Udara malam hari di Tiongkok begitu dingin. Jalanan yang sunyi senyap membangunkan bulu kuduk yang membuat merinding. Gang yang kosong dan temaram begitu mencekam.
Sosok pria tinggi berbelok ke kanan, memasuki gang. Adyan Lexi, nama yang bagus mencerminkan sosok tinggi dan tampannya. Matanya sejernih embun di pagi hari. Sosoknya yang mengenakan seragam minimarket di balut dengan cardingan berwarna putih, menambah nuansa ketampanannya.
Tas bertengger manis di punggungnya. Adyan adalah sosok yang terkenal baik dan ramah oleh tetangganya. Ketika umur 7 tahun orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal. Setelah itu dia tinggal bersama neneknya. Namun naasnya dan takdir mempermainkan, ketika menginjak umur 10 tahun neneknya meninggal dunia. Adyan yang berumur 10 tahun harus hidup sendirian.
Mengalami kelam dan kerasnya dunia hingga kini dia berusia 22 tahun. Hidupnya hanya sekedar bekerja, namun di saat libur Adyan selalu membantu dan bersosialisasi dengan para tetangganya.
Hingga kini Adyan tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada wanita, bahkan dia tidak tahu akan percintaan.
Adyan melihat arloji di tangan kirinya yang menunjukkan jam 12.00. Biasanya Adyan hanya lembur hingga jam 10 malam. Namun hari ini dia menggantikan shift malam Sea temennya. Tiba-tiba hari ini ibu Sea sakit dan di rawat di rumah sakit, jadi Sea harus menemaninya.
Adyan bergegas untuk pulang, gang yang biasa dilaluinya setiap hari entah mengapa hari ini begitu mencekam.
"Dorrrrrrrrrrrrr..."
Adyan yang berjalan menunduk dan bergerak terburu-buru menghentikan langkahnya, di gang sempit yang hanya di soroti lampu remang-remang,cairan merah perlahan-lahan mendekati ujung sepatunya. Kemudian...
"Bughhhh"
Sosok pria tinggi berotot jatuh tepat di depan matanya. Di dadanya terdapat lubang yang mengeluarkan darah bagaikan air mengalir. Wajahnya dengan hitungan detik pucat dan bibirnya membiru.
Adyan yang shock tidak bergerak dan tidak berteriak. Namun sosok mungil di depannya mengangkat alisnya dan bertanya dengan suara dingin.
"Siapa kamu?"
"Adyan Lexi," Adyan yang masih shock dan menunduk menjawab tanpa sadar.
"Mengapa kamu disini?"
"Mengapa?ini gang menuju rumahku. Aku melewatinya setiap hari." Adyan mengangkat kepalanya, dan menatap sosok kecil di depannya. Matanya berkedip dan bertanya menunjuk pria yang terbujur kaku di tanah. "Dia meninggal?"
Pertanyaan bodoh yang di lontarkan pria polos di depannya, membuat Zhhie menarik seutas tipis senyum.
Dia adalah Zhhie Willson anak dari pasangan Lian Willson dan Nara Lim. Keluarga terkaya nomor satu di Tiongkok. Sekaligus ketua Mafia paling atas, yang di beri julukan Mawar Hitam Beracun. Meskipun sosoknya mungil dan cantik hatinya kejam. Dia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, bahkan jika ada pria yang tidak dikenalnya sengaja mendekati, Zhhie tidak segan-segan mengirimnya ke Yama.
Namun pria tinggi didepannya memiliki mata yang lugu dan jernih. Zhhie tanpa sadar berjalan kedepan dan melangkahi mayat di tanah. Sepatunya menginjak darah yang masih segar, namun dia acuh saja.
Melihat sosok mungil didepannya melangkah maju, dengan pistol di tangan kanannya. Adyan Lexi tanpa sadar melangkah mundur, jejak bingung tertera jelas di wajahnya. Saat hatinya menyuruhnya terus mundur, namun kakinya menabrak tembok rumah kosong di belakangnya. Hatinya gemetar, Adyan memberanikan diri dan sebuah kalimat terbata-bata keluar dari mulutnya, "A..app..aa...Apa yang kamu ingin lakukan, jangan mendekat! Atau aku,,,Aku akan berteriak!"
