Jika ada yang bertanya seperti apa dunia, aku tidak tau. Apa kebahagiaan itu? Aku tidak tau. Menjalankan misi, menyusup, bahkan sampai membunuh,begitu membosankan...
"nomor tujuh. Misi mu kali ini adalah menyelinap ke markas musuh..."
"kau harus membunuh..."
"malam ini kamu harus..."
"tugas mu adalah..."
"misimu..."
"Misi..."
"misi..."
Aku tidak mengenal kebahagiaan, tidak ada senyuman...
"kau sudah membunuhnya?"
"ya!"
"selanjutnya kau harus..."
Bahkan tidak ada pujian sedikitpun...
"tugas kali ini tidak boleh gagal. Jika gagal kau tau apa akibatnya. Kau harus ingat, jika bukan karna oraganisasi yang menerimamu dulu, kau pikir kau bisa hidup sampai sekarang?"
Yang aku rasakan hanyalah rasa dingin, belenggu dan duri.
Apa tujuanku hidup sebenarnya?. Untuk apa aku hidup?. Mungkin kematian adalah jalan keluar bagiku.
"dorr!!"
Heh... Ini pertama kalinya aku gagal dalam misi. Bahkan luka tembakan saja tidak bisa membuatku merasa sakit. Benar benar mati rasa...
"eh! Siapa disana?"
Saat aku pikir aku akan bebas, seseorang malah menghalangiku. Bahkan untuk mati saja tidak boleh?!.
"ah! Banyak sekali darahnya. Untung saja kau bertemu denganku. Aku akan menolongmu..."
Tidak! Jangan! Kenapa kau menolongku, biarkan aku mati saja! Biarkan aku mati saja! Aku sudah lelah! Kenapa... Kau menolongku...
"kau sudah bangun? Makanlah ini sate kelinci buatan ibuku. Ini enak"
Saat pertama kali aku bangun, yang kulihat adalah sepasang mata. Ya, mata yang sanyat jernih. Dan juga... Senyuman?. Ini peetama kalinya aku melihat seseorang yang tersenyum padaku, dan lagi begitu tulus... Apa dia malaikat? Apa aku sudah mati?.
"hm? Kenapa kau diam saja?. Oh ya, namaku Arin siapa namamu?"
Nama?. Aku tertegun. Ya! Siapa namaku?. Huh aku bahkan tidak punya nama panggilan! Mereka hanya memanggilku nomor tujuh.
"hei kenapa kau tidak menjawab?. Apa itu sangat sakit sampai kau tidak bisa bicara?"
Gadis itu, Arin. Dia menempelkan tangannya pada keningku, itu membuatku kaget sampai lupa dengan lukaku.
"eh jangan bergerak! Bagaimana kalau kau membuat lukanya terbuka"
Dia panik, lucu juga. Hanya saja aku terkejut karna dia tiba-tiba menyentuhku. Lagi pula tidak ada yang pernah menyentuhku sebelumnya, bahkan musuh sekalipun. Karna aku menganggap semua orang disekitarku adalah ancaman.
"Arin, kau menakutinya".
"ibu!. Aku mana ada menakutinya"
Sepertinya wanita paruh baya itu adalah ibunya. Oh aku baru sadar apa aku diselamatkan oleh mereka?. Apa yang mereka inginkan dariku.
"nak.minumlah obat yang sudah aku racik untukmu ini."
Obat?. Apa itu bukan racun?. Lagi pula aku sudah terlalu banyak melihat dunia yang kelam dan kejam.itu membuatku tidak bisa mempercayai siapapun, bahkan orang yang disebut rekan.
"tenanglah nak. Aku tidak akan menyakitimu.jika tidak, kenapa aku harus repot-repot membalut lukamu?"
Benar juga.
"pria kecil, apa kau takut minum obat pahit?. Baiklah biar aku membantumu saja."
Arin mengambil mangkuk obat dan menyuapiku obat secara paksa!. Apa mereka benar-benar ingin menyelamatkanku?.
"Arin, pelan-pelan saja. Bagaimanapun dia pasien"
"ibu, kau harus tegas untuk pasien yang tidak suka obat pahit. Bagaimanapun ini demi kesehatannya.benarkan pria kecil?"
Pria kecil? Dia memanggilku?. Benar juga diluar aku hanya terlihat berumur 19 tahun. Tapi bagaimanapun juga aku ini adalah agen top, pembunuh profesional. Beraninya dia memanggilku pria kecil.
"hei aku tanya lagi. Siapa namamu?"
Kalau aku tidak diizinkan untuk mati, aku harus punya nama untuk hidup. Namaku...
"Seven."
"seven?. Nama yang aneh"
Aku tidak bisa memikirkan nama lain selain itu.
