Waktu itu...
Di ruangan pribadi direktur..
Aku melihat jelas suamiku tercinta sedang bercumbu dengan wanita lain.
"Bagaimana kalau nanti istrimu mengetahui hal ini?"
"Tenang saja. Dia tidak akan mengetahui ini. Lagipula apa yang bisa dia perbuat?! Dia hanya putri tak berguna dari seorang keluarga kaya!"
Aku melihat dan mendengar jelas semua yang ia lakukan dan ia katakan bersama wanita itu.
Aku pun tak pernah menyangka bahwa dia tega melakukan semua hal itu. Bahkan, bisa-bisanya dia meremehkan aku di hadapan orang lain.
Ia mengatakan secara terus terang dan mengira bahwa aku hanyalah seorang istri yang tak berdaya yang akan selalu berdiri disampingnya.
Aku tak tahan melihat peristiwa yang menjijikan itu di hadapanku. Aku pun pergi karena kupikir, tidak ada gunanya juga aku menyaksikan hal tersebut apalagi sampai memaksa masuk melabrak mereka berdua layaknya seorang istri yang putus asa.
Satu hal yang pasti yang aku sematkan baik-baik hari itu untuk suamiku tercinta.
Tak bisa terpungkiri bahwa kita telah hidup berdampingan bersama selama bertahun-tahun.
Tapi...
Sungguh, kau benar-benar salah menilai istrimu ini.
*****
Namaku Kenzia Aluna Marchellia, seorang perempuan biasa yang merahasiakan identitas sebagai seorang penerus tunggal keluarga Marchell seumur hidup ini.
Keluargaku memang kaya raya. Bahkan termasuk salah seorang investor paling berpengaruh di perusahaan besar.
Demi kelangsungan hidupku supaya berjalan mulus tanpa harus repot-repot mengusir anjing-anjing jalanan yang hanya ingin menjilat wanita hanya untuk kekuasaan dan harta, ayahku sengaja menyembunyikan identitasku sebagai penerus asli.
"Kebanyakan orang itu serakah. Jadi, lebih baik sembunyikan identitasmu" pesan ayah padaku.
Orang-orang mengira bahwa adik laki-lakiku yang bahkan sebenarnya tidak memiliki hubungan darah sama sekali sebagai penerus.
Padahal tidak.
Sampai waktunya tiba, sebenarnya akulah yang akan naik untuk mengendalikan semua kekuasaan yang sebelumnya dipegang oleh ayah.
Namun sayang sekali.
Aku membuat kesalah, dengan menikahi Theo Jacob Vallaire. Pria yang menjadi suamiku saat ini.
Tapi, tidak apa-apa. Aku dari dulu memang sudah siap jika hal ini terjadi.
*****
Aku menikahi Theo Jacob Vallaire sekitar tujuh tahun lalu pada awal musim panas.
"Aku berjanji akan menjagamu sebagai istriku selama sisa hidupku ini"
Aku ingat.
Pada saat itu dia masih terlihat sebagai pria yang polos yang penuh dengan ketulusan mencintaiku atas nama cinta tanpa memandang hal yang lain.
Itu juga alasan mengapa aku menikahinya.
Kami sudah saling mengenal satu sama lain sejak bangku sekolah menengah.
Dimataku saat itu, dia adalah seorang pria yang baik, pintar, juga ramah pada semua orang. Dia bagiku begitu sempurna walaupun ia bukan seorang pria yang mempunyai kekayaan.
Dari situlah kami mulai saling jatuh cinta.
Ya, cinta.
Dulu aku sempat mendapatkan cinta yang tulus darinya.
Bertahun-tahun kami berumah tangga. Tinggal di bawah atap yang sama, di tempat tidur yang sama, juga di dalam selimut yang sama.
Aku menemaninya dan mendukungnya dari nol. Lebih tepatnya, sejak ia masih menjabat sebagai karyawan perusahaan biasa sampai menjadi seorang direktur saat ini.
"Sayang, kamu sudah pulang? Mari, aku bawakan tas dan sepatumu,"
"Kamu pasti sangat lelah. Aku sudah menyiapkan air panas untuk kamu mandi,"
"Aku juga membuat tempura untuk makan malam kita hari ini"
Aku menjelma menjadi sosok istri yang begitu perhatian terhadap suaminya. Seorang istri yang penyayang, tulus, juga penurut pada suaminya.
Namun, sayangnya sekarang tidak lagi.
Kamu sudah mematahkan kepercayaanku.
*****
Kudengar...
Kekayaan, kekuasaan, keadaan, lingkungan, pergaulan, wanita, dan masih banyak lagi faktor lainnya bisa membuat seseorang berubah dengan mudahnya.