Adyan yang panik memejamkan matanya, meskipun dia takut namun dia tidak menangis.
Zhhie menambah senyumnya, setelah tepat di depan Adyan. Zhhie ingin menggodanya, dia menempelkan pistolnya di pinggang pria tinggi di depannya.
"Kamu melihatku membunuh pria itu?"
"Ti,,,tid,,,tidak, ak,,aku hanya melihat ketika pria itu jatuh dan berdarah." Adyan masih memejamkan matanya.
Zhhie melihat Adyan yang masih menjawabnya dengan jujur meskipun telah di todong pistol, tanpa sadar tersenyum lebar. Ini pertama kalinya dia bahagia, hatinya gatal. Biasanya jika sedang bersama keluarganya dia hanya tersenyum kecil.
"Menunduk!" Suaranya masih sedingin biasanya, namun bibirnya masih melengkungkan senyuman manis.
Adyan yang memang baik dan penurut hanya menundukkan kepalanya tanpa membuka matanya.
Zhhie menyaksikan Adyan yang menurut, mengulurkan tangan kirinya yang bebas dan menarik tengkuk Adyan lebih rendah. Kakinya yang pendek dan tingginya seperti kemasan sachet berjinjit dan....
"Cupppppp."
Adyan membuka matanya, alangkah terkejutnya dia. Matanya melotot menatap tajam Zhhie yang kini telah menyatukan mulut mereka. Adyan yang memang lugu dan polos membuka mulutnya ingin protes.Namun langkahnya salah, Zhhie yang melihat dan merasakan gerakan pria lugunya, memanfaatkan gerakan ini dan lidahnya menerobos masuk dan menjelajahi isinya. Bau mint meresap ke tenggorokan Adyan, dia bertambah tertegun dan diam seperti patung. Tidak membalas namun tidak menolak.
Setelah 5 menit, Zhhie melepaskan pangutannya. Dan mengusap bibir pink merona milik Adyan, membersihkan sisa salivanya sendiri dan tersenyum.
Adyan yang masih bodoh dengan adegan semuanya, masih menunduk dan berkedip.
Zhhie berjinjit lagi dan menjilati leher putih Adyan, pertama hanya menjilati dan menghisap. Namun sesaat Zhhie menggigit keras leher Adyan sehingga darah keluar dan meninggalkan bekas gigi rapih di lehernya.
Adyan yang merasakan sakit di lehernya, seolah di tarik dari masa bodohnya. Dia menampar Zhhie dengan keras.
"Plakkkkkkkkk...."
Zhhie yang merasakan bahagia, sesaat mematung ditempatnya. Dia merasakan pipinya panas dan perih. Lima cetakan jari tertera di pipinya yang mulus dan putih.
Adyan yang menyadari perbuatan reflek nya, mendorong Zhhie pelan dan lari meninggalkan Zhhie sendirian.
Sosok Adyan perlahan-lahan menghilang di ujung gang bagaikan di telan gelapnya malam.
Zhhie yang mematung perlahan mengangkat tangannya dan mengusap pelan pipinya sendiri.
Bukannya marah, namun Zhhie kembali tersenyum. Mengeluarkan ponsel di sakunya lalu menekan nomor ajudannya. "Adyan Lexi,Gang Shi,,,20tahunan,,,minimarket"
Tanpa menunggu balasan Zhhie kembali menutup ponselnya. Senyuman indah masih menghiasi wajahnya, bagaikan menang lotre 1miliar. Begitu bungah!!!
Kakinya melangkah meninggalkan gang Shi dan sebuah mayat kaki.
****************************************
Adyan yang sampai di rumahnya, melepaskan sepatunya dan membanting pintu rumahnya keras. Ter engah-engah menyandarkan tubuhnya di balik pintu, tangannya gemetar memegangi dadanya sendiri.
"Apa ini?? Ke...Ken..kenapa jantungku berdetak begitu cepat?"
