
Sementara Haris hanya menaikkan kedua bahunya tanda diapun tidak mengerti maksud ayahnya yang tiba-tiba itu.
Sekertaris keluarga Haris mendekat lalu membujuk mereka untuk maju,"sebaiknya kalian maju ke depan,jangan membuat pak Thomas malu di hadapan tamu."bisik sekertarisnya.
"Tapi Om,saya dan Gina kan hanya sahabat.kok malah seperti ini???" Protes Haris.
"Saya paham maksud kalian tapi lebih baik kalian ikuti permintaan pak Thomas dulu nanti baru kalian bahas toh masih tunangan." Ucap pak Andi sekertaris kelurga Haris yang seolah mengerti dengan situasi mereka.
"Iya,sebaiknya kalian maju aja dulu ke depan.nanti baru kalian bahas,setidaknya membahagiakan orang tua." Ucap Aisyah.
"Kok kamu kayak senang aku tunangan dengan Haris,jangan-jangan selama ini kamu suka sama fikram." Tatap Gina yang tidak terima dengan ucapab Aisyah.
"Loh kok malah balik nyetang sih Gin,kan kalian yang mau bertunangan harusnya aku yang marah." Ucap Fikram.
Raut wajah Gina dan Fikram sudah berubah merah,Haris terdiam sejenak.sekilas menatap Aisyah lalu beranjak dari kursi,sepertinya kita memang harus maju Gin supayah papa tidak malu dan Fikram,kamu tunggu kami dulu setelah itu kita bahas masalah ini,begitupun Aisyah."Ucap Haris yang mencoba memberi solusi untuk mereka.
Sementara Haris dan Gina maju,Aisyah malah bingung sendiri karena dirinya harus terlibat dalam pemecahan masalah mereka."Yang di bilang Haris benar syah,kamu harus ikut karena aku tau pendapat kamu itu akan membantu."Ucap Fikram.
Aisyah hanya mengangguk pertanda setuju,menatap Haris dan Gina dari kejauhan yang sedang bertukar cincin.
"Kamu harus sabar dan tenang fikram,kalau jodoh tidak akan kemana." Ucap Aisyah mencoba menenangkan Fikram.
Tidak lama Haris dan Gina mendatangi mereka,"Terus habis ini,ada rencana apa??"Tanya Gina.
"Sebaiknya kita bahas jangan di sini,tapi tunggu semua tamu pulang baru kita bahas ini." Ucap Haris.
"Ok." Ketiganya hanya mengangguk.
"Tapi...Aisyah bagaimana???"Tanya Haris.
"Oh,biar nanti aku yang urus."Ucap Fikram yang sudah mengerti maksud Haris.
Para tamu sudah mulai pulang,orang tua Aisyah mengajaknya pulang.
" Ayo pulang,aish."panggil ayah aisyah.
" Maaf om,biar nanti Aisyah pulang sama saya."Ucap Fikram yang memang sudah di percaya untuk menjaga Aisyah.
"Oh,kalau begitu om sama tante pylang duluan tapi kalau ada apa-apa langsung kabari om." Ucap Pak Hartono.
Setelah semuanya pulang mereka bergegas pergi ke suatu temapt dimana Haris bertemu Aisyah.
"Loh,ini kan taman itu." Ucap Aisyah.
"Iya." Haris tersenyum.
"Oh kalian ketemu di sini." Ucap Gina penasaran.
"Iya,nggak sengaja." Ucap Aisyah.
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang sederhana,"kita sudah sampai."Ucap Haris.
"Ayo."ajak gina masuk ke dalam rumah di ikuti Aisyah dan yang lain.
"Ini rumah masa kecil kami,dulunya kecil tapi sudah di renov sama papa jadi seprti ini."Haris mencoba menjelaskan pada Aisyah dan Fikram yang masih terlihat bingung.
Gina mengambil makanan dan minuman yang tersedia di kulkas,lalu meletakkannya di meja.
"Sebaiknya kita langsung bahas masalah tadi dan saya masih penasaran dengan ucapan Aisyah tadi."tatap Gina pada Aisyah.
