Suram. Satu kata itu mampu menggambarkan perasaan sang puan, ia berdiam diri termenung di dalam kamarnya sembari mendengarkan lagu-lagu sedih kesukaannya. Sang puan itu bernama, Prasasti. Sebut saja dia, Pras.
Prasasti adalah seorang yang menyukai suara hujan, aroma hujan, dan air hujan. Apapun tentang hujan, ia sangat menyukainya. Prasasti bahkan selalu senang ketika sudah mendengar suara guntur menggema di awan. Siapa yang senang jika ketika ingin menangis, ia harus berdiri di bawah guyuran hujan supaya tidak ada yang mengetahui dan tidak terdengar isak tangisnya? Ya benar! Prasasti.
Aneh. Satu kata itu cukup penggambarkan bagaimana Prasasti. Tapi, itulah cara yang ia tunjukkan untuk meluapkan segala sesuatu yang ada dalam hatinya.
“Aku rela dibawah guyuran hujan, demi melampiaskan emosi,” Lirih Prasasti.
Prasasti memang tidak pernah melampiaskan emosinya, kecuali kepada hujan. Menurutnya, hujan akan berpihak kepadanya, dan tidak akan mengatakan bahwa tangisnya sangat berisik dan menggangu. Hujan atau dalam istilah ilmiahnya disebut presipitasi cair.
Prasasti adalah anak yang sangat tertutup, bisa di bilang ia adalah seorang introvert, tidak suka keramaian dan suara berisik manusia-manusia. Prasasti tidak mempunyai teman, itu fakta mengejutkannya. Temannya hanya hujan dan sebuah kucing.
Prasasti tidak mempunyai kakak bahkan adik, ia hanya hidup seorang diri dengan kesepian. Ya, Prasasti merasa setiap harinya sepi dan sunyi. Orang tuanya ada, namun seperti tidak ada. Selalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan lupa bahwa mereka juga memiliki seorang anak bernama Prasasti.
“Pras, ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kamu. Pergi ke bawah dan makan, ya!” Teriakan itu mampu membuat Prasasti menoleh kearah pintu kamarnya, tetapi ia bahkan tidak menjawab atau sekadar mengiyakan suruhan ibunya tadi. Selalu seperti itu, Prasasti hanya ingin makan bersama, bukan sekadar dibuatkan sarapan
Kadang, hal sekecil itu membuat Prasasti selalu menangis.
Prasasti beranjak dari duduknya dan berjalan kebawah menuju dapur, ia berani, karna kedua orang tuanya sudah pergi dari rumah.
Prasasti memperhatikan sarapannya sebentar dan duduk di meja makan seorang diri. Sepi.
Prasasti tersenyum, langit mulai menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Prasasti cepat-cepat berlari menuju balkon kamarnya, ini saat yang di tunggu-tunggu oleh Prasasti.
Sedikit demi sedikit cairan yang turun dari awan itu membasahi bumi, Prasasti mendongak melihat ke atas untuk memastikan. Dan benar, hujannya turun dengan deras.
Prasasti turun ke bawah dan akan segera membuat tubuhnya berdiri di bawah guyuran hujan. Sangat menyenangkan.
Di sela-sela kegiatannya bermain hujan, Prasasti melihat ada seseorang yang berdiri di belakang dirinya, memperhatikan kelakuan Prasasti, tetapi Prasasti tidak menghiraukan itu.
“Nyari penyakit, kah?,” Prasasti menoleh ketika suara itu terdengar seperti bertanya kepada dirinya. Dan Prasasti bisa melihat, dia adalah seorang laki-laki.
Prasasti mengerutkan dahinya, bingung.“Nanya ke siapa?,”
Laki-laki itu menghela nafas,“Siapa manusia disini selain kita berdua?”
Prasasti menatap laki-laki itu lalu mengangguk samar. “Iya, cuma kita. Jadi, nanya ke saya?”
“Iya. Sedang apa kamu bermain hujan? Ingin sakit?,”
Prasasti menatap laki-laki di depannya, dan segera pergi melangkahkan kakinya menuju kerumahnya. Tetapi, sebelum dia benar-benar masuk, laki-laki itu kembali berbicara.
“Jika ingin menangis tidak usah menunggu hujan, menangis saja, semua orang tidak harus sok kuat.”
Prasasti tertohok, kata-katanya barusan seperti menyindir dirinya. Sebenarnya, siapa laki-laki itu?
Malam ini Prasasti berdiri di balkon kamarnya sembari melihat pemandangan di depannya. Pemandangan yang Prasasti lihat adalah, sebuah Jenggala. Jenggala yang gelap, namun mempunyai kesan tersendiri untuk Prasasti.
Prasasti menoleh kearah kanan rumahnya, ia mendengar suara seseorang yang seperti tengah bermain basket. Malam ini memang tidak turun hujan.
Prasasti memperhatikan seseorang yang sedang memantul mantulkan bola tersebut dan berusaha memasukkan bolanya ke dalam ring basket. Prasasti menatap dengan intens laki-laki itu, rasanya tidak familiar untuk Prasasti. Siapa laki-laki itu?
Tiba-tiba saja netranya bertubrukan dengan netra laki-laki itu, laki-laki itu tersenyum kepada Prasasti sembari melambaikan tangannya.
Prasasti tersentak dengan tindakan laki-laki itu, bingung harus merespon seperti apa. Prasasti segera masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu balkonnya dengan rapat. Canggung sekali.
Prasasti duduk di meja belajarnya sembari membayangkan kejadian yang baru saja terjadi, rasanya dejavu, tetapi entah kejadian apa yang berhasil membuat Prasasti merasa dejavu.
Tok! Tok! Tok!
Prasasti menoleh kearah pintu kamarnya, ia berjalan untuk membuka kenop pintu tersebut. Setelah membuka pintu kamarnya, seorang perempuan paruh baya yang tidak terlalu tua namun persis seperti anak muda itu menghela nafas melihat Prasasti.
"Pras, ibu udah pernah bilang kan, kalo malam tidak boleh membuka pintu balkon, nanti banyak nyamuk."
Prasasti hanya mengangguk,"Iya."
Laras—ibunya hanya menghela nafas lalu pergi meninggalkan Prasasti yang masih berdiri. Prasasti kembali menutup pintu kamarnya dan duduk di tepian kasur.
Prasasti menatap langit-langit kamarnya, dan membayangkan wajah laki-laki tadi.
Prasasti beranjak dari tidurnya dan duduk di meja belajarnya. Ia membuka sebuah laci kecil dan mencari sesuatu yang bisa membuat dirinya ingat siapa laki-laki itu. Tapi, tidak ada satupun sesuatu tentang laki-laki itu. Aneh.
Pekarangan rumah Prasasti memang dekat dengan sebuah Jenggala, itu yang membuatnya penasaran siapa laki-laki yang bertetangga dengannya itu? kenapa baru kali ini Prasasti melihatnya?
