Pada hari itu, nasib ku sangat buruk. Kurang buruk apa lagi hidup ku ini. Hutang yang melilit, dompet hilang, tidak bisa bayar uang kos, ditambah sekarang aku sekarat di pinggir jalan karena tertabrak truk.
Apakah ada yang lebih sial lagi dari semua ini?
Perlahan aku menutup mata dan entah kenapa sekarang aku berpindah kesebuah tempat yang hampa, keadaan sekitar sini berwarna kelabu seperti tanpa warna.
Aku melihat tanganku yang sekarang berwarna hitam keputihan seperti mayat orang yang tenggelam, pucat kehitaman.
Aku tak punya pilihan lain selain menyusuri jalan yang masih terlihat dimata, pijakan yang aku injak sekarang seperti rumput tanpa warna.
Meski ada beberapa batu yang terdapat di sekitar sana, namun sama saja seperti tidak ada batu sama sekali karena warnanya yang membuat batu tersebut hampir tak bisa di temukan.
Semakin lama aku berjalan, aku sepertinya melihat secercah cahaya yang makin lama makin bersinar. Cahaya tersebut seperti memanggil ku " Hey...Hey... " Dengan suara yang pelan tapi jelas.
Aku berjalan dengan cepat untuk mengejar cahaya tersebut, dari berjalan mulai berjalan cepat, dari berjalan cepat aku mulai berlari untuk mengejar cahaya tersebut yang sekarang sudah hampir pudar karena jarak antara kami berdua yang semakin lama semakin jauh.
Cahaya tersebut berhenti di hadapan sebuah goa yang sangat besar dan juga sangat gelap. Aku yang baru sampai di samping cahaya tersebut sudah tak mampu berlari. Degup jantungku terdengar jelas karena lelah berlari mengejar cahaya itu.
Cahaya yang dari tadi ku kejar sekarang ia masuk kedalam tubuhku, ia menyinari tangan kananku. Tangan kananku yang tadinya berwarna hampa, kini bersinar terang yang memungkinkan diriku untuk masuk kedalam goa yang gelap gulita tersebut.
Aku sempat mendengar Auman suatu makhluk yang entah makhluk apa itu, suaranya sangat keras seperti induk binatang yang sangat marah karena anaknya di ambil. Aku memberanikan diri untuk masuk kedalam goa, setelah menelan ludah yang terasa berat, aku pun masuk kedalam goa tersebut dengan hanya berbekalkan cahaya di tangan kananku.
Aku terus berjalan menyusuri jalan yang gelap itu. Semakin lama aku berjalan, semakin aku merasakan sepertinya aku disini tidak sendiri, ada makhluk lain yang tengah berjalan tanpa arah di goa tersebut. Suara hentakan kakinya semakin jauh dan mulai menghilang, membuat aku tenang untuk beberapa saat.
Akan tetapi, tiba tiba makhluk tersebut muncul tepat di hadapan ku, mulut ku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun karena melihat wajah makhluk tersebut yang sangat menyeramkan. Bentuknya seperti wajah manusia yang hancur dengan tanduk kambing di kepalanya.
Ia mencondongkan tubuhnya untuk merasakan sesuatu di yang ada di hadapannya. Tak sampai semenit ia melakukan hal itu, makhluk dengan rupa yang menyeramkan itu pun membalikkan badannya dan mulai pergi menjauh. Aku berusaha untuk mengatur degup jantungku yang tidak teratur dan berusaha untuk menganalisis keadaan.
Aku menyadari bahwa makhluk tersebut tidak bisa melihat dan mencium, serta langkah kakinya yang juga berbeda dari makhluk biasa. Kalau jaraknya jauh dari ku maka suara langkah kakinya akan semakin dekat ( kencang ). Begitu pula sebaliknya, jika ia berada di dekat ku maka suara langkah kakinya akan menghilangkan ( pelan ).
Aku berpikir ini kesempatan ku untuk pergi menjauh dari makhluk tersebut. Dengan perlahan tapi pasti, aku berjalan menjauhi makhluk itu. Untuk sementara aku terbebas dari masa - masa mencekam, tapi sepertinya kesialan masih terus mengikuti sampai ke tempat yang aneh ini. Ternyata makhluk dengan wujud yang menyeramkan tersebut tidak hanya ada satu, melainkan masih ada beberapa makhluk yang sama lainnya, yang juga sedang berkeliaran di dalam goa tersebut.
Aku tetap berusaha menjaga ketenangan agar detak jantungku tidak sampai terdengar oleh makhluk tersebut. Aku melihat ke segala arah agar tidak sampai menabrak mahluk itu, tapi tanpa sengaja aku keselandung oleh batu kecil yang ada di goa tersebut dan hal itu tentunya menarik perhatian para makhluk menyeramkan itu.