"Maaf Gin,maksud saya tadi menyuruh kamu dan Haris maju itu bukan karena saya senang atau suka sama fikram tapi menutut saya hanya itu jalan satu-satunya agar tidak ada keributan,selebihnya kita bisa bahas dan bicarakan baik-baik." Ucao Aisyah.
"Saya setuju dengan Aisyah dan saya rasa maksud dia itu baik." Timpal Haris.
"Hmmm atau jangan-jangan kamu yang suka sama Gina???" Giliran Fikram yang menyerang Haris.
"Sudah...stop"Ucap Aisyah.
Mereka lalu duduk berhadapan,sama-sama diam dan saling memikirkan solusinya.Ketika sudah terasa hening,Gina menyeletuk." Bagaimana kalau kita mencari pacar untuk Haris."
Haris menghela nafas,"Hhe..kan sudah aku bilang Gin kalau aku nggak mau pacaran dan akan menikah kalau..."Ucapan Haris terhenti,terbayang masa lalunya lagi.
"Kalau kamu belum menemukan dia." Ucap Gina memotong ucapan Haris.
"Dia siapa???" Tanya fikram penasaran.
"Masa lalu Haris."Terlihat Gina malas membahasnya.
"Oh ya,siapa???"fikram makin penasaran.
"Percuma,dia juga nggak akan tau.lagian dia itu aneh,menunggu seseorang yang tidak jelas dan pasti apakah orang itu masih sendiri atau sudah menikah."Ucap Gina merasa kesal pada Haris.
"Aku percaya,suatu saat akan bertemu dengan dia."Ucap Haris.
"Sudahlah Ris,sebaiknya lupakan dia.lebih baik kamu sama yang pasti-pasti aja sperti contohnya Aisyah mungkin."Ucap Gina asal.
Haris lalu menatap Aisyah yang malah menatap fikram,seolah ingin tau maksud Gina.
"Ya,jangan Aisyah juga lah Gin takutnya nanti Haris malah nyakitin Aisyah." Bela Fikram.
"Aku hanya ngasal sayang,habis dia nggak mau cari pasangan ujung-ujungya kan aku yang kena." Ucap Gina kesal.
"Iya,maaf Gin.Ok,aku mau." Ucap Haris.
"Maksudnya mau apa Ris ???" Tanya Gina meluruskan.
Haris baru sadar dengan ucapannya,"Eee Mau kenal dengan Aisyah maksudnya."Ucap Haris gugup tapi sudah dimengerti oleh Gina yang sudah paham bahwa sahabatnya itu suka dengan Aisyah.
"Oh kamu mau kenal dengan Aisyah,tapi bagaimana dengan Aisyah ???"Tanya Gina.
"Kalau untuk berteman saya nggak masalah,tapi menurut saya jika memang Haris belum bisa punya pasangan sebaiknya jangan dipaksa dan kita caru solusi yang lain." Usul Aisyah.
"Seperti???" Tanya Gina.
"Kan kalian sudah pacaran lama sejak masih kuliah,sepertinya sudah saatnya Fikram untuk mendatangi kedua orang tua Gina sebagai bukti jika dia serius,bagaimana???"tatap Aisyah pada Gina dan Fikram.
Lalu Gina menatap Fikram," Sayang."Ucap Gina seakan meminta persetujuan.
"Hmmm jika memang itu jalan terbaiknya,ok akan saya lakukan tapi beri saya waktu untuk ini dan sebelum itu saya harap kalian bisa mengundur waktu." Giliran Fikram menatap Haris dan Gina.
"Setuju."Ucap mereka kompak.
"sekarang masalahnya sudah beres jadi sebaiknya kita pulang." Ucap Aisyah.
"Baiklah."Ucap Haris lalu mengambil kunci mobil.
Ketika ingin membuka pintu,langkah mereka berhenti melihat di luar sudah hujan deras dan ke adaan tidak memungkinkan untuk mereka pulang.
Mereka saling menatap,lalu kembali duduk di kursi ruang tamu." Sepertinya kita tidak bisa pulang melihat di luar hujan deras."Ucap Haris.
"Lalu kita bermalam di sini ???" Tanya Aisyah yang sangat ingin pulang.
"Iya,sepertinya begitu." Ucap Gina.
"Hmmm aku juga berpikir seperti itu,tapi kamu tenang aja Aisyah nanti aku yang akan minta izin sama orang tua kamu." Ucap fikram.
