Di sebuah desa kecil yaitu desa Dadapan hidup seorang suami istri bernama Pak Giman dan Bu sulis, yang memiliki tiga orang anak Susan, Andi dan Rudi. Mereka berusia dua belas tahun, sepuluh tahun dan enam tahun.
Pak Giman sehari hari bekerja sebagai buruh serabutan, sedangkan Bu Sulis seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai buruh cuci di rumah salah seorang tetangga nya yang terbilang plaing kaya di desa tersebut. Dia akan di panggil ke rumah tetangga nya itu dua kali dalam seminggu untuk mencuci dan menyetrika pakaian.
Mereka hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung serba kekurangan. Hasil kerja dari Pak Giman hanya cukup untuk makan sehari hari. Sedangkan penghasilan dari Bu Sulis yang memang tidak seberapa itu habis untuk biaya hidup mereka.
“Bu, sepatu susan sudah rusak, belikan yang baru bu susan malu sama teman-teman.” Ucap susan memelas
“Besok kalo ibu dapat upah dari Bu Narti Ya San.” Bu Sulis memberi janji yang entah bisa di tepati atau tidak.
“Bu, tas Rudi juga sudah rusak bu, tadi saja alat tulis Rudi pada jatuh karena tas nya berlubang.” Rudi menunjukkan tas nya yang berlubang.
Sama seperti yang di katakana nya kepada Susan, Bu Sulis pun memberikan janji yang sama kepada Rudi.
Berbeda dengan Andi yang memilih diam dalam keadaan nya dan dia sudah cukup tahu dengan keadaan orangtua nya yang tidak memungkinkan untuk di mintai sesuatu.
Bu sulis tampak berpikir dengan segala keluhan yang di ungkapkan oleh anak-anak nya. Dia merasa sedih dengan keadaan yang begitu serba kekurangan ini.
Ingin rasanya dia pergi mencari pekerjaan ke kota supaya keadaan ekonomi nya bisa lebih baik dan bisa memberikan apa yang di minta oleh anak-anak nya.
Tapi itu tidak lah mungkin juga dia lakukan karena Pak Giman tidak akan setuju dengan itu.
Suatu Ketika saat dia sedang bekerja di rumah tetangga nya yang bernama Bu Narti itu dia membuat kesalahan. Salah satu pakaian Bu Narti terbakar setrika karena Bu Sulis tidak fokus saat menyetriak, pikiran nya melalang buana entah kemana memikirkan banyak hal. Bu Narti akhirnya memberhentikan nya, karena ini bukan yang pertama kali nya Bu Sulis melakukan itu.
Sekarang hanya tinggal Pak Giman saja yang bekerja untuk keluarga nya dan sudah pasti rasa kekurangan kian mencekik mereka. Bahkan keadaan semakin memburuk saat hutang-hutang mereka tidak bisa lagi membayar hutang.
Dari berbagai pihak menagih hutang namun karena memang tidak punya uang untuk membayar jadi mereka hanya bisa pasrah. Bahkan sertifikat tanah dan rumah kecil yang mereka tempati juga sudah di sita oleh salah satu rentenir di des aitu karena mereka tidak mampu membayar hutang-hutang mereka.
Saat ini mereka tinggal di gubug kecil milik salah satu tetangga nya yang sudah berbaik hati memberikan tumpangan kepada mereka. Kebetulan itu adalah Gudang kosong yang sudah tidak di manfaatkan.
Suatu hari Pak Giman pulang begitu larut bahkan ketiga anaknya sudah tidur, tinggal Bu Sulis yang masih terjaga karena menunggu kedatangan Pak Giman.
Pak Giman membawa sebuah bungkusan yang entah apa Bu Sulis tidak mengerti. Setelah masuk ke dalam kamar Pak Giman baru menjelaskan.
“Bu, ini besok pagi berikan buah ini kepada salah satu anak kita.” Ucap Pak Giman.
Bu Sulis tampak bingung kenapa harus salah satu, bukan kah pisang itu ada satu sisir yang bisa di bagi kepada ketiga anak nya? namun Bu Susi tidak mau banyak bertanya dan asal mengiyakan perintah sang suami.
Setelah pembahan itu Pak Giman tampak ke kamar anak nya dan mengamati mereka bertiga yang terlihat sedang tidur dengan pulas. Entah apa yang di pikirkan
Pak Giman dia meneteskan air mata nya.
Hal tersebut di saksikan oleh Bu Sulis dan mencoba bertanya kepada suaminya itu kenapa dia menangis menatap anak nya. tapi Pak Giman tidak mau mengaku. Dia hanya berlalu dan menuju ke kamar nya kemudian berbaring di sana dan memilih memejamkan matanya.
Pagi pun datang seperti biasa Pak Giman akan berangkat bekerja sebagai buruh serabutan dan akan pulang pada sore hari nya.
