hari ini merupakan hari yang spesial bagi aku dan teman-teman ku.
kami akan melakukan ritual di atap sekolah, dari pada ritual, sebenarnya kami lebih nyaman menyebutnya sebagai permainan, yang kami temukan di sebuah rumah kosong dekat sekolah.
kami bukan anak-anak nakal, kami hanya tertarik melakukan hal-hal berbahaya dan unik. seperti menelusuri tempat sepi, mencoba permainan baru yang kadang tidak disarankan untuk anak seusia kami.
namaku agung aku baru berumur 17 tahun sekarang, dua teman ku yang lain lebih tua setahun dari ku, ghaza dan abdi. dan satu-satunya teman kami yang perempuan elisa, baru berusia 15 tahun. kami menjadi teman karna kebetulan sering menghabiskan waktu di atap sekolah saat jam istirahat setahun yang lalu.
karna selalu bertemu, aku memutuskan untuk memberanikan diri berbicara dan berteman dengan mereka.
tidak semudah itu untuk menjadi teman mereka, sifat mereka sangat jauh bertolak belakang. terlalu panjang jika ku ceritakan bagaimana mereka akhirnya bisa akur dan kami berempat menjadi sahabat yang memiliki tingkat keberanian dan hobi yang sama.
ting...ting.ting.ting...
suara bell sekolah berbunyi. menandakan sudah waktunya pulang.
bergegas aku keluar dari kelas dan menuju kelas elisa untuk mengajak nya ke atap, kami harus naik duluan untuk memastikan atap tidak terkunci.
" gung.. kira-kira jam berapa abdi kesini? dia bilang akan sedikit terlambat untuk datang."
omel elisa karna seperti biasa abdi selalu menjadi yang terakhir datang setiap kami memutuskan untuk bertemu.
"tenang... kurasa kali ini kita tidak perlu menunggu begitu lama, toh dia yang paling bersemangat untuk memainkan permainan itu."
aku berusaha menenangkan elisa agar ocehannya tentang abdi tidak berlarut larut.
kami sampai di atap tempat kami janjian bertemu, dan ternyata ghaza sudah tiba duluan dengan bola kaca yang akan kami mainkan.
"wooo sudah tidak sabar kah za? cepat sekali kau sampai hahaha."
kataku sambil merangkul nya dan melihat bola kaca yang di pegangnya.
"tidak juga.. kelas ku duluan selesai karna gurunya tidak masuk." sanggah ghaza.
"uhhh si bocah itu pasti akan butuh waktu lama, bahkan hanya untuk sekedar naik tangga."
lagi-lagi elisa mengomel kesal karna sisa abdi yang belum datang.
kami hanya tertawa dan bercerita sedikit tentang bagaimana hari ini.
sudah setahun lebih kami berteman, kami bertukar cerita tentang banyak hal, tapi tidak tentang keluarga. itu bukan topik yang kami sukai, jadi kami terbiasa menghindar untuk membahasnya.
satu yang aku tau dari mereka bertiga, ghaza, abdi, dan elisa. mereka dari keluarga yang terbilang kaya, memiliki uang untuk membeli apapun yang mereka mau.
dan kehidupan mewah di rumah. aku juga seperti mereka, jadi kami tidak pernah saling menyombongkan sesuatu, atau berusaha pamer akan hal-hal yang kami miliki.
brakkk.…
suara pintu dari arah tangga, seseorang mendobraknya.
akibat suara itu kami spontan menoleh ke belakang, dan itu abdi.
dia berlari ke arah kami bertiga dengan senyumnya yang sangat lebar.
" sorry bro, you know lah, orang sibuk nih bos hahahaha.."
kata abdi yang baru tiba sejam setelah kami menunggu, kami bersyukur setidaknya tidak harus menunggu lebih lama lagi dari itu.
saat ini sudah jam 5 sore, matahari mulai tenggelam. dari atas kami melihat ke bawah, dan tampaknya gerbang sekolah mulai di tutup. yang artinya kini kami akan benar-benar sendirian di sekolah yang luas ini.
"oke.. bagaimana kalau kita langsung mulai saja?" kata ghaza.