"Udaaah...tenang aja Aisyah,nanti kita tidur di kamar sementara mereka tidur di sini.Iya kan ris."Gina menatap Haris.
"Iya,nanti aku dan fikram tidur di sofa.lebih baik kalian masuk ke kamar,tidur." Ucap Haris sambil membereskan bantal-bantal yang ada di sofa.
Suara rintik hujan masih terdengar di luar,namun suasana di dalam sudah hening.Pertanda penghuni rumah telah tidur,mungkin karena lelah dan juga hujan membuat tidur mereka lelap.
Aisyah terbangun mendengar suara Adzan di mesjid,melihat ke samping.Gina masih tidur pulas membuatnya bergerak pelan-pelan agar tidak membangunkan Gina.
Dengan pelan pintu di buka,Aisyah melihat di sofa Haris dan Fikram pun masih tidur.Lalu dia melangkah mengambil air wudhu untuk sholat.melihat di luar masih gelap,Aisyah memutuskan untuk tetap di musholla.
Dari kejauhan Haris mendengar suara merdu yang membuatnya terbangun mencari suara itu,ternyata suara Aisyah ya g sedang mengaji.
Melihat itu Haris merasa makin kagum pada Aisyah,dia tersenyum memandangi Aisyah.
"Udah,jangan di pandang terus nanti kamu suka."suara fikram membuatHaris kaget.
" Bikin kaget aja."Ucap Haris ketus.
"Lagian,bukannya langsung wudhu malah langsung melirik yang lain,ayo sholat."ajak fikram.
Matahari pagi mulai terlihat,Aisyah duduk di kursi taman memandangi danau yang di kelilingi oleh bunga-bunga membautnya terlihat begitu indah di pandang.
Gina baru bangun dan sadar jika Aisyah sudah tidak ada di sampingnya.dengan wajah yang masih mengantuk,Gina bergegas kaluar mencari yang lain dan ternyata kosong lalu melihat keluar menemukan Aisyah sedang duduk termenung.
"Ternyata kamu di sini,yang lain mana."Tanya Gina.
"Eh Gin,udah bangun.mereka lagi lari pagi di sekitar sini,oh ya maaf aku nggak bangunin kamu soalnya tadi aku liat kamu pulas tidurnya."ucap Aisyah.
"Oh,ok.santai."Gina duduk di samping Aisyah lalu mereka ngobrol santai tentang sahabat mereka masing-masing.
Fikram dan Haris pulang ke rumah dan hanya menemui gina di ruang tamu.Haris yang tak melihat Aisyah bertanya pada Gina,"kamu sendirian aja Gin,Aisyah mana???"
"Dia pulang." Ucap Gina singkat.
"Apa...pulang." Ucap Fikram kaget.
"Iya,tadi pas kami ngobrol terus tiba-tiba Aisyah terlihat pusing lalu bilang dia ingin pulang setelah itu pergi dan pas aku mau kejar,dia sudah jauh mana kunci mobil aku nggak liat di tambah kalian nggak ada yang bawa ponsel."Gina terlihat kesal dan marah pada Fikram dan Haris.
Tanpa banyak bicara,Fikram mengambil kunci mobilnya lalu bergegas pergi ingin mengejar Aisyah takut terjadi apa-apa tanpa berpamitan pada pacarnya,Fikram sangat tau jika Aisyah tiba-tiba pusing maka itu pertanda tidak baik.
Melihat fikram yang begitu khawatir membuat Haris makin penasaran lalu memutuskan mengikuti fikram,"Gin,ayo kita juga ikut mencari Aisyah."Ajak Haris.
Jadinya semua panik mencari Aisyah,orang pertama yang menemukannya tetaplah fikram.Mobilnya berhenti lalu menghampiri sahabatbya itu,"Aisyah,kamu kenapa berdiri di sini ???"Tanya Fikram.
Aisyah berbalik,telihat wajahnya sudah pucat dan pipihnya sudah basah,"Aku melihat bayangan itu lagi kam."
Fikram yang sudah tau,makin mendekat lalu menangkap tubuh Aisyah yang sudah lemah.membawanya masuk ke dalam mobil mengantarnya pulang,dalam perjalanan dia mengabari orang tua Aisyah agar menghubungi dokter keluarganya.