Seperti mandat yang di berikan oleh suaminya, Bu Sulis memberikan buah pisang yang di bawa suaminya kepada salah seorang anak nya. Namun Bu Sulis memberikan nya dengan sembunyi sembunyi supaya kedua anak nya yang lain tidak tahu.
Bu sulis memberikan buah pisang itu kepada Rudi anak bungsu mereka. Dan dengan senang hati Rudi menerima nya dan langsung memakan nya tanpa pikir Panjang.
Seketika tidak ada sesuatu yang aneh dan semua baik-baik saja, tapi siang itu tiba-tiba Rudi yang tidak pernah tidur siang mengatakan kepada ibunya bahwa diri nya ingin tidur siang.
Baru beberapa menit dia tertidur, Rudi seakan berteriak kesakitan mendengar itu Bu Sulis yang saat ini berada di dapur segera menghampiri Rudi. Rudi masih berteriak kesakitan memegang kepalanya dan sesekali berteriak “Jangan! Tolong! Tolong Bu!” terus berteriak dan kesakitan.
Bu Sulis meminta Susan untuk memanggil Pak Giman untuk segera pulang. Tanpa menunggu waktu lama Pak Giman pun sampai di rumah.
Pak Giman melihat anak nya seakan sedang sekarat saat ini. Dan Pak Giman hanya mampu menyaksikan nya tanpa bisa berbuat apapun. Dia menatap anak nya dengan segala duka dan wajah yang sudah berair karena menangis. Dia tahu bahwa dia akan kehilangan anak bungsu nya itu.
Dengan segala Upaya Bu Sulis seakan memberi pertolongan kepada anak bungsu nya itu namun sia-sia, bahkan dokter yang di panggil untuk mengobati pun tidak bisa menolong lebih karena pada dasar nya Rudi tidak sakit apapun, dan menurut pemeriksaan tidak ada indikasi penyakit apapun.
Hingga beberapa menit kemudian Rudi menghembuskan nafas terakhirnya. Nyawanya tidak bisa di selamatkan, hal itu membuat Bu Sulis menangis histeris dan memeluk anak bungsunya itu berkali-kali.
Seminggu setelah meninggalnya Rudi, Andi seakan bermimpi bertemu dengan sosok adik nya yang menangis meminta tolong berada di sebuah rumah yang entah di mana Andi pun tidak tahu dan tidak pernah melihat rumah itu. Andi bermimpi yang sama berulang-ulang namun dia tidak menceritakan kepada siapapun dan hanya menyimpan nya sendiri.
Beberapa tahun telah berlalu, mereka sudah bisa menerima kepergian Rudi dengan iklas. Kini mereka memiliki kehidupan yang lebih baik, Bahkan Bu Sulis memiliki sebuah rumah makan yang memiliki beberapa karyawan.
Sedangkan Pak Giman menekuni usaha pertokoan sehingga tidak kerja serabutan lagi seperti sebelumnya. Mereka hidup cukup dan layak bahkan semua hutang mereka pun lunas. Dan belum lama ini mereka juga membeli sebuah bidang tanah berukuran cukup luas.
Sekarang Susan sudah berusia tujuh belas tahun sedangkan Andi berusia lima belas tahun. Mereka bisa sekolah dan berpenampilan layak seperti yang mereka impikan.
Hari ini Pak Giman pulang sangat larut sama persis seperti lima tahun yang lalu dimana pulang dengan membawa pisang supaya di berikan kepada salah satu anak mereka keesokan pagi nya.
Dan seperti yang di mandatkan Pak Giman, Bu Sulis pun melakukan seperti yang di perintahkan suami nya kepada nya tanpa rasa curiga sedikitpun.
Kebetulan pagi itu Susan yang berada di ruang makan dan melihat ibu nya membawa pisang Susan pun meminta satu kepada ibunya, karena pisang itu terlihat begitu enak dan manis.
Tanpa pikir Panjang Bu Sulis langsung memberikan pisang tersebut kepada Susan. Sama seperti sebelum nya semua berjalan normal apa ada nya tidak ada yang mencurigakan.
Siang itu Bu Sulis menerima telepon dari pihak sekolah Susan menyampaikan bahwa susan kejang-kejang di sekolah dan pihak sekolah segera membawa Susan ke rumah sakit terdekat.
Pak Giman dan Bu Sulis langsung menuju ke lokasi rumah sakit yang di sebut oleh pihak sekolah. Sesampai nya di sana memang benar Susan terlihat kejang-kejang meronta dan meminta tolong sama persis seperti yang di alami anak bungsu nya dulu.
Bu Sulis seakan mengingat kembali kejadian lima tahun yang lalu dimana anak bungsu nya juga mengalami hal yang sama seperti yang di alami anak pertama nya ini.
