"Ternyata memang dasar kamunya saja yang murahan! mirip seperti ibumu!" hina dayat pada wanita yang sudah di kencaninya selama dua tahun itu.
Plak! Tamparan keras mendarat sempurna di wajah Dayat, tampak kesabaran gadis itu sudah mulai habis.
"Marisa Laurian! Berani sekali tangan kotor mu menyentuh wajahku!" teriak Dayat tak terima.
"Kamu yang memulainya Yat!" bela Marisa.
"Memang faktanya begitu toh? Hey! siapapun di kampus ini sudah tau apa pekerjaan ibumu itu! Namanya buah jatuh, ya... nggak jauh lah dari pohonnya haha," cibir Dayat.
Dayat dan Marisa adalah pasangan yang cukup populer di kampusnya... Banyak pria yang beranggapan bahwa Dayat sangat beruntung bisa memiliki Marisa yang terkenal cantik yang tak hanya rupanya, tapi juga hatinya. Sedangkan wanita-wanita kampus banyak yang beranggapan bahwa Marisa hanyalah wanita matre yang sekedar mau numpang hidup pada Dayat, alasannya simple... Dayat kaya, tapi wajahnya yang jauh dari kata tampan.
Dayat dan Marisa sudah terlalu sering bertengkar, tapi dalam dua hari pasti sudah rukun kembali. Dayat akan selalu mengemis minta maaf, dan Marisa pun yang memang menyayangi Dayat dengan tulus akan selalu memaafkan nya. Tapi, tidak kali ini. Bagi Marisa kali ini Dayat sudah benar-benar keterlaluan. Sebelumnya Dayat selalu menuduh Marisa berselingkuh dengan Reyhan... yang merupakan anak dari pemilik tempat orang tua Dayat bekerja, tapi hanya cukup sampai di situ. Sekarang Dayat sudah berani menyebut-nyebut ibu Marisa yang sudah tiada.
"Cukup Yat! Kamu tau apa tentang pengorbanan ibuku? Ibuku tidak punya pilihan lain selain pekerjaan itu! Baginya, yang penting aku bisa makan dan melanjutkan pendidikan! Jadi tolong jangan hina ibu ku!" protes Marisa.
"Nyenyenyenyenye cuih," ejek Dayat sambil membuang ludah di sepatu Marisa.
Marisa mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar tak menyangka bahwa pria yang di kencaninya selama dua tahun ini hanya seorang sampah.
"Kita putus!" ucap Marisa yang di sambut Dayat dengan tatapan tajam.
"Kali ini benar-benar putus, aku nggak akan bisa maafin kamu lagi," sambung marisa yang bergegas pergi.
Namun baru saja beberapa langkah, Dayat sudah menjambak rambut Marisa sampai wajah gadis itu meringis kesakitan.
"Cewek miskin dan murahan kayak elu berani-beraninya mutusin gue? Hubungan kita bisa selesai atas perintah gue... ngerti lu?!"
Bugh! Sebuah pukulan keras menghantam hidung Dayat.
"Auuuchhhh!" jerit Dayat kesakitan, matanya membulat saat mengetahui Reyhan lah yang memukulnya.
"Kalau berani, jangan sama cewek! Sini sama gue!" cibir Reyhan.
Dayat hanya mendelik tanpa perlawanan, sebenarnya Dayat sangat ingin menghajar Reyhan yang menurutnya sok kegantengan. Tapi, dia tau karir orang tuanya lah yang akan kena dampak nya jika dia berani sedikit saja mengusik Reyhan.
Reyhan menggandeng tangan Marisa dan segera membawanya pergi meninggalkan Dayat yang masih meringis kesakitan.
"Dia milik gue sekarang!" ucap Reyhan pada Dayat.
"Brengsek!" umpat Dayat dalam hati.
Setelah berjalan cukup jauh dari Dayat, Marisa segera melepas paksa tangannya yang di gandeng mesra Reyhan.
"Apa-apaan sih lu rey! Lu mau dia makin mikir kotor tentang gue?" protes Marisa pada sahabatnya sejak masa putih abu-abu itu.
"Nggak gue gandeng juga emang otak dia udah kotor kan?" Reyhan memainkan matanya.
Marisa terus berjalan dan memasuki kelas yang belum ada penghuninya, bergegas ia duduk di kursinya yang bersebelahan dengan kursi Reyhan.
"Teruuuus... kalian beneran udah putus nggak nih?" sambung Reyhan.
"Iya! dan nggak akan gue mau balik lagi sama dia! 2tahun gue terbuang sia-sia bersama opet yang nggak berharga!" Marisa mendengus kesal.
"Hahahahaha, kan udah gue bilang, sama gue aja," ucap Reyhan santai, padahal degup jantungnya sudah tak karuan.
"Males gue sama lu, bercanda mulu" Marisa memutar malas bola matanya.
Reyhan menarik kursi Marisa dan mendekatkan pada kursinya. Tangan Reyhan menarik pelan dagu Marisa, hingga kini mereka saling berpandangan.
"Marisa Laurian, kamu mau jadi pacarku?" tanya Reyhan serius.
"Ah enggak, Marisa Laurian... kamu mau menikah sama aku?" tanya Reyhan yang jantung nya sedang salto di dalam sana.
"Kita masih kuliah," jawab Marisa berusaha cuek, padahal wajah nya sudah merona.
"Kan nggak masalah isssh!" protes Reyhan.
"Kagak! Titik!" Marisa segera menarik kursinya ketempat semula.
Reyhan yang di tolak mentah-mentah sontak saja hatinya kini mengadakan tahlilan di dalam sana.
Kelas telah di mulai, tapi wajah Reyhan masih saja muram. Marisa hanya tersenyum menahan tawa melihat wajah sahabatnya yang selalu ada di saat suka dan dukanya selama ini.
Marisa merobek kertas kecil , tangannya tampak menulis sesuatu. Di lemparnya gumpalan kertas itu ke meja sahabatnya, Reyhan.
Reyhan meraih gumpalan kertas dan segera membukanya. Wajahnya yang dari tadi muram, seketika langsung sumringah. Reyhan merapihkan gumpalan kertas, mengoles dengan sedikit lem kertas dan menempelnya di atas mejanya. Marisa hanya tersenyum saja melihat tingkah sahabatnya itu.
Marisa membereskan peralatan belajarnya, dan begegas meninggalkan kelas yang sudah selesai. Reyhan membuntutinya seperti biasa, wajahnya terlihat sangat ceria. Yang tadi hatinya sedang tahlilan, sekarang sepertinya sedang mengadakan tumpengan.
Di dalam kelas yang sudah mulai sepi, di meja Reyhan yang tertata rapi. Terdapat secarik kertas yang menempel di atasnya.
'𝙇𝘼𝙈𝘼𝙍 𝘼𝙆𝙐 𝙇𝙄𝙈𝘼 𝙏𝘼𝙃𝙐𝙉 𝙇𝘼𝙂𝙄 𝙔𝘼 𝙍𝙀𝙔𝙃𝘼𝙉 𝘼𝙏𝙈𝘼𝙅𝘼!'