Rini adalah siswa baru Angkatan tahun ini di sebuah SMA ternama di kotanya.
Rini sosok yang berbeda dari anak-anak lain pada umumnya.
Tuhan mengaruniakan kepada nya kemampuan khusus yang tidak di miliki oleh kebanyakan orang.
Dia mampu melihat sosok tak kasat mata dalam kehidupannya sehari-hari.
Namun hal tersebut belum sepenuhnya dia sadari.
Rini saat ini masuk di kelas XII A, seperti pada umumnya dia akan menjalani serangkaian kegiatan dalam masa orientasi siswa selama kurang lebih seminggu lama nya.
Suatu Ketika saat jam istirahat dia hendak ke toilet yang terdekat dengan ruang kelas nya.
Untuk ke toilet dia harus melewati Lorong dan beberapa ruang kosong yang memang sangat jarang di pakai karena hanya untuk acara-acara tertentu saja misal untuk rapat guru atau pertemuan tertentu.
Saat melewati ruangan tersebut tiba-tiba ada angin berhembus menerpanya dan sayup-sayup dia mendengar suara seorang Wanita melantunkan lagu berirama jawa lengkap dengan alat musik gamelan.
Spontan Rini menghentikan langkahnya dan mendengarkan dengan seksama namun suara nya sudah tidak terdengar lagi.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk nya pelan dari belakang.
Sontak dia pun menoleh kebelakang dan di lihatnya Diah teman satu kelas nya yang juga ingin ke toilet.
“Kenapa berhenti di sini Rin? Ayo cepat sebentar lagi istirahat selesai.” Ucap Diah yang kemudian berlalu dari sana menuju ke dalam toilet.
Rini pun bergegas menyusul Langkah Diah.
Setelah kepergian Rini dan Diah tampak sosok Perempuan berkebaya warna merah muncul tepat di depan pintu ruangan tersebut menatap tajam kearah Rini dengan senyum menyeringai.
Rini sudah menyelesaikan aktivitas nya di toilet dia segera bergegas untuk kembali ke ruang kelas nya yang otomotis melewati ruangan kosong tersebut.
Rini tampak melihat sekilas ruangan tersebut dan segera berlari karena bunyi bel tanda jam istirahat telah usai.
Saat Rini sudah berada di dalam kelas nya, dia melihat ke arah bangku di depan nya di mana tempat Diah duduk.
Dia melihat wajah Diah yang sedikit aneh dengan tatapan mata kosong, Rini tidak curiga akan apapun hanya dia merasa ada hal yang aneh dari sikap Diah.
Beberapa saat Ketika para kakak panitia MOS datang ke ruangan nya semua masih tampak normal dan baik-baik saja.
Sampai pada akhirnya Diah yang berteriak dan jatuh pingsan di atas tempat duduk nya.
Semua yang ada di sana merasa panik dan Diah segera di bawa ke ruang UKS, sekilas Rini melihat sosok Perempuan berpakaian kebaya lengkap berwarna merah melintas dari luar ruang kelas nya.
Rini hanya berpikir apakah ada salah satu guru disini yang mengenakan kebaya? Rini ingin memastikan pandangan nya dengan menengok kearah luar kelas dari jendela yang ada sisi kiri tempat nya duduk.
Hari ini pun berlalu kejadian hari ini sudah cukup membuat Rini merasa bertanya-tanya dan heran dengan sosok yang sempat di lihat nya tadi.
Serta suara Perempuan bernyanyi dengan iringan music gamelan yang mendayu itu.
Pagi berikutnya atau tepatnya hari kedua masa orientasi nya di SMA tersebut Rini datang lebih awal karena memang dia tipe anak yang rajin dan di samping itu jarak rumahnya yang lumayan jauh dari sekolahnya membuat dia berangkat lebih pagi karena tidak ingin terlambat.
Sesampainya di sekolah dia memarkir sepedanya di parkiran khusus sepeda dan melangkah hendak menuju kelas nya.
Sekolah masih tampak sepi dan hanya beberapa yang sudah datang namun tidak banyak.
Dari arah parkiran untuk menuju ke kelasnya dia harus melewati ruang guru, ruang TU dan beberapa ruang kelas lainnya.
Saat melewati ruang guru dia seakan mendengar suara berisik dalam ruang guru tersebut, seperti ada suara anak-anak yang sedang bermain di sana dan terdengar sangat riuh.