Aku sangat yakin bahwa itu adalah suatu kebenaran.
Suamiku, Theo Jacob Vallaire. Yang pada awalnya adalah seorang suami yang begitu perhatian, baik, juga penuh kasih sayang padaku berangsur-angsur berubah menjadi seorang yang tidak kukenal lagi.
Setelah ia melihat teman-temannya waktu kuliah dulu memiliki pangkat yang tinggi, hidup yang mewah, juga beristri cantik. Sedangkan setahu dia, aku dimatanya hanya seorang putri dari keluarga kaya yang tidak memiliki kuasa apa-apa. Dia pun menjadi ambisius.
"Mengapa... mengapa mereka jauh lebih baik daripada aku, mengapa?"
Sediki demi sedikit ia menjadi gila kekuasaan, gila kekayaan, juga gila akan wanita. Ia menginginkan posisi yang lebih tinggi, kehidupan yang lebih kaya, juga istri yang lebih cantik.
Ada pribahasa mengatakan, sekalipun semua wanita dimiliki oleh dia, suatu saat akan ada banyak kemungkinan bahwa seorang lelaki yang tidak bersyukur akan lebih tergoda kepada seekor binatang daripada istrinya sendiri.
Rupanya itu benar.
Suamiku Theo tidak bersyukur. Ia ingin mengubah nasib dengan cara yang salah.
Ia naik pangkat sampai akhirnya sampai diposisi sekarang ini. Menjadi seorang direktur dan punya penghasilan memuaskan.
Dengan posisi yang sudah tinggi seperti sekarang ini, ia pun mengkhianati aku dengan berselingkuh dengan beberapa wanita tanpa tahu bahwa sebenarnya akulah dalang yang bisa membuatnya bisa sampai meraih posisi sebagai direktur.
Ia tidak tahu bahwa aku membantunya dengan sukarela, dengan kekuasaanku, koneksiku, dan usahaku akhirnya ia bisa naik posisi dengan mudah.
"Kau sangat naif, sayang. Kau pasti sangat kaget ketika mengetahui semuanya"
Sayang sekali. Aku sudah mengetahui semuanya. Bahkan dari awal darimana kamu mulai berubah dan apa saja hal-hal curang yang sudah kamu lakukan dan aku tutupi rapat-rapat selama ini.
Semua bar, hotel, ruang kerja dan tempat manapun itu, aku sudah mengawasimu sejak lama.
"Sayang sekali. Kita sudah berumah tangga selama ini, namun rupanya bahkan sampai saat ini kamu tidak bisa mengenali aku dengan baik"
*****
Untuk semua penghinaan itu....
Untuk semua pengkhianatan itu...
Hari ini...
Malam ini....
Tepatnya pada pesta penyerahan perusahaan ayah...
"Sayang, karena kamu Berkhianat, bersiaplah..."
"Aku, Kenzia Aluna Marchellia akan membalasmu suamiku Theo Jacob Vallaire berkali-kali lipat!" Tekadku saat merias diri di ruang rias, beberapa menit sebelum akhirnya aku datang ke Aula pesta untuk membalas segalanya pada suamiku Theo.
Tak
Tak
Tak
Aku menuruni tangga dengan perlahan-lahan dengan gaun merah bertabur berlian juga riasan cantik lengkap dengan perhiasan yang mewah.
"Wah bukankah itu nona Marchellia?"
"Dia terlihat sangat berbeda"
"Dia sangat cantik"
"Ku dengar dia sudah menikah. Beruntung sekali suaminya"
"Andai saja dia belum menikah, aku pasti akan langsung berlutut dan tak segan melamarnya"
Semua tamu undangan membicarakan aku, mengagumi sosokku. Aku dengan cepat menjadi pusat perhatian.
Aku tak melupakan suamiku tentunya. Aku melihatnya sedang menungguku di bawah dengan mata yang sama terpananya dan tersenyum lebar penuh bangga karena orang-orang yang terus-menerus memujiku.
Ia baru merasa sangat beruntung saat itu karena telah memilikiku sebagai istri.
"Apa kita selama ini salah mengira?"
"Aku tebak. Nona Marchellia pemeran utama pada acara ini!"
Orang-orang saling menebak-nebak. Tak ayal. Itu sebab aku yang berpenampilan sangat loyal pada malam hari ini dibandingkan anggota keluargaku yang lain.
Tentunya, ini semakin membuat hati suamiku senang. Bahkan saking senangnya ia begitu perhatian terhadapku malam ini. Olehnya aku diperlakukan layaknya seorang ratu. Sikapnya bahkan lebih manis dibandingkan dengan masa lalu.
"Biarkan aku menuntunmu, sayang" ia mengulurkan tangannya kepadaku sembari tersenyum begitu manis.