Setelah lama memegangi dadanya,Adyan dengan langkah gontai menuju kamarnya. Merebahkan tubuhnya di kasur dan angan-angan nya kembali ke kejadian di gang tadi. Ngantuk yang menyerang matanya tanpa bisa di bendung, perlahan namun pasti matanya terpejam menuju alam mimpi dengan segudang adegan yang menimpanya.
Ketika pagi datang menyambut, ayam jantan mengeluarkan suara khasnya membangunkan manusia dari dunia khayalannya.
Adyan tidur dengan pulas, mungkin karena kecapean bekerja hingga tengah malam, atau mungkin juga karena adegan yang membuatnya shock .
Lagipula dia bekerja dimulai pukul 10.00 pagi. Jadi masih ada banyak waktu untuk istirahat.
****************************************
Di rumah megah layaknya istana sepasang suami istri duduk di meja makan yang mewah. Mereka bercakap-cakap dengan wajah gembira. Mereka adalah Lian Willson dan Nara Lim.
Zhhie yang telah bersiap-siap, turun kebawah dan menghampiri orang tuanya.
Nara Lim menatap intens anak perempuannya, lima sidik jari tercetak jelas di wajah putrinya. Dia tahu anaknya menaungi dunia gelap, menompang dan diam-diam melindungi perusahaan keluarga mereka. Namun ini pertama kalinya Nara Lim melihat putrinya terluka. Dia penasaran dan menanyakkannya. "Sayang ada apa dengan pipi mu?"
Seolah diingatkan oleh ibunya, Zhhie mengelus pipinya, senyuman manis sedikit demi sedikit muncul. Dia yang hendak duduk dan sarapan tiba-tiba tangannya meraih roti dan memakannya sambil melenggang pergi.
Nara Lim yang melihat putrinya tersenyum kebingungan, apalagi putrinya yang biasanya tanpa melewatkan sarapan melenggang pergi hanya dengan selembar roti tawar.
Ada apa dengan anaknya?
Dia menoleh menatap suaminya, seakan meminta pendapat dan penjelasan.
Lian Willson hanya mengangkat bahu tanda tidak mengerti dan tidak tahu.
"Kenapa tidak sarapan? Kenapa terburu-buru? Kemana?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Nara Lim.
Zhhie yang hendak keluar dari pintu, saat mendengar pertanyaan ibunya menoleh dan menjawab."Menggoda calon menantumu"
"Ppppttttttt...."
Lian Willson yang sedang menyeruput kopinya refleks menyemburkan keluar, dia kaget sekaget-kagetnya. Apakah telinganya salah mendengar? Calon menantu???
Melihat reaksi ayah dan ibunya, Zhhie cuek saja dan melanjutkan keluar menuju pria lugunya.
Zhhie telah sampai di pekarangan rumah kecil, tidak kumuh namun nyaman menurutnya. Senyum kecil tertera, bagaikan seorang gadis normal yang sedang jatuh cinta.
"Tok..tok..tok...tok.." Zhhie mengetuk pintu pelan-pelan berulang kali. Namun tidak ada sahutan dari dalam.
Menurut bawahannya, Adyan masuk kerja jam 10 pagi. Dan ini masih jam 8 pagi, berarti dia masih di rumah. Namun tanpa sahutan dari dalam, Zhhie mengerutkan keningnya tajam. Namun saat suasana hening, dia mendengar nafas teratur pelan dan samar. Telinganya begitu tajam mendengar suara apapun. Dia menyeringai dan mencari jendela, dan membobol jendela itu, tanpa suara tanpa gerakan berlebihan. Dia masuk lewat jendela begitu ahli dan sekali melompat.
Sosok tampan dan berkulit putih tidur begitu pulas di atas kasur. Pakaiannya masih pakaian semalam, wajahnya yang polos menampilkan senyum entah sedang bermimpi indah atau memang kebiasaan. Namun menurut Zhhie prianya begitu menggoda.
Dia melangkah mendekati kasur tanpa suara, dan duduk di sebelah tubuh Adyan. Memandangi wajahnya, tangannya begitu gatal. Kalah akan kegemasannya. Zhhie menggunakan tangan kanannya mengelus wajah Adyan, di mulai dari kening,turun kematanya, lalu kehidungnya dan terakhir tangannya mendarat di bibir Adyan, Zhhie mendekati bibir Adyan dan mengecup sambil menutup mata.