Pagi ini Prasasti sedang bersiap untuk mengikuti kegiatan zoom meeting bersama guru privatenya. Prasasti memang memilih untuk melakukan home schooling.
Prasasti turun menuju meja makan dan melihat ibunya sedang berbincang dengan seorang perempuan paruh baya yang seumuran dengannya. Seperti mirip seseorang, tapi siapa? Ah! Laki-laki yang akhir akhir ini ia temui. Si tetangga.
“Eh, Pras. Sini, nak!”
Prasasti tersadar dan segera menghampiri ibunya, lalu tersenyum singkat kepada seseorang yang tadi berbincang dengan ibunya itu.
"Sil, ini anak saya, namanya Prasasti." Prasasti menoleh kearah sang ibu yang sedang memperkenalkan dirinya.
“Anak kamu, seumuran anak saya Ras?,”
Perempuan paru baya itu menyentuh tangan Prasasti dengan lembut lalu tersenyum.
Laras—Ibunya mengangguk,“Iya, tapi Prasasti milih buat home schooling, jadi saya yakin dia tidak kenal anak kamu.”
“Hallo, Prasasti. Kenalin nama tante Sisil, salam kenal ya anak cantik,” Sapa perempuan paru baya bernama—Sisil.
Prasasti tersenyum singkat, sebenarnya itu tidak bisa di katakan senyuman, karna sangat samar sekali.“Hai, tante Sisil.’’
Prasasti menoleh kearah ibunya,"Ibu, Pras ada kelas pagi. Kalo ibu mau berangkat, hati-hati."
Laras tersenyum memperhatikan Prasasti hingga hilang dalam penglihatannya. Laras menghela nafas gusar, lalu menoleh kearah Sisil—temannya.
"Ras, susah ya membesarkan anak seorang diri? Tidak mudah, kan?”
Laras hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya. Memang, tidak mudah. Tapi, bagaimana lagi? Prasasti pasti membutuhkan kasih sayang lebih dari kedua orang tuanya. Tapi, hanya Laras yang ada di sampingnya.
Anak mana yang tidak membutuhkan kasih sayang seorang Ayah? Bagaimana dengan kalimat bahwa Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya? Apakah Prasasti masih percaya dengan kalimat itu?
Tentu, tidak. Prasasti tidak percaya kalimat seperti itu, ia hanya mengetahui bahwa Ayahnya adalah patah hati pertamanya.
Sore ini Prasasti berniat ingin berjalan-jalan, melihat langit orange, mungkin? Entahlah, yang penting adalah ia bisa menghirup udara segar.
Prasasti berjalan-jalan bersama kucing kesayangannya, kucing yang ia beri nama indah—Pippo.
Di tempat tinggalnya ada sebuah taman, namun tidak begitu ramai manusia-manusia yang berlalu lalang, karna tempat tinggalnya memang sangat sepi hanya ada beberapa rumah besar saja dan juga sebuah Jenggala yang terlihat lumayan seram tapi tidak begitu seram.
Prasasti sesekali memotret Pippo yang terlihat senang karna di ajak berkeliling taman, Prasasti sesekali terkekeh gemas melihatnya.
Karna keasyikan bermain bersama Pippo, Prasasti tidak menyadari bahwa ada seseorang di depannya yang tengah bermain sepeda dan membuat Prasasti terjatuh.
“Aduh, eh Pippo! Pippo sini.”
Prasasti berusaha bangkit walaupun telapak tangannya sangat perih, tapi, yang lebih penting sekarang adalah kucing kesayangannya.
Prasasti menoleh ke arah kanan kiri,“Pippo! Pippo ayo pulang,”
Prasasti seperti ingin menangis,“Pippo... Pippo, maafin aku..”
Tiba-tiba seseorang di belakang Prasasti menepuk bahu Prasasti, dan itu membuat Prasasti terkejut lalu membalikkan badannya.
“Ini kucing kamu?,” Tanya laki-laki di hadapan Prasasti dengan kucing di pangkuannya.
Laki-laki itu. Batin Prasasti
Laki-laki di hadapan Prasasti menatap bingung kearah Prasasti, pasalnya, Prasasti hanya menatap wajahnya. Di wajahnya ada apa memangnya?
“Hallo, ini Pippo kucing kamu, bukan?” Tanya laki-laki itu sekali lagi.
Prasasti mengangguk. “Terima kasih, saya tidak tau apa jadinya jika kamu tidak menemukan Pippo. Sekali lagi, terima kasih.”
Prasasti membalikkan badannya berniat pergi dari hadapan laki-laki itu, tetapi laki-laki tersebut sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangan Prasasti. “Perempuan yang bermain hujan, kan?”
“Kita saling kenal?,”
Laki-laki itu menjulurkan tangannya,“Tidak. Tapi, sekarang kenal. Nama saya Praja.”
Prasasti ragu untuk mengulurkan tangannya, tetapi mengingat laki-laki itu adalah penolong kucingnya yang hilang, mau tidak mau.
“Saya, Prasasti.”
“Prasasti dan Praja. Cocok, ya?”
——————
3 MINGGU KEMUDIAN
Hari ini matahari terlihat sangat terik, tapi cuacanya tidak begitu panas. Awan yang indah, dan angin yang sepoi-sepoi menerba Prasasti yang tengah melukis di balkon kamarnya. Pemandangan yang ia lukis adalah—Jenggala.
Sebuah jenggala yang gelap itu seakan bercahaya dan menampakkan keindahannya di depan Prasasti. Lukisan yang indah itu seakan hidup. Indah sekali.
“Beauty that no one has ever seen, and I was the first to see it.”
Bagaimana bisa sebuah keindahan ini bisa tidak diketahui banyak manusia? Jenggala yang selalu dianggap menyeramkan, justru menjadi sebuah keindahan yang tiada tara.
Pandangan Prasasti beralih pada sosok laki-laki yang sedang memantulkan bolanya kearah ring basket. Laki-laki itu, pikirnya.
Ada banyak sekali pertanyaan tentang, bagaimana laki-laki itu ada di lingkungannya sedangkan Prasasti saja baru melihatnya kali ini? Prasasti bukan tipe introvert yang berdiam diri dirumah, ia bahkan sesekali pergi ke taman untuk jalan-jalan bersama dengan kucing kesayangannya—Pippo.
Pandangannya bertemu dengan sosok manik hitam milik laki-laki itu, Prasasti segera mengalihkan pandangannya pada lukisannya tadi. Canggung sekali.
Prasasti memberanikan diri untuk melihat laki-laki itu lagi, namun ia tidak menemukan siapapun disana. Kemana perginya dia?
“Mencari siapa?”
Prasasti menoleh ke belakang dan menemukan laki-laki itu, bagaimana bisa dia masuk kedalam rumahnya tanpa izin?
“Saya sudah izin, tenang saja.” Ucap Praja seakan mengetahui apa yang ada dalam pikiran Prasasti.