"Jika kamu butuh sesuatu. Jangan ragu untuk meminta padaku, sayang"
"Baiklah" aku tanpa ragu menerimanya.
Sayang sekali, namun kamu tidak akan kubiarkan bersinar malam itu walaupun dengan satu kebaikan apapun.
"Kena kau!" Ucapku dalam hati. Tentunya aku sudah menyiapkan begitu banyak rencana matang untuk menjatuhkanmu malam hari ini.
"Bersikaplah sombong sepuasnya malam ini, karena mungkin esok kau takkan pernah bisa memiliki kesempatan lain untuk menyombongkan diri" ujarku dalam hati.
Dan semuanya pun dimulai...
"Apa pria itu suaminya?"
"Ya. Kudengar dia orang miskin dulu"
"Dengan kata lain, nona Marchellia yang merendahkan hati untuk menikahinya?"
"Aku khawatir dia hanya penjilat"
"Oh ya ampun, aku berharap nona Marchellia mendapatkan pasangan yang lebih baik!"
Semua perkataan pedas orang-orang itu mulai membuat Theo marah. Telinganya mendadak panas karena orang-orang merendahkan dirinya dan menyebutnya sebagai pria yang tak pantas sama sekali untuk Marchellia.
"Berani-beraninya mereka mengataiku" ujar Theo. Ia berusaha menahan kemarahannya karena ini acara yang sangat penting.
Aku secara spontan meraih tanganya dan berkata, "Sudah. Biarkan saja, suamiku"
Ia langsung tenang seketika.Namun kebenarannya jauh berbeda.
"Aku memang menenangkanmu, namun aku tidak membantah apa yang mereka katakan" ujarku berbisik pada telinganya dan membuat dia tersentak karena kaget.
Dan ketika ia mulai menoleh kearahku dengan rasa penasaran, aku dengan spontan tersenyum manis padanya dan berkata, "aku hanya bercanda, suamiku"
*****
Setelah beberapa tahapan acara terlewati, akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Tepatnya waktu dimana ayahku mengungkapkan kebenarannya.
"Dan bagian yang paling penting... pada malam ini, saya secara resmi mengangkat putri saya Kenzia Aluna Marchellia sebagai CEO perusahaan MarC"
Prok
Prok
Prok
Gelegar tepuk tangan memenuhi aula menyambut kenaikanku ke atas altar.
Semoa orang mengagumiku, tak terkecuali suamimu yang kini sedang melongo, senang, campur aduk perasaannya karena melihat kenyataan ini.
"Istriku seorang CEO? Apakah aku bermimpi?! Aku suami dari seorang CEO Marc!"
Ia terlihat begitu senang dan bangga.
"Sayang sekali, sayang. Namun, kebahagiaan dan kebanggaanmu itu akan berakhir ketika aku berdiri di altar ini"
Aku mengambil microphone yang dengan sebuah buket bunga di tanganku. Dengan senyuman dan tatapan serta wajah yang berwibawa dan kharismatik aku pun mulai berbicara,
"Saya sangat berterimakasih pada ayah...."
Aku menyebutkan semua orang-orang yang aku sayangi dan aku cintai. Aku berterimakasih pada semua dan mengungkapkan kebanggaan pada mereka semua kecuali suami sendiri, Theo.
Dan dari situlah, Theo mulai menaruh kecurigaan. Begitu juga para tamu undangan.
"Nona Marchellia sudah menyebutkan semua orang kepercayaannya secara berulang-ulang. Tapi kenapa dia tidak menyebutkan suaminya sama sekali?"
"Ya. Kupikir itu aneh"
"Apa dia tidak mencintai suaminya?"
"Aku mulai percaya bahwa suaminya memang seorang penjilat!"
Theo tak bisa menahan amarahnya lagi dan langsung membalas cemoohan orang-orang itu.
"Berani-beraninya kalian berkata seperti itu. Istriku sangat mencintaiku. Dia tidak mungkin menganggap aku orang seperti itu"
Ah... ia berteriak terlalu keras.
"Dia benar-benar orang yang tidak punya sopan santun"
"Mungkin dia melakukan segala cara untuk menikahi nona Marchellia. Nona yang malang"
Sungguh itu sesuatu yang memalukan selagi aku masih berstatus sebagai istrinya.
Dia bertingkah seperti remaja saja.
Namun, aku tetap bersikap tenang dan biasa saja dengan masih membawa kewibawaan.
"Ah, ya. Untuk yang terakhir... aku sangat berterima kasih pada suamiku" tuturku segera setelah Theo membabi buta.
Semuanya terdiam. Termasuk Theo. Suamiku yang brengs*k itu akhirnya tutup mulut dan tenang.
