Matahari terlihat menyilaukan dari balik jendela kelas 10 IPS. Dengan sebuah pulpen yang kumainkan di tangan kananku, aku menatap layar handphone yang masih berwarna hitam.
Kulirik jam dinding, pukul 12:10 WIB. Dengan menghela napas aku kembali menatap layar handphone di atas meja.
Hampir setengah siswa di kelas sedang berada di luar ruangan, dan sisanya berkumpul dalam grup dan sedang berbincang dengan yang lainnya.
Suasana kelas yang baru. Aku masih belum terbiasa dengannya.
Pukul 12:15 WIB, aku mulai mengerutkan kening, dan merasakan perubahan pada moodku yang mulai jelek.
Merasa geram, aku mulai berdiri hendak pergi ke kantin. Makanan adalah salah satu obat badmood yang manjur.
Namun saat itulah akhirnya ponselku bergetar menyala dan namamu menghiasi layarnya.
Aku bergegas kembali duduk dan memasang headset di kedua telingaku, tidak ingin diganggu, dan tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan.
Entah mengapa berbicara denganmu dari balik telepon ini membuatku bisa bertahan dan tersenyum lebar.
Lulus dari SMP, aku berpisah dengan semua teman sekelas yang ku kenal dan berakhir sendirian di SMA.
Aku tidak yakin apa yang terjadi, tapi aku sudah berubah. Lebih tepatnya aku tidak tahu kapan aku telah berubah.
Dulu, aku bukan seorang gadis yang pemalu. Berkenalan dengan orang baru dan berbicara pada orang asing lebih mudah saat itu.
Namun sekarang, aku hanya bisa berdiam diri, kecuali ada yang mengajakku berbicara.
Mungkinkah ini efek karena berpisah dengan teman-teman SMPku?
Ataukah aku hanya merasa terdampar di lingkungan baru, di mana mereka sudah saling mengenal satu sama lain karena kebanyakan murid di sini sebelumnya berasal dari sekolah yang sama kecuali aku?
Pikiranku kembali dari menerawang setelah mendengarmu mengajukan pertanyaan.
Meskipun ini telah menjadi kegiatan rutin kita selama jam istirahat siang, dan sudah banyak hal-hal sepele dan kecil yang kita bicarakan, anehnya aku tidak merasa bosan dan selalu menemukan hal baru untuk diperbincangkan denganmu.
Aku kembali tersenyum mendengar leluconmu, mencoba tidak menarik perhatian, meskipun aku yakin murid yang masih di dalam kelas telah memperhatikannya.
Namun di saat aku berbicara denganmu, aku telah membuat dinding di sekitarku, agar hanya kamu dan aku yang berada di dalamnya. Menikmati waktu yang bisa kita ambil dan habiskan untuk berbicara.
Ini akan menjadi kenangan yang tak bisa ku lupakan. Entah suatu hari nanti akankah kau tetap berada di sisiku atau bertengger dengan cinta orang lain.
Support yang kau berikan selama masa tersulitku, aku sangat menghargainya.
Terimakasih karena ada di sana saat aku sedang membutuhkannya, meskipun sebenarnya kamu datang dari antah-berantah.
Kamu yang saat SMP tidak pernah menunjukkan ketertarikan padaku, maupun berbicara denganku.
Sebuah misteri bahwa suatu hari yang lalu kau tiba-tiba mengatakan bahwa kau menyukaiku.
Mungkin aku telah memanfaatkan kehadiranmu sebagai pengobat kesendirian yang baru saja terbangun di duniaku.
Jika saja aku lebih memperhatikan, atau kau yang menjadi lebih frontal, maka mungkin cerita kita akan dimulai lebih awal.