“Sedang apa disini? Saya tidak menyuruh kamu kesini.”
Praja terkekeh mendengar penuturan Prasasti. “Memang, tapi akan lebih enak jika kamu melihat saya secara dekat. Betul begitu, bukan?”
Malu. Satu kata itu berhasil menggambarkan bagaimana Prasasti kali ini. Bagaimana ini? mana mungkin laki-laki bernama Praja ini menyadarinya?
“Lukisan kamu indah, ya? Tapi lebih indah jika objeknya adalah, saya.”
Prasasti menoleh, “Saya tidak menyukai objek manusia.”
“Jika manusia itu adalah saya, bagaimana?”
“Tetap tidak suka. Kamu manusia, kan?”
Praja terkekeh,“Saya manusia, mangkanya saya ingin menjadi objek lukisan kamu, Pras.”
Prasasti menghela nafas lelah dan tidak membalas ucapan laki-laki itu. Prasasti kembali melanjutkan lukisannya.
“Selagi saya masih bisa di lihat dan di lukis, kenapa tidak?,” Praja beralih menatap Prasasti. “Saya juga ingin abadi, di dalam lukisan itu.”
“Not all things have to be eternal in a picture, they could be eternal because they play an important role in someone's life.” Ucap Prasasti.
Praja terdiam, lalu kembali menatap Prasasti. “Lalu saya abadi dimana?”
“Pikiran saya.”
Pikiran saya
Pikiran saya
Pikiran saya
Dua kalimat itu mampu membuat Praja menghela nafas, dadanya bergemuruh hebat. Apa maksud Prasasti berkata seperti itu, ya? Atau ia hanya bermain-main saja dengan ucapannya?
“Seharusnya jika ingin bercanda, jangan seperti itu. Hati seseorang bukan mainan.”
Praja duduk dikursi belajarnya sembari memainkan sebuah kotak obat. Praja memang mengkonsumsi obat sejak ia masih kecil. Tidak ada yang mengetahui faktanya mengenai itu, hanya keluarganya saja.
Praja menatap jendela kamarnya dan melihat ada banyak sekali bintang di langit malam itu. “Cantik. Seperti Prasasti.”
Jika bintang di langit sama cantiknya dengan seseorang, lalu bagaimana jika jadinya seseorang itu menjadi sebuah bintang indah di langit? Akan menjadi lebih indah, kah? Atau menjadi bintang paling cerah, kah?
“Bukan dia yang akan menjadi Bintang, tetapi saya. Saya yang akan menjadi Bintang, supaya saya bisa menjadi objek lukisannya.” Ucap Praja.
Malam hari terasa begitu cepat berlalu, pasalnya hari ini sudah terlihat matahari masuk kedalam sebuah selimut milik Prasasti.
Setiap pagi adalah awal yang baru bagi semua orang. Pergi bekerja, sekolah, atau bahkan melakukan banyak aktivitas lainnya. Setiap pagi adalah perjuangan baru, dan semua orang pasti meyakinkan dirinya sendiri bahwa hari ini pasti akan berjalan dengan baik, begitupun dengan Prasasti.
Bagi sebagian orang, menjalani hari-hari seperti ini sangat sulit. Karna setiap hari adalah perjuangan. Tapi, tidak sulit jika kita menjalani harinya dengan senyuman, kan?
Rutinitas pagi Prasasti tetap sama, ia akan bersiap-siap zoom bersama dengan guru privatenya. Sarapan yang menunggunya di bawah juga sudah menjadi rutinitas, walaupun ia menjalaninya dengan kesepian.
Prasasti membuka kaca balkonnya agar Matahari masuk dengan sempurna kedalam kamarnya. Namun, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah laki-laki aneh yang menerobos masuk kedalam rumahnya kemarin—Praja.
“Selamat pagi, Tuan puteri.” Sapa Praja dengan nada sedikit kerasnya agar Prasasti dapat mendengernya.
Prasasti tidak menghiraukan sapaan itu, ia hanya diam dan kembali kedalam kamarnya untuk bersiap sarapan. Dalam hatinya, ia menjawab sapaan itu. Selamat pagi, manusia senyum indah.
Praja memperhatikan perginya Prasasti tanpa membalas sapaannya. Tidak apa-apa, mungkin Prasasti sedang sibuk. Praja senang, karna pagi hari ini ia bisa melihat wajah cantik itu. Senang sekali.
“Wajahnya tetap cantik, dalam keadaan apapun.”
Praja tiba-tiba mempunyai ide cerdik yang ada di dalam pikirannya. Ia kembali masuk kedalam rumah dan mengambil Notes lalu menuliskan sesuatu.
Sore nanti mari berkeliling taman dengan saya, melihat sunset. Bawa pippo, ya!
Kira-kira begitulah isi notes tulisan Praja untuk Prasasti. Ia menyimpannya dekat pot bunga di halaman rumah Prasasti. Semoga Prasasti membacanya.
Prasasti membawa sampah yang ada dikamarnya untuk ia buang. Sebelum melanjutkan langkahnya, Prasasti melihat Notes di pot bunga miliknya.
Sore nanti mari berkeliling taman dengan saya, melihat sunset. Bawa pippo, ya!
Sore? Prasasti membuang notes tersebut kedalam plastik sampahnya dan melajutkan langkahnya tadi. Setelah membuang sampah, Prasasti mengambil kertas kecil dan menuliskan balasan untuk pengirim notes tadi. Ia mengetahui siapa pengirim notes tersebut.
Let's go, i want to look sunset.
Prasasti berjalan kearah rumah di sebelah rumahnya. Ia menyimpan notes itu di depan pintu rumah tersebut lalu kembali ke rumahnya. Entah perasaan apa yang Prasasti rasakan, tetapi rasanya sangat excited untuk pergi sore ini. Happy.
Kelas hari ini sudah selesai. Prasasti berniat mencari baju untuk ia pakai. Hm, seharusnya Prasasti tidak perlu sampai menyiapkan pakaian untuk dipakai, kan? Ini bukan first datenya, tidak perlu. Tidak.
“Aku kenapa, ya? Seharusnya biasa saja.” Batin Prasasti.
Entahlah, rasanya seperti ah sangat senang. Entah perasaan apa ini namanya, Prasasti tidak mengerti.
Prasasti tidak lagi peduli dengan pakaiannya, toh cuma ketaman, kan? tidak usah berlebihan, tidak apa-apa.
Apa kalian berharap bahwa Prasasti tidak peduli dengan penampilannya? kalian salah. Perkataannya berbeda dengan apa yang ia lakukan saat ini. Prasasti sedang mengeluarkan semua bajunya di dalam kemari, baju itu menumpuk di atas kasurnya dengan sangat berantakan.
Prasasti melihat satu persatu pakaiannya. Ia menemukan baju yang cocok untuknya, ia tersenyum dan memisahkan baju itu dari bajunya yang lain.