Adyan yang merasakan sentuhan di bibirnya membuka matanya, dan bangun dari mimpinya. Dia mendapati wajah kecil seorang wanita sedang memejamkan matanya, dan menciumnya.
Apa-apaan! Ini masih pagi, dan dia sudah di cium wanita??? Wanita dari mana????
Adyan refleks mendorong Zhhie hingga jatuh dari kasur.
Zhhie hanya diam dan menatap adyan, meskipun dia terjatuh dari kasur itu tidak ada apa-apanya bagi Zhhie.
Adyan yang kembali sadar akan kelakuan refleks yang berlebihan, segera turun dari kasur dan menolong Zhhie. Tangan Adyan yang putih terulur, tanda meminta Zhhie untuk bangun.
Zhhie menautkan tangannya ke tangan Adyan, dan bangun. Adyan menuntun Zhhie duduk di kasur. Dia melihat cetakan lima jari di wajah kecil Zhhie, dan perasaan bersalah menerpanya. Adyan berdiri dan mencari di kotak P3K di lemari dan membawanya. Menuangkan alkohol ke kapas dan menerapkannya di pipi Zhhie. Usapan lembut Adyan Membuat Zhhie terpana.
Zhhie menarik tangan Adyan yang masih mengobati pipinya sehingga terhenyak kedepan. Zhhie menerkam kembali bibir Adyan, melumatnya dengan agresif dan terburu-buru. Adyan yang tidak siap, dimakan tanpa persiapan dan persetujuan oleh Zhhie.
Saat Adyan hendak mendorong Zhhie, dia teringat di pipinya ada bekas tamparannya. Dan tadi dia mendorongnya. Rasa bersalah menghantuinya lagi, Adyan hanya diam saja menatap wajah manis Zhhie yang sedang memangut bibirnya.
Zhhie yang tidak menerima penolakan dari adyna dan bahkan dia membalasnya. Zhhie melanjutkan aksinya, menjelajahi langit-langit rongga mulut Adyan dan melilit lidah Adyan.
Zhhie menyudahi ciumannya setelah durasi waktu tertentu. Dia mengambil nafas dengan cepat, wajahnya yang cantik merah merona. Disaat yang sama Adyan tanpa sadar mengulurkan tangannya lagi dan mengusap bibir merah muda Zhhie, menghapus sisa air liur yang berceceran di mulut Zhhie.
Zhhie mematung dan seketika menepis jari Adyan. Wajahnya berubah dingin, "Jangan menyentuhku!"
"Tapi, bukankah kamu yang menyentuhku terlebih dahulu?"
Saat berciuman tadi Zhhie melihat Kilauan mata rasa bersalah dan simpati dari mata Adyan. Zhhie yang merasakan kebahagiaan seolah di tampar kenyataan.
Dia diam dan membalas,bukan karena menyukai ciumannya, apalagi dirinya. Dia hanya merasa bersalah dan bersimpati padanya!
Bangun Zhhie!!!!!!
Bodoh!!!!!
Zhhie mengutuk dirinya sendiri!!!
Tanpa sadar air mata sebening kristal perlahan turun dari mata Zhhie, dia mencela dirinya sendiri. Dia jelas-jelas tahu bahwa mereka baru bertemu. Perasaan Zhhie yang tumbuh dalam semalam hanya perasaan sepihak.
Adyan yang menatap Zhhie tertegun, dia tidak tahu mengapa, namun hatinya merasakan sakit saat melihat wanita di depannya menitikkan air mata.
Saat tangan Adyan hendak merangkul Zhhie, Zhhie menjauh dan bangun. Mengusap air matanya dengan kedua tangannya dan melompat dari jendela menghilang di pagi hari yang cerah.
Adyan merasakan bertambah sakit pada hatinya saat melihat sosok kecil menghilang...
3 tahun kemudian.