Haris dan Gina yang sudah memperhatikan mereka sejak tadi,terus mengikuti mereka.Haris makin penasaran sekaligus khawatir dengan Aisyah,sementara Gina hanya terdiam.berusaha menahan diri untuj tidak cemburu dan memahami persahabatan mereka seperti halnya dengan persahabatannya dan Haris.
"Sebaiknya kamu tenang dan jangan berpikir yang tidak-tidak gin,mereka hanya sahabat."lirik Haris menenangkan Gina.
"Iya ris."Jawab Gina mengikut apa kata haris.
Di depan rumah,pak Hartono dan istrinya sedang menunggu kedatangan putrinya.melihat mobil Fikram masuk ke pekarangan bergegas mereka menghampirinya lalu membawa Aisyah masuk.
Di ikuti oleh Haris dan Gina yang juga ikut masuk meski tidak di persilahkan bahkan tidak ada yang menyadari mobil Haris masuk.
Dengan tenang Haris memencet bel rumah tapi tak kunjung di buka dan setelah beberapa menit,pintunya di buka dan yang membukanya adalah Fikram sendiri."Haris,Gina...kok kalian bisa ada di sini???"Tanya Fikram kaget melihat mereka.
"Hmmm sebenarnya saya penasaran sekaligus khawatir sama Aisyah melihat kamu tiba-tiba pergi jadi kami memutuskan untuk ikut mencari Aisyah dan sudahmengikuti kalian sejak tadi,Oh ya bagaimana ke adaan Aisyah?"Tanya Haris masih penasaran.
"Masih di periksa dokter."ucap Fikram singkat.
"Sebenarnya Aisyah kenapa? Bisa pingsan seperti itu?"Gina pun ikut penasaran.
"Sebaiknya kalian masuk dulu,sambil tunggu dokter selesai memeriksa Aisyah." Ajak Fikram berjalan menuju sofa ruang tamu.
"Kamu nggak mau bicara sesuatu ???" Tatap Gina pada Fikram.
Fikram menatap Gina menyadari bahwa pacarnya itu sedang cemburu,"maaf ya sayang,tadi itu aku benar-benar takut kalau Aisyah ada apa-apa makanya aku langsung pergi tanpa pamit sama kamu.nanti kalau sudah saatnya aku akan jelaskan semuanya tapi kita tunggu Aisyah pulih dulu."Fikram mendekati Gina mencoba membujuknya.
Tidak lama,dokter dan orang tua Aisyah keluar.Fikram langsung berdiri dan ingin bertanya,melihat itu pak hartono paham."Aisyah sudah sadar tapi kata dokter sebaiknya kita biarkan dia istirahat dulu."ucap pak hartono.
Fikram hanya mengangguk lalu kembali duduk,Gina mencoba menghiburnya."Setidaknya diasudah sadar sayang."Gina mengelus-elus punggung pacarnya.
Melihat Aisyah sudah sadar,orang tuan pun kembali ceria."Eh ada tamu ternyata,maaf ya tante tadi fokusnya ke Aish jadi tidak sadar ada yang datang,ini temannya Aish juga."Ucap Tante Hani (ibu Aisyah).
"Iya tante,kami temannya Aisyah."Ucap Gina.
"Loh kalau tidak salah ini kan pacarnya Fikram dan yang di sampingnya ini kan anaknya pak Thomas yang bertunangan dengan Gina kemarin???"Tanya ibu Hani lagi yang bingung melihat mereka bisa berada di rumahnya setelah pertunangan kemarin.
"Iya tante,ini sahabat saya Haris sekaligus yang tunangan dengan saya tadi malam tapi semua itu hanya ke inginan orang tua kami karena sebenarnya kami memiliki pilihan masing-masing."Ucap Gina jujur yang memang sudah tau tentang tante hani yang baik jadi tidak takut untuk jujur.
"Tapi tante bangga sama kalian,meski memiliki pilihan masing-masing tapi tetap menetima pertunangan orang tua kalian dan tidak membuat mereka malu.Tenang aja,kalau jodoh itu tidak akan kemana.kalau begitu tante ketemu dokter dulu" Ucap Tante Hani tersenyum lalu pergi.