Prasasti mulai merapihkan lagi pakaiannya kedalam lemari, ia seketika sadar dan berhenti dari aktivitasnya, “Hah, aku ngapain, sih?”
Prasasti menghela nafasnya dan duduk di tepian kasur sembari membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu. Kenapa Prasasti sangat excited, ya?
“Ga mungkin, iya ga mungkin.”
Prasasti selalu berucap hal-hal yang menurutnya impossible, alias tidak mungkin terjadi. Ia hanya ingin pergi melihat sunset, tidak lebih dari itu. Ya, mungkin.
Di sisi lain, Praja tersenyum melihat secarik kertas yang ada di depan pintu rumahnya. Hatinya seketika berbunga-bunga, seperti taman bunga yang baru saja panen. Ah, terbayang, kan?
Praja tidak sabar menanti sore nanti, apapun yang terjadi di sore nanti, akan selalu abadi dalam ingatannya. Tentang Prasasti, dan senja. Semuanya akan abadi dalam memori pikiran Praja. Praja janji akan hal itu. Semuanya akan ia rekam melalui memori pikirannya.
Praja seketika terdiam ketika mengingat sesuatu yang membuatnya sedih, tentang rasa sakitnya yang selama ini menghantui Praja seolah langsung menghantam pikirannya seolah-olah menyuruhnya untuk tidak usah terlalu ber-ekspektasi terlalu tinggi akan hal apapun. Praja menghela nafasnya lelah. Ya, di dunia ini memang tidak akan ada yang benar benar abadi, tapi Praja ingin selalu abadi dalam pikiran seorang Prasasti.
“Sesuai ucapan kamu, Pras. Saya akan abadi, kan?”
Praja mulai tersenyum dan membuang pikiran-pikiran jahatnya, dan mulai masuk kedalam rumah karna jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Praja akan bersiap-siap untuk bertemu dengan sang puan.
Prasasti sudah siap dengan semuanya. Ia melihat dirinya di pantulan cermin, melihat apakah penampilannya aneh atau tidak. Prasasti memakai make up, namun tidak terlalu tebal, hanya biasa aja. Rambutnya ia gerai, tetapi ikat rambutnya akan tetap ia bawa. Sepatu putih pink yang hampir senada dengan pakaiannya. Oke, ini sangat perfect.
Prasasti menuruni anak tangga untuk menghampiri kucing kesayangannya—Pippo. Pippo sudah siap dengan pakaian kucingnya yang sangat lucu. Prasasti tersenyum, “Let's go! Kita akan jalan-jalan. Kamu jangan rewel, ya!”
Prasasti mulai berjalan keluar rumahnya, sebelum ia sampai pintu, ia sudah melihat Praja berdiri di depan rumahnya. Entahlah, Prasasti mereka sangat Nervous.
“Hai, Pras!” Sapa Praja, lalu beralih membungkuk untuk menyapa kucingnya,
“Hallo, bro!”
Praja kembali menatap Prasasti, “Cantik.”
Prasasti merasa bahwa aura disektiarnya mendadak dingin, entahlah karna apa, yang jelas Prasasti sangat malu. Ah, bukan malu karna itu, tapi, ya kalian pasti tahu.
Prasasti dan Praja mulai berjalan ke area taman. Di perjalanan Prasasti dan Praja sama-sama diam, tidak ada satupun yang membuka percakapan. Entah canggung atau bagaimana. Mereka berdua juga tidak mengerti.
Praja berusaha menghilangkan kegugupan supaya tidak canggung, tetapi ia juga bingung harus seperti apa.
“Pras, kenapa kamu milih buat home schooling?” Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas di benak Praja.
Prasasti menoleh, “Ingin saja.”
Praja hanya ber-ohh ria saja, karna tidak tahu harus merespon seperti apa. Prasasti adalah type anak yang akan tetap diam ketika tidak di tanya, kan? ah, Praja bingung jadinya.
“Kamu?,”
Praja tersentak saat Prasasti bertanya kepadanya. Praja kira Prasasti tidak akan bertanya balik mengenai dirinya. Ternyata, Prasasti tidak seburuk itu kok. Hehe.
“Sebetulnya saya tidak home schooling dulu, tapi saat ini saya terpaksa. Ya, karna ada alasan dibalik itu.” Jawab Praja.
Prasasti hanya mengangguk dan kembali diam. Tidak ada percakapan apapun, ia hanya menikmati setiap sudut taman, kadang sesekali memotret kucingnya yang terlihat sangat aktif itu.
Praja mengambil ponselnya di kantong celana jeansnya, lalu membuka aplikasi kamera dan memotret candid Prasasti yang sedang tertawa bersama Pippo. Cantik.
Jika keindahan ini bisa Praja nikmati selamanya, ia akan sangat bersyukur, melihat keindahan Prasasti adalah anugrah tersendiri untuknya.
Prasasti tiba-tiba menatap kearah kamera Praja, dan itu membuat Praja tersentak lalu mengalihkan kameranya kearah lain.
“Coba foto saya lagi bersama Pippo.”
Praja menatap Prasasti dengan mata yang berbinar dan mengangguk. “Coba kamu sebelah situ, Pippo lebih baik kamu gendong saja deh.”
Praja mulai melakukan aktivitas memotretnya, jika ada pekerjaan memotret Prasasti setiap hari, Praja adalah orang pertama yang akan melamar pekerjaan itu, walaupun tidak di beri upah, tidak masalah.
“Cantik.” Batin Praja.
Prasasti menghampiri Praja dan melihat hasil potretan itu dengan tersenyum. “Bagus, kamu photographer, ya?”
Praja terkekeh, “Iya. Photographer khusus kamu, Pras.”
Prasasti merasa canggung karna tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Ia kembali bermain bersama Pippo dan meninggalkan Praja yang masih berdiri di tempatnya sembari memperhatikan Prasasti.
Praja berlari untuk mengejar Prasasti yang sudah mulai hilang dari pandangannya.
“Pras... jalannya kenapa lari?” Tanya Praja sembari mengatur nafasnya.
Prasasti menoleh. “Biasa saja, kamu yang lama.”
“Suka es krim? Ayo beli es krim!”
Praja menarik pergelangan tangan Prasasti menuju tukang es krim yang berada di dekat kursi yang mengarah pada sebuah danau. Setelah membelinya Praja duduk di kursi depan danau bersama Prasasti dan juga Pippo. Saat ini sudah pukul setengah enam, itu artinya sunset akan segera muncul.
“Menurut kamu, lebih indah hujan atau sunset, Pras?”
Prasasti diam dan menoleh kearah Praja. “Hujan.”
“Tapi air hujan bisa membuat sakit.”
“Ya memang begitu, kan? Konsekuensi kita jika menyukai sesuatu adalah, siap untuk menerima semua rasa sakit.”
Benar. Ucapan Prasasti benar, sesuatu yang kita suka juga bisa perlahan-lahan menimbulkan rasa sakit.