Adyan hidup seperti biasanya, bekerja setiap hari hingga malam lalu tidur. Sudah tiga tahun, dia tidak bertemu lagi dengan sosok mungil berwajah cantik itu. Dia merasakan kehampaan di hatinya.
Hari-hari yang dilaluinya, selalu teringat wajah kecil sedang menciumnya ketika bangun tidur.
Wanita yang hanya seukuran dadanya menghilang bagai di telan bumi.
Kini dia telah di pindahkan ke minimarket di jalan Shu, sedikit lebih jauh dari rumahnya. Sea selalu menasehatinya agar menanyakan apakah di dalam hatinya ada wanita itu. Adyan bahkan tidak tahu siapa nama gadis mungil itu.
Namun saat dia teringat wajah dingin dan air mata dari gadis itu hatinya begitu sakit, seolah-olah bagaikan di remas-remas.
Saat Adyan melamun, suara wanita terdengar memasuki telinganya.
"Kenapa melamun?saya sudah selesai belanja."
"Ah saya meminta maaf Bu, maaf sekali. Apakah sudah ini saja?" Adyan menarik pikirannya yang melayang dan kembali melayani.
Wanita di depan Adyan mencari sesuatu di tasnya, namun tidak ada. "Sayang, dompet mamah ketinggalan di mobil tolong cari dan bawa ke dalam."
"Saya meminta maaf mas, dompetnya ketinggalan. Tunggu ya mas." Senyuman meminta maaf dengan tulus memasuki mata Adyan. Dia hanya mengangguk, sejak kejadian 3tahun lalu dia menjadi pendiam.
"Ini..."
Adyan yang sedang menunduk, bergetar saat mendengar suara dingin seorang wanita. Dia mengangkat kepalanya dan matanya menatap tidak percaya pada wanita yang baru masuk itu.
"Kamu..."
Badan Zhhie tegang kala mendengar satu kata dari pria di seberang meja kasir. Dia mendongak dan tatapan matanya bertemu mata Adyan.
Dalam sekilas Zhhie menyudahi tatapannya dan membawa kakinya pergi. Adyan sekarang tidak bodoh. Dia memutari meja kasir dan lari mengejar gadis mungil itu.
Nara Lim yang melihat kejadian tertegun, ada apa?
Dia ingat putrinya mengatakan akan menggoda calon menantunya, namun saat pulang. Nara Lim melihat kekecewaan di wajah putrinya. Dari mulai itu dia tidak menanyakan calon menantunya lagi, dia bisa menebak kelanjutannya. Sejak sat itu Putrinya lebih murung dan lebih dingin.
Namun saat melihat adegan tadi, dia memahami. Bahwa pri yang putih dan tampan tadi adalah pria yang di sukai putrinya.
Zhhie mempercepat langkahnya, namun kakinya yang pendek tidak bisa mengalahkan kaki Adyan yang panjang. Adyan menarik tangan Zhhie kepelukannya, tubuh Zhhie yang kecil menabrak dada bidang Adyan.
Saat Zhhie hendak mendorong Adyan, Adyan menundukkan kepalanya dan menarik dagu Zhhie ke atas. Dia menciumnya dengan kikuk, Adyan memejamkan matanya dan air mata lolos dari matanya, bibirnya bergetar. Zhhie yang melihat pria Lugu di depannya meneteskan air mata dan merasakan bibirnya bergetar hanyut dalam buaian. Namun sesaat dia mendorong Adyan menjauh, matanya berkilat dingin. Zhhie mengusap kasar bibirnya, seolah jijik.
Dia menodongkan pistolnya ke arah jantung Adyan.
Adyan kembali membuka matanya selah di dorong Zhhie menjauh. Tatapan tajam Zhhie memasuki mata Adyan, rasa sakit di dada Adyan kembali bertambah. Dia melihat gadis didepannya menodongkan senjata.
Namun Adyan melangkah maju dan memegang pistol di tangan Zhhie dan mengarahkannya lebih dekat ke jantungnya. Dia tersenyum manis, senyum paling manis dan paling tulus.