"bentar bro, capek banget ini lari ke atas sininya, lu gak liat keringat gw." kata abdi sambil mengipas ngipaskan baju nya.
kami bercerita lagi, tertawa terbahak bahak karna abdi sekarang ada dengan kami. dia itu pencair suasana. leluconnya selalu berhasil membuat kami tertawa lepas.
elisa yang awalnya marah karna abdi telat juga tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa. kami menikmati sore itu.
matahari makin tenggelam, rasanya sekarang sudah separuhnya di telan bumi. disisi lain bulan mulai naik. siap menggantikan tugas matahari. angin sore itu benar-benar sejuk, dan pemandangan dari atap yang sangat indah.
kami memulai permainan
di tulisan yang ada di tatakan bola kaca itu, terdapat tulisan.
'aku bola ajaib
baca mantra ini,maka dalam hari yang sama
keiginan kalian akan terwujud.'
ada tulisan lain di bawahnya tapi sudah buram karna terhapus lumut.
kami menghiraukannya, dan mulai membaca mantranya.
tidak ada yang terjadi,kami hanya saling menatap beberapa menit, dan tidak ada yang berubah.
“ahhhh sial, gagal lagi.. padahal bolanya tampak meyakinkan..” gumam abdi kesal
“sudahlah, ayo pulang dan cari mainan lain.” ghaza mencoba menenangkan kami yang kecewa
Aku dan elisa setuju saja pada ghaza untuk pulang, walaupun kami memang cukup kecewa.
Saat Kami mulai melangkah menuju tangga, terdengar suara pecah kaca yang membuat kami langsung berbalik.
Kami melihat anak laki-laki lain ada disana.
rambut nya putih, dengan mata birunya, dan cara berpakaiannya yang klasik.
Dia sangat tampan, seperti malaikat.
Anak itu tampak seumuran dengan kami.
Dia mebawa sebuah kayu seperti ranting pohon yang agak tebal. Dan sepertinya dia yang memecahkan bola kaca yang sengaja kami tinggalkan itu.
“siapa?” aku memberanikan diri untuk bertanya
“aku? Aku harapan kalian” balasnya dengan suaranya yang benar-benar lembut.
Aku terdiam, terpaku padanya.
Elisa, ghaza, dan abdi juga sama.
Kami berempat tau betul hanya kami yang ada di atap, dan pintu menuju ke sini hanya ada 1. karna itu kami sangat percaya dia memang bukan anak sekolah ini.
“kenapa diam saja, ayo, aku akan membuat kalian menikmati waktu hari ini.” dia mendekati kami dan mengajak kami untuk pergi.
Lagi-lagi karna masih tidak sepenuhnya paham apa yang terjadi, antara takut dan penasaran. Akhirnya kami mengikutinya.
Kami bermain, permainan anak-anak SD.
Kemudian main di taman hiburan, elisa sangat ingin pergi ke taman hiburan, tapi dia selalu menolak saat kami mengajaknya. Anehnya hari itu, dia sangat menurut pada anak laki-laki itu.
Elisa menggandengnya seperti anak kecil yang menggandeng ayahnya.
Anak itu juga tampak sangat sabar dan penuh senyum pada elisa.
Lagi dan lagi kami mencoba semua permainan, mataku tertuju pada elisa. Tidak pernah sebelumnya, aku melihatnya sebahagia itu. Matanya berbinar-binar. Dia tampak seperti bocah 5 tahun.
Setelah menghabiskan waktu di taman bermain, hujan turun.
Kami menepi ke toko roti dekat taman.
Sudah malam, kami lapar, bau roti dan hujan bercampur.
Lampu kuning tua, membuat suasana dingin hujan menjadi hangat.
Abdi termenung, aku kebingungan dia kenapa.
“kenapa abdi?” tanya ku
“tidak,aku hanya…”
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, anak laki-laki aneh itu langsung menarik tangan abdi masuk ke dalam toko roti.
Kami pun ikut masuk ke dalam.
“roti ini kan? Ambil lah, sebanyak yang kau mau. Ini toko tua, sudah mau tutup karna orang jaman sekarang lebih menyukai tempat modern dan bergensi, bukan toko kecil dan kumuh seperti ini. Tapi tenanglah, aku jamin rasanya akan sama.”
Kata anak itu sambil menawarkan sebuah roti pada abdi.
