Sebut saja Namaku Murni, Murni AudiaNingsih. Aku terlahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai agama. Setelah menyelesaikan study S1 di Jakarta, aku kembali ke kampung halaman, Bandung atas permintaan kedua orangtuaku.
Aku cukup kaget begitu tiba di kampung halaman, suasana di kediamanku cukup ramai. Dan salah satu yang membuatku terhenyak adalah bendera putih di depan rumahku. Pertanda apakah ini? Aku pun belum mengetahuinya. Sampai tiba saat aku memasuki rumahku, isak tangis terdengar dari beberapa anggota keluarga.
Ibuku menyambut kedatanganku dengan mata yang sembab. Bahkan sudah dikatakan bengkak. Aku tidak melihat Ayah menyambut ku pagi itu, sampai Ibu menuntun tanganku duduk di antaa kerumunan orang. Yang menjadi pusat perhatianku adalah jenazah yang kini terbaring yang menjadi kunjungan para tetangga.
Ku singkap kain penutup wajah itu dan.... Deg
Rasanya dunia ku berhenti berputar, melihat sosok yang ku rindukan kini terbaring lemah telah tiada.
Ayah, pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Aku menangis dengan lirih, meratapi kepergian cinta pertamaku.
*.*.*.*
Masa berkabung telah usai, aku kembali di kejutkan oleh kertas yang ibuku berikan. Sebuah surat wasiat dari sang Ayah yang memintaku untuk segera menikah dengan lelaki pilihannya.
"Insya Allah dia akan menjaga mu menggantikan Ayah".Air mataku kembali menetes.
Pesan singkat dari mendiang Ayahku selalu terngiang di memori ku. Setelah memikirkannya matang-matang, Dengan Bismillah, aku menerima keputusan Ayah.
Tidak lama Setelah aku menerima pinangan dari lelaki yang dimaksud Ayah, Fairuz. Kami melangsungkan pernikahan yang sederhana. Kami mengundang anak yatim, tetangga dekat dan kerabat dekat saja. Itu semua sesuai kesepakatan kami berdua tentu saja.
"Duh, cantiknya Sahabat aku" ujar Rani memuji kecantikan Murni. Salah satu sahabat Murni yang menjadi tempat saling berbagi.
"Semoga cepat nyusul ya, Ran"
"Perjalananku masih panjang, Mur"
Sebagai wanita karir, tentunya Rani ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter kandungan.
...
Setelah pengucapan Akad selesai, semua saksi dan tamu undangan Berseru "SAH" yang menggema memenuhi suasana resepsi. Do'a selamat berdatangan kala tamu undangan mulai beranjak satu persatu meninggalkan acara.
*Skip malam pertama*
Di awal pernikahan, rumah tangga kami baik-baik saja. Hingga di tahun ke 3 pernikahan, Tuhan menitipkan baby boy di rahimku. Raut kebahagiaan tergambar di wajah Fairuz. Dia mengucap syukur dalam penantian kami yang lumayan lama.
Fairuz adalah sosok suami yang sangat harmonis menurutku. Bahkan romantis. Sikapnya selalu hangat dan lembut terhadapku.
Namun, ada satu hal yang mengganjal dari sikapnya. Selalu pulang malam dengan aroma parfum yang berbeda. Dari sinilah awal kecurigaan ku.
Sampai pada suatu malam, dia yang katanya ijin untuk ke rumah rekan bisnisnya kerena ada hal mendesak yang harus di selesaikan malam itu juga, Aku ikuti dengan was-was.
Tidak berselang lama, mobilnya berhenti tepat di sebuah rumah sederhana di ujung kompleks.
Aku hanya menunggu dan memantau dari dalam taksi. Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok dibalik pintu adalah seorang wanita dengan bayi 2 tahun dalam gendongannya. Yang lebih paniknya lagi, wanita itu tersenyum hangat menyambut kedatangan suamiku dengan mencium punggung tangan suamiku. Sama seperti hal yang aku lakukan.
"Apa ini Tuhan?" aku bertanya dalam hati. Mencoba menepis semua hal yang meracuni pikiranku saat ini.
Aku kembali ke rumah utama setelah menunggu Fairuz cukup lama, namun tak kunjung-kunjung keluar.
Hingga tiba saatnya, rasa penasaranku sudah di ubun-ubun. Saat Mas Fairuz ke kantor, aku mengunjungi rumah perempuan yang menjadi tempat persinggahan suamiku malam itu.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum"
Ku ketuk pintu itu dengan tangan yang mulai dingin.
"Wa'alaikum salam"
Sebuah jawaban merdu dari wanita di balik pintu.
Setelah melihatnya dari dekat. Aku bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Senyumnya sama saat menyambut Mas Fairuz tempo hari. Masih terbilang muda, bahkan ku terka jika umur kita tidak jauh berbeda.
"Cari siapa, Mbak?"
Sungguh lembut tutur katanya. Aku sebagai wanita-pun terpesona dengan kelembutannya.
"Ingin silaturahmi saja, Mbak. Boleh saya masuk?" pintaku membalas senyumnya.
"Silahkan, Mbak. Tapi maaf berantakan".
Baru saja kakiku melangkah, sebuah poster besar mengalihkan perhatianku. Ku pandangi lekat-lekat sosok yang tergambar dalam poster itu. Ya, aku tidak salah. Penglihatan ku masih normal. Wajah Mas Fairus bersama wanita itu terpampang jelas di sana dengan gaun pengantin. Sebuah poster di sebelahnya pun menunjukkan cincin di jari manisnya dengan senyum bahagia.
"Suami, mbak ya ?" tanya ku dalam sesak.
"Iya, mbak." jawabnya tersenyum simpul.
"Tampan" ucapku kemudian duduk di sebelahnya.
"Mau minum apa mbak?"
"Gak usah repot-repot mbak. Saya hanya sebentar"
Di tengah perbincangan kami, Mas Fairuz tiba-tiba muncul yang membuatku panik seketika.
"Eh, Mas. Udah pulang ngantor ?" tanya Wanita itu yang ku ketahui namanya dari perkenalan kami adalah Ratih.
"Ingin mampir sebentar" ucap Mas Fairuz yang kembali memandangku. Tatapan kami sempat terkunci beberapa saat. "Ratih lupa. Dia Murni, temen Ratih, Mas"
Deg.
Hancur sudah hatiku. Tidak ku duga jika Mas Fairuz akan mendua selama ini. Pintar sekali menutup rapat rahasia ini, sampai celahnya saja aku baru mengetahuinya hari ini. Rahasia besar yang selama ini dia kunci rapat-rapat akhirnya terbongkar jua.
"Murni?"
Aku beranjak dari tempat dudukku, berjalan ke arahnya. Ku cium punggung tangan Mas Fairuz seperti yang Ratih lakukan beberapa saat lalu.
"Aku Pamit mbak" Ucapku tersenyum pada mereka.
"Murni duluan, Mas."
.
.
Singkat cerita. Setelah kejadian hari itu. Tuhan menyingkap tabir rahasia suamiku. Aku bukanlah tipe wanita sholehah yang rela jika di madu. Entah siapa sebenarnya yang di madu, antara aku dan mbak Ratih, tapi yang jelas hari itu aku lebih memilih mundur dari pernikahan kami.
"Mas tahu, Mas salah. Tapi tolong, jangan tinggalkan Mas"
"Murni tidak mampu untuk berbagi, Mas. Jadi Murni mohon. Kita bertemu di pengadilan".
" END"