Gadis tersebut membuka lokernya. Perlahan, dia mengais puing-puing kertas berisi hujatan tersebut ke dalam sebuah kantung plastik yang ditemukannya di tong sampah. Olive membetulkan kacamatanya, kemudian memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri seolah-olah memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang menyadari keberadaannya.
Mendadak, sebuah benda ringan melayang melewati rambut-rambut halusnya. Olive membalikkan badannya untuk melihat siapa yang melemparkan kertas tersebut kepadanya.
Rupanya, anak berandal tersebut datang lagi! Olive tak habis pikir, bagaimana bisa mereka terus menerus memperlakukannya bagaikan binatang? Olive ingin melawan, tetapi mereka adalah orang paling terkenal di sekolah. Tidak ada yang berani melawan. Inilah mengapa Olive juga tidak dapat membantah perintah atau perbuatan yang mereka lakukan kepadanya.
“Kenapa kau ingin membuang kertasnya? Bukannya itu surat dari penggemarmu?” sahut salah satu dari mereka. Tawaran keras menjalar menutupi oksigen yang ada di udara, membuat Olive geram sembari meremas gulungan kertas tersebut.
“Jangan menutupi fakta bahwa kau di sini hanyalah seonggok sampah yang tidak berarti apapun.”
Ucapan tersebut sudah biasa diterimanya, tetapi juga tidak dapat dianalogikan ke dalam sebuah logika. Olive tidak mengerti, hal buruk apa yang pernah dilakukannya di masa lalu.
Kumpulan gadis tersebut berdecak miris, kemudian pergi meninggalkan Olive yang berlarut-larut dalam perasaannya.
Dia berpikir, apakah memang tidak sepantas ini dia berada di kalangan masyarakat?
Waktu tidak boleh disia-siakan untuk berpikir tanpa tujuan. Olive perlu pergi pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Jika Olive tidak pulang, maka dia tidak dapat mengistirahatkan diri dari lelahnya hiruk pikuk dunia; walaupun penderitaannya di rumah sama saja, tidak memiliki sebuah definisi yang berbeda.
Olive pulang menaiki angkutan umum. Dia bersandar ke jendela, mencoba untuk berpikir hal buruk apalagi yang akan diterimanya ketika sampai di rumah nanti.
Kaki Olive menginjak pekarangan dari rumput-rumput yang telah mati. Lampu di depan juga ikut mati. Rumah tempatnya berpulang bagai tak ada tanda-tanda kehidupan.
Mamanya selalu begini. Dia pasti tidak meninggalkan apa-apa untuk Olive, hanya sebuah rumah dan kuncinya saja. Walau bekerja, tak pernah sedikitpun dia menafkahi putrinya. Dia selalu menyibukkan diri akan ambisi dari pekerjaannya. Tujuan hidup dari mama Olive hanyalah menjadi wanita karir dengan pundi-pundi uang yang cukup besar tanpa memedulikan keadaan siapapun yang berada di rumah. Dia akan pulang larut malam dan pergi saat gelap gulita.
Begitu pula dengan ayahnya yang memiliki sejarah berbeda. Olive mendapati fakta bahwa ayahnya telah bercerai dan bergonta-ganti pasangan sampai tidak mengenal Olive sebagai anaknya. Benar-benar miris, bukan? Olive bahkan tidak dapat menyimpulkan bahwa dia sebenarnya sebatang kara.
Olive membiayai dirinya dengan beasiswa dan prestasi yang membekalinya sebagai nafkah dari sekolah dan perlombaan yang dia ikuti. Cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Suatu hari, Olive telah lulus dari sekolah akhirnya. Dia mendapatkan predikat sebagai siswi terbaik di sekolah dan mendapatkan tawaran dari berbagai beasiswa dari seluruh kampus di negara tersebut. Olive merasa bangga akan pencapaiannya, maka dari itu dia memilih untuk ikut dengan kampus di negeri bambu, Cina.
Satu minggu sebelum keberangkatan, dia telah mempersiapkan segala kebutuhannya. Makanan agar tidak rindu kota asal, pakaian hangat, buku-buku. Tak lupa Olive belajar mengenai kebudayaan Cina agar tidak culture shock saat sampai di sana.