"Sebelumnya, saya sudah memikirkannya..." aku memulai pembicaraan yang serius.
"Aku akan bekerja sama dengan suamiku untuk posisi CEO ini. Silahkan kepada suamiku Theo Jacob Vallaire untuk naik ke atas altar bersamaku"
Semua orang tercengang. Apalagi Theo, ia begitu sumringah karena begitu senang mendengar bahwa ia akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Ia buru-buru menaiki altar dan menghampiriku.
"Kamu selalu membuat aku terkejut, istriku. Kamu memang istri yang luar biasa yang pernah aku miliki" ujarnya dengan sombong. Memamerkan apa yang aku ucapkan pada orang-orang yang tadi mencemoohnya.
"Heuh!"
Aku benar-benar ingin tertawa melihat kelakuannya itu.
"Namun sebelum itu, kiranya tamu spesial yang sudah lama menunggu di luar hendanya masuk terlebih dahulu" ujarku membuat semua yang ada di aula tercengang.
"Tamu spesial?"
"Siapa? Aku tidak mendengarnya!"
Theo pun juga penasaran dan memberikan isyarat mata padaku. Namun, aku menjawabnya dengan senyum seringai yang membuat ia tersentak.
"Silakan masuk, dan pak Setya silahkan putar vidio dokumentasinya.
Dan begitu juga seterusnya. Keadaan menjadi begitu ricuh. Theo menjadi was-was dan tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan melihat siapa yang datang dan apa Vidio dokumentasi apa yang di putar.
"Polisi?"
"Tamu spesialnya polisi? Apa maksudnya ini?!"
Ya, semua orang menjadi ricuh karena kedatangan sejumlah polisi yang aku undang secara khusus datang memasuki ruangan.
Berbarengan dengan itu vidio dokumentasi yang merupakan bukti perselingkuhan, penggelapan dana, dan korupsi yang dilakukan Theo di putar dengan sejelas-jelasnya.
"Jangan pedulikan wanita itu. Dia tidak sebanding denganmu"
"Ini adalah sejumlah uang untuk anda namun anda..."
Semuanya terekam jelas dan sempurna.
"Apa? Dia benar-benar pria penjilat!"
"Itu memalukan sekali. Kasihan nona Marchellia!"
"Kurang ajar. Nona Marchellia sudah berbaik hati, namun pria brengs*k itu malah membalasnya dengan keji"
Semua orang mencacinya, menghinanya, melemparinya dengan terang-terangan.
"Sayang..ada apa ini? Aku tidak pernah seperti itu. Semua itu bohong" Namun dia dengan tidak tahu malunya malah memohon lebih padaku.
"Semuanya sudah jelas. Kenapa kamu masih bertanya padaku?! Bahkan kamu tidak meminta maaf!" Ujarku dengan tegas.
"Dia benar-benar tidak tahu malu!" Ujar orang-orang kembali memakinya dengan kejam.
Theo terdiam sebelum ia meraihku, sejumlah polisi menahannya.
"Seperti yang kalian lihat, suami saya mengkhianati saya dan melakukan hal-hal kotor. Maka dari itu hari ini, dengan resmi menggugat cerai!"
"Tidak. Aku tidak akan menyetujuinya!"
"Sebaiknya kamu tidak membantah!"
Aku meminta segelas air dan tanpa basa-basi lagi menuangkannya di atas kepalanya.
"Menjijikan!" Cemoohku sebelum akhirnya turun dari altar dan berjalan kembali ke kamar dengan rasa yang puas.
Sementara itu Theo dengan terpaksa menandatangani surat cerai dan dibawa langsung ke kantor polisi dengan iring-iringan cemoohan orang.
"Dasar tidak tahu diri!"
"Penjilat!"
"Tak tahu malu!"
"Ku harap kau pergi ke neraka!"
"Bagaimana bisa dia menyakiti perempuan sesempurna nona Marchellia? Sungguh hina!"
Semua orang menghinanya. Bahkan peristiwa itu menjadi trending topik untuk waktu yang lama. Semua orang bersimpati padaku, memujaku, dan membelaku sepenuh hati.
Berbeda jauh dengan keadaan mantan suamiku saat ini. Dia terbaring di sel dengan seribu penyesalan, kesedihan, dan kemarahan tak terkira secara bersamaan. Ia hampir gila.
Bagaimana tidak? Semua kehormatannya, reputasinya, harta, jabatan, semuanya tidak ada lagi. Bahkan harga dirinya sebagai manusia tidak berlaku lagi. Orang-orang mengenalnya dengan seorang binat*Ng tak tahu diri.
"Begitulah seharusnya hukuman untuk orang yang tidak tahu berterima kasih. Istrinya sudah benar-benar baik namun dirinya malah tidak bersyukur".
End.