Namanya Cokroaminoto, dia seorang pria yang baik, mempunyai kulit sawo matang dan ketika melihat nya kau merasa terintimidasi oleh tatapan nya yang tajam.
Dia asli keturunan Jawa, sama sepertiku.
Kami mulai bertemu saat ia tidak sengaja menginjak sandalku pada malam 1 Suro.
"Aduh, mas...mas... mas ngapunten nggih sandal ku sampean injak." Kataku sambil menarik-narik sandal.
"Oh maaf".
Katanya singkat, sembari melirik ke bawah, dan pergi lalu.
"Nadanya itu loh mas, coba alun alun sitik, sampean yang salah loh!" Ucap temanku yang juga merasa kesal dengan tindakan nya.
"Udah wit, gak papa asalkan dia udah minta maaf, cukup kok". Kataku sambil menariknya pergi menjauh.
Kejadian itu terus membekas di ingatanku, dia membuat penasaran akan sikapnya yang dingin dan cuek namun tetap bertanggung jawab.
"Menurut mu laki-laki yang kemarin malam itu siapa yaa, Wit?" Kata ku sambil mencuci baju di sungai.
"Mboh, Ra ngurusin aku. Nyapo koe nanya koyok ngono, demen tah sama dia ?" Tanya Wiwit yang langsung membuat ku memberhentikan aktivitas ku.
"Ngaco kmu wit, mana iso aku demen sama dia, wong ketok'e anak konglomerat."
"nasib kita gak ada yang tau Min, mungkin kmu berjodoh dengan nya."
Mendengar hal itu, membuatku semakin malu dan merasa yakin bahwa aku benar benar menyukainya.
Hingga kabar yang tak menyenangkan, muncul dari mulut ibu ibu yang tengah memanen padi.
"Pri, koe wes krungu ora, anaknya pak Dahlan mau nikah?"
"Anaknya pak Dahlan yang juragan sawah itu?"
" Iyo, seng ganteng itu loh tapi sayangnya judes minta ampun, kasian bojone, yo?
Ditengah tengah pembicaraan itu aku tanpa sengaja mengepalkan gelas dan membuat telapak tangan ku berdarah. Entahlah pada saat itu aku merasa dadaku sesak, dan hatiku panas. Rasanya aku ingin mendatangi ibu ibu itu dan menusuk mereka dengan serpihan kaca gelasku.
Padahal melihat anak Dahlan saja aku tidak pernah, tapi mengapa hatiku berkata bahwa yang ibu ibu ini bicarakan adalah sosok lelaki yang aku temui tanpa sengaja di perayaan waktu itu.
Aku seperti orang yang kehilangan akal, aku berlari menuju rumah pak Dahlan untuk memastikan apakah berita itu benar, aku senang karena pak Dahlan akan memiliki menantu, namun aku khawatir akan pertanyaan "siapa anak pak Dahlan yang akan menikah itu?"
Sesampainya dirumah pak Dahlan, aku merasa bahwa ini adalah akhir dari hidup ku, aku melihat sesuatu yang seharusnya aku bahagia namun hatiku menolaknya.
Benar. Lelaki yang aku temui waktu itu adalah anak pak Dahlan yang baru pulang dari Surakarta, dan dia akan menikah dengan putri juragan sapi asal Sukamaju.
Hatiku hancur berkeping keping, rasanya aku ingin berlari dan meneriaki mereka semua "kalian asu, jancok, persetan dengan semua ini." Namun aku masih memikirkan cara yang lebih indah daripada hanya meneriaki mereka, sesuatu yang akan mereka kenang untuk selamanya.
Hari ini adalah hari pernikahan Cokroaminoto dan sang kekasih. Aku ingin membuat hari pernikahan mereka sangat berarti dan tidak akan terlupakan bagi kedua belah pihak.
Entah apakah tuhan mendengar keinginan ku tapi pada saat aku hendak pergi untuk membantu keluarga nya, aku melihatnya.
"Jenengmu Cokro, mas." Kataku sambil berlari kecil kearahnya.
"Iya." Jawabnya ketus tanpa melihatku
"Selamat yo mas, bentar lagi nikah."
"Makasih."
"Jangan ketus ketus atuh mas, makin ganteng sampean." Kataku dalam hati, yang membuat ku senyum senyum sendiri. Namun senyumanku berubah ketika aku tersadar bahwa perempuan yang akan kau nikahi bukanlah aku.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam, seperti patung berjalan. Hingga ku lihat ada peluang untuk menunjukkan hadiah spesial dari ku.
Tiiiiin..tiiiiiin...tiiiiiiiin (bunyi klakson truk pengangkut sawit)
Dengan cepat aku mendorong tubuh mas Cokro kearah mobil itu dan boooom.
Bisa kalian tebak apa yang terjadi? Yaa, lelaki kesayangan ku terbaring seperti ikan yang di hidup di darat. Padahal dia lahir dari keluarga yang mampu tapi kenapa tidur di atas tanah, dan aku yakin dia akan menyukaiku karena aku membuat corak corak lucu di baju dan badannya. Untuk warnanya aku yakin dia suka merah, karena warna itu pas untuk nya. Akupun menghampiri dan berbisik di telinganya "jika bukan aku orang yang kau cintai, maka lebih baik kau mati saja, sikap mu yang dingin pasti cocok di bawah tanah, kan hangat. Aku harap sikapmu akan melunak terhadap ku jika ku lakukan itu."