Haris hanya terdiam sejak tadi mencoba mengingat ucapan tante Hani tentang nama Aish,seakan nama itu tidak asing buat dia.
"Kamu kenapa dia dari tadi Ris." Tanya Fikram yang sudah memperhatikan Haris sejak tadi.
"Hmmm tadi tante Hani bilang Aish,sejak kapan Aisyah di panggil Aish" Tanya haris penasaran.
"Sejak Aisyah kecil hingga sekarang tapi hanya aku dan orang di rumah ini yang sering memanggilnya dengan nama itu,memang ada apa ???" Tanya fijram balik.
Haris masih terlihat berpikir dan mencoba meluruskannya,"Kenapa sih Ris."Gina ikut penasaran melihat Haris.
"Sepertinya dia orang yang sama Gin." Haris menatap Gina dan Fikram.
"Maksud kamu perempuan masa lalu yang selama ini kamu cari itu orang yang sama dan dia itu adalah..." Ucapan Gina terhenti saat menyadarinya.
"Iya,sekarang aku menemukan Aish yang ternyata Aisyah."Haris tersenyum bahagia.
"Tunggu...maksud kamu perempuan masa lalu dan aish itu adalah aisyah ??? Aku tidak mengerti maksud kalian?" Giliran fikram yang bingung.
"Aisyah itu,orang yang selama ini Haris ingin temui setelah 12 tahun tidak pernah bertemu." Ucap Gina.
"Jadi kamu pernah ketemu Aisyah sebelumnya,dimana???" Tanya fikram.
"Itu biar nanti aku jelaskan,tapi boleh aku liat foto Aisyah saat kecil agar aku bisa memastikan jika benar dia orang yang sama." Ucap Haris penug semangat.
"Boleh,aku ambil dulu di kamar."Fikram berhalan menuju kamarnya.
Foto itu sudah berada tepat di depan Haris,membuatnya tidak bisa berkedip sekaligiu tidak mampu berkata-kata melihat foto perempuan yang membuatnya menunggu selama 12 tahun sudah ada di hadapannya.Dia hanya mengambil fotonya lalu tersenyum menatapnya,"Akhirnya kita ketemu setelah sekian lama aku selalu menunggu kehadiran kamu."
"Jadi sejak kapan dan dimana kamu bertemu Aisyah ???" Tanya Fikram.
Obrolan mereka berhenti mendengar pak Hartono,"Jadi kamu juga pernah bertemu Aish sebelumnya??? Dimana???"
"Di taman om."Ucap Haris.
Pak Hartono duduk di depan Haris,"Kalau boleh,om minta tolong pada kalian untuk tidak membahas ini dulu mengingat ke adaan Aish yang masih belum sepenuhnya pulih.om harap kalain mengerti."
"Baik om,saya tidak akan bahas ini dulu dan fokus pada kesembuhan Aisyah." Haris menurut.
"Terima kasih Haris." Ucap pak hartono lalu meninggalkan mereka.
"Mungkin lebih baik kita pulang dulu,nanti kalau aisyah sudah membaik baru kita bahas ini." Ajak gina pada Haris.
"Ok." Haris menurut pada Gina.
Satu bulan kemudian
Keadaan Aisyah sudah membaik,mereka pun sudah kembali ke kota.meski sering bertemu Aisyah tapi Haris belum berani membahas pertemuan mereka dulu,menunggu Aisyah benar-benar pulih.
Fikram menarik Haris,"Aku harap kamu tidak membahas masalah itu dulu pada Aishyah."Ucap Fikram.
"Tapi kenapa??? Bukannya kemarin om hartono bilang tunggu sampai aisyah benar-benar pulih dan aku lihat dia sudah baik-baik jadi tidak ada salahnya kan." Protes Haris.
"Sebaiknya jangan." Ucap fikram datar.
"Kenapa??? Sudah bertahun-tahun aku menunggu dan saat aku menemukan dia,kamu malah melarang aku memberitahunya.ini nggak adil fikram,aku harus membahas ini pada aisyah dan aku ingin tau kenapa dia tidak mengenali aku atau mungkin dia memang sudah melupakan pertemuan kami."Haris ingin menghampiri Aisyah tapi di halangi fikram.