Aku penasaran bagaimana dia memiliki uang sebanyak itu dan menghabiskannya hanya untuk kami. Tapi di bandingkan itu, aku lebih penasaran ketika melihat abdi makan sambil menangis.
Aku tidak paham dan tidak mengerti, aku hanya ikut makan dengan elisa dan ghaza yang sibuk mencoba berbagai macam roti disitu.
Abdi terus memakan jenis roti yang sama,dan terus menagis.
Rasanya aneh melihat abdi yang selau tertawa menangis seperti itu.
Hari semakin malam, sudah jam 9 malam sekarang. Kami biasa main sampai malam, tapi kami punya jam pulang yang kami tetapkan sendiri.
Jam 9
Ghaza mulai tampak cemas, dan aku sadar, sepertinya hari ini sudah cukup. Kami harus segera pulang. Setahuku ghaza memang anak yang berprestasi di sekolahnya, dia pernah cerita saat aku bertanya apa mereka tidak apa pulang malam, ghaza bilang orang tuanya tidak peduli apapun selain nilai, tapi jika dia pulang lebih dari jam yang di tentukan dia akan di biarkan bermalam di depan pintu rumah. Karna itu aku paham mengapa dia cemas.
Sayangnya hujan semakin deras. Dan hp kami semua mati karna dayanya sudah habis, tidak heran kami memakainya seharian untuk mengambil gambar dan video.
Lagi dan lagi ghaza semakin bertingkah seolah mencemaskan sesuatu, kami keluar dari toko roti.
Dan berfikir bagaimana cara pulang dengan cuaca seperti ini.
“ tunggu disini”
Kata anak aneh itu yang tiba-tiba memecah keheningan di antara kami.
Dia berlari di tengah hujan dan kegelapan malam.
Kami ingin mengikuti tapi dia meminta kami untuk menunggu.
Lucunya, kami seperti anak kecil yang tidak bisa menolak.
Kami diam saja, dan berharap dia akan kembali sesegera mungkin.
Tak lama kemudian dari kejauhan kami melihat seseorang datang dengan payung pink dan bunga-bunganya. Sangat norak, payung itu populer jaman dulu. Sekarang tidak lagi, bagi anak muda, semakin polos motifnya semakin keren payungnya.
Sedangkan payung yang dia pake itu nampak sangat kontras di tengah hujan dengan warna dan motifnya yang ramai.
Dia datang dengan kantong hitam, berisi tiga jas hujan plastik.
“abdi, agung, elisa. Kalian bertiga pakai jas hujan ini.”
Kata anak aneh itu
“baiklah, uh? Bagaiman dengan ghaza? Kenapa kau tidak membeli 4 untuk kami?” kataku, sambil memasang jas hujan yang dia beli.
“dia akan memakai payung dengan ku hingga ke halte bus terdekat, kalian tenang saja.”
Cukup puas mendengar jawabannya, tampa ragu kami bertiga memakai jasnya dan mulai berjalan menembus hujan.
Anak aneh itu menarik tangan ghaza yang dari tadi termenung di depan toko roti.
Tidak tau apa yang mereka bicarakan, ghaza akhirnya merangkulnya dan berjalan di bawah payung pink itu.
Ghaza tampak tenang, dia tidak cemas lagi. Mereka berjalan di belakangku, sesekali aku menoleh untuk melihat ghaza, dia tersenyum sangat manis, pertama kalinya bagiku melihatnya seperti itu.
Tangan satunya merangkul anak aneh yang sedang memegang payung. Dan tangan satunya memainkan air yang jatuh dari ujung payung. Sangat lucu, lagi-lagi aku seperti melihat ghaza versi anak kecil.
Setelah berjalan cukup lama, kami sampai di halte bus.
Kami semua naik, kami seperti terhipnotis, itu hari yang panjang dan menyenangkan.
Perjalan pulang di temani hujan yang tidak berhenti. Anak aneh itu mengantar kami satu persatu.
Dari elisa, abdi, kemudian ghaza.
Ada perasaan aneh saat mereka mau turun dari bus.
Rasanya senyuman mereka menjadi sangat hangat, ada rasa sedih melihatnya. Aku seperti tidak mau membiarkan mereka pulang. Tatapan mereka seperti seseorang yang mau mengucapkan salam perpisahan, entah apa maksud dari itu.