Karena merasa penasaran Rini pun berhenti, dan mencoba mencermati suara berisik yang bersumber dari dalam ruangan tersebut. Suara itu serasa semakin menjadi.
Saking penasaran nya Rini berniat melihat dari jendela kaca yang ada di sana, dimana posisi jendela kaca itu agak tinggi jadi dia harus berjinjit untuk dapat melihat keadaan di dalam.
Karena pintu ruang guru saat itu masih tertutup karena belum ada guru yang datang.
Saat mata nya sudah bisa melihat kondisi di dalam seketika suara riuh itupun seakan terhenti dan kembali hening tidak ada apapun di sana.
Meskipun Rini merasa aneh dengan hal tersebut namun semua di pikiran yang aneh itu di tepisnya dan kembali melanjutkan Langkah nya menuju ke kelas nya.
Karena memang masih sepi, dia memilih menunggu di depan kelas nya dengan harapan teman-temannya akan segera datang.
Bukan nya takut atau apa tapi dia merasa aneh saja jika di dalam kelas sendirian.
Sedikit demi sedikit suasana sekolah menjadi ramai karena hampir semua siswa sudah datang.
Setelah beberapa teman sekelas nya masuk, dia pun ikut masuk kedalam kelas dan duduk di bangku nya.
Setelah kejadian kemarin Diah pingsan di kelas, hari ini Diah ijin tidak masuk karena sakit.
Merasa temannya berkurang satu, Rini pun bertanya kepada Novi yang memang tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari rumah Diah.
“Nov, Hari ini Diah tidak masuk apakah dia masih sakit?” tanya Rini.
“Iya, hari ini Diah ijin karena masih sakit. Rencana nanti setelah pulang dari sekolah aku mau langsung tengokin Diah ke rumahnya.” Ucap Novi.
“Aku boleh ikut?” tanya Rini kemudian.
“Boleh lah, nanti bareng-bareng saja.” mereka sepakat untuk menengok Diah seusai sekolah.
Kegiatan hari ini berjalan lancar tidak ada kejadian aneh yang di rasakan Rini.
Sesuai rencana nya dengan Novi, Rini pun ikut menjenguk Diah di rumahnya.
Sesampai nya di rumah Diah Rini dan Novi di sambut oleh orangtua Diah mereka di antar kan sampai ke kamar Diah.
Diah berbaring di atas ranjang nya dengan pandangan mata kosong menghadap ke langit-langit kamarnya.
Seperti ada sesuatu yang di lihatnya namun di sana tidak ada apapun.
Rini dan Novi mencoba menyapa Diah yang seperti nya juga tidak menyadari kehadiran mereka.
“Diah, bagaimana keadaan mu sekarang?” Ucapan Novi tidak di respon oleh Diah, bahkan Diah semakin fokus melihat keatas.
Rini melihat bahwa sikap dan gerak gerik Diah tidak sewajarnya alias tidak normal. Rini mendekat dan duduk di tepi ranjang yang di tiduri Diah.
“Diah, kamu baik-baik saja?” ucapan Rini langsung di respon oleh Diah.
Dengan mata lesu Diah menatap kearah Rini namun tidak menjawab hanya diam saja.
Rini memperhatikan raut wajah Diah dengan seksama, dia merasa ada yang berbeda dari Diah.
Sepersekian detik Rini melihat sekelebat sosok Perempuan menggunakan kebaya berwarna merah melintas di pintu kamar Diah.
Yang memang kondisi pintu saat ini tidak di tutup.
Rini sempat meyakinkan pandangan nya dengan menoleh kearah pintu.
Dan tidak ada siapapun disana,kalaupun itu ibu nya Diah juga tidak mungkin karena ibu nya Diah tidak memakai pakaian berwarna merah.
Rini menganggap dirinya sedang berhalusinasi dan dia tidak akan memperpanjang pemikiran nya itu.
Karena hari sudah menjelang sore Rini dan Novi pun berpamitan pulang dari rumah Diah.
Di sepanjang perjalanan nya dia memikirkan Perempuan yang sering sepintas di lihatnya dan ternyata tidak ada siapapun.
Karena terlalu memikirkan dan setengah melamun Rini menjadi tidak fokus di jalan sehingga hampir saja dia terjatuh dari sepeda, dia terkejut karena ada sepeda motor yang menyalipnya dan hampir oleng untungnya dia cekatan dan bisa menjaga keseimbangan jadi tetap aman.