Aku terduduk tak berdaya karena mereka semua mencoba mendekat untuk menangkap ku, disaat ada kesempatan aku pun berlari sekuat tenaga untuk bersembunyi di salah satu celah goa. Tentu saja para makhluk tersebut mengejar ku, tapi untungnya disaat hampir terpojok, mereka tidak bisa merasakan keberadaan ku karena disaat yang menegangkan tersebut, aku berhasil menemukan tempat untuk bersembunyi.
Mereka mencoba mencari-cari ku yang sedang berusaha untuk menenangkan diri di celah-celah goa yang gelap gulita itu. Salah satu dari mereka menoleh kearah celah tempat aku bersembunyi, jantungku berdegup kencang, napas ku mulai sesak dan pandangan ku mulai gelap. Tatapannya sungguh mengerikan, wajahnya hancur, matanya tajam mengarah kearah ku meski ia tak bisa melihat.
Makhluk tersebut pun akhirnya pergi menjauhi tempat dimana aku bersembunyi. Aku rasa mereka semua sudah pergi menjauh karena langkah kaki mereka semua terdengar jelas di telinga ku. Setelah keluar dari celah-celah Goa, suara yang sama seperti cahaya diawal sebelum aku masuk ke goa pun terdengar.
Ia memanggil ku dengan lembut, cahaya dari kejauhan mulai terlihat dimata ku. Tanpa berpikir panjang, aku pun berjalan mengikuti arah cahaya tersebut seperti di awal. Aku berjalan pelan karena takut makhluk menyeramkan tadi mengejar dan menangkap ku. Sedikit demi sedikit aku berjalan menuju arah cahaya dengan hati-hati sambil melihat ke segala arah agar tidak berpas-pasan dengan makhluk tersebut.
Akhirnya aku berhasil mencapai jalan keluar dari goa berisi makhluk menyeramkan itu dan mulai berlari kearah cahaya dengan sekuat tenaga. Meski tersandung batu dan terjatuh ketanah, aku tetap berlari dan terus berlari menuju cahaya yang sedari tadi memanggilku.
Aku berlari sampai memasuki sebuah hutan yang nuansanya sama saja, hampa dan tak berwarna. Hanya ada warna hitam saja sejauh mata memandang, meski tubuhku tergores-gores oleh ranting pohon yang tajam. aku terus berlari keara cahaya itu dan akhirnya sampai di tengah-tengah hutan.
Aku mendekati cahaya yang berada di tengah-tengah hutan dan kemudian cahaya itu masuk kedalam tubuhku. Membuat tangan kiri ku sekarang berwarna putih bersinar seperti tangan kanan. Sesaat setelah cahaya tersebut masuk kedalam tubuh ku, ia mengeluarkan sepatah kata
" semangat...".
Suaranya lembut dan memberikan aku semangat untuk terus melanjutkan perjalanan ku di tempat aneh ini. Aku beristirahat sejenak di tengah-tengah hutan itu sambil meratapi nasib ku yang begitu sial. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah ini hukuman dari Tuhan kepada ku?.
Hidup ku susah, selalu kena sial, dan bahkan sepertinya sekarang aku sudah mati dan terjebak di tempat yang sangat menyiksaku seperti neraka. Pikiran ku kacau saat itu, tapi setelah beberapa menit kemudian aku pun beranjak dari duduk dan mulai menyusuri jalan. Seekor kucing kecil menuntunkan ku untuk pergi ke tempat yang tidak aku ketahui.
Karena hanya ada satu pilihan yaitu mengikuti kucing itu, aku akhirnya mengikuti seekor kucing kecil tersebut pergi ke tempat aneh lainnya.
Sepanjang jalan, aku hanya melihat pepohonan tanpa warna dan di tutupi oleh kabut tebal. Untungnya kucing kecil membantu ku untuk menunjukkan jalan. Tentunya dalam perjalanan ini akan ada rintangan lagi, hutan yang luas dan gelap ini ternyata memiliki jebakan yang berupa makhluk aneh berukuran kecil, sekecil buku tulis. Ia bergigi tajam dan bisa beterbangan kesana kemari.
Dengan hati-hati dan waspada, aku melangkah maju mengikuti kucing kecil yang sama sekali tidak di serang oleh makhluk aneh itu meski ia menginjaknya.
Aku dan kucing akhirnya sampai di sebuah rawa-rawa yang luas. Di tengah rawa tersebut terdapat sebuah rumah kecil yang di tempati oleh seseorang, terbukti dari lampu rumah yang menyala berwarna oranye.
Si kucing kecil langsung duduk di sebuah sampan yang berada di pinggir rawa. Aku juga ikut bersama si kucing kecil untuk naik ke sampan dan mendayungnya untuk pergi ke arah rumah kecil di tengah-tengah rawa.