Prasasti menoleh kearah Praja. “Tapi, jika kamu bertanya lebih indah siapa di antara mereka, saya akan jujur jika memang sunset jauh lebih indah.”
“Jadi?,”
“Tidak ada yang berubah. Pemenang dari setiap rasa sakit itu adalah, Hujan.”
“Lalu, Sunset?”
Prasasti kembali menatap Praja. “Obat dari segala rasa sakit.”
“Can i be your sunset, Pras?”
Prasasti menoleh dan menatap Praja yang sedang memandang langit indah di depannya. Prasasti tidak mengerti apa maksud dari ucapan Praja tersebut. Prasasti hanya menganggapnya candaan dan hanya tertawa.
“Saya serius, Pras. Make me the medicine for all your pain, make me your most comfortable home to go home, I want you to know, I'm always here, beside you forever.”
Prasasti tidak berani menoleh bahkan menatap mata Praja saat ini. Kata-kata itu yang selama ini ingin sekali ia dengar dari orang tersayangnya, ternyata orang asing yang berhasil mengucapkan itu.
Tidak terasa air matanya ikut menetes ketika ucapan Praja kembali terngiang di dalam benaknya. Rumah penuh kehangatan, rumah penuh ketenangan, Prasasti sangat menginginkan semua itu. Tangis Prasasti semakin pecah ketika mengingat kehidupannya selama ini, ia berhasil menangis tanpa tetesan air dari langit, ia berhasil, dan Praja yang membuatnya berhasil.
Praja yang melihat itu lantas segera membawa Prasasti kedalam pelukannya.
“I'm here, Pras. I'm here. . . ” Praja semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap bahu Prasasti. “Pras, nangis saja tidak apa-apa. Kamu berhak, tapi jangan terlalu lama, ya? Ingat ya, saya ada disini.”
Sore itu menjadi saksi bahwa Prasasti menangis di dalam pelukan seseorang, langit orange yang merekam kejadian itu, dan juga kucing kesayangannya yang menjadi saksi betapa terpukulnya seorang Prasasti.
“Kadang kita perlu menangis, Pras. Kamu itu manusia, bukan robot. Menangis di hadapan saya, dan jadikan saya obat untuk meredakan sakit itu. Mulai saat ini, saya akan selamanya di samping kamu. Walaupun saya pergi jauh sekali, tapi saya tetap di samping kamu.”
Prasasti melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. “Jangan pergi, Pra. . .”
Praja yang mendengar itu lantas tersenyum. “Iya, saya disini.”
—————
2 MINGGU KEMUDIAN
Hari berlalu begitu cepat, kedekatan kedua insan itu kini kian terlihat. Prasasti dengan perangainya yang masih terlihat cuek dan Praja dengan perangainya yang terlihat sangat hangat. Mereka mempunyai cara tersendiri untuk menyampaikan rasa sayang.
Jika kalian mengira mereka sering bertemu dan bertatap muka, maka perkiraan kalian semuanya salah. Prasasti bahkan tidak melihat keberadaan Praja di rumahnya akhir-akhir ini. Dimana kah Praja saat ini?
Prasasti khawatir, sangat bahkan. Praja yang selama ini selalu menunggunya di bawah, memberikannya makanan, mengajaknya berjalan-jalan, bermain bersama Pippo. Dimana sosok itu saat ini?
“I hope you okay, Pra. . .”
Ruangan bernuansa putih, bau obat-obatan yang sangat menyengat, alat alat rumah sakit yang tertata rapih, dan juga sosok manusia yang tengah terbaring lemah di brankar rumah sakit itu. Sosoknya adalah—Praja.
Sudah Satu minggu yang lalu Praja berbaring tak berdaya, rasanya ketakutan-ketakutan itu seperti menghantui Praja saat ini. Ia bahkan masih mengingat janjinya kepada Tuan puteri—Prasasti. Bahkan di saat terlemahnya saat ini, Prasasti masih tidak mengetahui apapun tentang keadaannya.
Praja takut, bagaimana jika suatu hari nanti ia tidak bisa menepati janjinya itu? Bagaimana dengan Prasasti?
Bahkan yang ada di pikirannya saat ini adalah, jika suatu saat dirinya benar-benar abadi dan hilang, ia ingin disaat terkahir itu ia bisa mengucapkan kalimat selamat tinggal dengan indah untuk Tuan Puterinya. Itu janjinya kepada dirinya sendiri.
“Saya baik-baik saja, Pras. Akan selalu begitu.”
—————
SATU BULAN KEMUDIAN
Satu bulan berlalu, Prasasti tetap tidak mengetahui kabar Praja, bahkan tidak ada seorangpun yang bisa ia tanyai mengenai laki-laki itu. Khawatir? Tentu saja. Tetapi Prasasti tetap memilih tenang dan mencoba berpikir positif bahwa Praja baik-baik saja. Selalu baik-baik saja.
Pagi ini, pagi yang harus Prasasti jalani untuk kesekian kalinya tanpa sapaan dari sosok laki-laki yang selalu memanggilnya Tuan Puteri. Sapaan yang khas itu membuat Prasasti selalu merindukan sosok itu— Praja. Bagaimana tidak? Sapaan yang hampir setiap pagi, hampir setiap hari itu kini sudah tidak lagi terdengar oleh Prasasti. Prasasti merindu, rindu akan sosoknya.
Kadang, adakalanya Prasasti menahan untuk berusaha tidak merindukan sosok itu. Tapi, semuanya sia-sia. Senyum yang selalu Prasasti lihat, kini untuk melihatnya saja Prasasti tidak tahu harus pergi kemana.
Merindukan seseorang yang hampir setiap hari kita temui, yang bahkan suaranya saja selalu kita dengar setiap saat, tingkahnya yang selalu membuat kita tertawa. Itu adalah rindu paling menyakitkan.
Pagi ini Prasasti sedang membuat sebuah lukisan, dimana sosok laki-laki yang tengah bermain basket. Prasasti teringat sosok itu yang memaksanya untuk melukiskannya. Prasasti sudah mewujudkan hal itu, apakah ia tahu?
Prasasti sesekali menoleh kearah samping rumahnya, barangkali sosok itu tiba-tiba berdiri disana sambil menatapnya. Ya, Prasasti sangat berharap akan hal itu. Walaupun, terdengar mustahil.
Prasasti menatap lukisannya cukup lama, ia menghela nafas. Seperti ada yang hilang, tetapi sesuatu yang hilang itu bahkan Prasasti saja tidak pernah merasa memilikinya. Mungkin.
Prasasti membereskan alat lukisnya dan masuk kedalam kamarnya. Saat berada di dalam kamarnya, ia sedikit mendengar suara kendaraan roda empat. Ia segera membuka kaca balkonnya dan melihat kendaraan siapa yang datang.
Deg, Praja!
