Cerita ini lanjutan dari cerita ikhlasku yang menceritakan seorang Anisa yang harus merelakan suaminya Adam untuk menikah lagi dengan wanita pilihan dari ibu mertuanya dan wanita itu bernama Maryam, dikarenakan Anisa tak juga memiliki keturunan setelah 5 tahun lamanya dia membina rumah tangga dengan Adam.
Pagi itu hari diawali dengan hujan yang lumayan deras hingga membuatku malas untuk keluar karena hawa yang dingin. Dan seperti biasa aku melakukan segala kegiatan serta aktivitas rumah mulai dari menyapu, mengepel dan memasak.
Awalnya aku merasa biasa saja dan tak merasakan apa pun, karena aku berfikir dengan mendekatkan diri pada Rabbku maka aku akan bisa mengatasi segala rintangan ini dengan baik.
Dari balik jendela aku menerawang keluar untuk melihat derasnya hujan pagi itu, sekilas terpikir dalam benakku "tuhan kau sungguh adil dalam segala hal di dunia ini, bahkan saat bumi ini kering dan seluruh tanaman gersang maka engkau akan menurunkan hujan sebagai penyubur." Gumamku dalam hati sambil tersenyum tipis.
Sejak hari pernikahan mas Adam suamiku dan wanita pilihan dari ibu mertuaku yang bernama Maryam, aku diminta untuk keluar dari rumah itu oleh ibu mertuaku dengan alasan agar istri baru mas Adam suamiku tak merasa canggung denganku.
"Nisa, sebaiknya kau mengerti bagaimana perasaan seorang wanita, apa lagi dia baru saja menikah, jadi kau harus memberikan kelonggaran pada Adam dan Maryam agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama, jadi sebaiknya kau pergi dan keluar dari rumah ini untuk tinggal di rumah baru yang kubelikan untukmu.” Itulah ucap ibu mertuaku yang membuatku tak berdaya untuk menolak.
Rumah baru sebagai kompensasi atas persetujuanku yang mengizinkan mas Adam untuk menikah lagi, "jujur, kadang aku merasa bingung sebenarnya apa yang sedangku perjuangkan di sini, dan siapa yang harusku mengerti." Gumamku yang merasa bingung dengan semuanya.
"Anisa, aku tau kamu adalah istriku yang sangat baik. Aku ucapkan terima kasih atas ijin dan persetujuanmu, dan aku akan sering mengunjungimu nantinya." Begitulah ucap mas Adam padaku.
Mas Adam berkata begitu seolah itu sangat mudah untukku lakukan, dan dia mengatakan semua kalimatnya seakan-akan dia tak memikirkan dengan perasaanku.
Kepergian mas Adam setelah mengantarku ke rumah baru yang dibelikan oleh ibu mertuaku, aku mulai merasakan kekosongan dalam diriku yang tak aku mengerti.
Sudah lewat 3 bulan dari hari pernikahan mas Adam suamiku dan Maryam wanita pilihan ibu mertuaku, awalnya aku yang berpegang teguh atas keikhlasan dan kecintaanku pada Rabbku maka aku akan merasa bahagia, namun apa yang sedangku rasakan saat ini? Rasanya ada rasa yang menyayat hati bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup pun terlintas sejenak dalam hatiku.
"Ya Allah, salahkah aku jika pikiran buruk itu mulai merasuki diriku karena kesepian yangku rasakan saat ini. Apa yang harusku lakukan?" Gumamku dalam hati.
Aku selalu merajut hatiku agar tak semakin hancur dan terpuruk, dalam kesendirian yangku rasakan, aku selalu berusaha untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhanku, agar aku bisa terbebas dari segala bisikan-bisikan yang membuatku akan menyesali keputusanku.
Semakin hari aku semakin menutup diri karena tak ingin merasa disakiti dan di khianati lagi, namun hal itu membuatku semakin merasakan sepi dalam hari-hariku yang telahku jalani.
***
"Anisa, apakah kamu ingin bergabung dengan kami dalam pembentukan organisasi ibu-ibu PKK?" tanya Bu Sri padaku yang waktu itu aku ikut datang dalam arisan RT
"Boleh juga Bu," jawabku dengan langsung karena aku berfikir mungkin itu bisa mengisi kekosongan dalam hatiku.
Sebulan sudah aku ikut dalam segala organisasi di desa itu agar aku tak merasakan sepi sendiri, namun apa? Semua itu tak mampu menggantikan kekosongan yang selaluku rasakan. Seolah rongga dalam hatiku ini tak mampu diisi oleh apa pun juga.