Saat mendayung sampan, aku hanya bisa melihat tanaman-tanaman rawa yang warnanya tak berbeda dari hutan yang ku lihat sebelumnya. Suasananya menjadi tegang dan mencekam karena suara gemericik air serta kayu dayung sampan sajalah yang bisa aku dengar dalam perjalanan.
Si kucing kecil yang sedari tadi menjilati tubuhnya sekarang ia beranjak dari depan sampan dan berjalan menuju kebelakang ku. Bersamaan setelah kucing berlindung di belakang ku, sebuah makhluk aneh muncul dari air rawa dan naik ke sampan. Makhluk tersebut berbentuk seperti manusia setengah ular dengan rambut yang sangat panjang melebihi ekor ularnya sendiri.
Ia menggoyang-goyangkan sampan agar aku dan kucing kecil terjatuh ke air yang berwarna hitam. Wajahnya yang menyeramkan membuat diriku takut untuk menghadapinya, tapi aku mempelajari satu hal di alam yang aneh ini yaitu, segeralah bertindak sebelum terlambat.
Dengan berani aku menendang wajah makhluk yang jelek serta menjijikkan itu lalu memukulnya menggunakan tangan kananku. Seketika terjadi ledakan cahaya yang membuat mata makhluk tersebut kesakitan dan masuk kembali ke air.
Memberikan aku kesempatan untuk mendayung sampan sampai ke daratan yang sudah tak jauh lagi jaraknya. Baru saja sampan berhenti di daratan sebrang, aku langsung menggendong si kucing kecil dan melompat dari sampan lalu berlari pagi menuju rumah yang lampunya menyala.
Nafas ku terengah-engah karena lelah berlari, kucing kecil diam di depan pintu masuk rumah kecil itu. Ia tak mau masuk meski aku mendorongnya dengan pelan supaya mau masuk bersama ku.
Tapi apalah daya, kucing tersebut hanya ingin menunggu diluar dan tidak ingin masuk menemaniku. Didalam rumah itu tampak normal seperti rumah kayu biasanya, seorang wanita juga tampak sedang menyiapkan makanan untukku, seakan tau bahwa aku sudah pulang.
Perawakannya sangat cantik rupawan seperti bidadari. Ia menyuguhkan makanan di atas meja dan memanggil ku dengan lambaian tangannya yang lembut dan menarik. Aku duduk di meja makan dengan waspada dan berhati-hati, karena ini adalah alam yang penuh dengan rintangan dan penderitaan.
Sebelum makan, aku menanyakan pertanyaan kepada wanita cantik tersebut. " kamu... Siapa sebenarnya? " ia menatapku dengan tatapan yang manis dan mulai menyentuh pipi ku sembari berkata " Sudah... Kamu pasti lelah.. ayo kita makan dulu "
Aku merasa ada yang tidak beres dengan wanita ini. Siapa dia? Kenapa dia ada di sini dan tiba-tiba saja menyajikan makanan untukku?.
Aku pun berdiri karena ingin segera pergi dari tempat itu. Tapi saat aku membalikkan badanku kearah pintu keluar, pintu tersebut sudah di tutup oleh benda hitam aneh. Wanita tersebut mulai melontarkan kembali perkataan manisnya
" Sudahlah... Ayo kita makan dulu, sini aku suapi.."
Aku perlahan berjalan mendekati wanita tersebut. Apa yang harus aku lakukan? Memukulnya? Tapi dia pasti adalah makhluk aneh lagi seperti tadi. Aku tidak punya pilihan lain, kata kata bertindak sebelum terlambat selalu terdengar di telinga ku pada saat itu.
Akhirnya aku pun memukul kepala wanita tersebut dengan menggunakan tangan kiri ku yang membuat area dalam rumah seketika menjadi berwarna hitam pekat. Wanita tadi juga menghilang dan saat muncul, wajahnya sangatlah mengerikan. Mulut yang terbuka, lidah yang menjalar keluar dari mulut sampai menyentuh pijakan serta mata yang melotot dan mengalirkan darah terus menatapku dengan tajam.
Pada saat itu aku hanya bisa pasrah dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak bisa lama-lama berfikir dan akhirnya teringat dengan ledakan cahaya sebelumnya yang membuat manusia setengah ular itu kembali ke air.
Wanita cantik yang perawakan sekarangnya sudah jadi sangat menyeramkan berteriak dengan keras sampai-sampai membuat gendang telinga ku hampir pecah. Ia juga mulai mencakari ku dengan kukunya yang tajam. Aku tidak akan tinggal diam begitu saja, saat wanita itu ingin menyerang, aku juga menyerang wajahnya dan membuat ledakan cahaya untuk membuatnya terkecoh sementara.
