Setahun terlewati sudah jalinan hubunganku dengan seseorang yang begitu sangat aku cintai, ia adalah "Dirga". Kami adalah pasangan yang terpisah sementara karena pekerjaan kekasihku di kota yang berbeda.
Suatu hari aku berencana mengejutkannya dengan kehadiranku di tempat tinggalnya di sana. Aku datang dengan seribu rindu yang telah berbulan-bulan ku pendam. Namun di sana, kenyataan lain yang aku dapati. Di balik pintu pagar aku terbelalak melihat wanita yang memeluk erat Dirga kekasihku. Di sudut rumah mereka berdua bercumbu mesra dengan seenaknya.
Seketika itu hancur lebur perasaanku. Amarah seketika berkecamuk di benakku yang sebelumnya telah sangat bahagia. Niatan ingin berikan kejutan, kenapa malah aku yang di kejutkan dengan perselingkuhan. Tanpa sepatah kata akhirnya aku berlari menjauh dari tempat kekasih ku tinggal. Lunglai lemas aku tak sanggup menghadapi petir di siang bolong ini, hingga ku putuskan untuk pergi.
Hari berlalu dengan amarah yang masih tersangkut dalam hatiku. Aku mencoba mencari tahu hal yang sebenarnya dari Rengga, ia teman dekat Dirga di tempat kerjanya. Aku mengajak ia bertemu, untuk menanyakan hal yang sebenarnya Dirga tutupi dariku. Rengga aku paksa untuk berbicara tentang kelakuan Dirga saat jauh denganku. Rengga yang sebelumnya bungkam akhirnya menceritakan bahwa benar Dirga tengah berselingkuh. Nama wanita itu adalah Retno, dia bekerja di tempat yang sama dengan Dirga dan Rengga. Dirga sebenarnya telah menutupi perselingkuhannya telah lama. Rengga mengungkap banyak kebohongan Dirga selama bersamaku. Mendengar hal itu, aku sangat kecewa dan hanya menangis sejadi-jadinya di pelukan Rengga.
Setelah mengetahui semua kebenaran hubungan Dirga dan Retno, aku putuskan untuk bertemu dengan Dirga. Aku menatap dia dengan penuh kekecewaan dan rasa marah. Aku mulai bertanya satu persatu hal yang telah aku pendam berhari-hari. Saat itu, Dirga mengiyakan dan langsung meminta maaf padaku. Dia merayu dan memohon-mohon agar aku tidak marah dan memaafkannya. Aku yang sangat percaya pada ucapan Dirga akhirnya luluh dan memaafkannya. Tapi, syaratnya dia harus menjauhi si Retno dan berjanji tak akan berbuat seperti itu lagi.
Tak terasa lima bulan berlalu hubungan kami masih baik-baik saja. Namun setelah aku putuskan untuk menerima Dirga kembali, hubungan ku dengan Dirga menjadi hambar. Dirga mulai berubah, mulai acuh tak perhatian lagi seperti awal-awal kita berpacaran dahulu. Aku hanya menerka apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan lagi. Hal ini, sama seperti saat aku di duakan saat itu. Aku mulai bertanya-tanya lagi pada Dirga alasannya kenapa dia seperti itu. Namun, Dirga membantah dan mencoba meyakinkanku kembali.
Lalu, pada suatu hari ada sebuah nomor yang tak ku kenal menghubungiku. Terdengar suara seorang wanita yang ternyata adalah Retno. Dia menelpon bukan untuk minta maaf padaku, melainkan memintaku untuk menjauhi Dirga. Aku sangat emosi pada saat ia katakan hal itu, namun aku terpaksa menahan karena suatu hal penting yang ia lontarkan padaku.
"Aku hamil anak Dirga mbak" ucap Retno sambil terisak-isak.
Ucapannya itu seakan mencabik seluruh perasaan, membuat aku termenung memikirkan betapa teganya Dirga padaku.
Setelah seminggu aku mencoba menghubungi kekasihku Dirga. Namun, tak pernah sekalipun dia mengangkat telpon ku. Ternyata benar, Dirga menghindar setelah berhasil melukai dan mencampakkan ku begitu saja. Aku hanya bisa pasrah merelakan yang terjadi pada diriku saat ini. Aku anggap Dirga denganku putus hubungan, meskipun tak pernah ada kata putus di antara kita berdua.
Selang sebulan setelah aku mencoba untuk melupakan semua tentang Dirga. Ternyata Rengga menemui ku dengan sebuah undangan di tangannya. Aku membuka undangan dari rengga dan terkejut melihat nama Dirga dan Retno tertulis di undangan. Lalu, ku letakkan undangan itu di meja, dan ku tatap Rengga yang duduk di sebelahku. Aku tak sedih ataupun kecewa lagi, karena aku telah cukup bahagia bahkan sangat bahagia lima bulan ini.
"Citraku sayang haruskah kita pergi bersama?" Ucap Rengga sambil tersenyum memegang erat tanganku.
Sebenarnya Rengga telah lama memendam perasaan padaku. Namun, dia mengalah pada sahabatnya Dirga. Setelah tahu Dirga selingkuh Rengga ternyata sangat kesal. Lima bulan lalu sebenarnya aku telah meminta putus dengan Dirga. Tetapi Dirga memaksaku untuk tetap mempertahankan hubungan kita. Rengga dan aku semakin dekat sebenarnya mulai saat itu. Hubungan kita di bilang teman tapi ternyata kita sudah lebih dari sebatas teman.
Selama lima bulan aku yang dengan terpaksa melanjutkan hubunganku dengan Dirga. Tanpa Dirga ketahui aku juga memiliki hubungan yang lebih spesial dengan Rengga. Bagiku, Rengga sangat perhatian dan menjagaku pada masa-masa itu sampai kini pun tetap begitu. Meski Rengga tahu kalau dia hanya hubungan tanpa status denganku, bisa di bilang kali ini aku yang mendua dari Dirga.
"Aku bahagia denganmu Rengga, berjanjilah jangan pernah mendua" ucapku padanya.
Rengga mengangguk lalu mengecup keningku dan memeluk diriku dengan erat.
TAMAT