Sebut aja namaku Indah, aku baru saja duduk di bangku kelas 1 sma. Setelah menyelesaikan kegiatan Masa pengenalan lingkungan sekolah diriku berpikir, siapa pria di sampingku yang selalu menunjukkan sifat ramahnya itu? Jujur,kagum rasanya melihat cowo yang memberikan interaksi sopan seperti itu, yang jarang sekali ku temukan sewaktu SMP.
Tak disangka, ternyata kami satu kelas. Dirinya yang selalu tampil dengan percaya diri selalu membuatku ingin menyamainya, awalnya ku kira rasa ini hanyalah kekaguman. Kekaguman dari seseorang yang melihat orang lain yang begitu melebihinya dalam segala hal. Namun semakin lama, aku menyadari ada rasa aneh di dalam diriku yang mengarah untuknya. Rasa yang tak nyaman jika melihatnya dengan gadis lain selain diriku, rasa senang jika melihatnya selalu tersenyum menjahili ku. Saat itu aku sadar, bahwa rasa ini bukan kekaguman lagi.
Singkatnya, saat smester 2 aku memberanikan diri untuk lebih dekat dengannya..
"Gilang, udh buat tugas kimia?" Tanyaku padanya.
"Belum nih Ndah, ga nyampe otak gw kalo kimia gini. Stressnya bukan karna pelajaran, tapi gurunya" Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala kemudian tersenyum.
"Mau aku bantu ga? Barteran kita, aku ngajarin kamu kimia sedangkan kamu ngajarin aku bahasa Inggris. Kamu kan pinter tuh.. " Ujarku mencari alasan untuk bisa bersamanya.
"Ga pinter amat kali, tapi boleh deh. Daripada gw kena marah gurunya kan.."
Kami akhirnya belajar bersama, aku selalu mendatangi mejanya dengan alasan untuk belajar bahasa Inggris, karena memang pelajaran itu belum sepenuhnya ku kuasai, ini kalo kata pepatah sambil berenang minum air kan? Hehe..
Dia pun mengajariku dengan sepenuh hati tanpa berpikir bahwa aku mempunyai niat untuk selalu datang ke bangkunya yang lumayan jauh dari bangku ku.
Sempurna banget ga sih dia? Tipeku banget walau sedikit nakal. Tapi banyak hal di dalam dirinya yang memenuhi kriteria ku. Mulai dari ramah, pinter, ngga jaim, public speaking nya bagus pula, pinter it juga. Aduh, pokoknya the best lah..
Aku mendekatinya dan berusaha untuk mencari pergerakan yang tidak spontan, agar ia tak tau dan tak risih. Semakin lama aku berada di dekatnya, semakin nyaman rasanya.
Kami sering tertawa jika kami bersaing di mapel yang sama dengan jawaban yang sama pula. Intinya disana ku rasa kami mulai dekat..
Namun rupanya hanya bisa sebatas itu. Beberapa hari setelahnya aku mendengar kabar bahwa Gilang nembak salah satu sahabatku Tasya. Sumpah Demi apapun, rasa marah, bingung, sedih, kecewa campur aduk semua. Haruskah aku bahagia sahabatku di tembak oleh crush ku sendiri?
Tapi yang ku dengar pula Tasya menolaknya, karena memang Gilang bukan tipenya. Tapi tetap saja, aku dan Tasya sangat berbeda. Ia adalah siswi cantik idaman, berbanding terbalik denganku. Melalui kejadian Gilang yang menembak Tasya membuatku sadar, bahwa tipenya ya sepantaran Tasya. Otomatis orang kaya aku ga bisa masuk dong? Aku mulai pesimis kala itu..
Ku ambil langkah besar dan mencoba untuk menjauhi Gilang, namun dia yang sadar akan hal itu langsung menghampiri ku.
"Tumben ga nanya PR B.Ing lagi? Udah pinter b.ing lo Ndah? Jadi cuma gw yang bergantung sama lo sekarang? Ck ga seru lo.." Ucapnya dengan niat bergurau, namun saat melihat ekspresi ku yang menurutnya tak biasa, ia bertanya lagi..