Dalam kegelapan yang tanpa dasar itu, aku melihat cahaya dari kejauhan. Ingin rasanya aku berlari sekencang mungkin, tapi sayangnya gerakan wanita berperawakan mengerikan itu sangat cepat dan langsung menangkap kakiku. Aku juga memukul kepalanya dan kembali membuat ledakan cahaya, ia pun kesakitan dan memegangi kedua matanya yang mengeluarkan darah.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan mulai berlari ke arah cahaya yang tampaknya sangat jauh itu. Mulai lah kami berdua bermain kejar-kejaran kematian. Jika aku tertangkap, bisa-bisa aku terjebak disini selamanya.
Aku berlari sekencang-kencangnya sambil berjanji pada diriku sendiri agar tidak menoleh kebelakang dan tetap berlari menuju cahaya apapun yang terjadi. Tak perduli dengan apapun atau siapapun yang memanggil ku dari belakang, aku tidak boleh menoleh kebelakang.
Wanita dengan wajah menyeramkan itu mengeluarkan berbagai macam suara, seperti suara pacar ku, suara ibuku, ayahku, adikku dan bahkan suara teman baikku hanya untuk memancing ku agar menoleh kebelakang.
Saat mendengar suara pacar dan ibuku tadi, aku hampir saja menoleh kebelakang. Tapi untungnya aku mengingat wajah wanita tersebut yang sangat amat menyeramkan dan mengurungkan niatku untuk menoleh.
Akhirnya aku aku masuk kedalam cahaya dan berpindah ketempat aneh lainnya lagi. Wanita yang mengejarku berteriak marah karena tak bisa mendapatkanku.
Si kucing kecil juga sudah ada di tempat aneh ini untuk menunggu diriku. Tempat ini hampa, aku hanya bisa melihat warna putih dimana-mana. Si kucing kecil mengeong seperti menyuruh ku untuk mengikutinya, aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti si kucing kecil itu.
Langkah demi langkah aku jalani dan sampai akhirnya si kucing kecil menyuruh ku untuk memukul benda putih yang aku pijak sekarang. Demi melanjutkan perjalanan ini, aku pun menuruti perintah kucing kecil tersebut dan memukul-mukul pijakan yang sedang aku pijak sekarang.
Tak disangka, pijakan tersebut pecah dan aku akhirnya terjatuh kedalam lubang hitam aneh. Didalam sana aku sangat menderita, aku seperti mati berkali-kali. Di hancurkan, di belah, di kelitiki, di remukkan, dan itu semua di lakukan tanpa henti terus menerus. Tidak tahu dimana, kapan, dan apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku saat ini.
Hanya rasa sakit yang amat luar biasa saja yang aku ingat. Sekali lagi aku merenungkan kehidupan ku yang lama dan merasa menyesal karena telah menyia-nyiakannya. Jika saja aku bisa hidup kembali, aku pasti akan menjalani hidup ini dengan baik dan tak akan melakukan hal yang tidak berguna di dunia.
Hanya itu lah yang terbesit di pikiranku disaat terus menerus merasakan sakit yang luar biasa. Entah apa yang terjadi kepada diriku saat itu, aku tiba-tiba terbangun di ruang hampa berwarna hitam pekat. Cahaya di tangan ku kemudian menuntun ku untuk berjalan mengikutinya.
Aku bahkan tak berdaya mengedipkan mata, tapi tetap berjuang untuk mengikuti cahaya tersebut yang tampaknya ingin membimbing ku ke sebuah pohon cahaya yang terletak tak jauh dari tempat aku sadarkan diri.
Di batang pohon cahaya tersebut terdapat pintu yang terkunci rapat. Cahaya yang keluar dari kedua tangan ku tadi membuka pintu tersebut. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri " apakah ini sudah berakhir? ". Dengan tertatih-tatih, aku berjalan mendekati pohon cahaya itu dan masuk kedalam pintu yang telah terbuka lebar untuknya.
Aku masih ragu untuk masuk kedalam pintu tersebut, tapi dengan tekad untuk keluar dari alam yang aneh ini, aku memberanikan diriku untuk masuk kedalam pintu tersebut.
Dan tiba lah kehidupan ku yang baru. Menjadi anak dari seorang petani desa yang entah berada di mana ini. Bahasa mereka juga sangat asing di telinga ku, bukan inggris ataupun Rusia. Bahasa ini tak pernah aku dengar sebelumnya, tapi yang paling penting adalah.
Aku pasti tidak akan menyia-nyiakan kehidupan kali ini. Entah dimana dan anak siapa diriku yang sekarang, kehidupan baru sedang menanti ku.
END