Dalam segala kegiatan desa itu aku pun pada akhirnya hanya merasa hampa dan sepi, walau aku telah dikelilingi oleh banyak orang di sekitarku, lagi-lagi aku hanya tenggelam dalam pikiranku atas keputusan yang telah aku ambil untuk merelakan membagi cinta dan kasih sayang suamiku dengan orang lain.
"Mungkin dia sedang kesepian," ucap seseorang yang ada dibelakang ku.
Tersentak aku saat mendengar suara yang mengatakan kalimat itu, dan aku pun menoleh ke belakang dan ku dapati Bu RT yang berjalan mendekatiku dengan senyum ramah.
"Anisa, apa kamu tak apa nak?" Tanya Bu RT padaku.
Kalimat itu membuat hatiku tergetar dan tanpa sadar aku meneteskan air mata, seolah kata-kata itu yang selama ini aku cari dan ingin aku dengarkan dari seseorang yang mengetahui ceritaku.
"Kemarilah, ayo iku ibu ke rumah." Bu RT membawaku ke rumahnya dan menyapu air mataku yang mengalir tanpa henti.
"Tak mudah bagi seorang wanita untuk melepaskan segala keikhlasan hatinya untuk membiarkan suaminya menikah lagi," ucap Bu RT
"Apa yang harus saya lakukan Bu? Semuanya saya lakukan untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka," jawabku yang terdengar tak berdaya.
"Apakah kamu serius melakukan ini? Bukankah sekarang kau merasakan sesak dan kesepian." Ucap Bu RT yang seolah mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.
Aku hanya tersenyum dan tak memberikan jawab apa pun atas ucapan dari Bu RT, karena aku tak tau harus menjawab apa, sebab hatiku sendiri pun juga tak tau jawabannya.
***
Dari jauh kulihat sosok yang sangat kukenali dan kurindukan. Ya, dia adalah mas Adam suamiku yang sudah 2 Minggu tak datang mengunjungiku karena kesibukannya bekerja.
Kusambut dan kusapa dengan bahagia, bagai tanah kering yang tersiram hujan. Aku merasa sangat senang dengan kedatangannya yang akan membuatku tak lagi merasakan kehampaan.
"Anisa, apa kau tau kalau sekarang ini aku sangat bahagia, karena Maryam saat ini sedang hamil, dan kehamilannya sudah berjalan 2 bulan," ucap mas Adam dengan bahagia.
"Kau juga bahagia kan Anisa? Karena apa yang diinginkan oleh ibuku akhirnya diberikan oleh Maryam, dan aku akan menjadi seorang ayah." Sambung mas Adam.
"Aku merasa kalau hidupku akan berwarna setelah ini Anisa." Ucap mas Adam lagi dengan wajah bahagia.
Aku tersenyum kecut mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari bibir mas Adam, seharusnya sebagai seorang istri aku merasa bahagia saat suamiku bahagia. Namun apa dayaku, karena kalau boleh jujur kodratku sebagai seorang wanita membuatku iri dan juga cemburu karena kebahagiaan dan senyum suamiku bukan karena aku melainkan wanita lain yang ada dalam hidupnya.
"Selamat mas." Ucapku dengan senyuman yang kubuat setulus mungkin, tapi itu bohong karena kekosongan dalam hatiku terasa semakin gelap dari hari ke hari.
Rasa kecewa telah merasukiku, karena kedatangan suamiku bukan karena dia merindukanku dan memikirkanku, melainkan karena dia membagikan kebahagiaannya dengan wanita lain yang saat ini telah mengandung benih keturunannya.
Kusapu air mataku, kutenggelamkan diriku dalam sujud malamku, dan kulaporkan betapa aku merasa kecewa serta sakit atas segala ujiannya. Sekeras apa pun aku berteriak tak akan ada yang mendengarkan betapa aku merasa sedih dan sepi sendiri.
Malam hari yang gelap membuatku semakin merasakan dinginnya malam, kini tak ada lagi benda yang mampu menutupi rasa kosong dalam hatiku. Walau malam itu kudapati mas Adam tidur di sampingku namun rasa sepi ini tetap saja terasa menyayat hatiku.
Aku mendekatkan diri pada Rabbku dan selalu menyadarkan akan pikiranku agar aku tak terpuruk, namun kesepian yang telah merasuki diriku sejak hari pernikahan mas Adam telah merasuki diriku semakin mendalam, dan aku hampir gila dibuatnya.
