Di suatu kota kecil yang berdampingan dengan hutan belantara, terdapat mitos tentang adanya pintu rahasia menuju dunia paralel yang penuh misteri. Dika seorang anak berumur tujuh belas tahun itu sangat tertarik dengan dunia supranatural, bisa dilihat dari buku-buku dikamarnya yang memenuhi raknya adalah buku yang sebagian orang bergidik ngeri dengan hanya melihat sampulnya saja. Pada sore hari sepulang sekolah ia menguping pembicaraan Pak Alek seorang petani didaerah situ berbicara tentang adanya pintu kuno didalam hutan belantara sana. Mendengar itu Dika sangat tertarik dan merasa tertantang untuk mecoba lansung mencari pintu tersebut. Tentu saja dia tak akan pergi sendiri dia akan mengajak kedua teman dekatnya Maya dan Reza untuk menemaninya.
Dika, yang penuh dengan rasa penasaran, menyusun rencana dengan teman-temannya, Maya dan Reza, untuk menjelajahi hutan dan mencari pintu tersebut. Mereka berangkat dengan penuh keberanian. Lagipula kedua temannya tersebut tidak percaya pada hal mistis sedangkan Dika malah akan semangat jika bertemu mereka (hantu) mungkin, siapa yang tahu? Selama ini ia selalu berusaha melakukan beberapa hal aneh untuk melihat makhluk menakutkan tersebut. Mulai dari mencukur alis sampai botak hingga mencuci mata dengan air garam yang seharian ia diamkan diluar rumah, entah hal aneh apalagi yang akan dilakukannya untuk melihat makhluk menakutkan tersebut.
Bulan makin terlihat di sela-sela ranting pohon yang saling tertaut menandakan sudah tengah malam. Mereka bertiga tentu masih semangat entah mereka habis makan apa hingga sesemangat itu. Setelah mereka sibuk saling memaki dalam hati karna tidak menemukan pintu tersebut. "Apakah itu yang kita cari?" Ucap Dika dengan mata berbinar jika ini sebuah film kartun. Setelah hampir memakan waktu tiga jam akhirnya mereka tepat berada di depan pintu benarkah itu pintu yang mereka cari? "Tentu saja, pasti ini. Pintu aneh ini pasti pintu kuno itu!" Ucap Reza.
Dika, Maya, dan Reza berdiri di depan pintu kuno yang misterius di dalam hutan belantara. Dika menggenggam erat peta kuno itu, dan berkata, "Ini saatnya, kita akan memasuki dunia paralel."
Maya mengangguk setuju, "Kita harus siap menghadapi segala yang akan kita temui di sana."
Mereka berani melangkahkan kaki ke dalam pintu itu, dan dengan tiba-tiba, dunia mereka berubah. Mereka berada di hutan yang penuh warna-warni, dihuni oleh makhluk-makhluk ajaib. Seorang peri muncul di depan mereka dan menyapa, "Selamat datang, para petualang."
Reza, dengan rasa ingin tahu, bertanya, "Kami ingin belajar tentang kekuatan magis dan menjaga keseimbangan dunia ini. Bisakah kalian membantu kami?"
Peri itu tersenyum, "Kalian harus berhati-hati, ada makhluk jahat yang ingin menguasai dunia manusia. Tetapi aku akan membantu kalian." Mereka pun mulai belajar tentang sihir, kebaikan, dan bahaya yang mengancam.
Dalam perjalanan mereka, mereka bertemu dengan seorang kakek yang bijaksana. Kakek itu memberi tahu mereka, "Dunia paralel ini adalah hasil dari energi positif dan negatif. Tugas kalian adalah menjaga harmoni agar dunia manusia dan dunia paralel tetap aman."
Namun, tidak lama kemudian, mereka berhadapan dengan makhluk jahat yang ingin menggunakan kekuatan magis untuk merusak dunia manusia. Dika berkata dengan tekad, "Kita harus menghentikannya!"
Dalam pertarungan sengit, mereka menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh dan kecerdasan mereka untuk mengalahkan makhluk jahat itu. Dengan susah payah, mereka berhasil memulihkan keseimbangan.
Dika, Maya, dan Reza kembali ke dunia manusia dengan hati yang penuh kebanggaan. Mereka membawa pengetahuan dan pengalaman unik dari dunia paralel, siap untuk menjaga harmoni antara dua dunia yang misterius itu.
Matahari mulai memunculkan sinarnya sedikit demi sedikit. Sekarang jam menunjukan pukul enam itu merupakan perkiraan Maya. Mereka saling bertatapan dan ya mereka lupa bahwa hari ini masih hari kamis itu berarti mereka semua harus sekolah dan ibu mereka pasti akan masuk ke kamar untuk membangunkannya. Mereka semua berlarian hingga entah keberapa kali Reza dan Dika terjatuh karena akar pohon besar di hutan tersebut, mereka sekarang tidak memedulikan sakitnya itu urusan belakang yang jelas mereka harus sampai sebelum ibunya datang membangunkannya dan mereka tidak disana. Apalah alasan yang tepat untuk mereka jelaskan kepada orang tuanya jika terlambat sedetik saja. Mereka tentu cepat sampai kerumah masing-masing. Hari udah makin terang dan semua gampang terlihat dan hal magis lain nya adalah hutan seperti memberi mereka sebuah arah jalan untuk pulang. Ah tanpa mereka sadari kakek bijaksana yang mereka temui itu adalah seorang kakek buta yang mereka selalu bantu. Kakek tersebut tinggal tepat di mulut hutan tersebut yang merupakan jalan yang selalu mereka lewati untuk menuju ke sekolah mereka. Mereka tidak akan menyadari itu bahwa kakek buta itu merupakan kakek bijaksana yang mereka temui di dunia paralel tersebut.
- Tamat -