"Aku tahu, ini terjadi karena kebodohanku di masa lalu. Sejak kejadian itu aku merenungkan diri, sekarang aku menyadari bahwa hatiku yang sakit saat kamu menghilang dari jendela sampai sekarang adalah karena kehilanganmu. 1tahun aku tersiksa dengan sakitnya hatiku, namun saat ke dokter dia bilang hatiku baik-baik saja. Sejak saat itu aku menyadari bahwa aku telah kehilanganmu. Aku tahu kamu kecewa karena lintasan simpati dan rasa bersalah di mataku. Awalnya memang seperti itu, namun saat aku membalas ciumanmu aku merasakan bahagia yang belum pernah ada. Aku ingin mencarimu, namun bahkan aku tidak tahu namamu. Aku bodoh, namun aku bahagia bertemu kembali denganmu." Adyan menangis, air matanya turun begitu deras. Namun tangannya tetap menekan pistol ke jantungnya.
Zhhie tertegun. Zhhie ingin menarik pistolnya, namun begitu sulit. Entah apa yang di jalani Adyan 3tahun ini, kekuatannya begitu beda dari sebelumnya.
Zhhie panik kala tangan Adyan yang di atas tangannya, menarik pelan-pelan pelatuk pistolnya. Adyan tersenyum bahagia dan terus menekan tangan di pelatuknya.
Air mata Zhhie mengalir, dia menggelengkan kepalanya.
Saat peluru akan di luncurkan, Nara Lim memukul bahu Adyan, sehingga pistol jatuh dan meluncur ke tanah.
Zhhie menendang pistol menjauh, dan melompat kedalam dekapan Adyan. Badannya bergetar, tangisan yang telah 3tahun di tahan keluar. Zhhie memukul pelan dada adyan dan sesenggukan. Nara Lim mengambil Poto mereka dan mengirim ke suaminya dengan caption #CalonMenantu.
"Kau bodoh jangan lakukan hal seperti itu, itu berbahaya."
"Baik." Adyan mengangguk pelan,dan mendekap erat tubuh mungil Zhhie.
"Siapa namamu?" Tanya Adyan
"Zhhie Willson."
Adyan tertegun sesaat dan menjadi bodoh lagi. Zhhie yang merasakan perubahan ini, melepaskan tubuhnya dan menjauh.
"Hahahaha....aku tahu dan sudah menebak akan seperti ini, siapa di dunia ini yang ingin memiliki wanita berlumuran darah sepertiku." Zhhie berteriak tertawa dan menangis, kali ini tubuhnya bergetar hebat, kepedihan selama ini yang di pendamnya terungkap. Tubuh Nara Lim yang hendak masuk mob, kaku di tempat. Dia melihat putrinya yang rapuh dari kejauhan.air mata Nara Lim turun.
Adyan yang kaku kembali sadar. Dia menarik Zhhie kedalam pelukannya kembali. Dia mengelus rambut Zhhie,dan menciumnya pelan.
"Bukannya aku tidak menerimamu, aku hanya kaget sesaat. Apapun identitas dirimu aku akan tetap menyukaimu Zhhie!" Pernyataan tegas Adyan Membuat Zhhie mendongak, mencari kebohongan dimatanya. Namun yang dilihat Zhhie hanya mata kasih sayang.
Adyan menunduk dan melumat bibir Zhhie,kali ini bukan kikuk namun agresif. Zhhie yang kembali sadar, membalas ciumannya. Lidah mereka bersahutan saling menyedot. Zhhie menanggapi ciuman sambil menangis, setelah Zhhie kesulitan nafas Adyan melepaskan pangutannya. Dia tersenyum lebar melihat wajah Zhhie merah.
"Aku ingin meminta tanda kepemilikan!" Adyan menunjukan leher putihnya.
Muka Zhhie bertambah merah padam. Sialan dia di goda. "Cabul..."
Namun Zhhie tetap melakukannya, tetapi hanya setengah keras. Sehingga tidak berdarah hanya membiru saja.
Hingga akhirnya Zhhie dan Adyan dinikahkan oleh orang tua Zhhie. Hingga kini mereka memiliki keluarga sempurna dengan kehadiran Zen Lexi Willson.