Malam nya saat Rini tertidur dia bermimpi di datangi sosok Perempuan yang sekilas pernah di lihatnya beberapa kali di sekolah dan bahkan di rumah Diah tadi.
Dalam mimpi nya Rini seperti berada di sebuah tempat yang sangat asing bagi nya, di sana ada sebuah bangunan rumah besar bernuansa jawa kuno.
Bahkan orang-orang yang ditemui nya menggunakan pakaian adat jawa.
Rini masuk ke dalam rumah tersebut, rumah itu tampak hanya ada beberapa orang yang berjalan kesana kemari namun seakan tidak menyadari kehadirannya di sana.
Dia seakan tidak terlihat oleh orang-orang yang berada di sana.
Rini terus melangkah masuk dan masuk semakin ke dalam dan di sebuah ruang yang cukup luas semacam aula dengan pilar yang kokoh dan besar.
Di sana di paling ujung ruangan tersebut terdapat alat music gamelan komplit yang tertata rapi.
Karena merasa penasaran Rini pun mendekat kearah alat music tersebut, saat sudah semakin dekat tiba-tiba alat-alat music itu bersuara mengalun seakan ada yang memainkan nya.
sedangkan di sana tidak ada siapapun hanya dirinya sendiri.
Tak lama setelah nya suara Perempuan pun terdengar melantunkan lagu jawa dengan di iringi alunan music gamelan tersebut.
Rini tampak berkeliling memperhatikan sekelilingnya mencari sumber suara Perempuan yang bernyanyi itu.
Namun tidak di lihat nya, saat Rini hendak melihat kembali kearah alat music gamelan yang masih mengalun itu tiba-tiba sosok Perempuan berdiri tepat di depan nya.
Spontan Rini pun terkejut dengan kehadiran yang tiba-tiba itu.
Seorang Perempuan berpakaian kebaya berwarna merah itu menatapnya tajam dan tersenyum menyeringai.
Seringaian yang membuat Rini sempat merasa takut, dan saat Rini hendak pergi dari sana seakan Perempuan itu mencegah nya.
“Mau pergi kemana kamu gadis cantik?” ucap nya dengan Bahasa jawa dan tertawa melengking.
Rini tidak menjawab dia berlari dan ingin segera keluar dari rumah besar itu. Tapi usaha nya sia-sia, karena dia tidak menemukan pintu keluar.
Saat dia melintasi sebuah kamar, dia melihat Diah seolah juga sedang berada di sana.
Diah terlihat juga menggunakan pakaian adat jawa seperti semua orang yang berada di dalam rumah besar itu.
Rini tampak memperhatikan Diah yang seakan sedang tiduran berbaring di sebuah kasur yang tidak begitu besar.
“Diah kenapa kamu di sini? Ayo pergi darisini.” Ucap Rini yang mengajak Diah untuk pergi dari sana namun Diah hanya diam saja tidak menjawab.
“Dia tidak akan kemana-mana, dia sudah menjadi milikku.” Ucap Perempuan itu.
“Milik mu? Dia temanku dan dia punya keluarga, tempatnya tidak disini.” Perempuan berpakaian kebaya merah itu justru tertawa melengking sampai memekakan telinga Rini.
Rini kembali berlari menjauhi Perempuan itu dan mencari jalan keluar supaya bisa keluar dari rumah tersebut.
Dan setelah berjuang dan hampir putus asa akhirnya Rini pun bisa keluar setelah ada sesosok pria bersurban yang tiba-tiba muncul dan menunjukkan jalan untuk nya.
Rini bangun dari tidurnya dengan nafas terengah seakan mimpinya begitu nyata dan dia melihat jam di dinding kamar nya di lihat nya jam setengah tiga pagi.
Dia sudah tidak bisa tidur lagi dan di pikiran nya hanya mengingat perihal mimpinya yang aneh itu.
Hari ini Diah tidak masuk lagi, dia masih ijin karena sakit.
Novi memberi kabar kepada nya katanya seusai mereka dari sana kemarin, Diah sempat mengalami kesurupan.
Rini merasa ada yang tidak beres kepada teman nya itu, Rini pikir apakah ada hubungan nya dnegan Perempuan yang beberapa kali di lihatnya dan bahkan dalam mimpinya itu?
“Pulang sekolah nanti kalau kita jenguk lagi bagaimana Nov?”