Olive juga mencoba berbagai hal yang menyenangkan di luar rumah dan sekolah seperti bermain di arkade atau menyewa penginapan. Ini adalah salah satu cara agar Olive tidak berlarut-larut atas perundungan dan keadaannya di rumah. Bahkan, mama Olive tidak mengetahui bahwa Olive akan pergi ke luar negeri. Apalagi ayahnya yang entah kemana sekarang dan tidak pernah mengirimkan uang sepeserpun. Olive benci keadaan ini.
Kini, Olive akan lepas landas lewat pesawat, mengarungi berbagai samudera demi meraih sebuah cita-cita. Olive menatap sendu ‘kampung’ halamannya, tempat yang sangat dia benci akibat peristiwa-peristiwa tak mengenakkan yang selalu menghantui isi pikirannya.
Setibanya di negeri Panda tersebut, Olive merasa senang tak karuan. Berkali-kali dia mengucap syukur kepada Tuhan karena masih memberikan raganya kesempatan untuk menghirup udara yang tak terkontaminasi rasa takut dan trauma akan kejadian di masa lalu. Perundungan mengubah wataknya menjadi penakut, tetapi juga mengubah pandangan hidupnya bahwa dia akan sukses segera.
Di masa-masa kampus, Olive mendapatkan tawaran dari teman satu asramanya untuk mengikuti audisi akting untuk tayangan dramatis.
“Olive, menurutku kamu cocok dengan pemeran yang satu ini. Selain wajahmu yang polos, kamu juga senasib, bukan?” timpal salah satu gadis di sana.
Olive berpikir sejenak, kemudian mengiyakan hal tersebut. Berkat dukungan dari teman terdekatnya yang turut mengantarkan Olive ke tempat audisi, Olive merasa sesuatu kembali hidup. Dia merasa kemenangan karena trauma dapat diubah menjadi uang.
Olive lolos audisi, dia langsung berperan menjadi tokoh utama di film terkait. Tayangannya melonjak, jam terbang membludak, Olive terkenal dalam sekejap berkat aktingnya yang tak main-main.
Semenjak itu, orang mana, sih, yang tak mengenali sosok Olive? Aktris papan atas yang geloranya benar-benar dapat menghancurkan panggung biduan. Bahkan, saat dia berusaha menutupi sosoknya itu dengan masker ataupun pakaian serba hitam, ada saja orang yang dapat memutuskan secara gamblang; menunjukkan bahwa Olive tidak dapat diragukan lagi.
Karirnya berada di puncak ketika mendapat tawaran untuk berlaga di salah satu film sequel bergengsi. Olive kembali mendapatkan peran sebagai tokoh utama yang mudah menangis.
“One, two, three, action!”
Scene di mulai ketika Olive duduk di bangku taman dan sedang bermain dengan kucing kecil. Tak diragukan lagi, untuk akting yang ini tampak realistis bagi sutradara.
Adegan berpindah ketika Olive didatangi oleh sekelompok geng perundung yang membawanya kembali ke trauma masa lalu. Privasi-privasi atas kejadiannya mungkin terbongkar di mata sutradara. Belum ada satupun adegan, Olive sudah menangis histeris. Dia langsung beranggapan bahwa adegan itu memang ditujukan kepadanya.
Di samping tersebut, Olive berpikir bahwa dia sudah melakukan aktingnya senatural mungkin. Dia berhasil! Dia berhasil menyakinkan seluruh orang bahwa dia bangkit dari ketakutan, hidup dari rasa trauma dan tumbuh besar bersama kekecewaan.
Lagi-lagi, Olive meraup keuntungan yang sangat besar dan membanggakan.
Suatu hari, Olive yang sedang bersantai di apartemen mewah pribadinya mendapati kamar sebelah berisik. Sepertinya, penghuni di dalam sana sedang memecahkan sebuah foto atau puing-puing kaca.
Olive mencoba memanggil satuan keamanan untuk memeriksa kamar sebelah. Rupanya, di dalam berisikan seorang wanita yang sudah dalam keadaan menggila. Dia menunjuk-nunjuk Olive bagaikan kerasukan.
“Nona, apakah Anda mengenalnya? Dia seperti rekanmu saat sekolah akhir.” ucap salah satu satpam sambil menatapi wanita itu.