"Percuma,dia nggak bakal mengenali kamu jadi lebih baik jangan di bahas." Ucap Fikram.
"Kenapa??? Aku perlu tau itu." Sekali lagi haris ingin melangkah tapi masihdi tahan.
"Dia Amnesia." Ucap Fikram.
Haris terdiam,"maksud kamu dia melupakan semuanya???" Tanya Haris.
"Hanya sebagian dari masalalunya." Jelas Fikram.
"Sejak kapan???" Tanya Haris lagi.
"Sejak kecelakaan itu???" Fikram menundukkan kepalanya.
"Kecelakan ??? Kapan???" Tanya Haris
"Sekitar 12 tahun lalu yang menewaskan orang tua aku dan membuat aisyah melupakan sebagian dari ingatannya.
Haris mencoba mengingat semuanya dan benar saat itu terakhir mereka bertemu," Jadi karena itu Aish tidak pernah datang ke taman."
"Iya,bahkan ke villa kemarin pun pertama kali dia datang setelah kecelakaan itu karena kami lihat ke adaan Aish perlahan membaik tapi ternyata datang ke sana makin membuat Aish kembali terbayang saat kecelakaan itu bahkan tempat dimana Aish pingsan adalah tempat dia dulu kecelakaan." Jelas Fikram.
"Lalu setelah kejadian kemarin,apa Aish mengingat sesuatu???" Tanya Haris.
"Aku juga nggak tau pasti tapi kali ini yang dia lihat berbeda dari sebelumnya,untuk lebih jelas hanya Aish yang tau." Ucap Fikram.
"Aku baru ingat,oh ya bukannya kemarin sebelum kejadian Gina dan Aish sempat ngobrol.mungkin kita bisa tau itu dari Gina." Haris melirik fikram lalu mereka bergegas mendekati Gina.
"Ada apa ini?" Gina merasa sedikit aneh melihat pacar dan sahabatnya akrab.
"Kita mau ngobrol tapi sebaiknya jangan di sini." Fikram menarik Gina ke suatu tempat di ikuti oleh haris.
"Ada apaan sih ini ?"Gina masih bingung.
"Ini soal aish." Ucap Haris
"Maksudnya aisyah ? Ada apa?" Tanya Gina balik.
"Waktu di rumah taman kamu ngobrol apa aja sama Aish."Tanya Haris penasaran.
"Ngobrol biasa aja sih,tentang kamu dan fikram tapi pas aku bahas tentang perempuan masalalu kamu dan gelang yang selalu kamu bawa di situlah awalnya." Jelas Gina.
Fikram dan Haris pun sekarang paham dan bayangan saat Haris kecil bersama Aisyah perlahan mulai di ingat tapi belum jelas secara menyeluruh.
"Kalian ngapaindi sini???" Suara Aisyah mengagetkan mereka.
"Oh ini Aish,kami lagi membahas kelanjutan hubungan fikram dan Gina." Haris mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jadi gimana kam ? Kapan kamu menemui orang tua Gina?" Tanya Aisyah.
"Aku masih butuh sedikit waktu." Ucap fikram.
Sementara Gina dan Haris masih bingung dengan panggilan Aisyah kepada fikram."Tunggu dulu deh,kayaknya udah 5 tahun aku pacaran sama kamu tapi nggak pernah dengar Aisyah panggil nama kam???"Tanya Gina.
"Itu nama panggilan kami di rumah untuk fikram dan aku hanya memanggilnya ketika di rumah dan berdua saja karena dia tidak mau orang lain tau termasuk pacarnya."Aisyah yang menjelaskannya.
Hari menjelang sore,Haris dan Gina berpamitan pulang di ikuti oleh fikram."Loh bukannya kamu tinggal di sini? Kenapa ikutan balik?"Tanya Haris.
"Aisyah kan sudah sembuh jadi wajar dong kalau Fikram pulang ke rumahnya sendiri." Ucap Gina mewakili fikram lalu masuk ke dalam mobil.
Fikram hanya tersenyum,ikut masuk ke dalam mobil meninggalkan Haris sendiri yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Ada apa Haris,kok diam." Tanya Aisyah yang memperhatikan Haris dari jauh.
