Namaku Asep, aku adalah seorang siswa SMP di daerah terpencil, namun tidak jauh dari perkotaan. Orangtuaku merupakan seorang petani jagung. Walaupun ladang kami hanya seluas ruko mixue, tapi kami sangat mensyukurinya.
Setiap beberapa bulan sekali, sepulang sekolah, aku pasti ikut membantu saat panen di ladang. Mungkin menurut kalian, luas ladang kami tidak seberapa. Ya, kami sangat senang walau hanya dengan ladang seluas ruko mixue ini. Semua orang berhak untuk bahagia.
Namun, pada hari itu, kebahagiaan kami berubah menjadi hitam. Kami kehilangan sosok yang sangat berjasa untuk hidup kami. Ya, seorang pilot dari pesawat kecil ini. Seorang pahlawan dalam cerita hidupku. Ayahku... telah tiada.
Aku melihat ibuku menangis bagaikan hujan badai, tepat di atas jasad ayahku. Ibuku mengusap pipinya, memeluk jasadnya dengan erat seolah bertemu dengan sahabat yang lama tidak berjumpa. Ya, aku harus menggantikan sosok ayah di usiaku yang saat ini menginjak 16 tahun.
"Aku harus bisa menggantikan ayah, aku tidak boleh membuat ibuku menangis lagi." Ucapku menguatkan diri. Aku mendekati jasad ayahku, dan menyampaikan pesan terakhirku tepat di sampingnya.
"Ayah, jika kesalahanku selama ini sudah terlalu banyak, maka maafkanlah diriku. Aku tahu bahwa sudah terlambat untuk meminta maaf padamu, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk saat ini" sambil menahan tangisku sendiri, "... Aku janji, aku akan selalu menjaga ibu bersamaku, dan menemani ibu agar tidak menangis lagi." Lanjutku berjanji kepada ayah. Ibuku yang mendengarnya lekas mengusap air matanya, lalu mengelus kepalaku sembari berkata "Nak... Terima kasih ya" sambil memamerkan senyum manisnya ke wajahku.
Tak lama kemudian, ayah pun dimakamkan. Meskipun setelah itu berakhir ibuku masih sedih, aku selalu berusaha untuk menghiburnya. Dan saat itu pula, aku putus sekolah demi menjaga ibuku sendiri. Tentu saja aku yang menggantikan pekerjaan ayah di ladang.
Kenapa aku putus sekolah? Tentu saja karena aku ingin menjaga ibuku dirumah. Akan kupastikan ibuku tidak bekerja terlalu berat, karena sifatnya sama dengan ayahku. Dan saat ini, usiaku telah mencapai 21 tahun.
Yap, 5 tahun setelah kehilangan sosok pahlawan. Aku sudah mampu menaikkan haji ibuku, dan dia akan berangkat 2 hari lagi. Ladang yang dulu hanya seluas ruko mixue, saat ini sudah seluas 100 lapangan bola, ditambah kerja sampinganku sebagai seorang mekanik bengkel dengan pengalaman kerja saat ini sudah 2,5 tahun.
Semua ini berkat ibuku yang selalu mendoakan yang terbaik bagiku. Meskipun awalnya dia tidak menyetujuiku untuk mencari kerja sampingan.
3 tahun kemudian, aku tidak menyangka bahwa kejadian yang terjadi kepada ayahku, terulang kembali. Ya, ibuku menyusul ayahku. Untungnya, pada saat ini, aku sudah tidak menyesali apa yang telah aku lakukan terhadapnya, karena aku sudah melakukan yang terbaik deminya. Tepat sebelum kafan membungkus kepala, aku mencium keningnya sembari berkata dalam hati "Ibu, apakah aku sudah berhasil? Jika sudah, tolong sampaikan kepada ayah... Dan satu lagi, Maafkan anakmu yang belum bisa mendapatkan seorang menantu untukmu"
Sekejap aku mendengar suara yang membisikkan "nak, kamu hebat! Kamu sudah bisa menepati janjimu."
Tepat disaat suara tersebut berhenti, aku menangis dengan sangat keras... Sama seperti ibu saat kehilangan suami tercintanya. Tak lama kemudian, jasad ibuku pun dimakamkan, tak jauh dari makam ayah.
Beberapa tahun kemudian, rumah yang dulu kami tempati akhirnya akan kurenovasi, sambil meluaskan areanya. Di saat itu aku berfikir, kenangan adalah hal yang berharga. Sangat berharga melebihi apapun. Keputusanku ialah untuk membenahi rumah yang sudah 27 tahun kutinggali demi menjaga kenangan yang ada didalamnya.
Beberapa bulan setelah renovasi dijalankan, aku akhirnya mendapatkan seorang pendamping dan tepat setahun setelahnya, aku juga diberikan seorang buah hati yang sangat cantik.
Terima kasih ayah... ibu...
Makasih udah baca! Ini cerpen pertamaku, aku gatau mau bikin apa... Jadi maaf ya kalau random.. Next bikin cerpen apa lagi yaa??? Coba komen...