Prasasti tersenyum, dalam hatinya ia berucap syukur karna Praja baik-baik saja. Tapi ada yang aneh, mengapa ia harus memakai selang infus? Praja benar-benar baik-baik saja, kan?
Praja menoleh kearah balkon kamarnya, dan melambaikan tangan sembari bergumam, “Do you miss me, Tuan puteri?,”
Prasasti mengangguk semangat dan membalas gumaman itu, “Yes, i miss you so much, Pra. . .”
Praja tersenyum dan kembali melambaikan tangannya. Praja pergi kedalam rumahnya, tetapi Prasasti tetap diam memperhatikan Praja sampai laki-laki itu hilang dalam jangkauannya.
Prasasti senang, tentu saja. Ia sangat merindukan sosok itu. Prasasti jatuh, jatuh akan semua hal tentang Praja.
Prasasti hendak masuk kembali kedalam kamarnya, tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara Praja memanggilnya dari bawah sana. Prasasti menoleh dan melihat apa yang akan Praja ucapkan.
“Pras, ayo berkeliling taman sore ini. Aku rindu berbincang banyak hal dengan kamu.”
Prasasti tersenyum dan mengangguk,”Ayo!”
Praja tersenyum dan memperhatikan Prasasti yang sudah masuk kedalam kamarnya. Jika kalian mengira Praja sudah sembuh kembali, kalian salah. Ia hanya memohon kepada dokter dan orang tuanya untuk pulang dengan alasan ingin bertemu dengan Prasasti. Ya, alasannya memang benar seperti itu, ada banyak hal yang harus Praja beritahu kepada perempuan itu.
Taman sore ini cukup ramai. Banyak manusia yang berlalu lalang kesana kemari, ada yang bersama kekasihnya, ada juga yang sendirian. Mungkin alasan beberapa orang datang sendiri untuk mencari ketenangan di dunia luar atau memang mereka tidak mempunyai teman untuk diajak berkeliling taman? Ya, di antara kedua alasan tersebut, dua-duanya benar.
Prasasti sore ini memakai dress dengan motif bunga, entah apa yang membuatnya terlihat cantik berkali-kali lipat.
Tetapi menurut Praja kecantikan seorang Prasasti selalu bertambah setiap saat.
“Pras, kamu tidak bosan selalu cantik? Bahkan burung diatas sana melihat kamu mereka insecure,”
Prasasti terkekeh,”Mana ada, yang ada saya yang insecure kepada mereka. Karna mereka bisa terbang bebas di atas awan.”
Praja tidak lagi membalas ucapan Prasasti, ia hanya diam menikmati atau bahkan memandang keindahan Tuhan yang satu ini. She looks so pretty.
“Tangan kamu. . . Kenapa, Pra?”
Pertanyaan Prasasti membuat Praja tersentak dan langsung mengalihkan tatapannya pada tanan kanannya.”Oh ini. . . Tidak apa-apa, saya hanya terluka sedikit, Pras.”
“Terluka sedikit?” Tanya Prasasti bingung.
Praja tersenyum dan mengangguk,”Iya, buktinya saya tidak apa-apa, kan?”
Prasasti hanya mengangguk, ya karna memang Prasasti melihat Praja terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang aneh, Praja seperti biasa. Jadi, mungkin Prasasti bisa membuang pikiran negatifnya tentang Praja.
“Pras, saya boleh bertanya?”
Prasasti menoleh dan mengangguk sembari menunggu Praja kembali berbicara.
“Jika suatu saat saya pergi. . . Pergi jauh, apakah kamu akan merindukan saya?”
“Pergi kemana, Pra?” Tanya Prasasti.
Praja terdiam beberapa saat, lalu menatap kembali Prasasti. “Pergi yang jauh. . . . .”
“Memang saya tidak boleh ikut? Biar saya tidak merindukan kamu, lebih baik saya ikut pergi juga, kan?”
Praja diam, ia tidak tahu harus membalas apa. Rasanya seperti ia ingin mengatakan Kepada Prasasti bahwa hidupnya kini penuh ketakutan.
“Tidak boleh ikut, Pras.”
“Mengapa?,”
“Karna saya tidak akan kembali jika saya pergi, kamu tidak usah ikut pergi,”
“Yasudah, saya juga tidak usah kembali.”
Praja tersenyum dan mengelus kepala Prasasti dengan lembut seraya berkata, “Saya sakit, Pras. Sakit parah. Keadaan saya sudah memburuk, saya menghilang selama satu bulan karna saya menjalani perawatan di rumah sakit. Hidup saya penuh ketakutan, Pras. Saya juga takut saya akan melanggar janji saya untuk tidak meninggalkan kamu, saya juga takut jika saya tidak bisa bertemu lagi dengan kamu, Pras. Maaf, maaf karna saya baru memberitahukan ini. Maaf, Pras. . . .”
Prasasti terdiam, ia bahkan hampir
meneteskan air matanya. Sungguh, hatinya seperti tertancap sebuah pisau, sakit sekali mendengar penuturan Praja tentang keadaannya saat ini. Mengapa baru memberitahukan sekarang?
“Pra. . . . Sakit sekali, ya?”
Praja tersenyum tetapi matanya tidak bisa berbohong. “Sangat. . . .”
Prasasti memeluk tubuh lemah Praja. Tubuh yang selalu terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya tubuh itu adalah tubuh paling rapuh yang pernah Prasasti lihat. Prasasti ikut meneteskan air mata ketika mendengar suara isak laki-laki yang ada dalam dekapannya.
“Maaf, Pras. . . Maaf,”
Kata Maaf itu selalu terus-menerus Praja ucapkan kepada Prasasti, itu membuat Prasasti semakin sakit, sakit mendengarnya.
“Tidak usah minta maaf. Pra, janji untuk sembuh, ya? Janji untuk sehat lagi, janji untuk berkeliling taman lagi esok hari, ya?”
Praja menatap manik indah milik Prasasti, dan menggeleng. “Saya tidak mau berjanji lagi, Pras. Saya, takut. . . .”
Prasasti menggeleng dan memegang tangan Praja erat.”Bisa. Sekali lagi ayo, kali ini bersama saya, Pra. Jangan pergi. . .”
Praja tetap menggelengkan kepalanya dan menunduk membuat Prasasti kembali meneteskan air matanya. Praja terlihat sudah tidak mempunyai tenaga untuk berjanji akan hal yang sepertinya tidak bisa untuk di tepati. Lebih baik tidak usah berjanji, kan? Janji hanya penenang, selebihnya hanya sebuah ucapan tanpa pembuktian.
“Pra? Saya melukiskan kamu, kamu objek lukisan saya kali ini, Pra. . .”
Praja kembali memeluk tubuh Prasasti erat. Sakit, sakit sekali rasanya dipaksa merelakan sesuatu yang belum sepenuhnya ia genggam. Sakit sekali ketika Praja melihat Prasasti serapuh ini, sakit sekali mendengar isak tangis dari Tuan Puterinya.
