Namaku Ayu, aku adalah siswi Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat 2. Pernahkah kalian mendengar istilah "lucid dream"?, hal itu sedang menarik perhatianku akhir-akhir ini.
Kudengar Lucid dream adalah keadaan dimana aku mengalami mimpi yang bisa ku kendalikan sesuka hatiku, tanpa ada kenyataan yang menghalangiku. Seolah melihat dunia lain, tempat dimana aku bisa melampiaskan isi hatiku dan melupakan duniaku yang hirukpikuk, akupun tergiur untuk mencobanya.
Aku baru mengetahui jika Lucid dream bisa dilakukan dengan sengaja, setelah ku cari cara melakukannya, dengan sekali membaca akupun mencobanya tanpa ragu, meskipun orang berkata hal ini beresiko bahwa aku bisa saja terjebak dalam mimpiku sendiri namun aku seakan tidak peduli dengan itu semua.
Aku hanya ingin merasakan rasanya bermain dengan puas di dalam dunia yang hanya berisi diriku seorang.
Pagi telah berubah menjadi siang, matahari sudah menempatkan dirinya tepat si atas kepala para humans.
Aku mulai memejamkan mataku dengan posisi berbaring paling nyamanku, kubuang sejenak semua kerumunan dalam kepalaku dan mencoba hal yang disebut santai, kemudian aku mencoba tidur dengan tetap mempertahankan kesadaran akalku semampuku.
Aku mempertahankan keadaan itu selama yang aku bisa, detik demi detik, menit demi menit, entah berapa waktu yang ku konsumsi selama aku berdiam diri.
Tiba - tiba aku merasakan sesuatu, sembari memejamkan mata, tubuhku seakan menjadi ringan dan melayang bak daun tertiup angin. Rasanya sedikit merinding tapi lumayan nyaman, mataku yang tertutup hanya melihat warna hitam yang tiba-tiba melihat warna lain yang bercampur tidak karuan.
Hal yang tak dapat terjelaskan ini mungkin yang mereka sebut sleeping paralice.
Sleeping paralice suatu tahap dan pertanda aku akan memasuki keadaan yang ku inginkan yaitu Lucid dream.
Setelah mengalami Sleeping paralice itu, mataku terbuka dengan sendirinya, aku berada di atas kasurku, di dalam kamarku, dengan posisi sama seperti sebelumnya.
"Apakah aku gagal?" Pikirku sejenak. Aku memutuskan untuk melihat keluar jendela, keadaan masih sama seperti sebelumnya, matahari masih menempatkan dirinya di atas kepala humans dengan tentram, kurasa aku terbangun.
Aku mengulangi niatku dan apa yang aku lakukan sebelumnya, ku pejamkan mataku sembari berbaring, sejenak ku kosongkan pikiranku sambil mempertahankan kesadaran se mampu ku.
Tak begitu lama kemudian, tubuhku terasa terbang pertanda aku memasuki kondisi Sleeping paralice.
Setelah Sleeping paralice itu berakhir mataku terbuka dengan sendirinya dan aku masih berada di atas kasurku, dangan posisi sama, aku melihat keluar jendela, pemandangan masih sama, matahari belum berpindah sedikitpun.
"Apa aku gagal lagi?" Begitu pikirku.
Tanpa pertimbangan aku mencobanya kembali, dengan cara yang sama, proses yang sama dan hasil yang tetap saja sama.
Matahari sama sekali tidak bergerak, sejenak kufikir apa aku tidak tidur?, atau aku sama sekali tidak memakan waktu ketika aku tidur. Andai saat itu aku melihat jam.
Sudah 3 kali ber turut-turut aku mencobanya dan gagal, dan aku mencoba kembali, kali ini berarti yang ke 4.
Berbaring sambil memejamkan mata, kukosongkan pikiranku sembari mempertahankan kesadaranku.
Sleeping paralice kembali terasa dan mataku terbuka dengan sendirinya.
Aku berada di tengah padang pasir, ditangah dua orang pria yang sedang duduk berhadapan dengan wajah serius seolah sedang merapatkan suatu masalah.
Pakaian kami sangat asing persis seperti orang zaman kuno. "Asik akhirnya aku berhasil melakukan Lucid dream!" Seruku kegirangan di dalam hati.
Aku mencoba mengangkat seuara terlebih dahulu dengan sebuah pertanyaan, aku muluai mengeluarkan sedikit suaraku "apakah-" ucapku yang dipotong dengan sengaja dengan ucapan "Diam!" Yang di lontarkan dua pria itu.
Kenapa mereka memarahiku, situasi abzurd ini membuatku sedikit tidak nyaman, akupun memutuskan untuk mengganti mimpiku dengan mensugesti diriku sendiri.
Wussss... bak film magic fantasi, seketika segerombolan kabut menelanku yang sedang duduk diam, akupun menghilang dari tempat itu dan ber alih di atas kasurku seperti sebelumnya.
"Yah... aku bangun" ucapku mengeluh. Daripada mencobanya kembali, aku memutuskan untuk keluar dari kamar.
Kakakku tiba-tiba pulang membawa sayuran, akupun dengan spontan membuka lemari es dan mendapati masih ada sayuran di dalam "Kak, kan masih ada sayuran, kenapa beli?", Tanyaku. Kakakku pun menjawab "ya tinggal buang ajakan itu sayur". Aku super heran, tapi dari pada berdebat saat itu aku lebih memilih untuk tidak menggubrisnya lagi.
Aku berbalik untuk menuju ke kamar lagi.
Saat aku berbalik, aku baru menyadari kalau dari aku bangun tadi, semua perabot di rumah mengapung bak pelampung di dalam kolam renang.
Sebelum aku mencernanya dalam nalarku, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu dari jauh, seolah memanggil namaku untuk mendekatinya akupun memperhatikan bunyi ketukan itu dan mengikutinya, seketika akupun tiba-tiba terbangun dari tempat tidur.
Ternyata ketukan itu adalah Ayahku yang sedang mengetuk jendela mencoba membangunkanku agar membukakan pintu rumah untuknya.
"Jadii... mulai dari mana mimpiku tadi?" Pikirku setelah benar-benar bangun.