"Oh itu fikram dan Gina,tapi lupakan saja." Ucap Haris.
"Maklumin aja,mereka memang begitu kalau sudah ketemu,aku juga sering diperlakukan seperti itu." Senyum Aisyah.
"Sepertinya aku harus terbiasa,kalau begitu aku pulang dulu ya aish." Senyum Haris.
Hari ini pertemuan keluarga menyambut orang tua Gina yang baru datang dari luar negeri,kesempatan ini ingin di gunkaan Fikram untuk bertemu orang tua Gina dan memperkenalkan dirinya agat pertunangannya di batalkan.
"Gimana kam? Kmau sudah siap?" Bisik Aisyah.
"Ini sudah siap sejak tadi." Fikram memperbaiki posisi duduknya.
"Tapi kamu terlihat sangat gugup kam,santai dong." Goda Aisyah.
"Udah deh Aish,nanti aku makin gugup nih." Ucap Fikram yang terlihat gugup tapi tetap ingin mencoba meyakinkan orang tua Gina.
Seleaai makan,mereka berkumpul bersama sambil ngobrol santai sekaligus membahas pertunangan Haris dan Gina.
Dari raut wajah Haris,sudah terlihat dia tidak suka jika hla itu di bahas."maaf pa,om.sepertinya pertunangan ini harus di batalkan karena kami tidak saling mencintai.Gina dan aku sudah memiliki pilihan lain."Ucap Haris mendahului Fikram.
"Sejak kapan kamu punya pacar? Bukannya selama ini kamu hanya sibuk memikirkan perempuan masa kecil yang tidak pernah kamu tau dimana dia saat ini?"Ucap Thomas.
"Haris nggak punya pacar tapi calon istri dan dia ada di sini." Haris menatap ke arah Aisyah di ikuti seluruh keluarga.
Aisyah membulatkan matanya,dia pun bingung dengan maksud Haris karena sebelumnya mereka tidak pernah membahasnya."Aku nggak tau apa-apa."Aisyah mencoba menjelaskan.
Haris masih menatap Aisyah,membuatnya merasa gugup."Sebaiknya saya tidak di sini."Lalu beranjak pergi.
Sementara Haris mengejar Aisyah,Fikram melanjutkan pembahasan mereka."Maaf om saya juga ingin agar pertunangan ini di batalkan dan meminta ijin pada om juga tante agar merestui hubungan saya dan Gina."Ucap Fikram pafa orang tua Gina dan keluarga lainnya.
Para orang tua hanya terdiam,mereka makin bingung melihat putra putrinya yang ternyata saling mencintai tapi pasangannya tertukar.
"Terserah kalian saja lah." Pak Thomas kini menyerahkan semuanya pada anak-anaknya,tidak ingin pusing karena sejak awal dia pun menyukai Aisyah.
Gina dan fikram saling bertatapan,terlihat mereka sangat bahagia telah mendapat restu.Tinggal Haris dan Aisyah yang belum menyelesaikan masalahnya.
Di tempat lain.Haris mencoba menjelaskan semuanya pada Aisyah."maaf Aish,kalau ucapanku tadi membuat kamu bingung apalagi di hadapan semua keluarga dan tanpa izin kamu."Ucap Haris pelan.
"Kenapa harus aku yang jadi alasan kamu Haris,kalau kamu sendiri masih menunggu teman masa kecil kamu.Harusnya kamu jujur saja sama mereka jangan jadikan aku alasan tapi sebenarnya itu hanya rencana kamu agar pertunangan kalian di batalkan." Aisyah terlihat marah,merasa di permainkan oleh Haris karena sia menyadari bahwa dia sudah mulai suka pada Haris.
Haris mencoba mendekat ingin menjelaskan semuanya tapi gelang yang di pegang Haris terjatuh,di lihat oleh Aisyah.
"Inikan gelang yang selalu muncul dalam bayangan itu." Ucap Aisyah.
"Kenapa bisa sama kamu ?" Tanya Aisyah memegang gelangnya.
"Itu dari..." Ucapan Haris terhenti ketika Aisyah terlihat ingin jatuh.
Haris lalu membawa Aisyah ke kamar dan memanggil dokter keluarga yang ikut berkumpul bersama keluarga mereka."Dokter...tolong Aisyah pingsan lagi."Teriak Haris dari jauh.