Praja merasa hidungnya berair, ia mengadah keatas dan mengusap hidungnya. Darah. Praja cepat cepat mengusap darah itu dari hidungnya agar Prasasti tidak melihatnya. Kepalanya terasa sangat pusing, tapi ia tetap tahan karna di depannya masih ada Prasasti, ia tidak ingin membuat perempuannya khawatir perihal keadaannya.
“Ayo pulang, Pras. Besok kita bertemu lagi, ya?”
Prasasti menghapus sisa air matanya dan menatap Praja. “Janji?,”
“Iya. Janji.”
Pagi ini Prasasti buru-buru keluar rumah dan pergi kerumah Praja. Sepi. Satu kata itu yang menggambarkan keadaan rumah Praja. Praja tidak mungkin mengingkari janjinya, kan? Tidak, kan?
Prasasti tetap mencoba menekan bel rumah Praja. Namun nihil, tidak ada satu orangpun yang menanggapinya, bahkan tidak ada yang keluar dari rumah itu.
Panik. Takut. Semua itu Prasasti rasakan kali ini. Ia segera pergi kerumahnya dan akan mencoba menghubungi Praja melalui telepon.
Nomor yang anda tuju, sedang tidak ada dalam jangkauan. Coba hubung---
Prasasti terus menerus mencoba menghubungi nomor itu. Hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban. Prasasti menyerah, ia melempar ponselnya dan duduk di tepian kasur dengan air matanya yang terus mengalir. Prasasti kecewa, Praja berjanji bahwa esok mereka akan bertemu lagi, tetapi? Janji itu hanya penenang semata. Tidak ada pembuktian.
Prasasti melihat sebuah kotak di dalam kamarnya, ia mengambil kota tersebut dan membukanya. Prasasti terkejut dengan apa yang ada dalam kotak ini. Sebuah foto dirinya dan juga secarik surat.
To : Prasasti
Hallo Tuan Puteri. Selamat pagi, siang, sore, dan malam.
Jika kamu menemukan surat ini dan saya tidak ada disana. Percayalah, saya tidak pergi kemanapun, saya berada disana, di hati kamu. Saya tahu, kamu pasti menangis, kan? Maaf. . . Saya melanggar lagi, saya tidak bisa menepati janji saya, Pras. Saya minta maaf. . . Saya disini baik-baik saja, sangat baik. Jika kamu mendengar sebuah kabar mengenai saya, terima saja kabar itu, ya?
Yes, I love but I can't
So I am letting you go now and baby one day
When you finally found what you want
And you're ready to open your heart to anyone
Don't push people away again
Easier, I know, but it's also very lonely, yeah
I love you but I'm letting go
I love you but I'm letting go
I love you and I'm letting go
It is the only way, you know?
Lagu itu cocok untuk kita, Pras. Saya merelakan kamu, bahkan disaat saya masih ingin menggenggam kamu dengan erat. Masih ingin melihat wajah cantik kamu. Tapi, saya tidak bisa, Pras. I love you, Always. Saya belum mengucapkan kalimat itu secara langsung. I love you, i love you, Prasasti.
From : Praja
Prasasti memukul dadanya sendiri. Melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya. Sakit. Sakit sekali rasanya. Ia tidak sanggup jika hari-harinya tidak ada Praja. Mengapa seperti ini? Mengapa harus Praja?
Pintu kamarnya terbuka, dan menampilkan sosok ibunya yang berdiam diri di depan kamarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ibu Prasasti langsung memeluk tubuh rapuh Prasasti.
“Sayang. . . Ikhlasin, ya?”
Prasasti menggelengkan kepalanya dan memukul lantai dengan tangannya sendiri. Tidak, ia bahkan tidak mau merelakan seseorang yang belum sepenuhnya ia genggam. Tidak.
“Praja sudah pergi, sayang. . . .”
Prasasti menggeleng kuat, ia tidak mau mendengar kabar buruk apapun mengenai Praja. Tidak. Prasasti tetap beranggapan bahwa ini semua adalah mimpi, Praja masih disini, bersama dengannya.
Prasasti menatap wajah ibunya. “Bohong, kan?”
Ibu Prasasti menggeleng dan kembali memeluk tubuh Prasasti dengan erat. Ibunya bahkan baru pertama kali melihat Prasasti antusias akan sesuatu, dan itu karna Praja. Bahkan ibunya pun baru pertama kali melihat betapa hancurnya anak semata wayangnya itu. Sakit, sakit sekali melihatnya.
Prasasti tidak sadarkan diri di dalam pelukan ibunya. Ibunya lantas segera bergegas memanggil ambulance untuk membawa Prasasi kerumah sakit.
Sesampainya di Rumah sakit, Prasasti segera di larikan keruangan Unit Gawat Darurat. Melihat anaknya terbaring lemah tak berdaya seperti itu membuat sang ibu sangat panik dan juga khawatir.
“Bagaimana, Dok?” Tanya ibunya.
“Anak ibu hanya mengalami shock berat dan tidak sadarkan diri, saya sudah membernya cairan infus, jika cairan infusnya sudah habis, anak ibu boleh pulang.”
Ibunya hanya mengangguk dan segera bergegas memasuki ruangan Prasasti. Ibunya memperhatikan Prasasti dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasanya baru pertama kali melihat Prasasti sehancur ini. Bagaimana jadinya jika ia menyaksikan langsung proses pemakaman Praja? Tidak bisa dibayangkan.
“Maafkan ibu ya, Pras. Maafkan ibu. . . .”
Jari-jari tangan Prasasti bergerak, Prasasti membuka kelopak matanya perlahan dan mengerjap beberapa kali, lalu menoleh kesamping kiri kanannya.
“Pra. . . .”
Ibu Prasasti segera menghampiri Prasasti ketika mendengar Prasasti mengucapkan nama Praja. “Pras, sebentar ya ibu panggilkan dok---”
“Pra. . . . Aku mau Praja,”
“Iya, nanti kita lihat Praja, ya?” Jawab ibunya.
“Pra. . . . Baik-baik saja, kan?”
Ibunya tersenyum dan menggangguk,”Iya sayang, iya. . . .”
Pembohong. Ya ibunya berbohong bahwa Praja baik-baik saja. Ia hanya tidak ingin Prasasti down kembali ketika mendengar kabar mengenai Praja. Maafkan ibu, Pras.
Dokter yang menangani Prasasti memeriksa keadaan Prasasti dan mengatakan bahwa Prasasti baik-baik saja dan di perbolehkan untuk pulang jika cairan infusnya sudah habis.
“Pras, janji pada ibu, ya? Apapun yang kamu lihat, kamu ikhlaskan, ya? Tidak ada yang benar-benar pergi, mereka selalu ada dalam hati kamu. Ingat itu, ya?”
Prasasti menoleh kearah ibunya lalu mengangguk samar,”Memang ada apa?”