Susan pun di nyatakan meninggal setelah satu jam berada di rumah sakit, tanpa penyebab sakit yang jelas dan tetap misterius bagi tim medis yang sempat memberikan pertolongan.
Bu Sulis merasa terpukul dengan kepergian anak pertama nya ini, Namun belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi sehingga semua nya terjadi.
Sama seperti sebelum nya Andi anak kedua dari Pak Giman dan Bu Sulis bermimpi di datangi oleh kakak nya Susan, bahkan mimpinya pun sama persis seperti mimpinya dulu saat adik nya Rudi menemui nya. di lokasi yang sama dan meminta tolong. Dan mimpinya pun berulang-ulang datang kepada nya.
Andi yang sudah semakin dewasa seakan mulai mencoba menafsirkan mimpi nya. kenapa mimpinya seakan begitu nyata dan kenapa lokasi nya sama dengan Ketika Rudi dulu juga mendatangi diri nya di awal kepergia nya.
Lambat laun kejadian dan kepergian Susan pun semakin terlupakan. Dan mereka menjalani kehidupan seperti sedia kala.
Sudah bisa di pastikan kekayaan Pak Giman semakin bertambah bahkan dia sekarang membuka toko matrial dan rumah makan yang di Kelola Bu Sulis pun semakin besar dan membuka cabang di beberapa tempat.
Saat ini Andi mengenyam Pendidikan perguruan tinggi nya di kota, dia jarang sekali pulang ke rumah. Sebulan sekali baru dia pulang ke rumah.
Hari ini dia di telpon oleh ayah nya supaya besok Andi pulang karena di rumah akan di adakan acara syukuran. Andi menyanggupi nya karena memang sudah lama dia tidak pulang.
Andi mengemas mempersiapkan barang-barang apa yang akan di bawa nya pulang esok hari. Namun malam nya Andi bermimpi bertemu dengan kedua saudara nya Susan dan Rudi, seakan mereka mengatakan “Jangan pulang!” dengan mata melotot melihat kearah Andi.
Andi seketika itu terbangun dari tidurnya dan langsung membaca doa supaya lebih tenang. Setelahnya dia tampak berpikir apa maksud dari mimpinya itu.
Kebetulan teman kos Andi yang satu kamar dengan nya juga terbangun saat melihat Andi sudah duduk dengan nafas terengah.
Teman Andi yang bernama Ahmad itu pun langsung menghampiri Andi dan menanyaka ada apa dengan Andi.
Dari situ Andi menceritakan semua mimpinya kepada Ahmad, Ahmad seakan terkejut mendengar mimpi dan runtututan kejadian yang di alami oleh kedua saudaranya.
Kebetulan Ahmad adalah seorang yang peka dengan dunia lain, katakana dia seorang yang memiliki indra ke enam.
Ahmad merasa ada yang tidak beres dengan kematian saudara Andi itu. Tapi Ahmad tidak serta merta mengatakan kemungkinan yang di pikirkan nya.
Ahmad berniat untuk ikut pulang bersama Andi jika di ijinkan, kebetulan Andi tidak keberatan jika Ahmad ikut pulang bersama Andi.
Tepat nya pagi ini Andi dan Ahmad Bersiap untuk pulang ke kampung halaman Andi, mereka naik bus dengan perjalanan sekitar lima jam.
Di perjalanan Andi sempat tertidur dia bersender pada kursi yang di duduki nya, namun baru sebentar tertidur Andi bermimpi yang sama di datangi kedua saudaranya sama persis seperti mimpinya semalam.
Ahmad yang mengetahui itu menyuruh Andi untuk membaca doa. Ahmad semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan keluarga Andi.
Setelah lima jam sampai lah mereka di rumah Andi yang besar dan megah itu, Ahmad tampak mengamati rumah tersebut dan ternyata memang aura nya begitu gelap pekat.
Ahmad melihat beberapa kali ada seperti sosok monyet yang berseliweran di sana sini. Ahmad langsung membaca doa dan melangkah masuk mengikuti Andi yang memang sudah berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Di pintu masuk Ahmad terkejut dengan sesosok monyet besar bertaring di mana di taring nya penuh dengan darah. Monyet besar yang di lihat Ahmad seakan mengawasi diri nya dan beberapa kali mendekat kepada Andi yang saat ini sedang berjalan menuju ke kamarnya.
Saat ini rumah Andi memang sepi karena orangtua nya masih di tempat kerja mereka masing-masing. Andi mempersilakan Ahmad untuk masuk ke kamar nya. Ketika masuk Ahmad terkejut di sana dia melihat Sosok Perempuan dan laki-laki kecil sedang berdiri di dekat jendela dengan luka yang sangat parang di sekujur tubuh nya.
Seketika itu juga Ahmad membaca doa dan segera kedua orang yang di lihat nya itu menghilang. Setelah malam tiba, mereka makan bersama dengan Bu Sulis di meja makan.