Semuanya berlari mendatangi Aisyah dan menunggu Aisyah di periksa oleh dokter.
Beberapa menit kemudian,dokter hendra keluat dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya."Jangan khawatir kali ini Aisyah baik-baik saja dan menunjukkan banyak perkembangan,kabar baiknya Aisyah sudah mengingat semuanya dan itu berarti dia sudah sembuh sepenuhnya tapi masih harus di jaga dan di pantau.
Mereka langsung tersenyum bahagia,setelah itu mereka masuk bergantian menjenguk Aisyah termasuk Haris dan orang tuanya.
Pak Thomas yang menegrti dan sudah tau jika Aisyah itu teman masa kecil yang Haris selama ini tunggu,membiarkan Haris dan Aisyah berbicara.
Aisyah melihat sekeliling kamar Haris,menemukan foto masa kecil mereka yang di pajang oleh Haris."Sepertinya,saya kenal dengan anak kecil itu."Aisyah menunjuk ke arah foto kecil mereka.
"Bukan kenal lagi aish tapi memang itu kamu." Haris tersenyum menatap Aisyah.
"Terima kasih sudah menunggu ris,aku tidak menyangka jika kamu bisa menunggu selama ini padahal saat itu kita masih sangat kecil."Aisyah pun ikut tersenyum.
" Awalnya kata-kata itu aku anggap biasa aish tapi semakin lama aku menunggu kamu tapi tidak pernah muncul membuat aku makin ingin bertemu kamu dan sejak saat itu aku terus kepikiran tentang kamu hingga aku tau jika aisyah itu adalah aish.perempuan yang selama ini aku tunggu dan perempuan yang membuat aku jatuh cinta pada saat pertama melihatnya dan kali ini tidak akan aku lepas."Ucap Haris.
"Memangnya kamu bisa mengikat aku sampai nggak bisa di lepas." Goda Aisyah yang masih berbaring di kasur.
"Tadi kan aku sudah bilang sama keluarga dan sepertinya mereka setuju jadi sekarang dan selanjutnya kamu akan jadi milik aku." Ucap Haris.
"Kan aku belum jawab." Aisyah masih menggoda Haris.
"Nggak perlu di jawab,dengan ini semuanya akan jelas." Haris memasngkan cincin di tangan Aisyah.
Aisyah hanya tersenyum,memandangi jari tangannya.Tanpa permisi Gina langsung menyelonong masuk melihat tangan Aisyah sudah ada cincin,lalu melirik pacarnya Fikram."sayang,kita yang duluan pacaran tapi kok malah mereka yang duluan.Aku juga mau seperti ini."Rengek Gina ada Fikram.
Semuanya tersenyum saling menatap satu sama lain,tentang persahabatan mereka.itu berlanjut hingga mereka menikah tapi sebenarnya dalam persahabatan itu ada perasaan yang tak terbalas antara Perasaan Gina kepada Haris dan Fikram kepada Aisyah tapi karena Haris selalu menunggu Teman masa kecilnya membuat Gina menyerah dan memutuskan untuk membuka hati pada orang lain dan itu Fikram,sementara fikram selalu ingin melindungi Aisyah karena rasa bersalah dan ingin berterima kasih pada orang tua Aisyah yang sudah setelah orang tuanya meninggal,dari rasa ingin melindungi sehingga timbul perasaan pada Aisyah tapi karena Aisyah tidak ingin pacaran dan tetap menggap Fikram sahabat sekaligus kakak maka Fikram berusaha menghilangkan perasaannya dengan membuka hati pada Gina yang membuat mereka sama-sama saling mencintai tapi Fikram tetap menjaga Aisyah sebagai janjinya sendiri sejak awal.
Haris yang kuliah di lauar negeri,tidak tau tentang sahabat fikram karena gina hanya memperkenalkan fikram sebagai pacarnya tapi tidak secara menyeluruh jadi hanya fikram,Aisyah dan Gina yang saling mengenal sejak awal semasa kuliah semnetara Haris baru bertemu mereka saat di pertemuan keluarga di villa,tepat beberapa hari setelah Haris pulang dari luar negeri.
Tamat.