Wanita yang sedang ditahan tersebut mendengus kesal kearah Olive. Struktur wajah, suara yang ditimbulkan dan bagaimana caranya menatap membuat Olive mengenalnya, walau dengan penampilan sekilas.
“Saya mengenalnya. Dia iri karena saya menekan popularitasnya.”
Olive pergi dari koridor apartemennya. Dia merasakan suatu perubahan yang luar biasa. Temannya tersebut jatuh dan iri luar biasa kepada Olive karena geloranya ini.
Beberapa dekade lalu juga mamanya menghubungi untuk meminjam uang. Dia terlalu sibuk bekerja sampai lupa untuk membayar asuransi kesehatan. Olive tetap memberikannya beberapa ratus juta, tetapi Olive tidak ingin mamanya tersebut menghubunginya lagi.
Karirnya memang melonjak, traumanya tersebut memang bisa dikonversi menjadi sesuatu yang berharga seperti kejayaan atau harta. Tetapi yang namanya sakit hati, itu tidak akan pernah dapat dibayar dengan kata maaf.
Olive turun ke lantai satu untuk sarapan. Dia memilih untuk mengunyah segenggam Croissant lengkap dengan saus cokelat dan penekuk lainnya. Sarapan yang pas untuk aktris papan atas sepertinya.
Dia berhadap-hadapan dengan seorang pria renta yang tampaknya sendirian di sana.
“Halo, tuan. Apakah Anda berminat untuk menikmati pagi ini bersama saya?”
Olive menawarkan pria tersebut dengan ramah. Setelah itu, mereka berbincang ringan mengenai banyak hal. Pria tersebut adalah tunawisma yang mendapatkan harta dari mantan pasangannya, tentunya karena bergonta-ganti.
“Saya menyesali perbuatan saya di masa lampau. Apalagi, ketika saya memilih untuk meninggalkan istri pertama dan anak gadis saya.”
Olive mengangguk paham. Dia turut empati atas sesuatu yang terjadi kepadanya dahulu.
“Anda harus menerima keadaan. Saya juga kehilangan Ayah saya. Dia juga sama seperti Anda, memiliki banyak pasangan sampai menderita AIDS.”
“Oh ya? Saya juga punya AIDS.” celetuk pria tersebut.
Olive mengernyit. Begitu banyak kesamaan antara dirinya dengan pria tua tersebut.
“Siapa namamu?” tanya Olive. Sekadar memastikan bahwa mereka memiliki satuan darah yang sama.
“Dulkin.”
“Kita memiliki nama belakang yang sama,” Olive menyandarkan tubuh ke kursi di belakangnya. “Kau Ayahku.”
Pria tua tersebut tidak tampak terkejut. Sebaliknya, dia terkekeh pelan sembari rileks.
“Kalau begitu, kapan aku bisa mendapatkan rumah mewah darimu? Aku sudah bangkrut dan miskin.”
Olive berdecak kasar. Dia mengeluarkan selembar cek berisikan 1 juta dollar. Dulkin merasa senang, tetapi senyumnya surut kembali.
“Aku hanya memberikan uang ini sekali seumur hidup. Simpan baik-baik,”
Dulkin terdiam. Dia merasa kecewa akan keputusan dari putrinya itu. “Aku melakukannya sama seperti yang kau lakukan kepadaku.”
Olive pergi dari tempat itu dengan rasa amarah yang mendarah daging. Dia dicampakkan, kemudian Ayahnya menagih sesuatu yang tak sesuai haknya? Memalukan.
Tukang bully yang stress, Mama yang sakit-sakitan, Ayah yang jatuh miskin adalah pembalasan yang disalurkan lewat keadaan. Kita tidak dapat menilai akan seperti apa kehidupan seseorang di masa depan hanya karena tindakannya di masa lalu.
Jangan merendahkan orang lain. Kita tidak tahu, apakah kita membutuhkan bantuannya atau tidak di masa yang akan mendatang. Manusia tidak bisa diprediksi dan merupakan makhluk yang abstrak. Oleh karena itu, kita harus menghargai siapapun sebagaimana kita ingin diperlakukan. Janganlah kamu merendahkan orang lain, karena serupa dengan merendahkan harga dirimu sendiri.