Aneh nya Pak Giman tidak berada di sana, jadi mereka makan malam hanya bertiga yaitu Bu Sulis, Andi dan juga Ahmad.
Setelah makan malam itu mereka sempat mengobrol sejenak di ruang keluarga dan pada akhir nya mereka masuk ke kamar masing-masing untuk tidur.
Sama seperti beberapa tahun yang lalu Pak Giman hari ini pulang sangat larut tepatnya hampir jam dua belas malam.
Entah dari mana tidak ada yang tahu, yang tahu hanya Pak Giman Seorang.
Sama seperti sebelum-sebelum nya Pak Giman akan membawa pisang dan akan menyuruh istrinya untuk memberikan nya kepada anak nya.
Namun kali ini Bu sulis hanya mengiyakan permintaan sang suami, dia trauma dengan kejadian yang menimpa kedua anak nya dulu.
Ke esokan pagi nya mereka sarapan bersama di meja makan Pak Giman Nampak tidak suka dengan kehadiran Ahmad di rumahnya. Dia tidak tahu jika Ahmad mengajak pulang seorang teman. Tapi Pak Giman tidak begitu menunjukkan rasa tidak suka nya itu. Dia mencoba untuk tetap biasa dan se normal mungkin bersikap kepada Ahmad.
Pak Giman berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke toko dan kembali mengingat kan bahwa pisang yang di bawanya semalam harus di berikan kepada anak mereka. Bu Sulis hanya mengiyakan tapi dia sudah membuat rencana akan membuang pisang tersebut ke Sungai dekat rumah mereka.
Benar saja setelah kepergian Pak Giman, Bu Sulis segera pergi ke Sungai dengan membawa pisang tersebut dan melempar pisang tersebut ke Sungai begitu saja.
Sedangkan Pak Giman yang saat ini berada di toko menunggu kabar dari rumah, hingga sore menjelang tidak ada kabar apapun dari rumah. Akhirnya dia bergegas untuk pulang dan langsung menemui istrinya.
“Bu apakah pisang nya sudah ibu kasih kepada Andi?”
“Sudah.” Bu Sulis berbohong.
“Ibu tidak bohong kan?”
“Tidak.” Ucap Bu Sulis yang gelagapan.
“Bu pisang itu harus di makan oleh Andi, kalo tidak aku yang akan di makan oleh mereka.” Pak Giman keceplosan.
Bu Sulis memandang Pak Giman penuh tanya, tidak mengerti dengan maksud suaminya.
Bu Sulis marah dan minta penjelasan kepada Pak Giman perihal perkataan nya itu. Namun sebelum Pak Giman menjelaskan tubuhnya seakan di seret paksa oleh seseorang, dan saat ini tubuhnya kejang-kejang sama persis seperti yang di alami oleh kedua anak nya dulu.
Bu Sulis berteriak meminta pertolongan dan langsung saja Andi dan Ahmad datang ke kamar Bu Sulis dengan berlari saking panik nya dengan teriakan Bu Sulis.
Pak Giman sudah sangat tersiksa saat ini dia meraung-raung meminta tolong dan menangis kesakita. Saat itu lah Ahmad membelalakkan mata nya melihat ratusan monyet berukuran kecil menyerang nya dengan membabi buta, dan setelah Pak Giman tidak berdaya datang monyet berukuran besar datang.
Monyet yang sempat di lihat Ahmad Ketika baru pertama kali datang ke rumah Andi.
Monyet besar itu mencabik leher Pak Giman dan menyesap darah nya. Sampai Pak Giman menghembuskan nafas terakhirnya.
Tentu saja kejadian yang sebenarnya ini hanya di lihat oleh Ahmad yang tidak mampu berbuat apapun karena memang Pak Giman sudah terlanjur terikat janji dengan makhluk tersebut.
Bu Sulis menangis histeris melihat suaminya meninggal di depan matanya, sama seperti kedua anak nya beberapa tahun yang lalu.
Sedangkan Andi terlihat sangat sedih dan merenung dengan kejadian yang baru saja di alami oleh ayahnya. Pak Giman sudah di makam kan dengan layak dan setelah nya Ahmad menceritakan kejadian yang sudah di lihat nya.
Andi pun mempercayai nya karena memang harta yang di dapat oleh ayah nya seakan tidak wajar dan terlalu instan.
Andi dan ibu nya memilih merantau ke kota dan meninggalkan harta peninggalan sang ayah yang semua nya sudah di sumbangkan ke panti asuhan, panti jompo dan Yayasan sosial lain nya.
Mereka hidup sederhana kembali Bu Sulis mencari pekerjaan semampu nya dan Andi mulai mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai hidupnya dan kuliahnya yang tinggal beberapa bulan ini lulus.