“Ya udah ayok.”
Mereka sepakat pulang sakolah nanti menengok Diah lagi.
Sepanjang hari di sekolah ini Rini seakan melihat penampakan Perempuan berkebaya merah itu berkali-kali namun hanya sepintas.
Saat ini mereka sudah berada di rumah Diah, ternyata orang tua Diah sedang memanggil orang pintar untuk menangani Diah yang memang baru saja mengalami kesurupan.
Seperti saat ini Diah melantunkan lagu bernuansa jawa, yang seharus nya dia tidak akan bisa menyanyikan nya jika dalam keadaan normal.
Sontak Rini menjadi teringat dengan mimpinya.
Tiba-tiba Diah menatap kearah Rini dengan mata melotot tak suka.
Ketika orang pintar mencoba berkomunikasi dengan makhluk yang memasuki Diah, Rini kebetulan juga berada di sana.
Tangan dan kaki Diah sudah di pegang oleh ayahnya dan beberapa orang yang ada di sana.
“Apa yang kamu ingin kan?”
“Aku menginginkan anak ini!”
“Tidak dia bukan milikmu.”
“Dia milikku!” tertawa nyaring.
“Tinggalkan tubuh anak ini dan pergilah.”
Tiba-tiba seperti ada yang memberi gambaran kepada Rini bahwa di dalam tas Diah ada benda semacam bros berwarna emas terseimpan di sana.
Dan entah sadar atau tidak Rini seperti melangkah menuju tas Diah yang tergeletak di atas meja belajarnya.
Benar saja di dalam tas Diah ada benda yang di lihat di dalam pikiran Rini.
“Apa kau mencari ini?” ucap Rini kepada Diah yang saat ini masih di pengaruhi oleh kuasa Perempuan itu.
“Hemmm, kembalikan!” teriaknya.
“Keluar dulu dari tubuh nya!” teriak balik Rini yang entah di gerakkan oleh kekuatan apa, Rini seakan menjadi sosok yang lain.
Bahkan semua orang yang ada di sana merasa heran dan suasana mencekam pun tak terelakkan.
Mata Diah dan mata Rini seolah saling beradu. Dengan mata itu mereka berkomunikasi.
Perempuan yang merasuki Diah seakan menceritakan kronologi kejadian mengapa dia sampai mengincar Diah.
Berawal saat Diah melewati ruangan itu dia melihat di atas meja ada bros emas itu tergeletak di sana, kebetulan pintu ruangan itu terbuka karena selesai di bersihkan dan petugas kebersihan belum sempat menutup nya kembali.
Diah melihat itu tertarik dan mengambil nya. Perempuan itu sengaja menunjukkan Diah benda itu supaya di ambil dan orang yang mengambil bisa menjadi milik nya.
“Kembalikan dia atau aku akan menghancurkan benda ini?”
“Jangan! Kembalikan!”
“Kembalikan dulu dia ke raganya. Atau kau ingin bend aini hancur!” Rini sama berteriaknya.
“Kembalikan!”
Pada akhirnya benda itu di kembalikan ke ruangan di mana diah mengambil benda tersebut. Dengan ritual tertentu dan doa.
Setelahnya Diah kembali bisa sembuh dan normal kembali. Namun orantuanya memutuskan untuk memindahkan Diah ke sekolah lain.
Gedung sekolah tersebut berdiri di atas tanah yang awalnya adalah makam kuno yang sudah tidak terpakai dan tidak terurus.
Tepat di bagian ruangan itulah makam itu dulunya berada.
Makam seorang sinden jawa yang dulu nya adalah seorang Perempuan yang menjadi rebutan banyak pria karena kecantikan nya.
Banyak Perempuan sesama sinden yang iri
kepada nya, sehingga merancang hal buruk kepada nya.
Temannya akrabnya sendiri yang membuatnya harus kehilangan nyawa nya saat itu.
Dan Bros yang dia pakai untuk memancing orang adalah bros milik teman nya itu yang sengaja di berikan kepada nya.
Sedang Rini ternyata ditubuhnya ada yang mengikuti semacam pelindung untuknya.
Sosok pria bersurban yang di lihatnya di mimpi adalah yang mengikutinya selama ini.
Itu turun temurun dari kakeknya, yang tanpa sadar sudah menyertai nya selama ini.
Oleh sebab itu Perempuan berkebaya merah itu begitu tidak menyukai nya.