Yah begitulah. Aku menjalani hidup sederhana bersama mereka. Rumah kayu sederhana di dalam hutan dekat dengan sungai, benar-benar nyaman. ini pertama kalinya aku merasakan perasaan rileks. Rasanya seperti mimpi. Bahkan jika itu mimpi aku harap aku tidak akan pernah bangun lagi.
Bagaimanapun aku telah diselamatkan oleh mereka, jadi aku harus membalas budi mereka. Lagipula kemampuanku cukup berguna untuk memburu binatang untuk makan.
Aku juga tidak tau mengapa mereka mau tinggal ditengah hutan seperti ini. Aku pernah bertanya tapi mereka hanya menjawab dengan dua kata 'hidup tenang'. Mungkin mereka punya cerita mereka sendiri.
"seven, aku akan ke danau itu, kamu tunggu disini". Ini Arin. Kita sedang bersiap mengambil tanaman obat di danau itu.
"biar aku saja".
"tidak. Kamu tidak mengerti bagaimana mengambilnya. Bagaimana kalau gagal nanti. Biar aku saja. Lagipula danau ini bahaya. Biar aku yang masuk, aku sudah familiar dengan ini"
"apa kau menghawatirkan keselamatanku? Tidak perlu".
Sudah berlalu 3 tahun sejak aku tertembak dan gagal dalam misi.Arin selalu saja menganggap lemah diriku. Dia sering maju kedepan untuk melindungiku, padahal aku bisa melindungi diri sendiri. Aku bahkan bisa melindungi mereka juga. Apa dia selalu menganggapku adiknya? Tapi dia hanya lebih tua 2 tahun dariku. Bagaimanapun aku ini pembunuh profesional, yang benar saja!.
"aku tidak hawatir padamu. Aku hawatir kalau kau merusak tanaman obatnya. Aku sudah menunggu sangat lama untuk ini. Tanaman ini hanya mekar pada musim hujan kau tau?"
"eh?"
"selesai!. Lihat mudah kan?."
"Hati-hati!"
"huwaaah!!!"
Hah... Hampir saja jatuh. Untungnya aku menyelamatkan Arin. Kalau tidak dia akan terpelset dan jatuh ke danau.
"ah! Kenapa kau tidak menolong tanamannya. Oh tidak apa tanamannya jatuh? Dimana? Kenapa aku tidak melihatnya?. Habislah, aku bisa dimarahi ibu. Seven kenapa kau diam saja. Bantu aku cari".
Pft!. Dia lucu saat sedang panik.
"eh?. Hah? Oh tidak! ada apa dengan dunia ini!. Seven apa kau baru saja tersenyum tadi?. Kau tersenyum?. Wow akhirnya seven tersenyum!. setelah 3 tahun akhirnya aku melihat seven tersenyum!. Hahaha. Aku harus memberi tahu ibu."
Senyum? Apa... Aku tadi tersenyum?. Ini... Mungkin pertama kalinya dalam 23 tahun hidupku aku tersenyum. Ternyata senyum itu begitu membahagiakan. Ternyata seperti ini rasanya. Bahkan bisa membuat Arin begitu senang?. Apakah ini kebahagiaan?. Aku...sepertinya aku suka perasaan ini. Kedepannya aku akan lebih sering tersenyum saja.
"aaah!. Senyummu menjadi semakin lebar. Astaga seven kau tidak sakit kan?".
Aku hanya memandang Arin yang melompat senang disana, bahkan tidak memperdulikan bajunya yang basah.
Aku mendekatinya dan memeluknya. Sepertinya aku menemukan apa yang aku inginkan selama ini. Terimakasih Arin juga terima kasih untuk ibumu. Terimakasih untuk semua kehangatannya.
"eh? Apa, apa yang kau lakukan?"
"terima kasih. Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini".
Aku memeluknya semakin erat seakan takut bahwa semuanya ini tidak lah nyata. Seakan takut takdir akan merebut semua kebahagiaannya lagi.
"Arin mana tanamannya?. Eh Seven? Apa yang kalian berdua lakukan?"
"Aaaah! Ibu!. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk. Ibu percayalah pada Arin".
Arin mendorongku dengan sangat cepat! hampir saja jatuh ke dalam danau. Untuk kakiku kokoh.
"Seven, apa barusan tadi kau memeluk Arin?". Tanya ibu Arin padaku dengan penuh nada curiga.
"Aku, aku tidak bermaksud-". Baru saja ingin menjelaskan langsung dipotong dengan tepuk tangan dari ibunya Arin.
"plak! Sudah diputuskan!"
"bu, jangan salahkan Seven. Mungkin ada salah faham, jangan hukum dia."
"gadis bodoh. Siapa yang akan menghukumnya. Seven kau tahu kan Arin adalah putriku satu-satunya, aku tidak akan membiarkannya tertindas. Seven, karna kau sudah memeluk putriku maka aku putuskan... Kau nikahi Arin sekarang juga!"
"Apa?"