"Ndah, ada masalah?" Tanyanya pelan
"Ah, engga Lang, aku gapapa.. Mungkin karna kebanyakan ikut lomba aja jadi sedikit kehilangan fokus sekarang"
"oh gitu, semangat ya sepuh kimia"
"Mm.. Makasih"
Canggung, itu yang ku rasakan sekarang. Namun beberapa minggu aku melihat interaksi Gilang dengan Tasya yang semakin jarang, aku berpikir.. Mereka berantem? Atau Gilang sengaja ngejauh karna ditolak sama Tasya?
Pikiranku kemana-mana lagi..
Aku meminta saran pada salah satu sahabatku Bianca, menurutku ia adalah salah satu orang yang paling dewasa diantara 5 sahabat gesrek ku.
"Bi, perjuangin ga ya? Aku bingung. Mau ngedeketin insecure, kalo ga dideketin takut kena tikung." Ucapku yang sudah mulai putus asa
"coba aja dulu Ndah, lagian siapa tau jodoh? Ga ada yang tau"
Ucapannya membuatku berpikir kembali..
Aku memutuskan untuk perlahan dekat kembali dengannya, namun ternyata esok harinya ia mengajakku ke belakang kelas dan kami ngobrol hanya berdua.
"Ndah"
"I-iya Lang?"
"lo beneran suka sama gw?"
"H-hah!?"
Aku terkejut, darimana ia tau tentang ini? Perasaan aku cuma memberitahukan hal ini pada 5 sahabatku..
"Maksud kamu apa sih lang?"
"Sekelas udh pada tau Ndah! Lo jadi bahan obrolan sekarang."
Hal itu membuatku lebih terkejut lagi, siapa yang tega membeberkan rahasia ini? Padahal sebelumnya baik-baik saja.
"Siapa yang bilang?" Ucapku yang mulai sedikit emosi
"Ternyata bener ya ndah, aduhh kok bisa gini?" Ucapnya sambil menyegarkan rambutnya kebelakang dan menghela nafas.
"Nggak boleh kah? Aku cuma suka kok, ga dibales juga gapapa. Aku--"
"Ngga gitu Ndah, lo cewe."
"Ya kalo aku cewe emang ga boleh suka duluan sama cowo? Aku juga punya perasaan kali Lang. Dan baru kali ini, baru kali ini aku bisa konfirmasi kalo aku benar-benar suka sama cowo."
"Tapi Ndah, mereka berpikir lain.. Lo ga tau aja apa yang mereka omong--"
"Mereka ngomongin apa?" Desakku yang memotong ucapannya
"Hahh.. Lo ga perlu tau Ndah, intinya dengerin gue.. Kali ini gw punya rencana."
"Rencana?"
"Kita pura-pura pacaran"
"HAH!?"
GILA.. itu hal tergila yang pernah kudengar darinya, aku tahu niatnya baik untuk menolong ku dari gosipan tak jelas di kelas. Tapi apa perlu sampai pura-pura pacaran dengan perasaan 'kasihan' dan niat ingin 'melindungi'. Jujur aku adalah tipe orang yang tak suka dikasihani, namun dengan sangat terpaksa aku menerima semua ini.
Namun, bayanganku tentang kehidupan asmara kami yang sempurna kandas sepenuhnya, karena dasar kepura-puraan ini. Hingga 1 bulan kami menjalankan hubungan palsu ini, kami sama sekali tak seperti pasangan sesungguhnya, hanya berpura-pura di sekolah saja. Jika di luar sekolah ya sudah tak ada hubungan lagi.
Hingga kejadian terakhir yang masih membekas di ingatanku, kami mengakhiri hubungan palsu ini karena dirinya sudah mempunyai orang yang ia incar lagi. Jadi selama 1 bulan aku berdekatan dengannya, ia belum luluh juga? Mungkin kami memang tidak berjodoh. Tapi percayalah, sampai aku kelas 2, aku masih tak bisa melupakannya. Sifatnya yang kadang manis dan cuek padaku ini membuatku bingung, apakah aku masih diterima atau justru sudah terabaikan? Aku masih saja terjebak dalam perasaan tak jelas ini. Dan kini hanya bisa memandangnya tersenyum membalas chat dari gadis pujaannya.
Terkadang cinta pertama tak selamanya mulus, tapi dengan cinta pertama membuat kita tahu apa arti perasaan tulus yang sebenarnya, bukan perasaan mainan. Dan dikabarkan sampai aku akan menaiki smester 4, masih memiliki perasaan ini untuknya, namun masih tetap tak bisa berbuat apapun..