***
1 tahun berlalu dan kebahagiaan itu telah menghiasi rumah ibu mertuaku, kulihat semua orang berkumpul untuk merayakan hari kelahiran putra pertama suamiku dengan istri keduanya. Namun kehadiranku seolah tak ada artinya karena mereka seola-olah tak melihat keberadaanku.
"Sayang hati-hati." Ucap mas Adam pada istri keduanya.
Tubuhku bergetar mendengar kalimat itu keluar dari bibir mas Adam untuk istri keduanya, aku yang telah menemaninya selama 5 tahun bahkan yang telah memberikan ijinku atas pernikahannya belum pernah diperlakukan dengan lembut bahkan disebut dengan kata sayang.
Setelah acara malam itu selesai aku pun memilih untuk kembali ke rumahku dan aku berjalan sendiri dalam gelapnya malam, karena jarak rumahku dan rumah mertuaku hanya beda komplek saja. Untuk berjalan cukup membutuhkan waktu 45 menit.
Kususuri jalan setapak dengan lampu jalan yang redup, kutembus gelapnya malam dengan segala pikiran dan pertanyaan yang telah bergelut dalam kepalaku.
"Sanggupkah aku, mampukah aku, bisakah aku," gumamku sembari terus berjalan.
Semua kalimat itu bertebaran dalam kepalaku dan terus melintas seolah-olah membutuhkan jawaban yang pasti. Tapi apa yang telah kulakukan semuanya tak pernah kutemukan jawabannya.
***
Kurebahkan tubuhku dan kutatap langit-langit kamarku, pikiranku melayang entah ke mana. Hingga detik berikutnya kurasakan ada cairan hangat meleleh melewati sudut mataku, dan pandanganku mulai buram tak jelas.
Hari-hari yang kulewati semakin terasa tak menentu, kini aku mulai merasakan semuanya tak ada artinya lagi. Walaupun sudah kuulang-ulang untuk menyadarkan diriku akan kenyataan yang sedang kuhadapi, namun semuanya telah membuatku semakin merasakan kehampaan yang semakin mendalam.
"Ya Allah ya Tuhanku, aku tau bahwa kalimat ini adalah kalimat yang tak kau inginkan, dan aku juga tau bahwa engkau akan menjamin surga untukku bila aku mampu untuk menjalankan kewajibanku.
Tapi apalah dayaku, karena aku hanyalah manusia biasa yang memiliki emosi dan juga perasaan, salahkah pilihanku? Jika aku memilih untuk berpisah dari suamiku," aduku pada tuhanku malam itu dalam sujudku.
Kalimat yang tak ingin kuucapkan pun pada akhirnya keluar dari bibirku, karena aku telah merasakan kesepian dan kesakitan yang semakin mendalam kurasakan.
"Apa yang kau katakan Nisa?" Tanya mas Adam padaku.
Mas Adam terlihat terkejut dengan apa yang aku inginkan dan aku ajukan kepadanya, namun keputusanku telah bulat dan aku memutuskan untuk mengakhiri pernikahanku dengan mas Adam.
"Apa kau sudah memikirkan baik-baik apa yang baru saja kau katakan Nisa? Apa kau sadar dengan kalimatmu itu?" Kembali mas Adam bertanya padaku.
Aku terdiam mendengar pertanyaan itu dari mas Adam, aku tak tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Karena aku hanya ingin membebaskan hatiku dari rasa hampa dan sepi yang semakin menyayat relung hati.
"Aku mencintaimu Nisa, kau adalah wanita yang aku pilih dan aku inginkan untuk menemaniku, dan aku tak pernah berfikir untuk mengakhiri pernikahan kita." Ucap mas Adam menatapku.
Harusnya aku merasa bahagia mendengarkan kalimat itu keluar dari mas Adam, namun apa yang kurasakan justru kekosongan yang tak mampu lagi terisi. Aku tersenyum dan menatap wajah mas Adam suamiku, dan kuusap lembut pipinya.
"Maafkan aku mas, salahkah pilihanku. Saat aku memilih untuk berpisah darimu yang telah memiliki keluarga dan kebahagiaanmu disisi lain." Ucapku.
Kalimat itu kuutarakan dan kulihat mas Adam tak mampu memberiku jawaban, karena kulihat mas Adam tertunduk dan menggenggam erat kedua tanganku.
"Maafkan aku Nisa," ucap mas Adam lirih.
Aku tersenyum mendengar kata maaf dari mas Adam, dan kutatap sayu wajah suamiku untuk terakhir kalinya. Aku tau ini adalah keputusan yang sulit namun aku tak ingin membebani siapapun dalam rasa sakit dan sepi yang kurasakan selama ini.