Sekarang sudah hampir tengah malam, hanya sisa aku dan anak aneh yang sedari sore mengajak kami bermain dan berkeliling.
Kami sampai di halte dekat rumahku, saatnya pulang. Permainan sudah selesai.
“agung…”
Anak aneh itu menahan tangan ku,kemudian melanjutkan kata-katanya.
“hari sudah hampir berakhir, sisa kau.
Aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu, Kau harus melakukannya sendiri.”
Aku tidak paham, tapi tiba-tiba dia mengeluarkan kertas dari sakunya, seperti surat yang entah kapan dia menulisnya.
“Baca saat sudah sampai di rumah. Tugas ku sudah selesai, terimakasih sudah bermain. Aku hanya melakukan tugasku, semoga kalian menikmatinya”
Itu adalah kata terakhir dari nya, aku turun dari bus, dan melihat busnya dan dia pergi, tampa menoleh sedikit pun.
Tapi dengan jelas aku melihatnya dari samping bus. Dia menangis.
Karna penasaran aku segera pulang, dan seperti biasa rumah sepi. Sangat sepi, ibu dan ayah belum pulang. Mereka sibuk. Sangat sibuk. Rumah seluas ini terlalu sepi untukku, aku tidak menyalakan semua lampu karna aku tidak begitu menyukai terang.
Aku membuka surat yang tadi. Dan kaget saat membaca isinya adalah resep sup. Aku bingung tapi di satu sisi aku tau kenapa dia memberiku ini.
Pukul 23.15 aku mulai memasak mengikuti resep itu.
Aku memang selalu mencoba memasak ini, tapi selalu gagal. Aku memang tidak berbakat memasak. Tapi hari itu, aku mengikuti setiap tahap mulai dari memotong, hingga akhir. Semuanya berjalan lancar. Sangat lancar.
23.45
Sup nya sudah masak, dan siap di makan.
Hujan deras di luar, hanya lampu dapur yang ku nyalakan.
Dan aroma sup yang sangat persis seperti masakan ibu, akhirnya bisa mencobanya lagi.
Aku menata meja untuk tiga orang, seperti dulu.
Saat makan, tampa sadar air mata ku terus menetes. Berlomba dengan hujan di luar, dadaku rasanya sesak, tapi di satu sisi sangat lega.
23.55
Aku meninggalkan meja makan, menulis pesan agar ibu dan ayah memanasi dulu sebelum memakannya nanti. Semoga mereka menyukai supnya. Aku Kemudian berjalan ke kamar.
Aku paham apa yang terjadi mulai tadi sore, aku tau apa yang di minta teman-teman ku, dan apa yang akan terjadi padaku.
Ada tali yang selalu ku simpan di bawah kasur ku, sudah lama ingin ku lakukan tapi tidak pernah terjadi karna sup ku rasanya tidak enak.
Hari ini keinginan ku terwujud dan sepertinya teman-teman ku juga begitu.
Aku mengikat tali tersebut, tidak seperti saat membuat sup tadi kali ini tampa panduan dan arahan.
Aku melakukannya.
Tepat pada pukul 23.59, keinginan ku terwujud.
Tulisan yang tidak terbaca dari tatakan bola ajaib ternyata
‘aku bola ajaib
baca mantra ini,maka dalam hari yang sama,
keiginan kalian akan terwujud.
Pangeran kematian akan menuntun kalian mendapatkan hal yang paling ingin kalian lakukan sebelum mati. ia akan menjadi wakil dari semua keinginan dan pesan mu.
Hanya orang dengan keinginan mati yang kuat yang bisa melihat pangeran kematian’
4 anak itu memiliki kisahnya masing-masing, mereka memiliki keinginan dan deritanya yang tidak ingin mereka bahas. yang pangeran kematian tau, adalah apa yang mereka akan lakukan setelah ia mengabulkan permintaannya.
Elisa ingin ketaman bermain bersama ayahnya lagi.
Abdi ingin memakan roti buatan ibunya.
Ghaza ingin di jemput dan jalan-jalan dengan orang tuanya di tengah hujan.
Agung ingin membuat masakan terbaik, seperti masakan ibunya dulu.
-end