Ibunya hanya menggeleng dan berusaha tetap tersenyum untuk meyakinkan Prasasti bahwa semuanya akan baik-baik saja. Melihat Prasasti yang sangat yakin bahwa Praja baik-baik saja membuatnya merasa bersalah. Entah apa jadinya jika Prasasti melihat segundukan tanah dan nisan bertuliskan Praja.
Pagi ini Prasasti sudah diperbolehkan pulang karna keadaannya sudah membaik. Ia sangat antusias karna ibunya berjanji akan membawanya bertemu Praja. Tetapi Prasasti bingung, karna ibunya menyuruhnya memakai baju hitam, padahal Prasasti ingin memakai baju cantik dengan motif bunga.
Prasasti tidak mengetahui ibunya akan membawanya kemana. Yang pasti ini bukan jalan menuju rumahnya.
Prasasti mengerutkan dahinya ketika membaca plan jalan di depannya. Tempat pemakaman umum. Prasasti menoleh dan menatap ibunya dengan tatapan bingung.
“Kenapa TPU? Katanya mau bawa Pras bertemu Praja.”
“Nanti kamu lihat sendiri ya, sayang. . . .”
Perasaannya menjadi gundah, pikirannya sudah kemana-mana memikirkan kejadian hari ini. Tetapi Prasasti tetap berusaha tenang dan berpikir positif bahwa semuanya akan baik-baik saja. Iya, baik-baik saja.
Ibunya memarkirkan mobilnya diarea parkiran pemakaman, Ibunya turun dengan di ikuti Prasasti. Prasasti hanya mengikuti ibunya dari belakang dan tidak berani menanyakan hal apapun kepada ibunya.
Ibunya berhenti disebuah gundukan tanah yang banyak sekali bunga-bunga segar, Prasasti tebak ini adalah pemakaman baru, terlihat dari tanah yang masih basah dan bunga yang masih segar.
Prasasti berjalan lebih dekat untuk memastikan nama dari pemilik gundukan tanah itu. Deg, Praja. Prasasti melangkah lebih dekat dan memastikan lagi nama itu.
“Pra. . . . Ini bukan Praja yang aku kenal, kan?” Prasasti tetap menatap gundukan tanah itu, “Iya, kan? Praja janji sama aku, dia mau berkeliling taman lagi besok. . . .”
Ibunya hanya diam, tidak menjawab apapun.
Prasasti berjongkok dan menyentuh batu nisan tersebut lalu menggeleng. “Tidak lucu, Pra. Tidak lucu.” Lirihnya sembari menggelengkan kepalanya,”Kenapa kamu harus berjanji kepada saya. Pra?”
Prasasti memukul dadanya yang terasa perih, matanya yang sudah berkaca-kaca.
Prasasti akhirnya tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis sembari memeluk batu nisan tersebut, tidak ada tenaga lagi untuk Prasasti bertanya apapun. Ia hanya mengangis sembari meraung-raung. Ibunya langsung membawa Prasasti kedalam pelukannya dan menenangkan Prasasti.
“Semua yang bernyawa akan pergi, Pras. Jangan seperti ini. Ikhlaskan, Praja sudah tidak merasakan sakit lagi.”
Prasasti bahkan tidak bisa melihat Praja untuk yang terakhir kalinya, ia bahkan tidak menemani Praja untuk pergi kerumah barunya, Prasasti merasa dirinya benar-benar jahat, bahkan mungkin Praja ingin dirinya melihatnya untuk yang terakhir, tapi Prasasti tidak bisa menemaninya. Maaf.
Prasasti tetap menangis, membayangkan senyum Praja, tingkah Praja, dan semua hal tentang sosok itu. Praja abadi, benar-benar abadi, abadi dalam pikiran saya.
—————
TIGA TAHUN KEMUDIAN
Seorang perempuan yang tengah melukis di balkon kamarnya sembari mendengarkan lagu kesukaannya, yang berjudul I Love You, But I Letting You Go—Pamungkas.
Perempuan yang tengah asik melukis itu menghentikan aktivitasnya sejenak setelah mendengar suara pintu yang di ketuk sangat kencang dari luar.
“Sebentar,” Ujarnya.
Setelah membuka pintu tersebut, Prasasti menghela nafas ketika melihat ibunya yang cengengesan karna sudah ngetuk pintu kamar Prasasti dengan sangat kencang.
“Hehe. . . . Ibu bikin puding, nanti di makan, ya!”
Prasasti hanya mengangguk, dan kembali menutup pintu kamarnya ketika ibunya sudah pergi. Prasasti tidak kembali ke balkon, ia diam menatap sebuah kotak yang berada di meja belajarnya.
Prasasti menatap kotak itu lama, tidak ada niat sedikitpun untuk membukanya. Karna itu adalah luka lama bagi dirinya, ia hanya memandangnya sejenak. Ternyata sudah Tiga tahun berlalu, setelah seseorang itu pergi meninggalkannya sendirian disini, rasanya bertahan Tiga tahun ini tidak mudah bagi Prasasti.
Prasasti bahkan selalu bolak-balik psikiater untuk membuat dirinya sedikit tenang. Air mata yang tidak ada habisnya, sesak di dada yang tak kunjung hilang. Bahkan Prasasti tidak menyangka sampai detik ini ia bisa bertahan, itu adalah hal yang patut di apresiasi.
Tidak mudah baginya untuk merelakan seseorang yang selalu berjanji akan menemaninya, seseorang yang akan selalu ada untuknya, dan seseorang yang belum sepenuhnya ia genggam. Dan orang itu adalah, seseorang yang ingin sekali Prasasti ajak dalam segala hal. Namun, Prasasti hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan.
Sampai saat ini, Prasasti selalu meyakinkan dirinya bahwa Dia tidak hilang, juga tidak pergi. Dia selalu berada dalam hatinya sampai saat ini. Jika Prasasti bisa meminta, ia hanya ingin jatuh cinta kepadanya, sekali lagi. Hanya kepadanya.
Dia ternyata menjadi alasan besar seorang Prasasti tersenyum, tertawa, ia membuka pintu kehidupannya hanya untuk Dia. Ia mengenalkan dunianya kepada Dia, mengenalkan kepribadiannya kepada Dia, dan semua hal yang tidak di lihat orang lain tapi Dia bisa melihatnya.
Kenyataan bahwa seseorang itu sudah hilang dan pergi, adalah kenyataan bahwa semua orang akan menjadi People come and go. Jika seseorang bisa pergi, tapi juga bisa datang kembali, itu artinya keduanya sama-sama saling memiliki.
Namun, jika seseorang pergi dan tidak akan pernah kembali, itu artinya keduanya sama-sama saling mencintai dalam perginya. Ya, Prasasti adalah cinta terakhirnya, dan Dia adalah cinta pertama seorang Prasasti.
Seseorang tidak benar-benar pergi, mereka abadi dalam hati.
T A M A T